
Setelah selesai dari restoran tadi, Vino tak langsung membawa Bita pulang. Mobilnya melaju berlawanan arah dari arah rumah Kenzo, menuju sebuah tempat.
“Vin, kita mau kemana?” tanya Bita khawatir.
“Ada perintah dari tuan muda, kita harus menyelidiki kasus ini.” Vino menggenggam tangan Bita sembari tersenyum manis.
Keduanya tiba di tempat yang di maksud, dengan beriringan mereka berjalan memasuki sebuah club. Bita yang sedikit ragu, menghentikan langkahnya menatap Vino.
“Kita hanya memantau, tidak akan terjadi apa-apa.”
Dengan memegang kedua bahu Bita, Vino mencoba menenangkan Bita. Masih dengan keraguannya, Bita mengangguk kecil.
Setelah berada di dalam club, mata Bita menangkap sosok Tio juga ada di sana. Ia bisa menarik nafas lega sekarang.
“Siapa yang mau kita pantau?” kepo Bita.
Jari Vino sedikit terangkat, menunjuk seorang pria paruh baya yang tengah asik bercumbu bersama beberapa gadis di sana.
“Namanya Komar, seorang pengusaha yang membawa kabur uang milik tuan muda.”
Bita yang sama sekali tidak mengerti harus apa, hanya bisa mengikuti kemana Vino menariknya. Keduanya berhenti di depan bar, dengan mata yang terus memperhatikan pria tua itu.
Dari kejauhan, tampak Tio juga sedang memperhatikan Komar. Matanya tak sengaja menangkap Bita, maupun Vino yang sepertinya sudah ada di sana.
“Tetap awasi dia!” pintah Tio pada ponselnya.
Sama seperti ucapan Tio, Vino masih tetap setia pada Komar di sana. Seorang pelayan menghampiri Bita, mencoba menawarkan minuman padanya.
“Mau minum apa?”
“Maaf saya tidak biasa,” tolak Bita halus.
Jelas saja para pelayan itu bingung, jika tidak biasa lalu mengapa harus masuk ke dalam club ini. Vino dengan sigapnya, mendekati mereka.
“Istri saya sedang hamil, “ bohongnya.
Para pelayan itu hanya bisa mengangguk lalu meninggalkan keduanya. Sedangkan Bita, sudah tersipu malu dengan apa yang di katakan Vino barusan.
“Jangan pacaran, pantau mereka!”
Suara Tio dari balik earphone di telinga Vino, mengangetkan pria itu yang masih setia pada wajah memerah Bita.
“Kau saya yang awasi mereka, aku harus mengantar Bita pulang.”
Tak mau menunggu jawaban dari Tio, Vino melepaskan earphonenya berjalan keluar menuju parkiran.
...***...
Di saat para asistennya tengah sibuk dengan Komar, Kenzo tak tinggal diam saja. Ia bersama beberapa orang anak buahnya, menuju sebuah restoran yang di duga milik Komar.
“Keluarkan mereka semua!” Kenzo duduk di sebuah kursi, sembari memerintah.
Seperti apa yang diperintahkan, seluruh pasukan Kenzo mulai mengeluarkan seluruh isi restoran itu dengan begitu kasarnya.
__ADS_1
“Ada apa ini?!” tanya seorang wanita, yang diduga Lani istri Komar.
Ia sama sekali tidak dipedulikan oleh anak buah Kenzo, mereka terus menghancurkan tempat itu dengan kejamnya.
“Hentikan, atau saya lapor polisi!”
“Silahkan, agar saya tidak perlu repot-repot melakukannya.”
Kenzo mendekatinya, menyodorkan ponsel kehadapan Lani. Melihat siapa yang ada di hadapannya, Lani sedikit memundurkan langkahnya hendak kabur.
“Pegang dia.”
Seorang anak buah Kenzo, dengan cepat memegang kedua tangan Lani memelintirnya kebelakang.
“Sudah di kasi hati, masih saja mencari yang lain.” Kenzo kembali ketempatnya semula, menyaksikan tontonan seru di hadapannya.
“Tuan, Komar menuju kesitu.”
Mendapat pesan dari Tio, Kenzo tersenyum smrik mengisyaratkan agar Lani di ikat di sebuah kursi. Mau pria itu berbicara atau tidak, seluruh bawahannya pasti mengerti dengan satu tarikan nafasnya saja.
Tak menjelang beberapa menit kemudian, Komar bersama beberapa orangnya memasuki kawasan restorannya yang sudah diporak-porandakan oleh Kenzo.
“Hentikan semuany?! Siapa kalian?!” amarah Komar memuncak mendekati Lani.
Ia masih belum sadar akan kehadiran Kenzo di sana, saat tangan terulur membuka tali pada tubuh istrinya,
Dor
Sebuah tembakan meluncur mengenai kaca di sampingnya, Komar yang terkejut bukan main berbalik menatap kearah Kenzo yang tersenyum kearahnya.
“Kenapa gugup, kau takut melihat ku?” Kenzo kembali mendekati Komar dan juga Lani.
Hati pria tua itu begitu gugup, jika saja Ia tidak berkhianat waktu itu mungkin sekarang hidupnya tentram tanpa adanya ketakutan akan ancaman Kenzo.
“Siapa yang menyuruhmu melakukan semua itu?!” masih dengan nada yang tenang, Kenzo bertanya pada Komar.
“Kau mau jawab atau, “ seolah sengaja, Kenzo menggantungkan perkataannya.
Tangannya terulur kebelakang, seorang anak buahnya meletakkan ponselnya. Dengan senyuman terukir di bibirnya yang terlihat mematikan, Kenzo memperlihatkan sebuah video panas pada Lani istri Komar.
“Kau begitu mencintainya, tapi seluruh tubuh pada club sudah dicicipinya.”
Plak
Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi Komar, setelah Kenzo melepaskan ikatan tangan Lani tadi. Wajah memerah Komar terpancar nyata, pria paruh baya itu diinjak-injak harga dirinya oleh Kenzo.
“Lani, itu hanyalah editan semata,” Komar membanta, mencoba membela dirinya.
“Sano, sudah kau temukan sertifikat rumah mereka?!”
“Ini tuan.”
Mata kedua pasangan suami-istri itu kembali membulat, ketika Kenzo sudah berhasil mengambil alih aset-aset berharga keduanya.
__ADS_1
“Tuan, tolong ampuni suami saya.” Sembari bertekuk lutut, Lani meminta pengampunan kepada Kenzo atas kesalahan suaminya di masa lalu.
“Menyingkir dari kakiku!” bentak Kenzo.
Sama sekali tidak ada pergerakan dari Lani, Kenzo terpaksa menendang tubuh wanita itu. Dengan menentang berkas-berkas itu, Kenzo melangkah menuju mobilnya.
Namun, Komar sama sekali tidak mau semua itu kembali lagi pada Kenzo. Ia meluncurkan tembakannya, untungnya masih bisa di tepis oleh pria tersebut.
“Kau ingin menguji kesabaran ku?!” teriak Kenzo menggema.
Dor
Beberapa tembakan kembali diluncurkan anak buah Kenzo, setelah tangannya di gerakan sebagai perintah.
Komar yang sudah kehabisan peluru melawan Kenzo, terpaksa bersembunyi di balik Istrinya.
“Apa kau yakin ingin melindunginya?!”
Beberapa lembar foto-foto Komar bersama wanita yang berbeda, seolah turun dari langit setelah kalimat yang diucapkan Kenzo berakhir.
Sakit, tentu saja hal itu yang dirasakan Lani sekarang melihat kelakuan suaminya ketika berada diluar.
“Tuan, habisi dia.”
Ucapan yang keluar dari mulut Lani, merupakan tamparan besar bagi Komar. Ia tau, ketika Lani mengatakan hal itu, Kenzo pasti akan langsung menghabisinya. Oleh karena itu, Komar melilih kabur melewati pintu belakan. Semuanya begitu sia-sia saja, ketika beberapa anak buahnya yang notabene milik keluarga Lani menghadangnya di sana.
“Aku tidak bisa melakukan itu, nama baikku akan hancur. Tapi jika kau mau, lakukan sendiri kau aman bebas dari kepolisian.”
Sebelum Kenzo benar-benar pergi dari sana, Ia melemparkan sebuah pistol ke arah Lain dengan tersenyum puas melihat ekspresi wajah Komar.
“Lani, jangan sayang!” hebo Komar, ketika istrinya sudah mengarahkan senjatanya tepat pada keningnya.
“Diam! Aku rela meninggalkan ayahku demi dirimu, tapi kau malah asik bermain dengan wanita lain di luar sana!” amarah Lani menggebu-gebu.
“Lani, maafkan aku, “ Komar sudah bersimpuh di bawa kaki Lani.
Dor
Nyawanya sudah berpisah dengan tubuhnya, ketika peluru yang diluncurkan Lani menembus dada kirinya.
“Kenzo, awas kau! Akan ku hancurkan dirimu, “ tekad Lani menatap mobil Kenzo yang sudah menjauh dari sana.
Ada. Sedikit senyuman terukir pada bibir seorang Fabiandi Sagara, akhirnya Ia perlahan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik keluarganya. Ponselnya yang terus berdering, membuatnya harus mengusap layar tersebut.
[Tuan, ada hubungan antara mereka berdua]
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
__ADS_1
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.