My Posesif Bos

My Posesif Bos
Ruang rahasia


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zahra kini duduk di taman belakang, tempatnya bermain bersama ikan-ikan di sana.


Namun, kali ini aja tidak ingin bermain. Zahra hanya duduk sembari mandang kagum tempat itu.


Sudah hampir beberapa bulan Ia kerja di sana, baru kali ini Ia menikmati tempat itu.


"Sepertinya Ia sangat menyukai tanaman, begitu menyejukkan mata dan pikiran."


Cukup lama beranda di sana, Zahra akhirnya memutuskan bangkit. gadis itu masuk kedalam rumah mewah Kenzo, berniat mencari kesibukan.


"Aku mau ngapain lagi ya?" gumam Zahra ketika rasa bosannya menguasai dirinya.


Saat melewati tangga menuju kamar Kenzo, Zahra dengan segera melangkah keatas.


"Masuk ah, nanti kalau di tanya bilang aja lagi beberapa, " ucap Carrisa langsung mendekati pintu.


"Apa selalu tidak di kunci?" bingung Zahra, saat membuka pintu kamar itu dengan mudah.


Seperti biasa, Zahra akan mendapatkan pemandangan selalu dilihatnya setiap pagi.


Tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah pintu yang sepertinya terhubung ke tempat lain. Zahra kembali ke pintu masuk, mengunci kamar Kenzo dari dalam.


Ia kembali lagi ke pintu rahasia itu, membuka secara perlahan. Matanya membulat sempurna, saat melihat pemandangan dihadapannya.


"Ruang apa ini?" gumamnya bertanya-tanya.


Zahra menjelajahi seluruh ruangan itu, hingga matanya terhenti pada sebuah lukisan besar di depannya.


Jantungnya berdegup kencang , saat maniknya menangkap sosok dalam lukisan tersebut.


"I-ini, apa ini?"


Tangannya terangkat mengusap lukisan itu, dengan pipi yang sudah dipenuhi air mata.


Tok


Tok


"Zahra, apa kau di dalam sana?"


Zahra yang tersadar dari lamunannya, mengusap air matanya berlari kearah pintu.


Kreek!


Carrisa langsung membuka pintu, terlihat Mbok Ina dan Lia berdiri di sana.


"Maaf mbok, Zahra habis beresin sepatu itu, " tunjuk Zahra, pada tumpukan sepatu yang tadi sempat dihamburkan di lantai.


"Iya, tolong temani Bita ke pasar! Lia yang akan mengurus sepatu-sepatu itu," pintah Mbok Ina.


"Baik mbok."


Zahra tak langsung jalan, Ia masih menunggu sampai mbok Ina melangkah barulah dirinya membuntuti wanita tua itu dari belakang.


"Akan ku minta penjelasannya." batin Zahra.


...***...


Sagara grup,


Kenzo masih saja berkutit dengan laptopnya, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memang harus selesai hari itu juga. Meski waktu istirahat sudah tiba, Ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu.


"Mau saya siapkan makan tuan muda?" tawar Vino, memasuki ruang kerja Kenzo.


"Sepertinya saya harus memasang Note, biar ketika ada yang masuk pintunya di ketuk dulu." Kenzo awalnya serius kini menatap tajam asistennya itu.


"Aku tidak perduli dengan hal itu, " gumam Vino.


"Saya masih mendengarnya Vino."

__ADS_1


Vino memutar bola matanya malas, meletakkan beberapa berkas di atas meja Kenzo.


"Saya mau makan dulu, koreksi itu!" titahnya melangkah keluar.


"Hmmm." Kenzo hanya membalas deheman saja itupun tanpa menoleh.


Sadar akan ucapan Vino, Kenzo mengangkat kepalanya menatap kearah pintu.


"Yang bosnya itu, saya atau dia?" ujarnya pasrah dengan kelakuan anak buahnya itu.


Melihat kepergian Vino, seorang gadis cantik dengan pakaian seksinya melangkah masuk kedalam ruangan Kenzo.


"Permisi tuan, Ini bekas yang minta, " ujarnya manja.


"Taro di situ."


Yah, hanya kata itu yang keluar dari mulut Kenzo. Pria itu kembali menatap laptopnya.


"Keluar Dita!" bentak Kenzo.


Dita yang tadinya hendak merayu Kenzo, menjadi kesal dengan perkataan pria itu.


"Dasar gila! Lihat saja, akan ku buat dia tergoda olehku," gumam Dita menghentakan kakinya keluar dari ruangan Kenzo.


"Heh! orang seperti kalian, nggak pantas untuk tuan muda!"


Langkah Dira terhenti lalu menatap orang yang barusan bicara.Ternyata Rika berdiri di samping, gadis itu juga sudah lama menaruh hari pada Kenzo.


Siapa sih yang tidak terbius dengan pesona Kenzo? setiap wanita yang melihatnya pasti akan terpukau.


"Memangnya situ pantes?" judes Dita.


"Iyalah, saya calon nyonya Sagara," Rika tersenyum bangga.


"Hahaha" Dita tertawa terbahak-bahak, sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


melihat tawa Dita yang mengejek, Rika seolah panas akan hal itu.


"Ngapain iri sama kang halu. Mbak, minum obat deh biar nggak gila."


"Sudah yah, permisi. Jangan lupa, obatnya di minum biar nggak halu." setelah berucap demikian, Dita langsung memilih pergi dengan tawa kecilnya.


Rika yang menjadi panas, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tau, jika tubuh Dita jauh lebih besar darinya.


"Awas saja, jika aku berhasil berada menjadi nyonya Sagara, akan ku pecat kau.Huh!" gumam Rika berlalu pergi, berlawanan arah dengan Sita.


kegiatan Kenzo terhenti, saat merasa perutnya sudah harus di isi. meski belum berbunyi, Kenzo tetap ingin makan.


"Bawakan makan keruangan saya."


Kenzo menyandarkan tubuhnya ke kursi sepenuhnya untuk merenggangkan otot belakangnya.


sembari menunggu datangnya makanan, Kenzo menatap layar ponselnya.


"Aku merindukanmu, " gumamnya pada ponselnya.


Dalam ponsel itu, terdapat foto Zahra yang di ambilnya secara diam-diam semalam.


Zahra dan juga Bita yang baru kembali dari pasar, langsung menuju dapur untuk mengisi perutnya.


"Laper banget, " ujarnya ketika mendapat tatapan dari Bita.


Zahra begitu lahap menyantap aneka jenis lauk serta pauk di piring. Saat asik menikmati tiba-tiba ponselnya berdering.


Zahra yang malas mengangkat benda pipi itu, hanya menatap tanpa menjawab.


"Di jawab!" teriak Bita kesal.


Zahra sedikit berdecak kesal, lalu menggeser tombol pada layar ponselnya saat melihat nama yang tertera di sana "Big bos" yah, nama Kenzo pada ponsel Zahra berubah-ubah sesuai mood gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa lama menjawabnya?"


Sama sekali tidak ada salam pembuka di sana, Zahra hanya mendengar ocehan dari pria itu.


Kenzo sengaja mengaktifkan speakers ponselnya karena ponselnya akan berada di atas meja.


"Apa?!" ujar Zahra tak kala judes.


"Kamu sedang apa?"


"Mengunyah makana."


"Oh, makan apa?"


"Apa sih, nggak jelas banget!" oceh Zahra.


"Yah tinggal jawab saja, makan apa susah amat."


"Hmm."


"Zahra!" teriak Kenzo dari balik telepon.


Zahra tak langsung menjawab pertanyaan Kenzo, sedikit menyeruput air dari gelas hingga setengah.


"Zahra!"


"Makan nasi tuan, apa lagi?!" kesal Zahra.


"Oh."


Tut


Begitu sangat random, Zahra hanya bisa Menatap ponselnya ketika Kenzo menutup panggilan secara sepihak.


"Dasar tua!" teriaknya meluapkan kekesalannya.


Bita yang sedari tadi memperhatikannya, ikut tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kenzo.


...***...


Kenzo tersenyum puas, ketika berhasil menggoda Zahra akibat gabut menunggu makannya.


"Saya cantik yah, makanya tuan senyum-senyum sendiri, " ucap Rika setelah meletakkan makanan di atas meja Kenzo.


Ketika Maria hendak melangkah masuk kedalam Ruang Kenzo, di hentikan Rika. gadis itu mengambil alih makanan dari tangan Maria menyelonong masuk begitu saja.


"Biasa saja, kenapa kesini?"


"Saya membawa makan sian anda tuan, " ujar Rika mendekati Kenzo.


"Ya sudah, Keluar!"


"Tapi tuan, " ujar Rika mendekati Kenzo setelah melepaskan beberapa kancing bajunya.


"Keluar!"


Mendapat penolakan dari Kenzo, Rika berdengus kesal meninggalkan ruangan itu. jika Ia tetap kekeh berada di sana, nyawanya bisa hilang seketika.


Setelah kepergian Rika, Kenzo kembali tersenyum lalu memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Cepatlah sore, aku ingin bertemu dengannya." batin Kenzo dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...

__ADS_1


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


__ADS_2