
Sudah hampir seminggu Zahra dirawat di rumah sakit, hari ini Erik mengizinkannya untuk pulang.
“Oke Zahra, kau sudah bisa pulang. Tapi ingat! Jangan kerja yang berat-berat dulu, “ ujar Erik, dengan pandangan yang tertuju pada Kenzo.
Zahra hanya terdiam tanpa kata, Erik yang sudah berlalu dari sana seolah memberi ruang pada kedua insan itu.
“Biar aku saja, kau duduk jangan bergerak!” titah Kenzo, ketika melihat Zahra ingin mengemas barang-barangnya.
Kenzo mulai merapikan beberapa pasang pakian Zahra kedalam sebuah bag, Zahra yang duduk menatapnya sedikit menarik senyuman pada bibirnya.
“Sudah, kau tunggu di sini aku akan kembali.”
Melihat pria itu keluar dari ruangan tanpa membawa ponselnya, Zahra terus melirik benda pipih itu dengan sesekali melirik pintu. Tangannya terulur, meraih ponsel Kenzo. Ia masih ingat betul, sandi dari ponsel Kenzo sehingga dengan muda Ia membukanya.
Ketika baru saja membuka kamera pada ponselnya tersebut, Zahra dengan cepat membuang ponsel itu saat Kenzo memasuki ruangan tersebut.
“Ayok!” Kenzo mendekati Zahra, dengan mendorong kursi roda kehadapan gadis itu.
Tanpa menjawab sedikit pun ucapan Kenzo, Zahra turun perlahan lalu menduduki kursi roda tersebut. Sedangkan Kenzo, masih sibuk mencari ponselnya.
“Cari apa tuan?” tanya Zahra.
“Ponselku, kau melihatnya?”
“Sepertinya tertutup selimut, “ ujar Zahra.
Sesuai dengan perkataan Zahra barusan, Kenzo menyibakkan selimut dan benar saja ponselnya berada di sana.
Kenzo sedikit membuka ponselnya, ada sedikit senyuman terukir pada bibirnya saat layar benda pipih itu menampilkan sesuatu di sana. Kenzo yang tanpa mengunci ponselnya lagi, meletakkan benda itu keatas paha Zahra lalu mendorongnya keluar. Menyadari hal itu, Zahra yang seolah tertangkap basah tak berani bersuara sedikit pun, sampai keduanya tiba di parkiran.
“Mau aku bantu?” tawar Kenzo, saat melihat Zahra sedikit kesusahan memasuki mobil.
“Aku bisa sendiri, “ tolak Zahra.
Meskipun begitu, dirinya tetap saja tidak bisa masuk kedalam mobil sendirian. Kenzo menggelengkan kepalanya, melangkah mendekati gadis itu dan,
“Tuan, turunkan aku!”
Pria itu menggendong tubuh Zahra, memasukkannya kedalam mobil tanpa memperdulikan perkataan gadis tersebut.
“A-aku kebelakang saja, “ ujar Zahra, saat Kenzo juga duduk di sampingnya.
“Kau pikir, aku supirmu?!”
Menyadari hal itu, Zahra tidak berani lagi menjawab perkataan Kenzo. Entahlah hal apa yang kini merasuki Zahra, selama di rumah sakit gadis itu tidak pernah cerewet lagi. Padahal Kenzo selalu memancing agar keduanya ribut.
Dalam perjalanan pulang, sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya. Kenzo yang mulai frustasi dengan keadaan itu, menghentikan mobilnya di pinggiran danau lalu menatap lekat wajah Zahra.
__ADS_1
“Apa kau marah padaku?” tanya Kenzo.
Zahra sedikit melirik wajah Kenzo, lalu memalingkan wajahnya keluar kaca mobil.
“Kau jahat Ken!” ujar Zahra pelan namun, masih bisa dengan jelas didengar Kenzo.
Zahra membuka pintu mobil, berjalan mendekati danau lalu menatap lurus kearah depan. Tak lama setelah itu, Kenzo pun menyusulnya.
Dalam keadaan canggung seperti ini, semakin membuat Kenzo merasa bersalah akan keadaan masa lalu keduanya dulu.
“Apa sebegitu tidak pentingnya aku dalam hidupmu?”
Mendengar penuturan Zahra seperti itu, jantung Kenzo bergetar hebatnya seakan ingin keluar dari dalam tubuhnya.
“Ak-
“Apa kau tau?! Hidupku hancur tanpamu, tanpa Mike, dan juga ayah bunda!”
Tangis Zahra pecah, dirinya sudah benar-benar tidak bisa menahan lagi bulir-bulir bening itu dari kelopak matanya. Hatinya begitu hancur, saat mengetahui sosok yang di carinya selama ini ada di depan matanya tanpa Ia ketahui.
“Jasmine, “
Kenzo mendekati Zahra, menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya meskipun mendapat penolakan dari gadis itu.
“Lepaskan Aku!” teriaka Zahra, mendorong tubuh Kenzo.
“Kau jahat Ken! Hiks hiks, “ tangis Zahra dalam pelukan Kenzo.
Kenzo mengusap lembut surai panjang Zahra, mengecup singkat keningnya dalam membuat gadis itu terdiam seribu bahasa.
“Maafkan aku sayang, aku sudah berusaha mencarimu kemanapun. Namun, selalu saja yang aku dapatkan hanya kabar bahwa dirimu sudah tiada. Hidupku juga hancur tanpamu Jasmine, aku seperti serigala liar orang-orang disekitar ku tidak berani mendekati ku ketika aku marah, aku frustasi hampir gila kehilanganmu. Sampai pada suatu hari, pencarian itu aku hentikan karena muak dengan semua pemberitaan yang selalu aku dapatkan tentangmu lalu setelah seminggu kemudian kau mela-
Arhmm
Belum sempat Kenzo menyelesaikan pidato panjangnya itu, dirinya menarik senyuman pada bibirnya ketika mendengar dengkuran keras dari gadisnya.
“Menggemaskan, “ ujarnya.
Kenzo menggendong tubuh Zahra, membawa gadisnya kembali kedalam mobil. Dengan sangat hati-hati, pria itu meletakkan tubuh Zahra lalu mengitari mobil ikut duduk di bangku pengemudi. Tak langsung melajukan mobilnya, Ia masih sedikit mengecup kening gadisnya barulah mulai melajukan mobilnya dengan tangan yang satunya berada pada paha gadis itu.
Tampak dari kejauhan, Michael yang sedari tadi memperhatikan mereka mengusap ujung matanya yang sedikit berair.
“Ciko, utus beberapa orang untuk menjaga keduanya!” Titah Michael kepada asistennya itu, dengan tangan yang terus mengusap layar ponselnya.
“Baik tuan.”
Di kediaman mewah Kenzo,
__ADS_1
Bita yang baru saja mendapat kabar kepulangan Kenzo bersama Zahra dari Vino, berlari cepat menuju kolam menghampiri Ina dan juga Arnia di sana.
“Nyonya!”
Dengan nafas terengah-engah, Ia langsung menyodorkan ponselnya kehadapan dua wanita paruh baya itu. Tanpak ada senyuman terukir di bibir Arnia, saat mendapat pesan dari Vino.
“Bereskan kamar mereka, aku yang akan memasak hari ini!”
Belum sempat mendapat jawaban dari kedua orang kepercayaannya itu, Arnia sudah melangkah menuju dapur dengan penuh kebahagiaan menyambut kepulangan cucunya.
Agak sedikit lebay sih, tapi itulah Arnia. Dia akan selalu melakukan apapun, demi cucu kesayangannya itu.
“Tunggu apa lagi Bita? Sana bereskan kamar tuan muda,” ujar Ina.
Bita mengangguk cepat, kembali melangkah memegang sapu ditangannya melangkah menuju kamar Kenzo.
“Akan ada perubahan setelah dirinya kembali, “ gumam Bita sembari menaiki anak tangga.
Di saat seisi rumah sedang sibuk mempersiapkan kepulangan keduanya, Vino bersama Tio justru tengah sibuk mencari cara menghancurkan Xio Lang secara perlahan.
“Apa kau sudah tau siapa penculik kekasihnya?”
Tio menggelengkan kepalanya, pandangannya masih saja fokus pada laptopnya. Keduanya yang tengah sibuk, di kejutkan dengan salah seorang anak buahnya yang masuk kedalam ruangan Tio dengan terburu-buru.
“Ada apa?” tanya Tio.
Tak ada suara dari anak buahnya, pria itu hanya Menyodorkan sebuah berkas ke atas meja. Tak menunggu lama, Vino meraih berkas itu. Senyuman terukir indah pada bibirnya, membuat Tio menatapnya heran.
“Apa isinya?” ujar Tio penasaran.
Karena belum mendapatkan jawaban dari Vino, Tio merebut paksa berkas itu dari tangan Vino. Bibirnya juga menarik senyuman, saat matanya menyapu isi berkas itu.
“Dengarkan aku, pastikan tuan muda belum mengetahui hal ini. Kita tunggu saat yang tepat untuk memberitahukan kepadanya, “ ujar Vino, pada anak buahnya itu.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Maafkan diriku ini yang tidak up beberapa hari belakangan, paketku habis 🤧
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
makasih 🌹