
“Zahra!” teriak Kenzo menggema, berbalik menatap Zahra yang sudah berlumuran darah.
Michael berlari menghujani Dion dengan berbagai macam pukulannya, hingga pria gila itu benar-benar tidak bisa bernafas lagi.
Mendengar teriakkan Kenzo, Vino dan juga Tio dan Tino bersama dengan Ciko serta beberapa anak buah Michael yang lainnya, bergegas masuk kedalam ruangan itu.
Seperti reaksi Michael sebelumnya, mata mereka membulat melihat Zahra yang sudah terkapar tak berdaya dalam pangkuan Kenzo.
“Jasmine, bangun sayang, “ ujar Kenzo menepuk pelan pipi Zahra.
“Ka-kau Ken? “
“Iya sayang, aku Ken.”
Zahra tersenyum sekilas, sebelum akhirnya benar-benar tidak membuka matanya lagi dalam pangkuan Kenzo.
Melihat darah yang terus mengalir dari perut Zahra, Vino dan juga Ciko menghabisi seluruh musuh yang terisi memberi jalan Kenzo membawa Zahra.
Kenzo melangkah menuju mobil di tengah pertempuran itu, Ia menghentikan langkahnya saat Mira sudah menghalangnya di depan pintu keluar.
“Kalian berdua harus mati!” teriak Mira menyodorkan pistolnya kearah Kenzo.
Bruk
Dengan satu tendangan, Mira tersungkur jauh dari Kenzo. Kenzo yang awalnya tidak mau menyakiti seorang gadis, kali ini harus benar-benar melakukan hal itu karena kehabisan kesabarannya.
Setibanya di mobil, sebuah tangan membuka pintu mobil untuk keduanya. Kenzo melirik mendapati Michael yang berada di sana. Sama seperti awal mereka kesini, Kenzo bersama duduk di kursi belakang sedangkan Michael mengemudi.
Kecepatan mobil yang di kendarai Michael begitu tinggi, hingga dalam waktu tiga puluh menit saja keduanya sudah tiba di rumah sakit.
“Dokter!” teriak Michael.
Beberapa orang perawat berlarian menghampiri Kenzo, lalu membawa Zahra menuju UGD. Ketika Kenzo hendak ikut masuk kedalam, dirinya dihentikan oleh dokter.
“Tuan, anda tetap di luar saja.”
Tak menunggu jawaban dari sang pemilik rumah sakit, dokter langsung menutup pintu membuat Kenzo memukul kasar tembok di sampingnya.
“Semua ini salahku, “ gumamnya pelan, menyesali semua yang telah terjadi.
“Setelah dia sadar, jauhi adikku!” peringat Michael, setelah duduk di samping Kenzo.
Kenzo menatap wajah Michael lekat, mendengar apa yang diucapkan pria itu rasa kepo dalam dirinya begitu besar.
“Dari mana kau tau dia adikkmu?” Kenzo tak mengalihkan pandangannya dari dalam UGD.
“Aku sudah lama mencarinya, “ jelas Michael yang masih belum bisa menghilangkan rasa penasaran dalam diri Kenzo.
“Semua ini karena ulah keluarga mu, aku harus berpisah dengannya waktu dia masih berusia dua tahun, “ timpal Michael lagi, ketika melihat ekspresi Kenzo yang menatapnya bingung.
Kenzo semakin di buat bingung dengan apa yang disampaikan Michael, Ia mengeluarkan ponselnya memberi pesan pada seseorang.
“Aku tidak yakin, “ ujarnya bangkit berdiri.
__ADS_1
Tidak perduli Kenzo percaya atau tidak, yang pastinya sekarang setelah Zahra sadar Michael akan membawanya jauh dari dunia kejam ini.
Dalam beberapa menit kemudian, Erik bersama seorang rekan dokternya keluar dari dalam UGD dengan mendorong Zahra.
“Erik, ada apa ini?” tanya Kenzo mendekatinya.
“Dia harus di operasi, ada peluru dalam perutnya.”
Untuk apa menunggu jawaban dari kedua pria gila dihadapannya?! Erik sama sekali tidak memperdulikan keduanya, Ia langsung mendorong Zahra menuju ruang operasi dibantu beberapa orang perawat.
“Kenapa dia tidak meminta persetujuan kita?” bingung Michael mengikuti jejak Kenzo menuju ruang operasi.
“Kau butuh persetujuan dari kami dulu.”
Erik melepaskan cekalan tangan Kenzo dan Michael pada lengannya, berlalu masuk kedalam ruangan operasi tanpa memperdulikan kedua pria itu.
“Erik!” teriak Michael menggema.
Mau seberapa kerasnya kedua berteriak, Erik begitu masa bodoh memulai kegiatan operasi mengeluarkan peluru dari dalam tubuh Zahra.
Erik sedikit menyat kulit Zahra, hingga berhasil mendapatkan peluru itu, lalu mengeluarkan secara perlahan. Tiba-tiba saja, darah mengalir begitu deras membuat semua perawat panik.
“Rita, bantu hentikan pendarahan.”
Sesuai perintah Erik, Rita membantu mengurangi darah yang keluar dari dalam tubuh Zahra. Selang beberapa menit kemudian, Rita berhasil menghentikan pendarahan dan Erik kembali mengeluarkan pelurunya.
Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya Erik berhasil mengeluarkan peluru dari dalam perut Zahra. Ia menyerahkan sisanya pada Rita, gadis itu hanya membantu menjahit luka yang terbuka tadi.
Erik yang sudah hendak melangkah keluar dari ruangan itu, terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat kedua pria yang sedari tadi mondar mandir di sana.
“Rita, katakan pada keduanya operasinya belum selesai, “ ujar Erik tanpa menatap wajah gadis itu.
“Tapi Dok, itu akan melanggar kode etik dalam dunia kedokteran. Keluarga pasien harus tau yang sebenarnya, “ serkah Rita tak setuju dengan perkataan Erik.
“Saya sepupu gadis ini, “ ujar Erik.
Rika membulatkan matanya, “Baiklah dok.”
Gadis itu baru saja membuka pintu, langsung disambut dengan tatapan khawatir dari wajah kedua pria tampan dihadapannya.
“Bagaimana aku bisa tega melihat mereka bersedih?!” batinnya bingung.
“Dok, bagaimana keadaan adik saya?”
Bagaimana keadaan kekasih saya?”
Mendengar pertanyaan yang sama secara beruntun dari kedua pria itu, Rita di buat menganga sedikit melirik kedalam ruang operasi.
“Jadi, inilah alasannya ia tidak mau keluar?!”
Dengan menarik nafasnya panjang, Rita penuh drama mendekati kursi di sana mengusap wajahnya kasar.
“Operasinya belum selesai, “ ujarnya terpaksa berbohong.
__ADS_1
Bagaimana tidak berbohong, saat ini mata Erik bisa terlihat dengan jelas dari balik kaca sedang melotot menatapnya penuh intimidasi.
“Kau tidak berbohong kan?!” ujar Kenzo memastikan.
Rita menelan salivanya kasar, berusaha tetap tegas bangkit dari duduknya menatap kedua pria itu bergantian.
“Saya seorang dokter, untuk apa saya berbohong.”
Sungguh, sebuah pernyataan yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya saat ini. Rita mengigit kasar bibirnya, berlalu meninggalkan tempat itu menuju ruangannya.
“Kau yakin Erik tidak membohongi kita?” ujar Michael dengan mata yang masih menatap lekat punggung Rita tanpa beralih dari sana.
“Akan ku habisi dia, jika dia berbohong.”
Baik Kenzo maupun Michael, keduanya kembali ketempat mereka semula dan kembali menatap kearah pintu.
“Jasmine, sadarlah sayang.” Batin Kenzo.
Keduanya kembali di sadarkan dari lamunan mereka, ketika ponsel Kenzo berbunyi begitu nyaring. Mendapat tatapan tak menyenangkan dari Michael, Kenzo mengangkat panggilan yang ternyata dari Vino.
“Hmm,” gumamnya.
“Akan ku hubungi dalam sejam lagi, “ timpal Kenzo lagi, setelah mendengar apa yang sudah di sampaikan Tio melalui ponsel Vino.
Yah, yang menelpon adalah Tio. Entah ponselnya kemana, yang pastinya saat ini ponsel Vino sudah menjadi benda berguna baginya.
Kenzo kembali memasukkan ponselnya kedalam kantongnya, menggedor paksa pintu ruang operasi saat melihat Erik sama sekali sudah tidak melakukan apapun.
“Baiklah Erik, buka pintunya.”
Dengan sedikit menarik nafasnya panjang, Erik membuka pintu ruangan itu menghampiri kedua sahabat lamanya yang sedang menatapnya dingin.
“Dimana Zahra?!” bentak Kenzo.
Erik yang sudah kebal dengan bentakan itu, sama sekali tidak peduli Ia memilih duduk memperhatikan beberapa perawatan yang membawa Zahra menuju ruang rawat.
“Mau di bawa kemana dia?” tanya Michael kesal dengan tingkah laku Erik.
“Sangat tempramental, dia sedang di bawa ke ruang rawat tenang saja.”
Apa keduanya tenang? Tentu tidak kedua pria itu melangkah mengikuti para perawat yang membawa Zahra menuju ruang rawat.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
makasih 🌹