My Posesif Bos

My Posesif Bos
Belanja online


__ADS_3

Setelah keduanya mencapai kamar, Zahra langsung tertuju pada ruang ganti Kenzo. Di sana, biasanya tersimpan seluruh pakaian Kenzo.


Kenzo yang tadinya sudah berpikiran lain, kali ini bingung dengan Zahra yang sudah memasuki ruang ganti pria itu.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Kenzo


Zahra sedikit tersenyum manis, menarik tangan Kenzo masuk kedalam ruangan itu.


Di sana, sudah terdapat tumpukan pakian yang baru saja habis di laundry Lia, salah satu asisten rumah tangga Kenzo pada bagian laundry.


“Ayok bantu lipat, kasian Lia harus melipat semuanya sendirian.”


Kenzo mantapnya tak percaya, jika dirinya yang melipat lalu untuk apa mereka di gaji? Tapi, setelah melihat kemurahan hati Zahra, Kenzo menutup pintu ruangan itu ikut mendekat kearah tumpukan pakian itu.


“Zahra, apa kau di dalam?”


Mendengar teriakkan Lia, Zahra yang hendak mendekati pintu dengan cepat ditahan Kenzo. Pria itu mengambil alih apa yang akan di lakukan Zahra, membuka pintu.


“Tuan, maaf, “ ujar Lia menundukkan kepalanya.


“Keluar, jangan izinkan siapapun masuk.”


Lia mengangguk patuh, melangkah meninggalkan ruang ganti Kenzo melalui pintu belakang. Tak lupa, Ia juga melakukan perintah Kenzo dengan memasang note pada depan pintu.


“Kemana Lia?” tanya Zahra, ketika Kenzo menutup pintu tanpa membawa Lia masuk bersamanya.


“Ada urusan, “ jawab Kenzo singkat.


Zahra berjalan mendekati Kenzo, yang sudah duduk di kursi yang berada dalam ruangan itu. Sedangkan pria itu, Ia sudah sibuk dengan ponselnya.


Zahra mulai mengambil satu persatu tumpukan pakian yang sudah di laundry Lia, mulai menyetrika dan juga melipat pakaian-pakaian itu.


“Kenapa harus dirimu? Apa Lia tidak bisa melakukannya?”


Kenzo menghentikan kegiatannya dengan benda pipih itu, menggeser kursinya mendekati Zahra yang tengah sibuk.


“Kan sudah saya bilang, kasihan dia harus melipat ini sendirian.”


“Tetap saja Zahra, saya tidak suka kamu melakukan semuanya. Mereka di gaji besar loh, tugas mu hanya diriku bukan yang lain, “ ujar Kenzo sedikit kesal.


Zahra yang tadinya sibuk dengan pakaian dan juga setrika, melepaskan benda-benda itu menatap Kenzo yang juga menatapnya namun, dengan ekspresi wajah masam.


“Ya sudah, wajahnya biasa saja dong,” ujar Zahra dengan sedikit kekehan diakhir kalimatnya.


Tak mendapat respon dari sang lawan bicaranya, Zahra seketika terdiam ketika merasa suasana begitu canggung.


“Saya tidak sedang bercanda Zahra,” ujar Kenzo yang sama sekali tidak menampilkan senyuman pada wajahnya.


“Iya maaf, lagian kerjaan Zahra paling sedikit. Jika pun sudah selesai nggak ada yang mau Zahra lakukan, bosan tau.”


Gadis itu ada benarnya juga, pekerjaannya paling sedikit dibandingkan yang lain. Ketika sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, Ia pasti akan uring-uringan kesana kemari mengusir kebosanannya.


“Saya tidak ingin kamu capek.”

__ADS_1


Zahra yang tadinya ingin melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi, dengan cepat dihentikan Kenzo yang memegang erat tangannya.


“Hentikan Zahra!”


Dengan sangat terpaksa, gadis itu menghentikan kegiatannya menatap Kenzo yang tengah sibuk dengan ponselnya.


“Sibuk amat, “ ujarnya.


Kenzo mengangkat kepalanya, menarik kursi Zahra mendekat kearahnya. Tanpa ragu, Kenzo dengan entengnya memberikan ponselnya kepada gadis disampingnya itu.


“Buat apa?”


Bingung dengan sikap tuannya, Zahra menatap lekat wajah Kenzo sembari bertanya-tanya maksud dari ponsel ditangannya.


“Terserah mau kau apakan!”


Mata Zahra seketika berbinar, setelah pendengarannya menangkap perkataan Kenzo. Dengan ragu-ragu, Zahra memperhatikan benda pipih yang jika dinilai harganya begitu sangat mahal.


“Wah keren banget, “ kagum Zahra memperhatikan setiap inci benda itu.


Kenzo hanya bisa menatapnya dengan sedikit senyuman terukir di bibirnya, lalu menarik tangan Zahra menuju sofa panjang pada ruangan itu.


Ia meletakkan kepalanya di atas paha Zahra, menutup perlahan matanya. Zahra sedikit terkejut hendak bangkit namun, tangan Kenzo menahannya.


“Sebentar saja, “ ujar Kenzo dengan mata tertutup.


Zahra menelan kasar salivanya, membiarkan Kenzo bertumpu pada pahanya. Ia kembali tertuju pada ponsel tuannya, Zahra membuka benda itu yang sama sekali tidak dikunci.


Ia begitu bingung harus berbuat apa, tak lama pikirannya tertuju pada boyband Korea favoritnya. Ketika Zahra hendak membuka YouTube, Ia dengan cepat mengurungkan niatnya lalu mendaftar akun platform belanja online.


Sudah sejak lama sekali, Ia ingin melakukan hal itu. Namun, ponselnya yang usang sangat tidak mendukung dirinya untuk berbelanja online.


Bukan tanpa alasan juga, Ia ingin berbelanja online. Akhir-akhir ini, Ia sudah sangat jarang menemui anak-anak panti. Jadi, Ia ingin mengirimkan sesuatu pada anak-anak di sana.


Setelah berhasil mendaftar menggunakan ponsel Kenzo, Zahra mulai memasukkan beberapa barang dan juga makanan kedalam keranjang. Setelah dirasanya cukup, Zahra yang bingung harus berbuat apa lagi menatap bingung benda itu.


“Bagaimana lagi?” gumamnya pelan.


Kenzo yang tidak sengaja mendengar perkataan Zahra, membuka matanya bangkit dari paha gadis itu.


“Ada apa?” tanya Kenzo.


Seolah tertangkap basah melakukan dosa besar, Zahra dengan cepat mematikan ponsel tadi menyembunyikan di balik punggungnya.


Entahlah, Ia pikir Kenzo tidak akan merasa penasaran dengan tingkahnya. Melihat gelengan kepala Zahra, Kenzo mendekati gadis itu lalu merebut paksa ponselnya.


Pria itu hendak membuka benda itu namun, terhalang oleh jari-jari Zahra yang sudah menutupi sebagian benda tersebut.


Mendapat tatapan tajam dari tuannya, Zahra menundukkan kepalanya menjauhkan tangannya. Ia memijat-mijat tangannya, takut Kenzo akan marah karena sudah lancang.


“Kau mau belanja?”


Mata Kenzo beralih dari ponselnya, menatap Zahra yang sama sekali tidak mengangkat kepalanya hanya tertunduk takut.

__ADS_1


“Zahra, hei jawab saya.”


“Ma-maaf, “ ujar Zahra terbata-bata.


Kenzo tersenyum kecil, menarik gadis itu kedalam pelukannya mengecup singkat ubun-ubun Zahra.


“Banyak sekali kau belanja, dan kenapa tidak menggunakan m-banking saya saja?”


Zahra yang hendak melepaskan pelukan Kenzo, mengurungkan niatnya saat pria itu memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskannya.


“Tidak enak jika menggunakan uang pribadi anda, lagi pula apa yang saja beli di situ sangat banyak tuan."


“Apa kau benar-benar membutuhkan semua ini?”


Zahra bingung harus menjawab apa?! Sebab itu bukanlah untuknya, melainkan keperluan anak-anak panti asuhan yang selama ini menjadi tempat melepas rasa penatnya.


“Alamatnya bukan rumah ini, ini alamat siapa?”


Kegugupan Zahra semakin menjadi-jadi, Ia takut jika Kenzo benar-benar marah karena apa yang dilakukannya tanpa izin.


“Jawab Zahra!”


Mendengar nada intonasi Kenzo yang lumayan menyiksa pendengaran, Zahra sedikit melepaskan pelukan Kenzo.


“Maaf, itu memang bukan untukku.”


“Lalu?”


“Itu untuk adik-adik ku,” jawabnya.


Mendapat tatapan bingung dari wajah Kenzo, Zahra mengambil alih ponsel itu ingin menghapus semua belanjaan yang sudah dipilihnya.


“Mau apa kau?”


Ia kembali mengurungkan niatnya, ketika ponsel itu sudah berpindah posisi ke tangan Kenzo. Matanya membulat, ketika Kenzo melakukan check out seluruh belanjaannya tadi.


“Aku akan menunggu kau menceritakan mereka, “ ujar Kenzo.


Zahra kembali di buat terkejut, ketika melihat proses pembayaran yang menggunakan m-banking milik Kenzo dan bukan punya dia.


Kenzo tersenyum manis, kembali menarik Zahra masuk kedalam pelukannya lalu mengusap lembut surai panjang gadis itu.


“Nanti akan ku perkenalkan kalian, “ ujar Zahra dalam dekapan Kenzo.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


__ADS_2