
Goresan cemas terlukis di wajah tampan Raden Mas Rafael, kaki panjang nya terus berbolak-balik dengan tatapan yang mengarah pada ranjang pasien milik istrinya.
Raden berdiri di tengah-tengah ruangan VVIP sebuah rumah sakit menengah. Hanya ada rumah sakit biasa yang paling dekat dengan lokasi camping ground.
"Kenapa harus dengan USG? Apa ini penyakit serius?" Pada akhirnya menyeletuk juga pertanyaan khawatir nya.
Barusan dokter membawa langsung alat-alat itu khusus untuk penguasa yang satu ini. Kamar VVIP milik Alula segera di isi dengan alat-alat yang diperlukan.
Awalnya para petugas medis bingung dengan hubungan Raden dan Alula, tapi kemudian Bastian menunjukkan buku nikah yang di jadikan miniatur gantungan kunci mobil.
Ada-ada saja memang kelakuan Bastian, tapi begitulah Casanova sok alim itu. Saking senangnya Raden menikahi gadis baik-baik Bastian sampai membuat miniatur buku nikah segala.
Dari situ dokter dan petugas lain tahu hubungan Raden dan Alula yang perlahan- lahan mencuat ke permukaan ruang publik dengan cara bertahap.
Alula masih mengamati setiap ekspresi yang Raden tampilkan, sedikit banyak dia paham akan perasaan yang detik ini Raden rasakan.
"Dari gejala dan rekam medis Nyonya muda, ini berhubungan dengan kehamilan, dan benar saja, istri Anda sedang mengandung." Jawaban senyum dokter Dara membuat mulut Raden terbuka.
"Hamil?"
"Iya, selamat Tuan muda." Angguk Dara. Dokter itu pergi setelah berpamitan.
Sementara Raden masih bergeming dengan pergumulan batin. "Hamil?" Celetuknya lagi lirih.
Alula mengalihkan pandangan ke arah lain lalu menyeletuk. "Tidak perlu khawatir, Lula bisa tanpa Om."
Kata-kata yang membuat Raden menoleh pada pemilik wajah mungil itu dengan kerutan di kening. "Maksud Baby?"
"Tidak perlu repot-repot menerima kalo tidak menginginkan nya!" Alula berujar tanpa menoleh.
Raden mengernyit sekali lagi. "Baby yakin?"
Kembali Alula menoleh sinis mendengar penawaran dari bibir suaminya. Namun saat menatap wajah sendu Raden tidak sesuai dengan penawarannya barusan.
"Kenapa selalu pikiran buruk saja yang bisa Baby berikan? Apa aku terlihat seperti orang yang tidak bertanggung jawab? Apa aku terlihat seperti orang yang hanya ingin bersenang-senang saja? Apa di wajah ku tertulis keberatan dengan kehamilan mu? Apa aku tidak boleh mencemaskan mu? Apa terlalu lebay jika aku kecewa padamu yang hamil tanpa aku ketahui lebih awal? Apa aku tidak boleh mencemaskan masa remaja mu? Kalau semua tentang itu Baby anggap terlalu berlebihan aku minta maaf, mungkin cara ku justru membuat mu muak."
Keduanya terdiam, Alula tak tahu harus berkata apa. Sementara Raden pergi dengan mengemban kecewa.
Alula hanya bisa menatap nanar punggung suaminya keluar dari ruangan. Ada sesal yang Alula unjuk, sepertinya dia telah benar-benar membuat Raden sakit.
Seperti dia yang tidak pernah bisa percaya pada Raden, mungkin seperti itu pula rasa sakit Raden yang terus menerus.
__ADS_1
Alula berpikir menimbang, selama ini Raden tak pernah mencabut fasilitas meskipun memulangkannya, tidak pernah ada kata cerai di antara mereka. Masih memberikan perlindungan dengan mengirimkan beberapa pengawal handal.
Berangkat dari sana saja sudah jelas Raden menginginkan yang terbaik untuk nya, hanya saja, sifat Raden memang tidak terlalu lugas. Dia lebih senang menunjukkan kepeduliannya secara langsung dari pada hanya berkata-kata.
Faktor usia Raden dan Alula selisih jauh, itulah sulitnya Alula mengerti pemikiran Raden yang penuh pesan tersirat.
Tidak seperti Alula yang menginginkan ucapan keterbukaan karena tidak semua orang bisa peka.
Ada sebagian dari sifat manusia yang perlu bicara dari hati ke hati untuk bisa menyelami lebih baik lagi. Ada pula yang memang peka meskipun hanya melihat ekspresi muka.
...----------------...
Tiba di luar Raden memeluk Bastian dengan senyum tipis. Bastian menautkan alisnya bingung. "Ada apa Bos? Kau masih normal kan?"
"Alula hamil." Ada desah sesak yang Raden perdengarkan.
"Serius?"
Bastian memastikan dan di jawab dengan anggukan kepala Raden. "Entahlah, aku harus senang atau sedih, Baby pasti berat mendapati hal ini." Katanya lirih.
Bastian menggeleng. "Ini sudah terjadi dan semua itu sudah menjadi jalan hidup mu Bos. Kenapa harus di sesali?"
"Lalu bagaimana dengan hidupnya?" Sambung Raden yang kecewa pada perbuatannya sendiri.
"Tapi itu akan mempengaruhi psikis, kalo memang dia belum siap." Sela Raden.
"Lalu bagaimana? Apa mau di gugurkan?"
"Tentu saja tidak, itu juga akan lebih menyakitinya." Sergah Raden ketus.
"Ya sudah, lebih baik terima saja. Sekarang kita bicarakan dengan orang rumah, mereka perlu tahu berita ini terutama Nyonya besar." Ujar Bastian.
"Terus gimana kalo Lula di suruh tinggal di sana lagi? Dia pasti tersiksa batin dengan aturan-aturan yang Eyang buat."
"Lalu, apa Nyonya besar tidak perlu tahu?"
Sejenak Raden terdiam menimbang- nimbang perkataan Bastian. Karlina pasti kecewa jika tidak di beri tahu.
"Kamu benar, aku harus memberitahu Ibu." Raden menepuk pundak Bastian pelan. "Sekarang aku titip istriku." Ujarnya.
"Baiklah." Angguk Bastian dan Raden pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Di balik pintu sana ada Alula yang menyisakan sedikit celah untuk mendengarkan pembicaraan suaminya bersama Bastian.
Alula paham sekarang kenapa Raden memulangkan nya kemarin, jadi karena aturan-aturan Eyang yang mungkin akan semakin menyiksanya.
Sejauh dia berpikir, tak pernah ada yang baik, selalu saja buruk bahkan sempat menganggap bahwa tabiat orang kaya dan tampan hanya kejam saja. Ternyata Raden termasuk kategori pengecualian.
...----------------...
^^^Di rumah utama, beberapa saat kemudian.^^^
Karlina tersenyum manis berjalan menuju kamar kedua suaminya dengan meletakkan ponsel di dadanya.
Kabar yang dia dengar dari putra pertamanya benar-benar membuat wanita berkepribadian lembut ini bahagia.
Tak pernah Karlina mendatangi kamar ke dua suaminya, tapi karena berita kehamilan Alula Karlina tak peduli tentang hal itu.
Tok tok...
Pintu kayu ukiran dengan cat coklat tua mengkilap Karlina ketuk masih dengan senyumannya. Tak lama dari itu pintu terbuka dan madu mudanya yang berdiri di balik sana.
"Ada apa Mbak yu?" Tanya Lisya. Mungkin Lisya kaget Karlina mau datang ke kamar itu.
"Mas Abi mana? Aku mau bicara." Belum sempat Lisya menjawab Abimanyu sudah menunjukkan batang hidungnya.
"Lin. Ada apa?" Tanyanya seraya mendekat.
Seakan tidak terjadi apa-apa dengan hati lukanya, Karlina tersenyum sumringah pada Abimanyu, kabar dari Raden seolah menjadi tameng hatinya.
"Alula hamil. Sekarang Raden dan Alula di rumah sakit. Aku minta izin, aku mau menyusul mantu ku." Pinta Karlina bersemangat.
Abimanyu terdiam bukan karena tidak bahagia mendengar berita kehamilan menantunya, tapi senyum Karlina yang tiba-tiba kembali dia lihat setelah lama tidak pernah mengembang di hadapannya.
"Boleh kan Mas? Aku mau menyusul Alula, dia pasti butuh dukungan dari seseorang sekarang." Ulang Karlina lagi menggoyang dada suaminya.
Lama sekali Karlina tidak pernah meminta apa pun pada lelaki itu hari ini Karlina seperti anak kecil yang meminta permen.
Abimanyu mengangguk dengan wajah rambang. "Boleh."
"Terima kasih Mas, aku pergi." Hanya itu saja yang Karlina pinta dari Abimanyu, setelahnya pergi dengan wajah berbinar tanpa menunggu kata-kata Abimanyu lagi.
Abimanyu melangkah satu kali, dia keluar dari kamar menatap Karlina yang menaiki anak tangga memanggil Ayu dan Arga dengan suara antusias. Kebetulan Ayu tidak ikut camping karena Abimanyu melarangnya.
__ADS_1
Abimanyu tertegun sendu. Jadi bukan figur suami, tapi anak-anak yang Karlina ajak dengan penuh semangat.
Tanpa sadar, Abimanyu telah membuat celah pada istri pertamanya. Dan tanpa dia sadari pula, rupanya Abimanyu sudah tidak di anggap penting oleh istri pertamanya.