My Posesif Bos

My Posesif Bos
Karena kaos kaki


__ADS_3

Zahra yang baru saja keluar dari kamar Kenzo, melangkah menuju dapur. Betapa terkejutnya Ia, ketika melihat mbok Ina tengah mempersiapkan bahan masakan yang akan di olah.


“Oh my God, Zahra gak mimpi kan, “ ujarnya saat sudah di hadapan wanita tua tersebut.


“Tidak, sana buatkan teh lalu bawa ke ruang keluarga! “ pintah mbok Ina yang langsung di angguk antusias oleh gadis tersebut.


Dengan telaten, Zahra mulai memasukkan sedikit gula kedalam teh buatannya lalu sedikit mengaduk setelah itu, bersama nampan Ia membawanya ke ruang keluarga.


Tak menjelang lama, Arnia yang semalam sudah tersadar melangkah menghampiri Zahra yang baru saja selesai meletakkan teh buatannya itu.


“Siapa kamu? “ tanya Arnia yang baru saja melihat gadis manis tersebut.


“Zahra Nyonya, saya ART baru di sini, “ ujarnya dengan wajah yang sedikit menunduk.


“Sana lanjutkan kerjamu, “ pintah Arnia yang langsung di laksanakan oleh gadis tersebut.


Selepas kepergian Zahra, Arnia menuangkan segelas teh lalu menyeruputnya. Matanya seketika membulat seperti mengenal rasa teh tersebut.


“Ina! “ teriaknya menggema hingga ke dalam dapur.


Mbok Ina yang mendengar suara teriakan Arnia, dengan segera melepaskan kegiatan memotongnya dan berlari menuju ke ruang tamu.


“A—ada yang bisa saya bantu Nyonya? “ tanya Mbok Ina saat di hadapan Arnia.


“Siapa yang membuat teh ini? “


Seketika wajah Mbok Ina berubah menjadi kemerahan, di saat pertanyaan tersebut menembus dinding telinganya. Apakah ada yang salah dengan tehnya Ia juga tidak tau, sebab Ia lupa untuk mencicipi sedikit tadi.


“Jawab Ina, “ ujar Arnia dengan nada suara yang tidak bisa di tebak.


“Apa ada yang salah Nyonya? “ bukannya menjawab, Ina justru memberikan pertanyaan lagi kepada Arnia yang seketika membuat ekspresi Nyonya besar itu, menatapnya dingin.


“Zahra yang membuatnya. “


“Panggil dia kesini, dan kamu lanjutkan kembali kerjaan mu! “ Pintanya.


Mbok Ina dengan secepat kilat, menemui Zahra yang tengah asik bersenandung kecil sembari memasukkan beberapa potong ayam kedalam penggorengan.


“Ndok, sini biar Mbok yang masak. Sana kamu temui Nyonya besar! “


Zahra yang terlihat bingung, hanya bisa pasrah mengikuti perkataan Mbok Ina dan melangkah menuju ruang keluarga. Bita yang baru kembali dari pasar, menatap wajah Zahra bingung dan berlalu menuju dapur.


“Dia kenapa mbok, kek orang kebingungan gitu? “ tanya Buta kepada Mbok Ina.


“Nanti saja tanyanya, sana antarkan kopi ke Vino di taman belakang, sepertinya dia sudah menunggu. “


Bita yang mendengar hal itu, dengan semangat empat lima melangkah menuju taman belakang dengan membawa segelas kopi dan beberapa cemilan di atas nampan.

__ADS_1


“Kamu yang membuat teh ini? “ tanya Arnia, saat Zahra sudah tiba di hadapannya.


“Maaf Nyonya besar, jika tidak enak biar Zahra buat lagi, “ ujar Zahra sembari berlutut memegang kedua tangan Arnia dengan wajah yang di buat seimut mungkin.


“Sangat enak, dan rasanya seperti sangat familiar sekali di lidah ku, “ ujar Arnia.


Zahra bangkit dan duduk di samping Arnia, tanpa permisi dengan mata yang berbinar-binar saat mendengar ucapan Arnia.


“Yah, Zahra pikir nggak enak. Sebenarnya itu teh resep ayah Zahra hehehe, “ ujarnya dengan cengengesan.


Mata Arnia seketika membulat, Ia terus menatap wajah Zahra dan yah sepertinya wajah tersebut sangat familiar dengannya.


“Siapa Ayahmu? “ tanya Arnia yang begitu penasaran.


“Nama Ayah Zahra it-


“Zahra! “


Belum sempat Zahra menyelesaikan perkataannya, Kenzo datang dengan kesalnya sembari memegang kaos kakinya yang tinggal sebelahnya saja.


“Kemana sebelahnya lagi?! “ tanya Kenzo yang begitu sangat frustasi dengan kaos kakinya.


“Bukannya kaos kaki jelek itu sudah ku buang, kenapa masih di sini? “ ujar Zahra begitu polosnya.


“Kaos kaki jelek kau bilang, supaya kau tau kaos kaki ini sangat berarti bagiku kemana sebelahnya?!“ ujar Kenzo dengan nada tinggi.


“Zahra! “ teriak Kenzo.


“Berhentilah berteriak, aku di hadapan mu ayok ikut aku. " ujar Zahra sembari menarik tangan Kenzo melangkah menuju ke arah kamar kenzo.


Arnia yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran tersebut, hanya bisa tersenyum manis tanpa memisahkan keduanya. Dan senyumannya menjadi sempurna, di saat Zahra dengan beraninya melawan perkataan Kenzo, lalu menariknya pergi.


“Vino, cari tau asal-usul calon menantu ku, “ pintah Arnia, saat Vino baru saja tiba di sampingnya.


Bita Yang sedari tadi mencari Vino di taman belakang tidak menemukan keberadaan pria tersebut menjadi kesal, Karena mendapati Vino yang tengah asik berdiri bersama Arnia di ruang keluarga sembari menatap ke arah kamar Kenzo.


“Dasar pria menyebalkan, tanganku sampai keram membawa nampan buruk ini mengitari seluruh rumah! “ ujar Bita dengan kesalnya lalu meletakkan nampan berisi kopi milik Vino.


“Ada apa dengan mu? “ tanya Vino polos, seolah tidak terjadi sesuatu.


“Berhentilah berbicara, aku sedang kesal. “ ujar Bita sembari melangkah pergi, meninggalkan Nyonya besar dan Victor yang menatapnya bingung.


“Segeralah nyatakan cinta untuknya, apa kau tahan melihat tingkah imutnya itu hmmm, “ goda Arnia yang memang sudah sangat lama mengetahui perasaan Vino kepada Bita.


Vino yang mendengar perkataan Arnia, hanya tersipu malu lalu melangkah mengikuti Nita yang sudah berada di dapur.


Sementara itu, Zahra dan Kenzo tengah sibuk bertengkar sembari mencari pasangan kaos kaki kesayangan Kenzo flower hilang entah kemana.

__ADS_1


“Nah ketemu, “ ujar Kenzo mengangkat kaos kaki dari balik tempat sampah.


“Kalau bisa cari sendiri dan ketemu, kenapa harus menyusahkan orang sih. “ ujar Zahra kesal, lalu berjalan meninggalkan Kenzo.


Namun, langkahnya seketika terhenti di saat matanya tak sengaja melirik sekilas kaos kaki yang di pegang Kenzo.


“Kaos kaki ini, “ ujarnya sembari terus menatap benda berbulu tersebut.


“Apa?! “ ujar Kenzo dengan ketusnya lalu mendudukkan bokongnya di ranjang dan mulai memasukkan jari-jari kakinya kedalam benda tersebut.


“Bagaimana bisa anda memilikinya? “ tanya Zahra tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki Kenzo.


“Ini pemberian sese-


Belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, Ia seketika menatap ke arah Zahra dengan wajah memerah dan tangan yang bergetar hebat.


“Tuan, aku tanya dari mana anda mendapatkan kaos kaki itu? “ tanya Zahra lagi, namun kali ini dengan nada yang terdengar bergetar layaknya orang menangis.


“Aku membelinya, me-memangnya apa urusannya de-denganmu, “ ucap Kenzo sedikit gugup.


“Pembohong, mana ada tokoh yang menjual kaos kaki seperti itu! “ teriak Zahra menggema.


Seketika, seluruh darah dalam tubuh Kenzo mendesir hebat menembus setiap dinding lapisan sel nadinya. Apakah kecurigaannya selama ini benar? Zahra adalah Jasmine, pikiran itu terus berputar dalam kepalanya.


“Lalu, jika tidak di jual memangnya kenapa, hmm? “ tanya Kenzo mencoba memancing kebenaran dari dalam mulut Zahra agar keluar.


“Dimana pemiliknya? “ bukannya menjawab, Zahra mala balik bertanya.


“Mana saya tau, saya menemukan kaos kaki ini di tengah jalan saat pulang dari kantor. “ jelas Kenzo, lalu berjalan meninggalkan Zahra.


Zahra yang mendengar hal itu, seketika meneteskan air matanya di saat Kenzo berjalan keluar kamar tanpa memberikan penjelasan yang pasti.


“Ken dimana kamu, aku pikir tinggal sedikit lagi akan bertemu dirimu tapi ternyata aku salah hiks hiks, “ ujar Zahra dengan tangisan.


Kenzo yang belum beranjak dari ambang pintu, maniknya seketika menjatuhkan bulir-bulir bening di saat mendengar perkataan Zahra dari dalam kamarnya.


“Vino, aku mau besok kau sudah harus menemukan siapa dia sebenarnya! “ pintah Kenzo dari balik telepon, lalu melangkah meninggalkan tempat tersebut.


.


.


.


Bersambung


ayok dong, jangan jadi Pembaca gelap bisa yuk setidaknya tinggalin like atau komen biar author tambah semangat nulisnya 😊😊🌹

__ADS_1


__ADS_2