My Posesif Bos

My Posesif Bos
Keributan di malam hari


__ADS_3

Zahra yang sudah membuka matanya, menatap langit-langit kamar itu lalu sedikit melirik ke arah sampingnya.


Ia terbelak kaget, saat dirinya mendapati Kenzo tengah memeluknya erat.


"Astaga! " kaget Zahra.


Dengan sangat terpaksa, Wanita itu melonggarkan pelukan Kenzo lalu melangkah menuruni ranjang.


Saat kakinya menginjak lantai, Zahra dengan cepat masuk kembali kedalam selimut.


"Makanya jangan nakal, " ujar Kenzo dengan nada yang begitu berat.


"Cih, kenapa sih lantainya harus sedingin ini? "


Kenzo sedikit membuka matanya, lalu bergerak ke atas tubuh Zahra.


Zahra menelan kasar salivanya, saat Kenzo menumpukan kepala tepat di atas perut rata Zahra.


"Lima menit saja."


Tawa Kenzo seketika terdengar renyah, di kala perut Zahra berbunyi nyaring. Wajah merah gadis itu sudah mulai muncul, Zahra menutup wajahnya dengan selimut karena malu.


Berhentilah tertawa! " kesal Zahra saat Kenzo tak kunjung menutup mulutnya.


Karena kesal, gadis itu dengan cepat memasukan ujung selimut kedalam mulut Kenzo.


"Oh berani ya kau! " ujar Kenzo dengan nada yang sedikit meninggi.


Zahra menganga saat mendapati ekspresi wajah Kenzo yang sudah tidak bersahabat.


"Is minggir deh, aku mau ke dapur. "


Zahra menyingkirkan tangan Kenzo dari pinggangnya, melangkah menuruni ranjang mencoba berjalan di atas dinginnya lantai itu.


"Aww, " ringis Zahra ketika kakinya tidak kuat menopang tubuhnya.


Dengan secepat mungkin, Kenzo berlari menopang tubuh Zahra yang sudah hampir terjatuh.


"Diam di sini, aku akan kembali dengan membawa makanan untukmu. "


Zahra yang sudah di bawah ke atas ranjang, hanya bisa pasrah mengikuti perkataan Kenzo.


Setelah kepergian Kenzo, mata Zahra melirik sekilas ke arah nakas yang di sana terdapat benda pipih milik Kenzo.


Dirinya begitu gelisa ingin mengambil benda itu. Namun, Zahra mengurungkan niatnya saat Kenzo kembali dengan membawa beberapa makanan dalam nampan.


"Habiskan! "


Dengan sedikit mengangguk, Zahra mulai memasukkan beberapa sendok makan kedalam mulutnya.


Risih karena terus di tatap Kenzo, gadis itu berbalik memunggungi tubuh Kenzo.


"Aku tidak akan merebut makananmu, " kesal Kenzo.


Zahra menggelengkan kepalanya, tak mau berbalik menatap Kenzo.


"Siapa yang tau isi hatimu. "


Mendengar penuturan Zahra, Kenzo berjalan mendekati tubuh Zahra dari balik. Pria itu memasukan tangannya, memeluk erat pinggang ramping Zahra.


"Tuan! " Bentak Zahra.


Kaget dengan perlakuan Kenzo, Zahra meletakkan makanannya menyeruput habis air dalam gelas.

__ADS_1


Ia berbalik menghadap Kenzo, menatap lekat wajah pria itu.


"Apa? "


Pertanyaan ketus di lontarkan Kenzo, saat tidak terima dengan tatapan gadis di hadapannya itu.


"Besok pagi, akan ku laporkan dirimu ke polisi, " ketus Zahra.


Kenzo menarik sebelah alisnya, pertanda tak mengerti dengan ucapan Zahra.


"Kenapa memangnya? "


Dengan sok polosnya, Kenzo melontarkan pertanyaan menyebalkan menurut Zahra.


"Kau sudah melakukan pelecehan terhadap gadis di bawah umur, " jelas Zahra.


Kenzo sedikit terkekeh, menarik Zahra semakin mendekatinya.


"Benarkah? Tapi aku rasa itu bukanlah sebuah Pelecahan, ini baru di sebut pelecehan. "


Kenzo mendekatkan bibirnya pada wajah Zahra, ******* kecil bibir ranum gadis itu.


Zahra yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah mengikuti permainan Kenzo.


Kenzo melepaskan pangutannya, ketika keduanya sudah kehabisan pasokan udara.


Keduanya saling bertatapan lama, kemudian tersadar saat deringan pada ponsel Kenzo berbunyi.


Kenzo mengusap pelan bibir Zahra, sembari tersenyum Ia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


"Ada apa Vino, " ujar Kenzo.


Tangannya kembali menyentuh bibir Zahra, dengan sesekali mengusap lembut gumpalan daging itu.


Kenzo menutup panggilan itu secara sepihak, kembali meletakkan ponselnya ke tempatnya semula.


Zahra bangkit dari duduknya, berjalan dengan sedikit pincang menuju ambang pintu. Kenzo yang melihat hal tersebut, dengan cepat mengambil remote control menutup pintu secara otomatis.


"Kenapa pintunya tidak bisa di buka? " ujar Zahra


Kenzo yang tidak memperdulikan perkataan Zahra, merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menarik selimutnya menutupi sebagian tubuhnya.


"Tuan Kenzo, kenapa pin-


Belum sempat Zahra menyediakan perkataannya, Kenzo sudah lebih dahulu menariknya. Karena kurangnya keseimbangan, gadis itu terjatuh di atas tubuh Kenzo.


"Ayolah tuan, aku mau kembali ke kamar ku, " ujar Zahra.


Kenzo yang begitu bodoh amat dengan ocehan Zahra, semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Zahra.


"Kalau di bunuh nggak akan dosa kan, " ujar Zahra kesal.


"Tidurlah Zahra. "


Perkataan bodoh macam apa itu, apa dia tidak sadar? saat ini posisi Zahra tengah berada di atas tubuhnya, bagaimana gadis itu bisa tidur?


"Aku tidak akan bisa tidur dengan posisi seperti ini, " geram Zahra.


"Berusahalah, apa mau ku ajari? "


Zahra naik pitam, pria itu sepertinya mencari ribut dengannya. Kesabaran Zahra sudah setipis tisu sekaran.


Dengan sangat amat terpaksa, Zahra mengigit lengan Kenzo berusaha melepaskan pelukan pria itu.

__ADS_1


" Sakit bodoh! " teriak Kenzo menggema.


"Ya siapa suruh nggak mau ngelepasin, " ketus Zahra dengan begitu judesnya.


"Tapi setidaknya jangan di sakiti seperti ini juga dong. "


Tak mau kalah, Kenzo menatap wajah Zahra tak kala judesnya.


Dari balik pintu kamar Kenzo, Bita bersama Vino yang sempat berlalu di depan sana menghentikan langkah keduanya saat mendengar teriakkan kedua insan dari dalam sana.


"Sudahlah tidak usah berdrama seperti itu, besok pagi tidak akan sakit lagi! " ujar Zahra dengan nada suara yang tidak bisa di kontrol.


"Bagaimana kalau besok bengkak, kau mau mengobatinya, huh! "


Tadi Zahra, sekarang Kenzo suaranya tidak kalah menggema sampai keluar kamar.


Bita dan Vino saling bertatapan, kemudian kembali fokus mendengarkan percakapan dari dalam sana.


"Ayolah Zahra, jangan tidur dulu ini sudah memerah. "


Kesal dengan ocehan gila Kenzo, Zahra bangkit dari tempat tidur berjalan sempoyongan mengambil kotak obat dari dalam nakas.


"Apa kaki mu sakit? "


Zahra menatap sinis ke arah Kenzo, kemudian kembali fokus dengan kotak obat.


"Semua ini karena ulahmu, " tukas Nara.


Pikiran Bita dan Vino yang sedari tadi mendengar percakapan itu, terbang kemana-mana.


Keduanya masih setia di depan kamar Kenzo, dengan tatapan yang sudah tidak bisa di artikan lagi.


"Aaaa! " teriak Bita.


Gadis itu berlari menuruni anak tangga, menuju kamarnya. Vino yang melihat kepergian Bita, menatap sekilas kearah kamar Kenzo lalu mengikuti jejak Bita.


Dari dalam kamar, Kenzo dan juga Zahra yang mendengar suara teriakan Bita beriringan menuju pintu.


Saat tangan Zahra sudah hampir meraih handle pintu, Kenzo menahannya dengan cepat.


"Biarkan saja, ayok tidur. "


"Nggak aku kepo. "


Mendapat penolakan dari Zahra, Kenzo dengan segera menggendong tubuh Zahra kembali ke atas ranjang.


"Isss orang aku kepo suara apa itu, kenapa di bawa ke sini sih?! " kesal Zahra.


Tak memperdulikan ocehan Zahra, Kenzo ikut menaiki ranjangnya menarik pinggang ramping Zahra masuk kedalam pelukannya.


"Tidurlah Zahra, atau kamu saya makan! " tegas Kenzo.


Mendengar perkataan Kenzo, dengan sangat terpaksa gadis itu mencoba menutup matanya perlahan.


Kenzo yang mendengar seruan nafas Zahra sudah tidak beraturan, melirik sekilas kearah wajah gadis itu lalu tersenyum kecil.


"Mimpi indah, " ujar Kenzo mengecup singkat kening Zahra.


.


.


.

__ADS_1


Makasih buat yang sudah mampir ❤️🌹


__ADS_2