
"Jadi mereka sudah menikah?"
Bastian menangkis pukulan yang Eyang lontarkan padanya. Keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan teras rumah.
Seperti rencana, Eyang mengikuti mobil Raden, dan ternyata Eyang mendapatkan sebuah kenyataan mencengangkan. Raden telah menikah, sejauh ini, ibu, ayah, dan dirinya tidak Raden beritahu.
"Iya Gadis, istri Bos namanya Alula Humaira, masih 18 tahun dan baru masuk kuliah." Sahut Bastian meringis.
Bastian memang selalu memanggil Eyang dengan sebutan Gadis, apa pun kesalahan Raden, Eyang akan luluh jika sudah di panggil begitu oleh Bastian.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?" Berang Eyang.
"Aku takut Gadis nanti kepikiran, terus sakit-sakitan, nggak doyan makan, nanti Mas yang sedih." Kilah Bastian.
Casanova bebas saja memberikan gombalan pada siapa pun bukan? Selama perempuan itu masih bernapas Bastian sikat.
Eyang melengos manja meskipun senyuman kecil ikut tersingsing di sana. "Dasar Playboy gurun." Katanya. Sesekali mengibaskan kipasnya pelan.
Bastian meraih lengan berisi milik wanita cantik nan keriput itu. "Sudahlah, jangan terus marah-marah, tenang saja, perempuan yang Bos nikahi sangat baik, dia sopan, lucu, pandai memasak, rajin menabung, bisa mengurus rumah tangga dengan baik, bicaranya lembut, pokoknya Nyonya muda Alula Humaira sangat cocok menjadi menantu Gadis." Ujarnya promosi.
Eyang melirik Bastian yang menyengir. "Sungguh? Siapa tadi? Alula? Apa Alula bisa lagu Jawa juga?" Tanyanya.
Tak perlu pikir lama Bastian mengangguk begitu saja. "Uh, suaranya Nyonya muda sangat merdu, pokoknya mantap." Bastian meringis dengan alis yang bertautan. "Apa yang aku bicarakan."
Eyang menyengir. "Bagus kalo begitu, besok aku suruh Abimanyu yang ke kantor putranya, dia perlu mengintrogasi Raden, sekarang aku harus pulang, gendong aku masuk ke mobil lagi."
Bastian mendelik mendengar perintah dari Eyang barusan. "Gendong?"
"Iya, kamu nggak kuat? Tadi kamu bilang aku kurusan sekarang!" Sambung Eyang.
"Oh, kurus sekali beibeh." Bastian menyengir getir. "Kurasa aku berdosa."
"Ayok gendong." Eyang merentangkan tangannya pasrah agar cepat di gendong lelaki Casanova itu.
Bastian pun menurut meskipun harus menahan napas agar tidak terlalu terengah-engah selama proses pengangkatan.
Satu pengawal membuka pintu mobil Eyang dan gegas Bastian berlari lalu mendudukkan Eyang pada jok penumpang bagian belakang dengan pelepasan napas yang riuh.
"Huuhh!"
"Berat?" Tanya Eyang.
Bastian menggeleng. "Tidak sayang, kamu masih sangat kurus. Itulah makanya aku sampai pangling tadi." Pujinya menyengir.
Siapa yang setuju Eyang kurus, tubuh Eyang bahkan tiga kali lipat tubuh Alula.
Eyang tersenyum. "Yo wes, tak tinggal sek Yo."
__ADS_1
"Iyo," Bastian melebar senyum. "Iyo aja udah, kagak ngerti juga Gue!"
...----------------...
^^^Di dalam kamar mandi.^^^
"Om, ..."
Protes Alula terbungkam oleh pagutan bibir suaminya yang dahaga, dengan beringas lelaki itu memakan semungil bibir merekah yang biasanya memaki-maki dirinya dengan manja.
Alula terdiam bukan karena pasrah, tapi menikmati setiap remasan yang membuatnya melayang.
Jantung berdebar, kulit-kulit meremang, desir aneh mulai menjadi sekutu Raden untuk melakukan penyerangan. Tubuh Alula sendiri berkhianat, takluk pada laki-laki rupawan ini.
Sampai sebesar itu Alula baru pernah merasakan sentuhan seorang pria dan itu berasal hanya dari Raden seorang setelah menikah.
"Buka."
Tangan besar Raden mulai sampai pada tepian kaos merah muda milik Alula yang menggeleng tidak mau.
Tak ada yang boleh menolak malam ini, sebab Raden semakin di buat ber- gairah oleh pil mungil yang mengalir ke dalam darahnya, merasuki tubuh, pikiran dan jiwa iblis nya.
"Om." Alula membalik tubuhnya berniat lari tapi kemudian Raden lebih dulu meraihnya kembali. Membuka atasan milik Alula dan membuangnya serampangan.
"Jangan pergi please, aku membutuhkan mu, agh." Raden satukan mereka dan mengerang kecil dirinya sambil terpejam.
Ada desir nikmat saat tongkat miliknya terhentak gumpalan daging yang empuk kepunyaan Alula.
"Kita bisa menundanya bukan?" Raden ringkus tubuh Alula dengan pundaknya.
"Lula belum siap." Alula memukuli punggung Raden sembari kelojotan kakinya. "Jangan."
Raden tak mengindahkan peringatan gadis itu, kata jangan terdengar antonim hingga apa yang tidak Alula perbolehkan akan dia lakukan.
"Ah, Om!" Alula membelalak lebar saat tubuhnya terhempas begitu saja di atas ranjang empuknya.
Raden membuka gesper, kemudian menurunkan celana jeans miliknya separuh.
"Kita sudah sering berciuman, dan Baby tidak keberatan, hanya melakukan itu tidak akan membuat mu kehilangan masa depan, Baby."
Alula melayangkan tendangan namun Raden lebih sigap membawa kedua kaki mungil itu mengapit pinggangnya.
"Lula, sshh." Alula mendesis menggeliat sembari memejamkan mata saat jemari Raden bermain di bagian intinya.
Raden menyeringai. "Baby yakin tidak siap? Lihat, Baby menikmatinya. Baby menyukainya."
Alula menggeleng menghiba. "Jangan Om. Lula takut, Lula takut sakit, besok hari pertama Lula orientasi."
__ADS_1
"Pelan-pelan Baby."
"Om, ..."
Buktinya Raden sangat kasar saat mengoyak CD milik Alula dan menyingkapkan rok lipat berwarna putih itu ke atas setelah lebih dulu menghempas bra tanpa memikirkan teriakan kesakitan Alula.
Raden menelan saliva. "Uh, Baby sangat seksi." Raden menggigit bibir bawahnya sementara matanya tak pernah beringsut dari belahan tembam di bawah sana.
Dia sentuh benda empuk itu secara langsung, menunduk, mengendus dan memakannya rakus seakan-akan itu suatu kegiatan yang sangat membahagiakan.
"Ah, Lula takut Om." Alula menangis, mengeluarkan buliran keringat yang berembun di dahinya. Panik, cemas, takut, kesal, marah, semua bercampur menjadi satu.
Bagaimana jika Raden masih belum melupakan Emelly, bagaimana jika Raden hanya menginginkan dirinya, bukan mencintainya, mencintai dan menguasai itu dua kata yang berbeda. Otak Alula menolak.
Terlebih, Raden terus saja menekan pergerakannya dengan tenaga yang super kuat sementara Alula hanya gadis mungil yang lemah tak berdaya.
"Sakit Om!" Bagian pinggang terasa lebam akibat dari cengkraman tangan besar Raden yang tidak pula sadar melakukannya.
Obat durjana itu membuat Raden seperti kerasukan iblis klan tertinggi. Raden tak melakukan pemanasan apa pun, inginnya langsung menyatukan kedua inti mereka dan dia turuti saat itu juga.
"Ough sayang." Desah Raden dengan mata yang terpejam. Sempit ruang itu sungguh melayangkan angannya seakan mengambang di awang-awang.
"Sakit Om." Selaput dara itu terkoyak hingga memercikkan cipratan darah segar yang menodai sprei putih polosnya.
"Candu, aku candu padamu." Raden terus meracau, memberikan hentakan demi hentakan pada tubuh Alula.
Ruangan itu di penuhi suara lenguh yang menggeluti dunia fantasi manusia.
Tak ada lagi kata cinta yang bisa Alula percaya, Raden kalap dengan aksinya, rakus Raden membuat Alula pilu meratap di sela gaung desah dan lenguh nya.
Bukan lagi tetesan, Alula berlinangan air mata di sela pencapaian nikmat suaminya yang meliar dengan ilusinya.
Halusinasi mulai menguasai, Raden meminum pil yang membuatnya terus mengingat masa lalu, di otaknya seperti ada kaset kenangan yang berputar seperti rentetan peristiwa indahnya bersama Emelly.
Ada bayangan lima tahun lalu saat pertama kali bertemu Emelly, ada bayangan empat tahun yang lalu saat pertama kali mencium bibir Emelly, ada bayangan tiga tahun yang lalu saat Emelly menggodanya dengan busana seksi.
Pengaruh pil yang Raden minum tidak main-main efeknya, Emelly sengaja memberikan pil khusus itu agar Raden tak mampu menepis bayang-bayang cintanya pada Emelly.
Noda kuman seperti Alula hanya cukup di bersihkan dengan pemutih pakaian.
Bagaimana dengan keadaan Alula? Gadis itu sangat menyedihkan. Orang bilang saat pembukaan pertama akan sakit sedikit lalu berangsur membaik.
Tidak, sejauh ini Alula tidak pernah bisa merasakan kenikmatan, pedih yang dia cicip, Alula terus meraung, meringis, memukuli, mengumpat, menjerit, menangis.
Bukan sakit di bagian intinya yang membuat Alula terus menitihkan air mata. Ada hal yang lebih menyakitkan dari pada itu.
Apa hal terpedih dari hidupnya? Di tinggal kedua orang tuanya pun gadis itu masih mampu menjalani dengan tegar dan kepala yang menegak.
__ADS_1
Tapi tidak saat Raden menyebutkan nama Emelly di akhir puncak pendakian bersama dirinya.
Di awal Raden terus menyebutkan Baby, tapi di akhir Raden mengerang nama mantan kekasihnya.