
Seperti hari-hari biasanya, Zahra membersihkan kamar Kenzo lalu menyiapkan air hangat untuknya mandi, dan kembali ke dapur membantu mbok Ina.
Bukan tanpa alasan, Zahra membantu mbok Ina. Ia tau, wanita tua itu pasti sangat kelelahan jika harus mengatur seluruh isi rumah tetap terjaga dalam awasannya.
"Sudah selesai, kamu nggak usah bantu lagi. "
Suara Bita yang begitu judes, membuat Zahra berbalik lalu duduk di kursi menatap Bita dan Mbok Ina yang sedang membantu para pelayan lainnya memasak.
Meskipun suaranya yang terdengar tidak bersahabat, tapi Bita bermaksud baik menyuruh Zahra duduk. Ia tau, membersihkan kamar Kenzo begitu melelahkan.
"Mau ikut ke pasar?"
Mendapat tawaran menarik dari Bita, Zahra mengangguk antusias.
"Ayok, " ajak Zahra.
"Sabar, aku ambil jaket dulu. Mendung, takut dingin nanti."
Tanpa menunggu lama, Zahra dengan secepat kilat berlari menuju kamarnya mengambil jaketnya lalu kembali menemui Bita yang sudah berada di ambang pintu.
Saat keduanya menuruni anak tangga, mereka berpapasan dengan Kenzo yang baru saja tiba di rumah.
"Lembur ya, tuan?"
Zahra bertanya seperti itu, pasalnya dari semalam Kenzo tidak pulang ke rumah.
"Hmm."
Hanya tiga huruf satu kata itulah, yang berhasil lolos dari mulut pria itu. Sembari berdengus kesal, Zahra kembali melanjutkan jalannya mendekati Bita.
"Ayok, " ujar Bita yang sudah berada dalam mobil.
"Diantar Tio? "
Kedua insan yang berada dalam mobil, tidak bersuara tapi kepala mereka mengangguk bersamaan.
"Kenapa?"
"Dulu, Mbok Ina hampir di rampok waktu ke pasar, jadi tuan memutuskan Tio yang akan selalu mengantar kita ke pasar. "
Bita menarik nafasnya lega, ketika satu tarikan nafasnya di pake habis dalam menjelaskan.
Dan yah, dirinya cukup kecewa ketika respon dari Zahra hanya sebuah kata "Oh" itu juga tanpa bersuara.
"Sudah sampe, ingat pake masker, " peringat Tio.
Kedua gadis itu mengangguk, turun dari mobil berjalan masuk kedalam pasar. Tak hanya mereka, Tio yang sudah selesai memarkirkan mobil, mengikuti mereka dari belakang.
"Zahra, jahenya."
Zahra mengambil jahe yang di tunjuk Bita, kemudian mendekati penjualannya.
"Mas, berapa?"
"Sekilo 35 mbak."
Mata Zahra membulat, mendengar penuturan penjual tersebut. Ia tidak percaya, harga yang di berikan begitu mahal.
"Nggak usah kaget, ini jahe bukan permen."
"Emang harus semahal ini yah?"
"Zahra, ini masih dibilang murah."
What! apanya yang murah, itu mahal. Tak mau berurusan dengan penjual, Zahra mengambil langkah berdiri di belakang Bita.
Tio yang melihat itu, hanya bisa terkekeh geli ketika tatapan Bita sudah tidak bersahabat lagi.
"Sekilonya berapa? "
Jari telunjuk Bita, mengarah ke tumpukan ketumbar dihadapannya.
"Seratus empat lima mbak."
Tanpa menawar ataupun semacamnya, Bita dengan entengnya mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkan ke penjual itu.
__ADS_1
"Nggak nawar? "
"Nggak kalau balik bawa uang sisa, kita bakal di omeli Mbok Ina."
Sebuah culture shock yang aneh bagi Zahra, biasanya uang belanjanya kurang, kali ini Ia harus benar-benar menghabiskan uang belanja.
"Aneh yah, sama saya juga hahaha."
Tawa Tio menggelegar, seolah meledek Zahra yang terlihat shock.
"Berisik!" bentak Bita seketika.
"Hahaha, emang enak."
Seolah mengadu mekanik dengan tawa keduanya, Zahra meledek Tio yang di bentak Bita seketika.
"Untung gadis bos, " gumam Tio pelan namun, masih sangat jelas terdengar oleh telinga Zahra.
"Apa maksudmu?"
Tak ingin memperpanjang masalah, Tio dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia tau, jika berdebat dengan Zahra maupun Bita, Ia pasti akan kalah.
"Sudah semua?"
Tio yang sudah capek berputar dengan seluruh belanjaan pada tangannya, menatap Bita dan juga Zahra.
Kedua gadis itu menganggukan kepala secara bersamaan, lalu membantu Tio membawa barang-barang belanjaan.
"Ayo."
Tanpa menjawab perkataan Tio, Dengan tangan yang memegang ujung baju Bita, Zahra ikut melangkah meninggalkan pasar bersama Bita di depannya, dan Tio di belakangnya.
Ketika tiba di mobil, Zahra dan juga Bita bersama Tio membereskan belanjaan mereka.
Dari kejauhan, Seorang pria yang tak lain adalah Michael menghentikan langkahnya ketika di ambang pintu sebuah toko kain.
Matanya membulat sempurna, saat manik coklatnya menangkap sosok yang dicarinya selama ini.
"Zaza, " ujarnya pelan.
"Ciko! apa itu Zaza?"
"Benar tuan, tapi-
Belum sempat Ciko menyelesaikan perkataannya, Michael sudah berlari hendak menghampiri Zahra.
Setelah selesai memasukkan seluruh belanjaan kedalam mobil, Zahra dan Bita dengan tawa meledek Tio mengitari mobil lalu masuk kedalamnya.
Tak mau ikut kalah, Tio juga mengikuti jejak Zahra dan Bita memasuki mobil.
Michael yang sudah hampir mendekati Zahra, tiba-tiba saja di halangi sebuah mobil box yang berhenti tepat di hadapannya.
"Bang sat! " umpatnya.
Setelah mobil itu menyingkir dari hadapannya, Tio sudah membawa Zahra menjauh dari pasar.
"Sial! "
lagi lagi, umpatan kesal di keluarkan Michael ketika tidak berhasil menghampiri Zahra.
"Ciko!"
Ketika teriakan Michael menggema, Ciko dengan segera memarkirkan mobilnya tepat di samping Michael.
"Ikuti mobil itu! "
Dengan perintah Michael, setelah tuannya memasuki mobil, Ciko dengan cepat melajukan mobilnya mengejar Tio.
Tio yang sedari tadi anteng tanpa masalah, terkejut ketika mobil Michael sedikit menyerempetnya.
"Astaga! ada apa Tio?" tanya Zahra dengan khawatirnya.
"Jangan khawatir, Bita pegang gadis tuan."
Sedikit terkejut mendengar perkataan Tio, Bita langsung menggenggam erat tangan Zahra.
__ADS_1
Zahra yang sedikit trauma, menutup mata dan telinganya lalu tertunduk di bawah.
"Tuan, sepertinya itu mobil Tio tangan kanan Kenzo."
Jantung Michael sedikit terguncang dengan perkataan Ciko, dengan pandangan yang terus menatap kearah mobil Tio.
"Hentikan mereka."
Ciko mendekatkan mobilnya dengan mobil Tio, sedikit menabrakkan mobilnya dari samping.
"Pelan-pelan Tio, Zahra ketakutan! " teriak Bita menggema.
"Sial! " umpat Tio kesal, kembali membalas perbuatan Ciko.
bruk
Suara benturan mobil, berulang kali terdengar oleh para pengendara jalan lainnya.
"Siapa mereka?"
"Michael. "
Zahra yang memang menundukkan kepalanya, tidak mendengar apa yang di ucapkan Tio ketika Bita bertanya.
"Pegang tangan Zahra yang kuat."
Bita mengangguk, memegang erat tangan Zahra. Tio menancapkan gas tinggi, dengan cepat menghilang dari samping Ciko.
"Sial! " umpat Ciko memukul kasar stir mobilnya.
Michael mengusap kasar wajahnya, ketika Tio berhasil menghindar dari kejaran mereka.
"Cari tau dimana dia berada?"
Ciko yang awalnya menolak, kali ini harus mengiyakan perintah Michael ketika melihat tuannya sudah memberikan ekspresi dingin.
Setibanya di kediaman Kenzo, Zahra masih menutup telinga dan juga matanya.
"Zahra, " ujar Bita pelan.
"Tolong, "
Mendengar penuturan Zahra, Bita sedikit melirik kearah Tio.
Saat itu, Kenzo yang melihat mobil yang di kendarai Tio memasuki parkiran, dengan segera berlari mendekati parkiran.
"Mau kemana Kenzo?! "
Tak memperdulikan perkataan Arni, Kenzo terus berlari menuju parkiran.
Zahra yang belum bisa membuka matanya, semakin membuat kedua insan yang bersamanya risau.
"Za-
Belum sempat Tio melanjutkan perkataannya, Kenzo sudah membuka pintu mobil. Dengan tatapan penuh tanda tanya dan intimidasi, Kenzo mendekati Zahra.
"Kami di kejar Ciko, " jelas Tio yang seolah mengerti dengan tatapan Kenzo.
"Zahra. "
Ketika mendengar suara lembut Kenzo, Zahra tanpa permisi memeluk erat tubuh Kenzo.
"Aku takut Ken,"
Tanpa menunggu lama, Kenzo menggendong tubuh Zahra masuk kedalam rumah, dengan diikuti Tio dan Bita.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚