My Posesif Bos

My Posesif Bos
Seren


__ADS_3

Xio Lang yang sudah sangat frustasi mencari keberadaan kekasihnya, mengarahkan seluruh pasukannya mencari kesetiap penjuru kota.


“Cepat, temukan dia!” teriak Xio Lang.


Ketika tengah sibuk mencari kekasihnya, Xio Lang justru mendapatkan sebuah pesan video yang membuat emosinya terpancing.


“Breng sek!”


Xio Lang membanting sembarang ponselnya, Ia sangat kesal dengan isi dari video tersebut yang ternyata kekasihnya meminta dirinya untuk tidak melanjutkan pencarian tersebut.


“Ko, aku mohon jangan lanjutkan pencarian ini, aku sudah sangat bahagia dengan hidupku sekarang.”


Kira-kira, seperti itulah isi pesan video tersebut. Xio Lang kembali memungut ponselnya, lalu menghancurkan benda itu dengan sekali lempar kearah tembok.


“Dalam waktu dua puluh empat jam kalian tidak bisa menemukan Seren, akan ku bunuh kalian!” teriaknya, lagi.


Seluruh anak buahnya mulai melaksanakan perintahnya, mencari keberadaan Seren di penjuru kota. Mira yang sedari menguping pembicaraan Xio Lang, dirinya sedikit merasa sedih ketika mendengar bahwa Xio Lang ternyata memiliki seorang kekasih.


“Jika dia punya kekasih, lalu selama ini dia menganggap aku apa?” gumam Mira bertanya-tanya.


Mira kembali mengintip Xio Lang dari balik pintu kamarnya, hingga akhirnya Ia terkejut saat namanya di panggil dengan begitu keras oleh Xio Lang dari luar.


“Mira!” teriak Xio Lang.


Tanpa menjawab terlebih dahulu, Mira langsung menyelonong menghampiri pria itu. Saat sudah di hadapan Xio Lang, Pria itu langsung menarik tangannya kearah parkiran.


“Kita mau kemana?” Mira melepaskan tangannya dari genggaman Xio Lan, ketika keduanya hampir mencapai mobil pria itu.


Xio Lang yang melihat tingkah berani Mira, dengan penuh amarah Ia menarik rambut panjang Mira memasukkannya secara paksa kedalam mobilnya.


“Tinggal ikut saja apa susahnya, sih?” ujar Xio Lang.


Mira yang diperlakukan kasar seperti itu, menetaskan air matanya. Ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, hidupnya kini hanya tergantung pada Xio Lang.


Beberapa detik berikutnya, Xio Lang ikut masuk kedalam mobil. Tak menjelang lama, supir melajukan mobil tersebut meninggalkan kediaman mewah Xio Lang.


Dalam perjalanan, sama sekali tidak ada percakapan di antara. Mira yang malas untuk berbasa-basi, sangat tidak punya selera untuk mengeluarkan suaranya. Apa lagi, saat ini Xio Lang sangat sibuk dengan ponselnya maka memilih diam adalah keputusan yang tepat bagi Mira.


Di saat Xio Lang tengah sibuk mencari keberadaan Seren kekasihnya, Michael justru tengah tertawa terbahak-bahak melihat semua usaha yang dikerahkan pria itu.


Michael berjalan dengan membawa ponselnya, membuka sebuah ruangan yang tak jauh dari kamarnya mendekati seorang gadis yang berbaring lemah di atas ranjang.


“Bangun! Waktu tidurmu sudah habis, “ ujarnya, membangunkan paksa gadis itu.


Gadis tersebut perlahan membuka matanya, bisa dengan jelas Michael lihat wajahnya begitu pucat tak berdaya.

__ADS_1


“Apa kau sakit?”


Hal seperti inilah yang tidak disukai Ciko dari seorang Michael, tuannya itu pasti akan luluh melihat musuhnya tidak berdaya.


“Ciko, cepat ambilkan makanan!” titah Michael, membantu gadis itu duduk.


Ciko memutar bola matanya malas, melangkah keluar kamar mengikuti perintah Michael tadi. Tak menjelang beberapa menit kemudian, Ia kembali lagi dengan membawa sepiring makanan dengan berbagai macam lauk, lalu menyerahkan pada Michael.


“Jangan tidur Seren, ayok buka mulutmu!” titah Michael, menyodorkan sesendok makanan kemulut Seren.


Yah, mau seperti apapun Xio Lang mencari, kemanapun Ia mencoba mencari kekasihnya, tetap tidak akan menemukan keberadaan Seren. Sebab, Saat Ini Michaellah yang mengurung gadis itu di rumahnya.


“Ke-Kenapa kau melakukan ini? Mike, “ ujar Seren, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Michael.


“Siapa suruh kau menjadi kekasih si sipit itu, buka mulutmu!” jawab Michael enteng.


“Apa kau akan membunuhku?”


Pertanyaan yang dilontarkan Seren kali ini, sedikit membuat Michael menghentikan tangannya yang sudah ingin menyuapi gadis itu lagi.


“Tentu saja, kau menantangku?!” ujar Michael, memasukkan lagi makanan kedalam mulut Seren


“Yah aku menantangmu, lakukan sekarang!”


Sesuai dengan perkataan gadis itu, Michael meletakkan piring yang masih berisikan makanan keatas nakas. Dengan gerakan cepat, Ia menarik senjata tajam dari Ciko dan langsung mengarahkan pada Seren.


Melihat Seren menutup kedua matanya, Michael tertawa kecil lalu menyerahkan kembali belati tersebut pada Ciko.


“Aku tidak bisa membunuh gadis yang menutup matanya, sebelum belatiku merebut nyawanya.”


Seren dengan perlahan membuka matanya, menatap Michael yang sudah kembali menyodorkan makanan kearahnya.


“Aku sudah kenyang, “ ujar Seren, menolak makanan dari tangan Michael.


“Habiskan Seren, jika kau mati sekarang aku tidak bisa melihat kekasihmu menderita lagi.”


Dengan sangat terpaksa, Seren kembali menerima suapan makanan yang di berikan Michael kepadanya.


“Good girl, jangan coba-coba kabur!”


Michael berjalan meninggalkan ruangan itu, bersama Ciko yang mengikutinya dari belakang meninggalkan Seren seorang diri dalam kamar tersebut.


“Sebegitu bencinya dirimu, Mike, “ gumamnya.


Baik Michael maupun Xio Lang, ketika keduanya sibuk mengurusi gadis yang bernama Seren, Kenzo justru tengah pusing melihat tingkah Zahra yang tidak bisa di suruh duduk.

__ADS_1


“Jika kau berani menyentuh sapu itu, akan ku pastikan seluruh pelayan di sini kehilangan pekerjaan merek!” ancam Kenzo.


Bagaimana tidak seperti itu? Gadis itu sedari pagi terus saja menguji kesabarannya. Tak hanya Kenzo saja yang dibuat pusing, seluruh pelayannya juga di buat pusing dengan tingkah Zahra dan juga ocehan Kenzo.


“Tidak Tuan, aku harus bekerja. Tidak enak memakan gaji buta, “ ujar Zahra.


Gadis itu tetap kekeh membawa sapunya menuju kamar Kenzo, Kenzo menarik nafasnya panjang berlari menghalau jalan Zahra yang sudah hampir mendekati tangga.


“Cukup Zahra! Mbok Ina, bersihkan kamarku!” teriak Kenzo.


Saat itu juga, Mbok Ina dengan kekuatan penuh mendekati keduanya lalu mengambil alih sapu dan juga pel dari tangan Zahra.


“Mbok, biar aku saja, “ ujar Zahra.


Tak memperdulikan perkataan gadis itu, Mbok Ina melangkah dengan cepat menuju kamar Kenzo. Sedangkan Zahra, Kenzo sudah menariknya menuju kolam.


“Tuan, Aku ma-


“Diamlah Jasmine, aku akan membunuh setiap pelayan di sini jika kau berani menyentuh sapu itu, “ ancam Kenzo.


Dengan helaan nafas panjang, Zahra akhirnya menyerah dan memilih mendekati kolam ikan bermain dengan ikan-ikan di sana. Kenzo yang melihat hal itu, menarik nafas lega akhirnya gadis itu bisa diam juga.


“Jangan sampai basah!” teriak Kenzo memperingati Zahra.


Zahra yang sama sekali tidak memperdulikan perkataan Kenzo, semakin mencipratkan air hingga sebagian bajunya menjadi basah kuyup.


Risih bajunya sudah basah, Zahra mendekati Kenzo dengan senyuman mengambang gadis itu langsung duduk keatas pangkuan Kenzo dengan pakian basahnya.


“Sudah ku katakan, jangan sampai basah!” kesal Kenzo.


Zahra yang seolah tuli dengan ucapan Kenzo, malah sibuk memainkan wajah Kenzo begitu asiknya dengan posisi yang sama, dirinya di atas pangkuan Kenzo.


“Kau sangat berisik hari ini, “ ujar Zahra tanpa Dosa.


Kenzo hanya bisa memutar bola matanya malas, lalu tangannya bergerak memeluk pinggang ramping Zahra sembari menatap apa yang dilakukan gadis itu terhadap wajahnya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2