My Posesif Bos

My Posesif Bos
Xio Lang berulah


__ADS_3

Mentari mulai terbenam, sinarnya perlahan di gantikan oleh gelapnya malam yang mulai menguasai bumi.


Zahra yang sudah selesai membersihkan kamar Kenzo, melangkah bersama alat perangnya menuju dapur.


"Kau ini, bukankah tadi sudah di bilang jangan kerja, " oceh Bita kesal, menarik paksa peralatan kerja Zahra.


Gadis itu sangat berlebihan terhadapnya. Tak hanya Bisa, sepertinya semua orang dalam rumah itu sangat berlebihan terhadapnya.


"Sangat berlebihan, " ujar Zahra.


Bita yang baru saja kembali dari dapur, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zahra.


"Semuanya juga tidak akan berlebihan, jika saja waktu itu kau tidak keluar dari sini secara diam-diam! " ujar Bita dengan nada tinggi.


Zahra menutup kedua telinganya, ketika tidak tahan dengan suara teriakan Bita.


"Apa kau mau mati?! "


Tino yang baru saja memasuki dapur, menyentil kening Bita membuat gadis tersebut meringis.


"Keningku sakit! " teriak Bita lagi.


Zahra hanya terkekeh, mendengar celutukan Bita dalam melupakan kekesalannya.


"Kemana Mbok? "


Bita memutar bola matanya malas, berlalu meninggalkan Zahra dan juga Tino.


"Heh tuyul, mau kemana? "


Tak terima di panggil tuyul, Bita berbalik menginjak kaki Tino kembali berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Mbok Ina sedang ke pasar. "


Tino mengeluarkan sebuah amplop coklat, yang begitu sangat tebal menyerahkannya kepada Zahra.


"Jika Mbok pulang, berikan padanya. "


Zahra yang belum bersuara, sudah ditinggali Tino begitu saja.


Dengan sedikit berlari, Zahra mengejar Tino ketika pria tersebut sudah menduduki sofa.


"Aku nggak bisa, " tolak Zahra sembari membuang amplop tersebut, seolah memegang barang haram.


Bita dengan segera, memungut amplop yang dibuang Zahra. Matanya membulat dengan senyuman sedikit terukir di bibirnya, Ia menatap Tino.


"Uang belanja sebanyak ini, apa tidak ada sedikit untuk kami? "


Zahra yang mendengar perkataan Bita, Ikut tergoda dengan ucapan Bita.


"Benar tuh, lebihin dikit yah, " titah Zahra ikut-ikutan.


Tino yang di tatap dengan ekspresi imut dari Bita dan Zahra, mengusap kasar wajahnya.


"Apa yang mau dilebihkan? "


Kenzo yang baru saja kembali bersama Vino dan Tio, menghampiri ketiganya.


"Kalian minta saja sama pemiliknya. "


Bita yang sama sekali tidak berani menatap Kenzo, menggelengkan kepalanya.


Zahra yang juga malas berdebat dengan Kenzo, ikut duduk di samping Tino.


"Jawab! "


Semua yang berada di sana, tersontak kaget dengan bentakan Kenzo. Bita menelan kasar salivanya, menatap Zahra.


"Itu, uang belanjanya di lebihkan yah, " tutur Zahra sembari bergelayut di lengan Kenzo.

__ADS_1


Kenzo menatap lekat wajah Zahra, mengisyaratkan agar Vino mendekat kepadanya.


"Baik tuan. "


Setelah mendapat bisikan maut dari Kenzo, Vino berlalu pergi dari sana.


"Apa yang ingin kau beli? "


Pertanyaan Kenzo seolah menyadarkan Zahra, benar juga jika Ia di berikan uang oleh Kenzo apa yang harus Ia beli?


Zahra terkekeh menatap wajah Bita, yang saat itu Bita juga tengah menatapnya.


"Entahlah mau beli apapun aku tidak tau? "


Kenzo hanya mengangguk, berbeda dengan Tio dan juga Tino, keduanya mengangga lebar dengan apa yang di ucapkan Zahra.


"Kalau tidak tau ingin membeli apa, lalu kenapa minta uang belanjanya di lebihkan? "


"Benar juga, " ujar Zahra.


Tak menjelang lama, Vino kembali dengan membawa beberapa lembar uang di tangannya.


"Ambil. "


Zahra sedikit melirik Bita, lalu mengambil uang tersebut dari tangan Kenzo.


Zahra memberikan sebagian kepada Bita, sebagian lagi untuknya.


"Apa airnya sudah di siapkan? saya harus mandi. "


Zahra menatap sekilas wajah Kenzo, berlari kecil menuju kamar Kenzo. Melihat Zahra yang ke kamarnya, Kenzo menatap tajam Bita.


"Sudah ku katakan dia tidak boleh bekerja! " bentak Kenzo.


"Berhentilah berteriak, ayok mandi."


Seolah terselamatkan dari Kenzo, Bita tersenyum menatap Zahra dari lantai bawah.


Mata keempat anak buahnya, terus mengikuti punggungnya hingga Kenzo hilang dari pandangan mereka.


"Mau kau apakan uang itu? "


Pertanyaan bodoh itu, meluncur keluar dari mulut Tino begitu saja tanpa di rem.


"Mau ke klub. "


"Mau cari mati kau?! " ujar Tio.


Sepertinya memang benar, kesabaran pria itu setipis tissue.


"Yee marah, kalian saja bisa kenapa aku tidak?! " nantang Bita.


"Dasar bodoh, kita kerja bego. "


Vino menyentil kening Bita, berjalan menuju televisi.


"Halah, alasan. "


Gadis itu ingin melangkah pergi namun, dengan segera tangannya di cekal Tio.


"Lalu kau mau apa ke klub?! "


"Nyebat, mabok-mabokan, terus nyari papa gula. "


Tino menggelengkan kepalanya, mendengar apa yang di ucapkan Bita.


"Sudah ah, mau beli bakso. Pasti bentar lagi lewat nih, Zahra mau bakso nggak?! "


Mendengar teriakkan Bita, Zahra yang sudah selesai menyiapkan air hangat untuk Kenzo bergegas keluar dari kamar Kenzo.

__ADS_1


"Mau! " balas Zahra yang tentu saja dengan teriakan.


Bita mengangkat jempolnya, berlari keluar rumah Kenzo.


"Zahra! "


Zahra memutar bola matanya malas, ketika suara yang begitu sangat menyebalkan itu menembus telinganya.


"Apa lagi? " tanya Zahra melangkah masuk kedalam kamar Kenzo.


"Dimana kau menyimpan baju saya? "


Zahra kembali menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan kasar, mengambil baju yang di maksud Kenzo dari bawa sofa.


"Kan sudah di bilangin, jangan taruh sembarangan, " oceh Zahra.


"Iya iya bawel."


Zahra malas turun ke bawah lagi, memilih menghidupkan televisi yang berada pada kamar Kenzo.


"Berita hari ini, pebisnis luar Xio Lang berhasil mendapatkan kerja sama dengan salah satu perusahaan asal Jepang. Tak hanya itu, beliau juga mengatakan, jika Sagara grup pernah melakukan trik kotor ketika mengajukan kerjasama dengan perusahaannya. "


Tak hanya Zahra yang terkejut akan hal itu, Vino dan juga kembar ikut terkejut dengan berita tersebut.


Kenzo yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuat Zahra dengan segera menutup televisi menggunakan tubuhnya.


"Tidak usah menutupinya, saya sudah mendengar dari dalam tadi. "


Zahra dengan perlahan, menggeser tubuhnya yang menutupi seluruh televisi.


Kenzo melangkah mengambil pengering rambut, menyodorkan pada tangan Zahra.


Dengan sangat terpaksa, Zahra mengambil pengering rambut yang di berikan Kenzo lalu berjalan menuju ranjang.


Kenzo terkekeh, ketika melihat Zahra yang tidak duduk melainkan berdiri di atas ranjang agar menyamai tinggi badannya.


"Diam, " kesal Zahra ketika Kenzo terus menertawakannya.


Kenzo berjalan mendekati ranjangnya, tepat di hadapan Zahra. Dengan sangat telaten, Zahra mulai mengeringkan rambut Kenzo.


Karena cukup lama, Kenzo melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Zahra.


"Mau ku bakar! " ancam Zahra.


Tak memperdulikan perkataan gadis dihadapannya, Kenzo semakin menarik tubuh Zahra hingga dada gadis itu mendekati wajahnya.


"Bergumpal. "


Plak


Kenzo semakin terkekeh, ketika Zahra dengan reflek mengetuk kepalanya.


"KDRT Zahra, " ujar Kenzo.


"Dih, KDRT dari mana coba?! "


Zahra melepaskan tangan Kenzo dari pinggangnya, melompat turun dari atas ranjang berjalan menyimpan pengering tadi.


"Zahra, Baksonya sudah datang! "


Mendengar teriak kan Bita dari lantai bawah, Zahra bergegas meninggalkan kamar Kenzo.


Selepas kepergian Zahra, Kenzo mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Bereskan berita itu. " ujarnya menutup sepihak panggilan telepon, meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.


.


.

__ADS_1


.


Please 🙏 kalau mampir ke cerita aku jangan lupa komen sama likenya biar aku tau kalau ada yang baca ❤️


__ADS_2