My Posesif Bos

My Posesif Bos
Berdua saja


__ADS_3

Hari ini, Seisi rumah begitu sibuk tak terkecuali Zahra. jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Zahra baru melangkah menuju kamar Kenzo.


Saat kakinya mencapai ambang pintu, Zahra di kejutkan dengan tangannya yang di pegang Kenzo.


"Loh, udah balik? "


Kenzo hanya mengangguk mengiyakan perkataan Zahra, menyelonong masuk kedalam kamarnya begitu saja.


"Eh, bentar dulu tuan itu kamarnya belum di bersihkan, " ujar Zahra ikut masuk.


Ia berhenti di depan ranjang Kenzo, ketika melihat tuannya sudah berbaring di sana.


Zahra yang melihat itu, sedikit mendekat kearah Kenzo lalu meletakkan tangannya pada kening pria itu.


"Biasa aja nggak sakit, " gumamnya.


"Saya hanya capek Zahra, "


Gadis itu tak memperdulikan perkataan Kenzo, Ia memilih memulai pekerjaannya.


Dengan begitu sangat telaten, Zahra mulai membersihkan seluruh kamar Kenzo. Selesai dengan menyapu dan mengepel, Zahra masuk kedalam kamar mandi Kenzo, menyiapkan air untuk bosnya mandi.


"Tuan, airnya sudah siap. "


Kenzo perlahan membuka matanya, mengambil handuk pemberian Zahra memasuki kamar mandi.


Kenzo yang sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, saat melangkah keluar sudah tidak mendapati Zahra lagi di sana.


Dengan hembusan nafas yang kasar, Ia mengenakan baju yang sudah di siapkan Zahra lalu berjalan menuju ambang pintu.


Kaki Kenzo terhenti di dapur, ketika melihat sosok yang di carinya tengah sibuk bersama Bita bergosip ria.


"Ikut saya, " ujar Kenzo menghampiri keduanya.


"Kemana? "


Belum sempat pertanyaannya di jawab, Kenzo sudah lebih dahulu menarik tangannya keluar dapur.


"Huh, selalu saja dia pergi di saat lagi asik, " kesal Bita, dengan pandangan yang masih setia tertuju pada punggung Kenzo dan Zahra.


Vino yang sejak semenit lalu berada di dapur, ikut menatap kepergian Zahra dan juga tuannya itu.


"Lihat apa? "


"Ih, bikin kaget aja. "


Sembari memukul lengan Vino, Bita memanyunkan bibirnya terkejut dengan kehadiran Vino.


Vino tersenyum kecil, berjalan melewati samping Bita menuju tempat penyimpanan kopi.


"Sini, biar aku saja. "


Dengan senyuman mengambang di sudut bibirnya, Vino memberikan kopi yang baru saja di ambilnya kepada Bita. Tanpa suara, Bita mulai mulai menyeduh kopi untuk Vino.


"Nih, " ujarnya setelah meletakkan kopi tadi di atas meja yang berada di hadapan Vino.


Vino yang merasakan kehangatan dalam dirinya ketika di perhatikan Bita, menjadi begitu berbunga-bunga dengan senyuman yang terus mengembang tanpa henti.


Terlepas dari Vino dan Bita,


Zahra justru saat ini tengah berusaha menahan amarahnya yang hampir meledek.


Pria yang bersamanya begitu sangat menyebalkan, sejak tadi keduanya beriringan keluar rumah Ia selalu di protes hal yang sanga tidak masuk akal baginnya.

__ADS_1


"Kenapa rambutmu harus di kuncir dua, sangat jelek. "


Seperti itulah contohnya. Ia sangat ingin sekali marah, tapi jika Ia lakukan itu pekerjaannya akan hilang dalam sekejap.


"Biar satpam kompleks mewah ini, semakin jatuh cinta. "


Berusaha tersenyum meski harus di paksa, Zahra memutar kedua bola matanya malas.


Sedangkan lawan bicaranya yang tak lain adalah Kenzo, terbelak kaget dengan apa yang di ucapkanya tadi.


"Selamat malam tuan Kenzo, mau kemana? "


Keduanya menghentikan langkah, ketika satpam kompleks yang di maksud Zahra mencoba berbasa-basi dengan mereka.


"Hmm, cari bakso. "


Begitu singkatnya jawaban yang keluar dari mulut Kenzo. Sadar atau tidak, satpam itu yang sempat menahan Zahra di awal gadis itu menginjakkan kaki di sana.


"Bapak yah yang waktu itu ngomelin Zahra di depan? "


Meskipun dengan nada suara yang kecil, intonasinya terdengar seperti orang yang tengah mengajak perang.


"Oh kamu yah, jadi kamu kerja sama tuan Kenzo? "


Hanya anggukan kecil yang di dapat security itu dari Zahra.


"Dan asal bapak tau, sekarang saya menyesal. "


Wah Zahra seperti menantang maut dengan berbicara seperti itu. Apa lagi, wajah Kenzo sudah berubah tanpa ekspresi menatap tajam kearah security yang tidak berdosa itu.


"Bercanda pak, sudah dulu yah kita mau nyari bakso. Bapak mau ikut? "


"Tidak! "


Sembari menarik tangan Zahra, Kenzo berjalan menjauhi pos satpam.


Karena tangannya terus di tarik, dan dengan kaki yang pendek Zahra harus berlari agar menyamai langkah kaki Kenzo.


"Isss capek tau, " protes Zahra menghempaskan tangan Kenzo.


Hembusan nafas kasar begitu terdengar nyaring di telinga Zahra. Kenzo melangkah ke depan menarik keluar sebuah sepeda yang sepertinya sengaja disembunyikan di balik dedaunan.


"Emang bisa? "


Pertanyaan Zahra bukanlah tanpa alasan, terlepas dari pengalamannya waktu itu di gubuk tua yang dimana Kenzo tidak tau caranya mengemudi motor. Motor tidak bisa, pasti sepeda juga mungkin lebih parah lagi.


Dugaan Zahra benar, Kenzo hanya cengengesan menatapnya tanpa dosa.


"Merepotkan, " oceh Zahra.


Begitu gemasnya dengan setiap ocehan yang keluar dari mulut Zahra, Kenzo mencubit gemas pipinya.


"Ayok jalan! "


Mendapat perintah tak terduga dari penumpang gelapnya, Zahra berdengus kesal mulai mengayuh sepeda menuju penjual kaki lima yang jaraknya hanya lima belas menit dari sana.


Ketika sepeda yang di kemudi Zahra mencapai tempat tujuan keduanya, Kenzo lebih dahulu turun mendorong sepeda dengan Zahra yang masih di atasnya mencari dimana penjual bakso berada.


"Kau yakin kita makan di sini? "


Bukankah dia yang membawa Zahra kesini? lalu kenapa harus melontarkan pertanyaan itu lagi.


"Yakin, siapa juga yang mau ngayuh sepeda butut ini lagi? Capek tau! "

__ADS_1


Begitu gelisah pikirannya kemana-mana, apakah bersih? dari bahan apa? dan bagaimana proses pembuatannya? pertanyaan itu terus saja berputar dalam pikiran Kenzo.


"Itu ada. "


Mengikuti arah telunjuk Zahra, Kenzo mendorong sepeda itu mendekati penjual bakso.


"Bang dua yah, " ujar Zahra memesan.


"Makan di sini atau di bungkus? "


Zahra sedikit melirik Kenzo, meminta persetujuan dari pemilik uang yang akan membayar makanan itu.


"Bungkus saja. "


Penjual bakso mengangkat jempolnya, sebagai respon atas jawaban Kenzo.


Di saat sedang menunggu pesanan keduanya, beberapa orang preman mendekati mereka.


"Nggak mau bertiga neng, " ujar salah satu di antara preman itu.


"Nggak berdua saja. "


Dengan tatapan penuh intimidasi, Kenzo melirik setiap preman itu.


"Bertiga saja. "


Krek


Bunyi patahan tulang terdengar, di saat preman-preman itu hampir menyentuh pipi Zahra.


Sembari menahan sakit di tangannya, preman itu mencoba membalas perbuatan Kenzo. Namun, apalah dayanya kekuatan Kenzo melebihi sepuluh dari mereka.


"Beraninya tangan kotormu ini mau menyentuh gadisku, " titah Kenzo dengan dinginnya.


Zahra sama sekali tidak mau memisahkan, Siapa suruh berani mengganggunya? itulah akibatnya.


"Jangan berani macam-macam dengan gadisku lagi. "


Dengan mendorong kasar tubuh parah preman itu, Kenzo melepaskan tangannya. Ia mendekati Zahra, membawa gadis itu kedalam pelukannya.


Para preman yang ketakutan, berlari meninggalkan tempat itu.


"Are you okey? "


Jantung Zahra berpacu melebihi kapasitas kecepatan detakan. Bagaimana tidak? sikap Kenzo saat ini begitu manis melebihi buaya darat kepadanya.


"Neng, baksonya sudah. "


Zahra yang ingin mengambil, mengurungkan niatnya ketika Kenzo sudah lebih dahulu meraih bakso keduanya.


Dengan posisi seperti awal keduanya datang, pulang pun begitu Kenzo di bonceng Zahra.


"Demi bakso, aku rela menjadi kang ojekmu. "


Mendengar kekehan yang keluar dari mulut Kenzo, Zahra sedikit lega. Sejak tadi, Ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan bersikap sok cool.


"Akhirnya dia tertawa. " batin Zahra berteriak bahagia.


.


.


.

__ADS_1


Please 🙏 kalau mampir ke cerita aku jangan lupa komen sama likenya biar aku tau kalau ada yang baca ❤️


__ADS_2