My Posesif Bos

My Posesif Bos
Keahlian Zahra


__ADS_3

Setelah keberangkatan Kenzo ke kantor, Zahra bersama Bita dan beberapa pelayan lainnya mulai merapikan seluruh isi rumah dan menghiasinya.


Sebab, sesuai dengan perintah Victor nyonya besar akan tiba di kediaman putranya sebentar malam. Dan menurut informasi, beliau sangat teliti soal kebersihan.


“Gila capek juga yah, “ keluh Bita sembari merenggangkan otot-ototnya.


Zahra yang melihat hal tersebut, berjalan menghampiri Bita lalu ikut duduk di samping gadis itu sembari menyeruput es teh yang di bawanya ke meja makan.


“Kok santai-santai gak beres-beres? “ ujar Lusi yang baru tiba, dengan nada tinggi membuat Zahra seketika menyemburkan air dari dalam mulutnya.


Seolah tak memperdulikan perkataan Lusi, Bita malah sibuk bermain ponsel dan menyeruput es teh buatan Zahra. Sedangkan Zahra, yang hendak mengambil kain pel seketika di tarik duduk kembali oleh Bita.


“Duduk Zahra mau kemana lo! “ teriak Bita membuat hampir beberapa pelayan menatap ke arahnya.


“Heh Babu, Lo mau malas-malasan di sini? Sana kerja, Lo di gaji buat nyapu bukan buat minum es teh ini! “ ujar Lusi dengan nada yang tak kala kerasnya.


Zahra yang menyadari keadaan makin memanas, mencoba menenangkan Bita namun tangannya di tepis oleh gadis tersebut.


“Gak usah sok mencoba menenangkan aku Zahra, ja lang sombong ini harus di beri pelajaran, “ ujar Bita tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah angkuh Lusi.


“Oh ya sudah, “ ucap Zahra yang kembali menyenderkan tubuhnya di kursi, dan menyeruput es teh sembari menonton perdebatan kedua gadis di hadapannya.


Lusi semakin meninggikan intonasi suaranya, membuat Bita males meladeninya dan memilih pergi. Namun, baru selangkah dengan cepat surai hitamnya di tarik kasar oleh Lusi.


“Berani macam-macam lo sama gue huh! “ ujar Lusi semakin menarik rambut Bita.


“Lusi! “ teriakan Vino menghentikan aksi Lusi, yang semakin brutal dengan kepala Bita.


“Apa-apaan ini? “ tanya Kenzo saat sudah di depan keduanya.


Zahra bangkit dari duduknya, menghampiri Bita membantu gadis tersebut berdiri. Kenzo membanting sembarang gelas yang berada di atas meja, melupakan kekesalannya.


“Lima belas menit, kamu harus sudah pergi dari sini. Kalau gak, aku akan menghabisi mu paham! “ ujar Kenzo dengan berapi-api sembari menyodorkan, senjatanya ke arah Lusi.


"Nggak, aku nggak mau balik sekarang. Aku mau besok, “ ujar Lusi yang mencoba melawan perintah Kenzo.


Dor


Satu tembakan mendatar sempurna tepat di lengan gadis tersebut. Zahra yang melihat hal itu, seketika memalingkan wajahnya dengan tubuh yang sudah bergetar hebat.


“Vino, suruh dia pergi atau saya akan membunuhnya sekarang! “ pintah Kenzo yang langsung membuat Lusi berlalu pergi, sembari memegang lengannya yang berlumuran darah.


“Di-Diobati dulu le-lengannya, “ ujar Zahra dengan nada bergetar hebat.


“Minggir, gak usah sok perhatian, “ ujar Lusi sembari menepis tangan Zahra dengan kasarnya.

__ADS_1


Namun, dengan kekehnya Zahra menarik paksa Lusi hingga gadis tersebut terduduk di samping Bita. Tak lama kemudian, seorang pelayan membawakan peralatan obat yang di minta Zahra.


Dengan telatennya, gadis tersebut mulai mengobati luka Lusi akibat tembakan dari Kenzo dan berhasil mengeluarkan peluru dari lengan Lusi.


“Aku gak bisa jahit lukanya, kamu bisa telpon dokter membantumu, “ ujarnya.


Semua yang berada di ruangan tersebut, menganga tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Zahra. Setelah selesai dengan Lusi, Zahra berbalik dan mengobati luka cakaran bekas kuku Lusi di tubuh Bita.


“Mencurigakan, “ ujar Vino pelan namun, masih bisa di dengar oleh Kenzo.


Kenzo pun merasakan hal yang sama, siapa Zahra apakah dia mata-mata yang di kirim musuhnya? Berbagai pertanyaan berputar dalam kepalanya, di saat Ia menyaksikan seorang gadis yang selama ini di anggapnya polos dan kampungan bisa membeda luka dalam.


“Siap-


“Tuan, Nyonya besar di culik dalam perjalanan kesini. “


Belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, seorang anak buahnya melaporkan hilangnya nyonya besar.


“Victor, panggil Safi kemari! “ pintah Kenzo yang langsung di laksanakan oleh Victor.


Dan yah benar saja belum sampai lima menit, Vino kembali dengan Safi bersamanya. Safi merupakan seorang hacker profesional, yang sudah hampir setahun bekerja kepada Kenzo untuk memberantas situs-situs kliennya yang bermain curang kepada perusahannya.


“Maaf aku harus bertemu dokter Erik, “ ujar Lusi yang langsung di angguk Kenzo. Sebab, saat ini Dokter Erik yang merupakan dokter khusus milik keluarga Sagara baru saja tiba.


Safi mulai mengeluarkan laptopnya, dan mulai melacak keberadaan nyonya besar yang merupakan Nenek Kenzo.


“Kau tau Safi, jika Oma sampai kenapa-kenapa aku akan menghabisi kalian semua! “ ujar Kenzo dengan nada dinginnya.


Vino yang sadar akan kemarahan bosnya, dengan cepat mengambil ponselnya dan mengabari seluruh anak buahnya untuk menyebar ke seluruh kota.


Namun, baru saja Ia hendak menekan layar ponselnya, dengan cepat Zahra menahan tangannya membuat Kenzo menatap tajam kearahnya.


“Jika seperti itu, Nyonya besar akan dalam bahaya. Dan bukan Cuma beliau kita pun akan di musnahkan dalam semalam, “ ujar Zahra.


Kenzo bangkit dari duduknya lalu menghampiri Zahra, dan mencekik leher wanita tersebut.


“Apa kau mau Oma mati huh?! “ teriaknya menggema.


“To-tolong dengarkan aku, jika gagal maka kau bisa menghabisiku. “


Kenzo yang tidak melihat kebohongan di wajah Zahra, dengan segera melepaskan tangannya dari leher Zahra dan kembali ke tempatnya semula.


Zahra sedikit membuka kancing bajunya, lalu melangkah duduk tepat di samping Safi.


"Boleh aku meminjam benda ini sebentar? “

__ADS_1


Dengan Ragu-ragu, Safi mengangguk mengiyakan perkataan Zahra. Tentu saja atas izin Kenzo, yang baru saja memberi isyarat agar memberikan laptopnya.


“Sambungkan ponsel anda, “ ucap Zahra, sembari menyodorkan kabel USB kepada Vino.


Dan dengan cepat Vino, menuruti perkataan Zahra. Seluruh mata penghuni ruangan menatap ke arah Zahra, yang tengah berusaha keras bersama benda di hadapannya itu.


“Ketemu, Nyonya di kurung di gudang yang berada di ujung kota dekat dermaga. “


Kenzo yang awalnya hilang semangat, matanya berbinar-binar ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Zahra.


“Bagaimana kondisinya? “ tanya Kenzo.


“Belum bisa di pastikan, kondisinya seperti apa sekarang? “


Kenzo memukul keras tembok hingga, tangannya berdarah. Namun, hal tersebut tidak mengalihkan perhatiannya dari laptop Safi.


“Vino, kau sudah bisa sebar beberapa anak buahmu di sekitar gudang tersebut! “


“Jangan, kalau itu akan beresiko tinggi. “ serkah Zahra dengan cepat menghentikan Vino


“Tuan, ada baiknya kita mendengarkan dia, “ ujar Lusi yang masih di rawat oleh Erik dengan jarak yang tak jauh dari Tuannya.


Kenzo hanya bisa menarik nafasnya panjang, di saat Vino dan Safi ikut menyetujui perkataan Lusi yang memberikan Zahra melakukan semuanya.


“Oke, anda bisa hubungi anak buahmu suru mereka bergerak satu persatu, “ ujar Zahra memberi arahan.


Vino mulai menghubungi orang-orangnya, yang sudah tiba di lokasi nyonya besar di kurung. Beberapa orang dari mereka, melangkah perlahan masuk kedalam gudang dengan arahan dari Zahra.


“Di depan ada jebakan totalnya ada lima jebakan, jangan matikan telepon tetap dengar arahan aku okey, “ ujar Zahra sembari terus menekan tombol-tombol laptopnya.


“Za, apa tidak ada yang menjaga? Itu seolah-olah terlihat seperti kita tengah di jebak, “ ujar Bita.


Semuanya seketika tersadar, bahwa dari awala musuh tak terlihat sama sekali. Namun, Zahra tetap tak memperdulikan perkataan Bita dan tetap fokus pada laptopnya.


“Zahra? “ ucap Kenzo.


“Ini hanyalah sebuah jebakan Tuan, mereka ingin penjagaan di sini lengah sehingga mereka bisa dengan mudah menyusup kedalam sini. “


“Lalu Oma ku dimana? “ tanya Kenzo dengan nada yang meninggi.


.


.


bersambung....

__ADS_1


oh my guys dimanakah Oma? ayok like and komen biar tau kelanjutannya oke,


__ADS_2