
Hari sudah mulai gelap, dalam perjalanan pulang suasana mobil di hiasi dengan nyanyian Zahra yang tak ada habisnya.
Meskipun suaranya fals, tapi bagi Kenzo itu sangat menggemaskan. Berbeda dengan Kenzo, Vino justru hampir mati dalam mobil saat ini.
"Tuan, sepertinya itu Xio Lang."
Zahra yang begitu hebohnya, seketika terdiam saat mulutnya dibekap Kenzo. Manik Kenzo melirik keluar kaca mobil, benar saja Xio Lang sepertinya tengah melakukan transaksi gelap.
Tepatnya di sebuah pantai yang berada di pinggir kota, bersama Mira yang mengenakan bra saja Xio Lang menemui rekan bisnis gelapnya.
"Vino, parkir sedikit dekat!"
Dengan begitu lihainya, Vino memarkirkan mobil yang dikendarainya bersembunyi dibalik semak.
Kenzo hendak merai handle pintu mobil, menghentikan niatnya ketika tangannya ditahan Zahra.
"Aku takut, " ujar Zahra menatapnya risau.
Kenzo mengusap wajah kasar, melirik Vino yang sudah Menyodorkannya teropong. Bukan maksud menguping, tapi si sipit itu pasti akan membawanya ke jurang ketika melakukan hal yang ilegal.
"Akan sangat beresiko jika kita haru turun, " ujar Vino.
Kenzo mengambil teropong dari tangan Vino, menarik Zahra masuk dalam pelukannya membenamkan wajah gadisnya dalam dada bidangnya. Kenzo mulai memperhatikan, siapa yang akan menjadi penada barang haram Xio Lang.
Senyuman terukir indah pada bibirnya, ketika melihat Erlan, seorang kepala polisi ikut masuk dalam dunia gelap itu.
"Luar biasa, " ujarnya.
"Vino, hubungi Tio pastikan besok namaku bersih dari hal ini."
Kenzo meletakkan teropong itu di sampingnya, sedikit melirik Zahra yang berada dalam pelukannya. Tangan mengusap lembut surai hitam Zahra, dengan begitu lembutnya.
"Kita pulang Vino, " ujar Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zahra.
Tak menjawab perkataan tuannya, Vino kembali melajukan mobil meninggalkan kawasan berbahaya itu.
Erlan yang saat ini mendekati Xio Lang, sedikit tersenyum menatap tubuh Mira yang hanya mengenakan rok mini dengan atasan bra.
"Akh, " desah Mira, ketika tangan Erlan dengan lancangnya meremas payu daranya.
"Singkirkan tanganmu, " ujar Xio Lang.
Erlan tersenyum penuh arti, melepaskan tangannya dari da da Mira. Pria itu berjalan mendekat kearah arah Xio Lang.
"Dimana barang-barang itu? " tanya Erlan.
Xio Lang hanya tersenyum, dengan jari yang mengarah ke arah kapal-kapal yang baru saja muncul.
"Sesuai janji ku, 1M."
Senyuman mengambang pada wajah Xio Lang, melihat tas berisikan lembaran merah didalamnya.
"Hei pela cur, apa kau suka?!" ujar Xio Lang mendekati Mira dengan uang-uang itu.
Gadis itu tidak menjawab perkataan Xio Lang, Ia justru sudah menutup matanya menikmati tangan pria itu yang sudah berada pada paha bawanya.
"Jawab sayang, " ujar Xio Lang sedikit berbisik manja.
"Akh, A-aku suka, " jawab Mira tertatih-tatih.
Erlan yang melihat hal tersebut, menggelengkan kepalanya. Ia kembali fokus kedepan, ketika kapal-kapal pembawa benda-benda terlarang itu sudah mendekat.
"Berhentilah bermain dengannya Lang, urus barangku."
Dengan sangat terpaksa dan penuh kekecewaan, Xio Lang menghentikan aksinya pada Mira lalu mendekati benda-benda haram yang baru saja diturunkan.
__ADS_1
"Apa kalian sudah mengganti platnya?" tanya Michael.
"Sudah tuan, " sahut Ciko.
Beberapa orang anak buah Ciko, sudah bersiap di belakang mereka. Michael tersenyum kecil, menatap kearah pantai yang di sana sudah terdapat Xio Lang yang sedang menghitung goni berisikan beberapa senjata, dan juga gan ja.
"Senang bekerjasama denganmu Xio Lang, " ujar Erlan tersenyum puas.
Xio Lang hanya menatapnya sekilas, lalu melirik ke arah tas yang berada pada tangan Mira.
"Aku lebih senang lagi Erlan, " ujarnya.
Erlan mengangguk kecil, melangkah menuju mobil box yang sudah berada benda-benda itu didalamnya.
Tak mau tinggal diam, Xio Lang meraih pinggang Mira melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, Erlan Menuju ke arah timur, Ia ke arah barat.
"Hubungi yang lain, mereka sudah bergerak."
Ciko mengangguk, menekan tombol pada ponselnya mengirim pesan pada beberapa anak buahnya yang menjaga di ujung jalan.
Michael tersenyum, melajukan mobilnya. Kali ini, Ia memilih untuk menyetir sebab jika Ciko yang menyetir Ia akan kewalahan dalam mengahalau musuh.
"Mereka sudah siap tuan."
Mendengar ucapan Ciko, Michael semakin menggila melajukan mobilnya hingga mendekati mobil box milik Erlan.
Bruk
tak sampai disitu saja, pria itu menabrak mobilnya pada mobil itu, hingga membuat penumpang didalam terkejut.
Sadar mobilnya diikuti oleh orang tidak di kenal, Erlan dengan cepat menaikkan kecepatan lajunya.
"Siapa mereka?!" tanyanya sedikit berteriak.
Erlan menjadi risau, Ia mengeluarkan senjata apinya mengarahkan ke arah Michael.
Dor
Suara tembakan yang berhasil diciptakan Erlan, membuat Michael semakin menggila saja.
"Ciko, tembak ban belakang mobil box itu!" pintah Michael tenang.
Ciko mulai mengarahkan senjatanya dan,
Bum
Pelurunya berhasil menembus lapisan ban itu, mobil itu tergelincir di aspal namun tidak sampai berhenti.
"Sial!" umpat Erlan.
Ia kembali melayangkan tembakannya yang sudah pasti gagal mengenai Michael. Tanpa Erlan sadari, beberapa orang anak buah Michael sudah menghadangnya di depan.
"Kenapa berhenti? "
Bingung kenapa mobilnya tidak lagi melaju, Erlan menatap bawahnya.
"Kita di hadang bos."
Erlan mengikuti arah telunjuk bawahannya, yang saat ini mengarah ke depan dengan banyak orang yang sudah berdiri disana.
"****!"
Umpatnya berulang kali, Ia bingung haru apa sekarang? Jika Ia turun, dirinya harus menghabisi semua orang itu baru Ia bisa lewat.
Tanpa disadarinya, Michael dan Ciko sudah berhasil menghabisi penjaga barang-barangnya.
__ADS_1
"Bereskan ini, " ujar Ciko kepada anak buahnya.
Beriringan dengan Michael, keduanya berjalan mendekati mobil Erlan. Yang pastinya, mereka sudah mengenakan penutup wajah.
Tok tok
Ciko mengetuk kaca mobil namun, Erlan tak memberi respon. Geram akan hal itu, Michael langsung menembak kaca tersebut.
Erlan yang sudah terpancing emosi, keluar dari mobilnya dengan senjata api pada tangannya.
"Siapa kalian?! " ujarnya.
"Bos, barang kita habis di rampok."
Terkejut dengan pernyataan itu, Erlan melayangkan tembakannya mengenai dada kiri Michael. Bukan Michael namanya, jika melakukan sesuatu tanpa bertarung.
Pria itu mengeluarkan kamera, memotret wajah Erlan kemudian memasuki mobilnya.
"Buat mereka terluka, tapi jangan sampai mati."
Mendengar perintah tuan muda Michael, para pasukannya mulai menyerang Erlan bersama bawahannya.
Tak perduli dengan perkelahian itu, Michael melajukan mobilnya bersama Ciko serta rampasannya itu, meninggalkan tempat tersebut.
...***...
Saat ini, Kenzo yang masih dalam perjalanan melirik kearah Zahra yang seperti tertidur.
"Vino, kecilkan musiknya."
Tak memberi respon, Vino langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Kenzo.
"Aaa jangan!"
Kedua pria itu terkejut, ketika suara cempreng Zahra melengking tinggi tak ingin musiknya dimatikan.
"Tidur!" ujar Kenzo singkat, dengan nada sedikit tinggi.
Zahra menatapnya kesal, lalu melirik kearah luar mobil memunggungi Kenzo. Ia baru tersadar, jika tadi Ia sama sekali tidak mengunjungi Panti.
"Lain kali saja, " gumamnya pelan.
Walaupun pelan, Kenzo masih bisa mendengar apa yang diucapkan wanita itu. Ia membalikkan tubuh Zahra, menatapnya.
"Apa yang lain kali?"
"Kepo, " jawab Zahra judesnya.
"Mau jawab, atau mau mati?"
Mendapat ancaman dari Kenzo, Zahra terkekeh geli dengan cepat memeluk erat tubuh tuannya. Kenzo yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba, tersenyum puas membalas pelukan Zahra.
"Jadi nyamuk lagi kan." batin Vino kesal dengan posisinya saat ini.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1