My Posesif Bos

My Posesif Bos
Dilarang Bekerja


__ADS_3

Hembusan angin perlahan memasuki ruang kamar Kenzo, Zahra menggeliat membuka matanya.


Setelah berhasil menyingkirkan tangan Kenzo dari pinggangnya, Zahra melangkah pergi meninggalkan kamar Kenzo menuju kamarnya.


Gadis itu sedikit melirik ke arah jam yang tertempel di dinding, menunjukkan pukul empat pagi.


"Pantes sepi, masih terlalu pagi rupanya, " ujarnya.


Dengan perlahan, Zahra yang masih diliputi oleh rasa kantuk menghampiri ranjangnya.


"Berasa nggak tidur aku semalam, " ujarnya.


Bagaimana bisa tidur? Kenzo terus memeluknya erat sampai dirinya hampir kehabisan pasokan udara.


Mata Zahra perlahan tertutup namun, terbuka lagi saat hujan mulai menetes membasahi bumi.


Zahra bangkit dari ranjangnya, berjalan menutup jendela kamarnya lalu mengambil handuk.


Zahra menuju kamar mandi membersihkan dirinya, setelah selesai gadis itu kembali ke depan kaca.


"Zahra apa kau di dalam?! "


Suara teriakan Bita menggema memenuhi ruangan kamar Zahra.


"Iya, masuklah! "


Mendengar jawaban dari dalam, Bita melangkah masuk. Gadis yang masih berbalut selimut itu, berjalan menuju ranjang Zahra.


"Mengapa harus hujan sepagi ini sih? kan jadi malas harus ngapa-ngapain, " keluh Bita.


Zahra sama sekali tidak memperdulikan ocehan gadis itu. Ia terus fokus menyisir rambutnya, lalu mengganti perban di kepalanya.


"Jangan tidur lagi Bita, ayok sana mandi. "


Mau Zahra berusaha sekeras apapun, Bita yang sudah terlelap tidak akan bisa di bangunkan lagi.


Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. Ia melangkah keluar kamarnya, berjalan menuju dapur.


Zahra melangkah mendekati beberapa gelas kotor di sana, mulai mencuci semuanya.


Saat itu, Arnia yang hendak ke ruang keluarga menghentikan langkahnya menatap punggung Zahra.


"Hend, aku sudah menemukan cucumu. Kali ini, tidak akan ku biarkan dia pergi lagi, " gumam Arnia pelan.


Wanita tua itu melangkahkan kakinya mendekati Zahra. Zahra yang tersontak, berbalik lalu tersenyum lebar.


"Anda butuh sesuatu nyonya? "


Arnia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Zahra, Ia terus menatap lekat wajah wanita cantik di hadapannya.


"Siapa yang menyuruhmu bekerja sepagi ini? "


Zahra melirik sekilas ke arah jam dinding, kembali menatap Arnia.


"Tapi Nonya, ini sudah pukul lima pagi, " titah Zahra.


Arnia menggelengkan kepalanya, menarik Zahra keluar dari dapur.


"Apa Ina tidak memberitahu mu? "


Zahra yang bingung akan perkataan Arnia, hany menundukkan kepalanya tanpa memberi respon sedikit pun.


"Dengar, seluruh pekerjaan di rumah ini di mulai pukul enam pagi. "

__ADS_1


Jelaslah Zahra bangun sepagi ini, Ia sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.


Zahra mengangguk patuh, menatap kepergian Arnia yang sudah menuju ruang keluarga.


Zahra yang bingung harus berbuat apa, Melangkah menuju meja makan.


Kenzo yang tersadar dari alam mimpinya, mencari keberadaan Zahra di sampingnya.


Ia bangkit dari ranjang, berjalan keluar kamar menuju dapur saat melihat sosok yang di carinya sedang duduk termenung di meja makan.


Dengan usilnya, Kenzo mendorong kursi yang diduduki Zahra, membuat gadis itu tersontak kaget.


"Bisa nggak, nggak usah ngagetin! " oceh Zahra kesal.


Kenzo menjulurkan lidahnya, melangkah menuju lemari es.


Begitu sangat kekanak-kanakan, ketika Zahra tidak merespon keusilannya Kenzo mendekati gadis itu lalu menempelkan es pada pipi Zahra.


"Tuan muda! " kesal Zahra berteriak.


"Apa teriak-teriak?! kau pikir ini rumahmu. "


Zahra menganga tak percaya dengan tingkah konyol tuannya itu.


"Dasar bocah, " gumam Zahra pelan.


Meski suaranya begitu pelan, pria di hadapannya itu masih mampu mendengar apa yang di katakannya.


"Apa katamu! " teriak Kenzo.


Kesal dengan suara berisik Kenzo, Zahra mengambil sebuah apel di atas meja menyumpal mulut tuannya.


"Berisik kek bajai rusak, " ujar Zahra.


Kenzo mengeluarkan buah itu dari mulutnya, melangkah mendekati Zahra. Pria itu memegang erat kedua tangan mungil Zahra, menghujani pipi Zahra dengan ciumannya.


"Lepaskan tuan! "


Vino yang saat itu hendak ke dapur, dengan cepat berbalik dan melangkah menjauhi tempat itu.


"Lepaskan tuan! " bentak Zahra.


Kenzo terkekeh geli, mendengar suara Zahra yang terdengar tidak bersahabat.


"Beraninya kau membentak bosmu! "


Nyali Zahra yang tadinya menggebu-gebu, seketika ciut saat melihat tatapan tajam Kenzo.


"Ih mana ada gadis lemah lembut seperti Zahra ngebentak."


Sembari mengedipkan kedua maniknya genit, Zahra mencoba meredam amarah Kenzo.


Kenzo mencoba mengatur jantungnya, ketika melihat tatapan imut dari wajah Zahra. Zahra yang mengetahui hal itu, muncul ide gila di kepalanya mencoba menggoda Kenzo.


"Menurut tuan, Zahra cantik nggak? "


Cari masalah nih Zahra, bukannya menjauhi Kenzo Ia malah semakin mendekati pria itu sembari bertingkah genit.


Kenzo tidak memberi respon, Ia hanya menatap tajam wajah Zahra.


mulai ketakutan dengan sikap dingin Kenzo yang seketika berubah, Zahra memilih mundur sebelum berperang.


Saat hendak mundur selangkah, dengan cepat Kenzo menarik pinggangnya membuatnya bertubrukan pada dada bidang Kenzo.

__ADS_1


"Mau kemana? hmm, " ujar Kenzo dengan suara beratnya sembari mengusap lembut bibir Zahra.


Zahra menelan salivanya kasar, berusaha melepaskan pelukan Kenzo. Namun, semakin dirinya berusaha melepaskan diri Kenzo justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Saya menginginkan bibirmu, " ujar Kenzo dengan tangan yang terus mengusap bibir ranum Zahra.


Saat itu, mata Kenzo tak sengaja menangkap mbok Ina yang hendak ke dapur. Dengan isyarat kecil dari Kenzo, Mbok Ina berputar arah meninggalkan area dapur.


"Lepaskan tuan, aku harus membersihkan kamarmu. Ini sudah pukul enak, " ujar Zahra.


Kenzo dengan sangat terpaksa, melepaskan pelukannya.


"Hari ini kau tidak di izinkan bekerja! "


Zahra sudah meraih gagang sapu dan juga pel, berbalik menatap bingung Kenzo.


"Kenapa? "


Dengan bertanya, gadis itu melangkah menaiki tangga menuju kamar Kenzo.


Kenzo berlari cepat, menarik tangan Zahra menghentikan gadis itu.


"Apa lagi?! " ujar Zahra kesal.


Sejak tadi, Kenzo terus saja mengganggunya. Bahkan kali ini juga begitu, dirinya mau berkerja pun masih di ganggu tuannya tersebut.


"Apa kau tidak dengar apa yang ku katakan tadi?! "


Suara teriakan Kenzo menggema sampai ke telinga Vino dan juga Mbok Ina.


Keduanya dengan cepat menghampiri Zahra dan Kenzo yang berada di tangga.


"Ada apa tuan? "


Kenzo menarik kasar sapu dari tangan Zahra, memberikan benda panjang itu kepada Mbok Ina.


"Hari ini dia tidak boleh bekerja. "


Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti, lalu melangkah menuju kamar Kenzo menggantikan tugas Zahra.


Zahra yang hendak menahan kepergian Mbok Ina, mengurungkan niatnya saat melihat Mbok Ina sudah memasuki kamar Kenzo.


"Semua gara-gara dirimu, " ujar Zahra kesal.


Kenzo sama sekali tidak memperdulikan ocehan gadis itu, Ia memilih melangkah menuju meja makan.


"Zahra! " teriak Kenzo menggema.


Bukannya menjawab, Zahra menjulurkan lidahnya berlari menuju kolam.


"Gadis nakal."


Kenzo bangkit dari duduknya, berlari mengejar Zahra yang sudah terlebih dahulu menuju kolam.


Vino yang sedari tadi menjadi penonton setia, menghela nafasnya panjang.


"Sebulan lagi, aku akan gila. " gumamnya.


Arnia tertawa terbahak-bahak melihat kerisauan dari wajah Vino.


.


.

__ADS_1


.


Please 🙏 kalau mampir tinggalin jejak dong biar aku tau ada yang baca ❤️


__ADS_2