My Posesif Bos

My Posesif Bos
Penyelamatan Arnia


__ADS_3

Zahra masih tak memperdulikan perkataan Kenzo, Ia terus berkutat dengan laptop Safi dan terus mengarahkan anak buah Kenzo hingga berhasil melewati perangkap tersebut.


“Zahra! “ teriak Kenzo menggema, membuat Zahra seketika menghentikan kegiatannya lalu bangkit berjalan tanpa memperdulikan mereka lagi.


“Mau kemana dia? “ tanya Kenzo yang melihat punggung Zahra telah menjauh.


“Ngambek kali, Tuan sih banyak teriaknya, “ ujar Bita dengan santainya.


“Safi, lanjutkan kalau tidak mereka bisa mati dalam ruangan tersebut! “ pintah Vino namun, di jawab gelengan kepala oleh Safi.


“Program ini, aku baru melihatnya jadi aku tidak bisa. Jika ada kesalahan sedikit saja, gedung tersebut akan meledak dan Nyonya besar akan hilang selamanya, “ jelas Safi.


Kenzo meremas rambutnya kasar, dan hendak melangkah mengikuti jejak Zahra namun, baru selangkah Zahra kembali dengan membawa sebuah tali dan juga perekat.


Dengan gerakan cepat, gadis tersebut berhasil mengikat tangan Kenzo di kursi lalu melakban mulut pria tersebut yang meronta mencoba melepaskan namun, ikatan Zahra cukup kuat.


“Begini kan aman, “ ujar Zahra setelah kembali ke hadapan laptop.


Kenzo hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang, sedangkan anak buahnya tertawa terbahak-bahak di kala melihat seorang Kenzo di ikat di kursi oleh Zahra.


“Oke kita mulai permainannya, “ ucap Zahra yang ikut di angguki semua orang dalam ruangan.


“Bergerak kedepan di sana, ada seseorang yang menjaga, “ ujarnya mengarahkan dengan tangan yang terus menekan keyboard laptop.


“A-aku tidak pernah melihat program seperti ini sebelumnya, “ ucap Safi yang antara kagum atau bingung, dengan apa di lakukan Zahra.


“Nona, apa nyonya besar sudah di temukan? Kami kesulitan jika harus menghindari musuh, “ ucap seorang anak buah Kenzo yang bernama Tino dari balik telepon.


“Lima detik lagi, “ ujar Zahra serius.


“Lima, “ hitungan di mulai oleh Lusi.


“Empat, “ di ikuti oleh Erik yang masih setia mengobati luka Lusi.


“Tiga, “ Lalu di sambung Bita.


“Dua, “ ucap Safi


“Satu, “ ujar Kenzo setelah berhasil melepaskan tali yang terlilit di kedua tangannya, membuat seluruh pandangan mengarah padanya.


“Ketemu! Tuan, apa kau masih dalam panggilan? “ ujar Zahra memegang telinganya.


“Aku masih dalam panggilan Nona, “ jawab Tino.


“Nyonya besar berada di lantai tiga, “ ucap Zahra lalu menyeruput es tehnya yang sedari tadi terbengkalai.


Di sebuah gedung kumuh, Arnia Sagara tengah terbaring lemah di atas sebuah kursi yang di sekelilingnya sudah terpasang kabel-kabel yang jika di hubungkan dengan listrik, tubuhnya akan hancur berkeping-keping.


“Dimana ini? “ ucapnya dengan kepala yang berputar hebat.


“Hahahaha akhirnya, Nyonya besar dari keluarga terkaya di seluruh penjuru negeri tengah terbaring lemah menunggu di selamatkan oleh cucunya hahahaha. “


Tawa renyah seorang pria yang muncul dari balik cahaya, berjalan mendekati Arnia sembari mengarahkan pistolnya ke arah wanita tua tersebut.

__ADS_1


Sementara di kediaman Kenzo, Zahra masih terus berusaha keras mencari jalan keluar agar setelah Tino melepas Arnia, mereka bisa cepat keluar dari sana.


“Tuan, sebelah utara itu akan menuju ke jalan , “ ujar Zahra kepada Tino.


“Tuan, segera hubungi beberapa orang agar berjaga di bagian utara waktu kita hanya tiga puluh menit! “ pintah Zahra yang dengan cepat di angguki Kenzo.


“Hanya dia yang bisa memerintah seorang Fabiandi Sagara, “ gumam Vino pelan sekali, bahkan lalat yang menghinggapi di tubuhnya tak bisa mendengar perkataannya barusan.


Kembali lagi ke Arnia, saat ini tubuhnya tengah di storm beberapa kali oleh anak buah musuh keluarganya.


“Siapa kamu? “ tanya Arnia dengan nada yang terdengar lemah, dan bergetar hebat.


“Hahahaha coba tebak? “ ucap pria tersebut keluar dari kegelapan dan menghampiri Arnia.


“Jihan! “


Kenzo yang mendengar nama tersebut keluar dari mulut Zahra, melangkah mendekati laptop tersebut dengan amarah yang menguasai dirinya.


Yah, Jihan merupakan putra seorang rekan bisnis terpercaya Kenzo yaitu Nicholas Wijaya. Namun, sepertinya mereka ingin bermain-main dengan kepercayaan Kenzo.


“Habisi Dia! “ pintah Kenzo tetap di telinga Zahra.


“Baik Tuan dengan senang hati, “ ucap Tino.


Sementara di dalam ruang sekap, Jihan masih terus menerus menyiksa Arnia dengan terus tertawa terbahak-bahak melihat kesakitan tubuh wanita tersebut.


“Hahaha ini akan mengakhiri kebahagiaan Kenzo, “ ujarnya sembari mengarahkan pistol arah Arnia dan..


Bruk


“Apa kalian ingin menyaksikan kehebatannya, dalam bertarung? “ ujar Zahra yang dengan segera mendapat anggukan antusias dari Bita dan Lusi, yang baru selesai di obati.


Zahra tersenyum lalu, memutar rekaman yang tengah memperlihatkan bagaimana kerennya Tino menyerang Jihan.


“Bagaimana ekspresi ayahmu ketika mengetahui putra kesayangannya menjadi babak belur, “ ujar Tino dengan sedikit smrik di wajahnya, lalu mengambil tali dan mengikat tubuh lemah Jihan di kursi tempat Arnia terikat.


“Tino, segera bawah Oma sebentar lagi anggotanya yang lain akan ke situ! “ pintah Kenzo tepat di telinga Zahra.


"Kalau mau ngomong tuh, kasi info dulu jangan langsung nyerocos aja di telinga aku, " kesal Zahra menatap lekat wajah Kenzo.


Kenzo berbalik menatapnya, lalu meletakkan jarinya pada bibir Zahra. Keduanya kembali fokus pada laptop Safi.


Dengan cepat, Tino bersama beberapa bawahannya yang lain bergerak cepat membawa Arnia yang sudah pingsan ke arah Utara yang di sana sudah di tunggu oleh beberapa orang suruhan Kenzo.


“Apa hanya seperti ini keseruan kita Nona? “ tanya Tino yang merasa kurang puas dengan permainan kali ini.


Zahra tersenyum kecil lalu, mengambil tangan Kenzo dan mengarahkan ke arah Keyboard laptop lalu menekan sebuah tombol dan


Duar


Gedung tersebut meledak menjadi kepingan-kepingan krikil kecil, bersamaan dengan Jihan yang masih di dalamnya.


Semua yang berada dalam ruangan tersebut, hanya tercengang dengan apa yang di lakukan oleh Zahra.

__ADS_1


“Sangat brutal, “ ucap Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zahra.


Setibanya di mobil, Tino di sambut oleh saudara kembarnya Tio yang sedari tadi menunggunya.


“Earphone, “ ucapnya.


Tino dengan cepat memberikan Earphone di telinganya dan memberikan kepada Tio, lalu membaringkan Arnia bersama beberapa orang pelayan dalam mobil.


“Nona, Kali ini aku mau yang lebih dari Tino. "


Zahra tersenyum, lalu mulai menyetel sebuah musik dari laptop Safi ketika Semuanya sudah berada dalam mobil dan bersiap pergi dari tempat tersebut.


Dan ketika musuh mulai terlihat, dengan kecepatan tinggi, Tio memulai aksinya di sepanjang jalan hingga mereka hampir mencapai pemukiman.


Kenzo memerintahkan Vino menyuruh beberapa orang mengikuti Arnia bersama anak buahnya yang tengah di kejar musuh dari ketinggian.


“Sekarang Zahra! “


Dan dengan perintah Kenzo, Zahra meledakkan Van milik musuh menjadi serpihan-serpihan debu.


Setelah hampir satu jam kemudian, Tio bersama Tino tiba di kediaman Kenzo dengan menggendong Arnia yang sudah tidak sadarkan diri.


Dengan cepat, Erik mulai menjalankan tugasnya sebagai Dokter setelah Arni sudah di letakkan dalam Kamarnya.


Kenzo yang melihat Zahra tengah menyeruput es teh di tempat tadi, menghampiri gadis tersebut dengan senyuman manis.


“Terimakasih atas semuanya, “


“Dih, gak gratis yah Pak! “ ujarnya dengan nada yang sedikit tinggi.


“Katakan apa yang kau mau? “ ujar Kenzo.


Zahra tersenyum manis, lalu memegang kedua tangan Tuannya dengan berani lalu mengedipkan matanya berulang kali.


“Album suamiku, “ ujarnya dengan berapi-api saking semangatnya.


“Dasar bodoh! “ ujar Vino, Lusi, Bita, dan Safi secara bersamaan setelah mendengar apa yang di minta oleh Zahra, lalu melangkah pergi.


“Setidaknya porotin kenapa sih, “ kesal Safi sembari mengambil laptopnya dan ikut melangkah mengikuti jejak Vino dan Lusi.


Sementara Zahra yang kebingungan, bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur menghampiri es tehnya dalam tupperware yang masih penuh.


Kenzo yang melihat kepolosan Zahra, tersenyum dan membayangkan wajah seriusnya tadi ketika menyelamatkan Arnia Omanya.


“Aku suka, “ ujarnya.


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


⚠️Hey ayolah jangan jadi pembaca gelap yok!!


__ADS_2