My Posesif Bos

My Posesif Bos
Zahra Sadar


__ADS_3

Susah hampir dua hari, Zahra belum juga membuka matanya. Begitu juga dengan Kenzo, yang sudah hampir dua hari sama sekali tidak pulang ke rumah.


Seolah mendapat mukjizat dari yang mahakuasa, Zahra menggerakkan jarinya lalu perlahan Ia membuka matanya. Matanya menelusuri sekeliling ruangan itu, lalu tertuju pada seorang pria yang tertidur pulas di sampingnya. Ketika sudah menyadari yang berada di sampingnya adalah Kenzo, Zahra sedikit mengusap kepala tuannya.


“Tu-tuan, “ ujarnya pelan, membangunkan Kenzo.


Mendengar namanya di sebut meski samar-samar, Kenzo mengangkat kepalanya sedikit mengusap wajahnya. Rasa kantuk yang tadinya begitu melanda dirinya, seketika hilang saat melihat Zahra sudah menatapnya.


“A-aku lapar, “ ujar Zahra dengan nada melemah.


“Zahra, kau sudah sadar?! Mau makan, okey aku ambilkan. Erik!”


Dengan begitu terburu-buru, Kenzo mengambil bubur yang tadi di letakkan perawat di atas nakas sembari memanggil Erik.


“Kau tetap seperti itu, jangan bergerak.”


Ketika melihat Zahra hendak bergerak duduk, Kenzo dengan cepat meletakkan kembali bubur di atas nakas membantu Zahra memperbaiki posisinya.


“Ayok buka mulutnya, “ Kenzo menyodorkan sesendok bubur kehadapan Zahra.


Bukannya memasukkan makanan itu kedalam mulutnya, Zahra malah menutup rapat-rapat mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.


“Zahra, bukannya kau lapar? Ayok buka mulutnya, “ Kenzo masih berusaha menyodorkannya bubur kedepan gadis itu.


Lagi, dan lagi Zahra menggelengkan kepalanya menolak bubur itu. Kenzo menarik senyumannya, kembali berusaha lagi.


“Ayok makan!” titahnya.


Lumayan sedikit terpaksa, Zahra akhirnya membuka mulut ketika tatapan Kenzo sudah tidak bersahabat lagi.


“Nggak mau lagi, “ tolak Zahra.


Kenzo terpaksa meletakkan kembali bubur itu, meskipun baru sesendok yang masuk kedalam perut Zahra. Erik memasuki ruangan itu, sedikit berdecak kesal menatap keduanya.


“Menyusahkan, “ jutek Erik.


Zahra sedikit terkekeh malu kepada Erik, sementara Kenzo tak memperdulikan setiap ocehan tak penting itu.


Zahra berbaring kembali dengan bantuan Kenzo, lalu Erik mulai memeriksa kondisi Zahra. Ia menatap kesal Kenzo, setelah selesai memeriksa Zahra.


“Kenapa menatapku seperti itu? Kau sudah bosan kerja?”


Erik yang tadinya menatap kesal Kenzo, tiba-tiba saja menampilkan senyuman khasnya mencoba merayu Kenzo agar tidak ditendang dari rumah sakit itu.


“Aku sedang mencoba eksepsi baru tadi, “ elasnya tak masuk akal.


Zahra yang tadinya tidak bersuara, seketika tertawa renyah saat melihat tingkah kedua pria dihadapannya ini.


“Yeah kau tertawa, oke bye! Aku bukan badut.” Kesal Erik meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian Erik, Zahra menatap kearah Kenzo. Dapat Ia lihat begitu jelas, kalungnya ada pada leher pria itu.


“Kembalikan kalungku!” titah Zahra dingin.

__ADS_1


Kenzo yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mendekati Zahra sembari melepaskan benda itu dari lehernya.


“Kau, marah padaku?” tanya Kenzo hati-hati.


Zahra tak menjawab pertanyaan Kenzo, Ia menutup matanya dan perlahan terlelap dalam alam tidurnya. Sedangkan Kenzo yang masih terus menunggu jawaban dari Zahra, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.


“Zahra, maafkan aku, “ ujarnya menyesal.


Ketika mendengar seruan nafas Zahra yang mulai terdengar teratur, Kenzo menarik nafasnya panjang tersenyum menanggapi kebodohannya.


“Dia sudah tidur rupanya, “ gumamnya terkekeh.


Kenzo menggelengkan kepalanya, sedikit mendekati Zahra lalu menyelimuti sebagain tubuh gadis itu. Kenzo melangkah mendekati sofa di sana, membaringkan tubuhnya lalu menelpon Arnia Omanya.


“Hallo Oma, “ ujarnya setelah sudah di pastikan, panggilan di jawab Arnia.


“Iya, dia sudah sadar. Sepertinya besok sudah bisa pulang, “ tambah Kenzo lagi.


Hari sudah semakin siang, Kenzo yang sama sekali tidak menyentuh air dari pagi, mulai merasa gerah akibat panas.


“Ruang VVIP macam apa ini?” oceh Kenzo mendekati remote AC.


Kenzo menekan tombol pada remote itu, menaikan temperatur suhu hingga kesejukan menyelimuti tubuhnya. Zahra yang merasa begitu dingin, membuka matanya menangkap basah Kenzo tengah memegang remote AC.


“Dingin tuan, “ ujarnya menutup tubuhnya.


“Kau tahan saja, aku kepanasan karena tidak mandi.”


“Kau mau dia mati?!” oceh Erik menarik remote dari tangan Kenzo, mengembalikan pada suhu seharusnya.


Kenzo yang kesal dengan sikap Erik, terpaksa harus mengalah demi kesehatan Zahra. Erik mendekati Zahra, menyembunyikan remote itu di bawah bantal Zahra.


“Jangan sampai dia mencurinya, “ ujar Erik.


Setelah meletakkan obat di hadapan Kenzo, Erik melangkah keluar ruangan setelah memberitahu resep obat itu.


“Minumnya setelah makan saja.” Setelah itu, Erik sudah benar-benar tidak berada di sana lagi.


Kenzo mengambil sebuah pil obat, bersama dengan gelas berisi air di tangannya Ia mendekati Zahra bermaksud memberikan gadis itu obat.


“Kau mau minum?”


Jika dia menjadi dokter, mungkin para pasien akan langsung mati. Bagaimana tidak? Ia tidak langsung memberikan obat, Ia masih bertanya apakah Zahra mau meminumnya atau tidak.


“Ia mau, “ ujar Zahra.


Kenzo tersenyum puas mendengar perkataan Zahra, menyodorkan obat itu kedalam mulut Zahra. Dengan cepat Kenzo kembali menyodorkan segelas air, setelah melihat ekspresi wajah Zahra menahan pahitnya obat.


“Mau tidur?”


Begitu banyak sekali pertanyaan yang didengar Zahra, Ia memutar bola matanya malas menyandarkan kepalanya pada bantal. Kenzo meletakkan gelas tadi ke atas nakas, ikut menumpukan kepalanya di samping Zahra.


Karena sudah dua hari tidurnya tidak benar, pria itu langsung terlelap saat sudah mendapat tempat yang nyaman.

__ADS_1


Merasa kasihan kepada tuannya yang sepertinya capek, Zahra sedikit menggeser tubuhnya memberi sedikit ruang lalu menyentuh pelan kepala Kenzo.


“Ken, ayok ke sini, “ ujar pelan.


Kenzo yang baru beberapa menit terlelap dalam tidurnya, terpaksa harus membuka matanya saat tangan dingin Zahra menyentuh kulitnya.


“Ada apa sayang? Ada yang sakit?”


Wajah Zahra seketika bersemu merah, ketika perkataan Kenzo menembus telinganya. Ia menggelengkan kepalanya, berpikir jika pria itu belum sepenuhnya sadar.


“Ayok ke sini! Kau pasti sangat capek, “ ujar Zahra.


Melihat Zahra menepuk sebelahnya, Kenzo dengan semangat penuh melepaskan sepatunya menaiki ranjang.


Sangat begitu nyaman, akhirnya Kenzo bisa juga merasakan empuknya sebuah kasur. Ia perlahan menutup matanya namun, terbuka lagi saat Zahra tak hentinya menatapnya.


“Ada yang salah dengan wajahku?”


Zahra menggelengkan kepalanya cepat, lalu sedikit berbalik tak ingin menatap wajah Kenzo lagi. Kenzo tersenyum kecil, mengarahkan tangannya memeluk pelan pinggang Zahra tanpa menyentuh bekas operasi gadis itu.


“Jika kau bergerak, tanganku akan menyentuh bekas operasinya.”


Mendengar perkataan dari Kenzo, Zahra terpaksa tidak bergerak agar hal itu tidak terjadi. Kenzo tersenyum kecil, mulai menutup matanya.


Zahra melirik ke arah Kenzo yang sudah terlelap, melihat sebuah bekas luka kening pria itu.


“Dia benar-benar Ken, “ gumamnya pelan.


Tak lama kemudian, karena terlalu fokus pada wajah Kenzo Zahra akhirnya ikut terlelap dalam alam tidurnya.


Michael yang baru saja kembali dari markasnya, tak sengaja berpapasan dengan Erik yang juga hendak ke ruangan Zahra.


“Dia sudah sadar, “ ujar Erik.


Michael tersenyum kecil, meraih heandle pintu sedikit mendorong lalu menampakkan isi ruangan itu.


Keduanya menarik nafa panjang, melangkah masuk menatap kedua insan yang tengah tertidur sembari berpelukan.


“Dia Fabiandi, bukan Kenzo, “ ujar Michael.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹

__ADS_1


__ADS_2