My Posesif Bos

My Posesif Bos
Kemana Kau?!


__ADS_3

Michael dan juga Erik, hanya duduk menatap kedu insan itu. Hingga beberapa menit kemudian, baik Kenzo maupun Zahra terbangun dari tidurnya.


“Maafkan aku, “ ujar Kenzo, melepaskan rangkulannya.


Entah keduanya sadar atau tidak, sedari tadi dua pria di sofa menatap mereka dengan sinis. Yah, siapa saja pasti menatap keduanya seperti itu. Bagaimana tidak? Kenzo dan Zahra, menganggap dunia hanya milik keduanya saja.


“Teruslah seperti itu, sebentar lagi akan ku habisi kalian berdua, “ judes Michael, dengan pandangan yang masih mengarah pada dua insan itu.


Zahra yang tersontak kaget dengan suara itu, sedikit mengangkat kepalanya menatap kearah sofa. Sedangkan Kenzo, pria itu justru sama sekali tidak memperdulikan kehadiran mereka di sana.


Zahra dengan wajah memerahnya, memasukkan kembali kepalanya kedalam selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Kenzo menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, turun dari ranjang lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan kedua pria itu.


“Apa kalian tidak punya kesibukan lagi?” sama sekali tidak tau diri, sudah di tolong malah seperti ini.


“Aku kesini karena adi-


Belum sempat Michael menyelesaikan perkataannya, Erik sudah lebih dahulu membungkam mulutnya agar tidak kelepasan.


“Kenapa di tutup mulutnya?” Zahra melepaskan selimut yang menutupi wajahnya, menatap kearah Erik dan juga Michael.


Bingung harus menjawab apa lagi, Erik terpaksa mengeluarkan stetoskop dari kantongnya mendekati Zahra.


“Nggak ada apa-apa, kalau dibiarkan terus kau tidak akan di periksa, “ elas Erik.


Zahra baru menyandari sesuatu, bukankah pagi tadi baru di periksa? Mengapa haru di periksa lagi? Bingung gadis itu.


“Bukannya tadi pagi sudah?!”


Erik baru menyadari hal itu, saat alat itu sudah hampir menyentuh Zahra dengan cepat dirinya menarik benda itu.


“Ah, iya aku lupa.”


Kenzo dan juga Michael, hanya memperhatikan tingkah konyol Erik menyembunyikan kebenaran ini. Melihat wajah santai kedua temannya itu, Erik yang sudah frustasi harus menjawab apa lagi pada Zahra, melayangkan bantal pada keduanya.


“Aku capek!” teriaknya meluapkan kekesalannya, berlalu dari sana.


Setelah kepergian Erik, Zahra beralih menatap Keduanya mencari jawaban yang tidak sempat di jawab oleh Erik tadi.


“Aku butuh penjelasan, “ ujar Zahra.


Mendengar penuturan dari Zahra, Kenzo mengusap kasar wajahnya. Pria berdiam diri di kursi, tak mau mendekati Zahra.


“Apa kau Michael?”


Duar


Bagai tersambar petir, keduanya terkejut bukan main dengan pertanyaan kecil yang dilontarkan Zahra. Michael yang tadinya santai, kini membuka kancing bajunya kegerahan.

__ADS_1


“Tuan, apa anda akan diam saja?” kini Zahra beralih pada Kenzo.


Kenzo menghembuskan nafasnya kasar, bukannya Ia tidak mau memberitahu Zahra soal Michael tapi, apa mungkin gadis itu akan bersamanya setelah mengetahui hal itu.


“Dia Michael sahabat ku, kau ingat waktu di markas? Dialah Michael Jordan yang waktu itu di ceritakan Tino.”


Mendengar penjelasan panjang dari Kenzo, Zahra meneteskan air matanya. Ia harus bagaimana lagi? Michael yang dicarinya, belum juga ditemukan.


Jujur, Michael ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Zahra. Namun, jika hal itu Ia beberkan sekarang Zahra pasti akan dalam bahaya.


Melihat air mata adik yang dirindukannya selama ini, hatinya begitu teriris. Ia tidak bisa memeluknya, hanya mata yang terus menatap dari sofa.


Kenzo bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Zahra memeluk erat tubuh gadisnya itu.


“Aku mau sendiri, “ ujar Zahra pelan.


Dengan berat hati, Kenzo melepaskan dekapannya bersama Michael keduanya berjalan keluar dari dalam sana.


“Aku Michael yang kau cari, Zaza, “ gumam Michael, ketika sudah berada di luar ruangan itu.


Selepas kepergian kedua pria itu, Zahra mengeluarkan sebuah foto dari dalam kantong celananya. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya menatap gambar itu.


“Kemana kau? Aku hanya punya dirimu, ibu dan ayah sudah tidak ada lagi, “ ujarnya di sela-sela tangisannya.


Dari luar ruangan, bisa dengan jelas keduanya mendengar perkataan Zahra. Kenzo menutup matanya, begitu juga Michael yang tertunduk tak berdaya.


“Seandainya kejadian itu tidak terjadi, semuanya tidak akan seperti ini, “ ujar Michael.


“Yah, kau bisa bicara seperti itu sebab kedua orang tua mu selamat. “


“Sudah ku katakan, itu kecelakaan!” bentak Kenzo, tak terima Michael selalu menyalahkannya dalam hal ini.


Michael tersenyum smrik, menarik Kenzo kearah kaca mengintip Zahra dari sana.


“Apa kau tidak melihat itu, dia adikku sendiri Kenzo!” ujar Michael tak kalah kerasnya dari Kenzo.


Kenzo mengusap wajah, benar apa yang dikatakan Michael. Zahra korban dari semua ini, tapi dirinya sendiri tidak bisa mencegah hal yang sudah terjadi.


“Aku tidak tau Kenzo, seperti apa marahnya dia jika hal ini diketahui Zahra?!”


Michael sedikit menjauh dari kaca, kembali pada bangku panjang di sana. Sedangkan Kenzo, masih setia menatap Zahra dari balik pintu.


“Apa dia sudah tau kau adalah Ken?” tanya Michael.


Kenzo yang tadinya masih berdiri, berjalan kearah samping Michael lalu mendudukkan bokongnya di sana.


“Semalam sepertinya dia sudah tau, tapi entahlah, “ ragu Kenzo.


“Maksudnya bagaimana?”

__ADS_1


Kenzo mengeluarkan dua buah kalung dari balik bajunya, menunjukkan pada Michael.


“Dia sudah mengetahui hal ini, “ ujarnya.


Di saat keduanya tengah sibuk memikirkan soal Zahra, mereka di kejutkan dengan ponsel Michael yang berdering begitu nyaringnya.


“Ada apa Ciko?” tanya Michael, setelah menempelkan ponselnya pada telinganya.


“Tuan, buka berita hari ini.”


Michael sedikit melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lalu, berita apa yang Ciko ingin Ia melihatnya?!


Sama seperti Michael, Kenzo juga mendapat pesan yang sama seperti apa yang di katakan Ciko pada Michael, oleh Tino.


Kedua pria itu saling bertatapan sekilas, lalu membuka berita utama melalui ponsel Kenzo. Sedangkan ponsel Michael, masih tertempel pada kupingnya dan masih dalam panggilan dari Ciko.


“Berita kehilangan! Kekasih pengusaha asing Xio Lang, di kabarkan di culik pada malam, setelah dirinya tiba di tana air.”


Kenzo yang tau perbuatan siapa itu, langsung menatap Michael dengan tatapan penuh intimidasi.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Kenzo dingin.


Tak memutuskan sambungan dari Ciko, Michael memasukkan ponselnya kembali kedalam kantong celananya.


“Itu setimpal, Dia harus merasakan rasanya khawatir ketika orang yang dicintai di culik.”


“Kau tau Michael, Xio Lang bisa melakukan apa saja pada Zahra!” bentak Kenzo tak terima dengan apa yang di lakukan Michael.


“Jika kau tidak bisa melindungi adikku, akan ku bawa dia jauh darimu!” ancam Michael bangkit dari duduknya.


Kenzo tak bisa berkata lagi, selain takut dengan kebenaran itu Ia juga khawatir Michael akan memisahkan dirinya dengan gadisnya.


Melihat kepergian Michael, Kenzo membuka pintu ruangan Zahra. Matanya membulat saat melihat sosok Zahra sudah berada di depan pintu, entah sudah dari tadi atau baru saja dirinya sendiri tidak menyadari hal itu.


“Zahra, sejak kapan di sini?” tanyanya.


Kenzo mendekati Zahra namun, dengan cepat Zahra berjalan sedikit sempoyongan kembali ke ranjang tanpa sepatah kata pun.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2