
Setelah pencarian cukup lama, Kenzo masih belum menemukan titik terang keberadaan Zahra. Tak hanya dirinya saja, anak buahnya juga sibuk melacak keberadaan Zahra dimana.
“Jasmine, kemana kamu sayang?” gumam Kenzo dengan mata yang masih melirik ke setiap jalanan yang dilaluinya
Sedangkan saat ini, di sebuah gudang kusam di huni banyak tikus, Zahra di ikat pada sebuah kursi dengan mulut tertutup lakban.
Cahaya mentari yang begitu terang, menembus lapisan dinding yang sudah hancur menerangi tubuh Zahra.
Mata Zahra perlahan terbuka, bisa Ia rasakan tubuhnya begitu sangat kaku tidak bisa di gerakan. Benar saja, Zahra baru tersadar dirinya sedang terikat.
“Dimana ini? Tolong aku ya Tuhan.”batin Zahra.
Air matanya mengalir, dengan tubuh bergerak mencoba melepaskan ikatan pada tangan maupun kakinya. Ingatan Zahra berputar, Ia ingat jika tadi sebelum meninggalkan rumah Kenzo ponselnya sama sekali tidak berada dalam kantongnya.
“Ken, tolong aku.”
Maaih terus melakukan pencarian, Kenzo melirik sebentar ponselnya. Ketika mendapat pesan dari Tino, Kenzo memukul kasar stri mobilnya.
“Jasmine!” teriak Kenzo menggema.
Kenzo kembali melajukan mobilnya, menuju kediaman Dion. Jika Ia tidak menemukan Zahra hari ini, pria itu akan habis dalam tangannya.
Tak hanya Kenzo saja yang khawatir, Michael sudah mengarahkan seluruh anak buahnya mencari keberadaan Zahra.
Mobil yang dikemudikan Michael, melaju menuju kediaman Dion. Menurut informasi yang di dapatnya dari Ciko, Dion dalang di balik hilangnya Zahra.
Kenzo yang lebih dahulu sampai di kediaman Dion, dengan pistol pada tangannya Kenzo memasuki rumah Dion. Tak menjelang lama, Michael juga mengikuti jejak Kenzo kedalam kediaman Dion.
Dengan di sambut anak buah Dion, Kenzo menghabisi semuanya dengan cepat langsung menuju kamar Dion.
Sama seperti Kenzo tadi, Michael juga mendapat hak yang sama. Dengan satu gerakan kilat, Michael berhasil melumpuhkan lawannya dengan menggunakan belatinya.
Sedikit berlari, Michael menuju kamar Dion di lantai dua.
Pintu kamar Dion, di bobol paksa Kenzo dengan satu tendangan dari pria itu pintu tersebut terbuka lebar.
“Kau apakan gadisku?!” Kenzo menyodorkan senjata pada kening Dion.
“Dimana kau sembunyikan adikku?!” Michael menyodorkan belati tepat pada leher Dion.
Duar
Bagai di sambar petir siang bolong, Kenzo maupun Michael saling bertatapan lama lalu kembali menatap Dion.
“Wah wah, dua sahabat lama akhirnya bertemu di rumahku, “ ujar Dion masih mencoba tenang.
Dor
Kenzo melepaskan pelurunya, membuat Dion harus menelan salivanya kasar. Ketika Ia hendak melarikan diri, Michael dengan cepat melumpuhkannya dengan satu tendangan.
“Kemana adikku?!”
“Dimana gadisku?!”
__ADS_1
Teriak keduanya bersamaan, Kenzo sedikit bingung akan maksud ucapan Michael yang mengatakan Zahra adalah adiknya. Michael juga bereaksi sama seperti Kenzo, apa ini? Mengapa Kenzo mengatakan Zahra adalah gadisnya?
Menyadari keduanya lengah, Dion dengan segera mendorong keduanya berlari keluar kamar menuju parkiran.
Kenzo maupun Michael, bangkit berdiri dengan cepat berlari mengejar Dion yang sudah kabur menggunakan mobil Michael.
“Ayok, pakai saja mobilku!”
Sedikit ragu, tapi akhirnya Michael masuk kedalam mobil Kenzo. Setelah keduanya di pastikan benar-benar didalam mobil, Kenzo melajukan mobilnya mengejar Dion yang sudah sedikit menjauh dari keduanya.
“Kau bisa mengemudi tidak? Dia akan kabur!”
“Kau sendiri, kenapa memberikan mobilmu!”
Yah, dalam situasi seperti ini keduanya masih saja sempat-sempatnya bertengkar. Kesal karena mobilnya di curi, Michael mengeluarkan kepalanya memastikan sesuatu lalu merebut paksa pistol Kenzo.
“Pistol ini sangat tidak berguna, “ocehnya.
“Kalau tidak berguna, jangan pakai!” kesal Kenzo.
Dor
Dor
Dua tembakan dilepaskan Michael, hampir mengenai ban mobil yang dikendarai Dion. Dan sialnya, sebuah Van putih menghalanginya.
“Bang sat!” umpat Michael.
Melihat hal itu, Kenzo dengan segera menarik paksa pistolnya dari tangan Michael.
Tak mau mati muda, Michael langsung mengambil alih stir mobil. Meski begitu sangat susah, Michael harus melakukannya hingga Kenzo kembali pada tempatnya.
Beberapa tembakan diluncurkan Kenzo, berhasil mengenai ban mobil yang dikendarai Dino hingga mobil itu tergelincir kearah kanan sebuah belokan.
“Anj ing Lo, mobil itu baru keluar dari shorum!” oceh Michael tak terima mobilnya dihancurkan Kenzo.
“Nyenye apa saya peduli, “ ledek Kenzo.
Michael yang ingin memukul Kenzo, terpaksa mengurungkan niatnya ketika Kenzo menginjak rem secara tiba-tiba.
“Brutal.” ujar Michael.
Tak memperdulikan perkataan Michael, Kenzo keluar dari mobilnya menghampiri mobil Michael. Tak lama, Ia juga di susul Michael yang sudah berada di sampingnya.
“Sial!”
Kenzo menendang mobil itu, ketika melihat kursi penumpang sudah tidak berpenghuni lagi. Michael mengusap kasar wajahnya, mengarahkan belatinya tepat pada wajah Kenzo.
“Semua ini salahmu, “ ujarnya.
Dengan menggunakan pistolnya, Kenzo menyingkirkan belati dari wajahnya mengeluarkan ponselnya dari dalam kantongnya. Sama seperti Kenzo, Michael juga melakukan hal yang sama.
“Oke!” ujar keduanya bersamaan.
__ADS_1
Michael dengan sedikit berlari, mengambil alih bangku pengemudi. Ketika Kenzo pun sudah di dalam, Michael melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang tadi di maksud Ciko.
“Jalannya salah, “ koreksi Kenzo, ketika Michael memilih mengambil jalan pintas.
“Mau diam, atau kau turun saja?!” ujar Michael tak tau diri.
“Yang turun itu kamu, ini mobil saya.” Kenzo menatap Michael tajam, tak terima dengan ucapan pria itu barusan.
“Diam njing, adikku dalam bahaya.” Michael terus melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan sesekali menabrak sembarang pengendara lain yang menghalangi jalannya.
“Dia bukan adikmu, dia kekasihku.” Kenzo masih tidak terima dengan apa yang diucapkan Michael barusan.
“Kekasih yang sangat tidak berguna, “ cibir Michael.
Soal bertanya tentang hubungan Zahra dan juga pria disampingnya, itu nanti saja sekarang yang terpenting Zahra selamat dulu.
Kenzo sedari tadi melirik ponselnya, teringat akan ponsel Zahra yang sudah dipasang pelacak oleh Vino waktu itu.
Ketika Kenzo mulai melacak ponsel Zahra, Ia kembali menarik nafas panjang saat melihat lokasi itu tetap berada di kawasan rumahnya. Itu artinya, Zahra tidak membawa ponselnya tadi.
“Hallo, Ciko bagaimana?”
Kenzo mengalihkan pandangannya, menatap Michael ketika pria itu bersuara begitu serius menarik perhatiannya.
[Tuan, lokasi itu tidak valid, kita di tipu]
Michael menginjak remnya mendadak, membuat keduanya terpental kedepan dasbor mobil. Kenzo yang sudah akan mengeluarkan suaranya, harus mengurungkan niatnya saat melihat ponselnya mendapat panggilan dari Vino.
Sedikit mengusap layar ponselnya, Kenzo menempelkan bendah pipi itu pada telinganya menunggu apa yang akan di sampaikan Vino.
[Tuan, lokasinya di ubah.]
Tanpa menunggu lama lagi, Michael memutar mobil kembali pada jalan sebelumnya. Keduanya yang tadinya riuh, seketika terdiam tak ada yang berani bersuara terlebih dahulu.
Michael menghentikan mobil Kenzo, pada sebuah cafe menatap kearah depan memikirkan keadaan Zahra saat ini.
“Itu Rio, kenapa dia bersama Xio Lang?”
pertanyaan dari Kenzo, mengalihkan pandangan Michael yang awalnya menatap jalanan kini harus beralih kedalam kafe.
Di menit berikutnya, manik keduanya membulat melihat sosok yang menghampiri Rio maupun Xio Lang di sana.
“Akan ku habisi dia, “ ujar Kenzo marah.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.