My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Sungai


__ADS_3

Alula terhenyak mendapati garis dua pada benda putih mungil itu. Alat tes kehamilan yang Alula pandangi benar-benar bergaris dua.


Saat ini Alula berada di dalam toilet umum kampusnya di temani Nakula. Mereka memang sudah bersiap untuk melakukan perjalanan ke camping ground mahasiswa baru di bagi sesuai jurusan.


Pagi sebelum berangkat Alula mengajak Nakula mampir ke apotek untuk membeli tespack. Berawal dari kecurigaan Aryan yang mengamati setiap gerakan dan kebiasaannya,


Akhir-akhir ini Alula lebih banyak makan, yang biasanya empat kali paling banyak sekarang menjadi delapan kali.


Sarapan saja dua kali makan siang dua kali sore dua kali dan makan malam dua kali. Genap delapan kali Alula makan.


Nakula sempat terkejut saat Aryan mencetus kan pendapat, dia pikir Raden dan Alula tidak pernah melakukan kegiatan intim karena Alula sesantai itu saat di pulangkan.


"Aku positif hamil Nula!" Alula menarik Nakula masuk ke dalam toilet.


"Kamu serius positif?"


"Ssuutt!" Alula mendesis pada Nakula yang terperanjat mendengar kata-katanya.


Mereka memang hanya berdua tapi bisa saja di dalam sini ada penyadap yang di pasang manusia iseng.


"Jadi kamu pernah melakukan hubungan? Kamu bilang tidak menyukainya, kenapa mau?" Tukas Nakula.


"Jangan bahas lagi! Aku stress! Gimana sama kuliah ku? Baru satu bulan aku masuk sudah hamil." Sela Alula gelisah.


"Kamu perlu bicara sama Bang Raden mengenai kehamilan mu, jangan sampai kamu keguguran karena kegiatan camping kita."


Alula mendelik. "Jadi aku harus dateng ke rumahnya terus bilang aku hamil begitu! Cih! Kalau pun Om Raden mau bertanggung jawab itu berarti karena janin nya!" Ketusnya lalu keluar dari toilet.


Nakula menghela napas panjang, saudara kembarnya ini benar-benar arogan tingkat nasional.


...----------------...


Udara asri yang di kelilingi pepohonan kini telah Alula nikmati. Sungguh kedamaian ini tidak sama dengan situasi ricuh nya hati.


Berita kehamilan membuat Alula terus memikirkan bagaimana kelanjutan cerita hidupnya.


Hamil tanpa suami, apakah akan segera dia alami? Lalu bagaimana dengan cita-citanya? Alula semakin membenci ulah suaminya.


Harapan meraih cita-cita sudah mengabu, padahal asa masih menggebu.


Lupakan semua itu, Alula masih harus melanjutkan kegiatannya di tengah hutan ini.


Hari pertama tiba di camping ground, di isi dengan pembuatan tenda di lanjutkan dengan game-game ringan sebelum nantinya akan di tutup dengan acara jurit malam.


Beruntung Alula punya Nakula yang selalu ada untuknya. Nakula bahkan berencana agar Alula tidak mengikuti tracking ke puncak bukit karena kondisi Alula yang sedang bergaris dua.


Sejauh ini Aryan belum tahu tentang berita kehamilan adiknya, sebab Alula melakukan tes di toilet kampus pagi tadi sebelum ke perkemahan.


Sore ini, Alula berjalan menuju sungai di sekitar spot camping. Tidak jauh, hanya beberapa meter dari tenda.

__ADS_1


Alula menenteng handuk juga baju ganti, riak air sungai yang mulai terdengar menyambut kedatangan wanita mungil itu.


Sejenak Alula berdiri sambil menyisir keindahan sungai ini, banyak bebatuan yang tidak sama besarnya.


Diantaranya ada batu paling besar dan sepertinya itu tempat paling aman untuk memulai ritual mandi sorenya.


"Nula, aku mau mandi di balik batu itu, kamu tunggu di sini yah, aku takut sendirian." Cetus Alula.


"Hmm." Suara berat nan seksi yang membuat Alula membalikkan badannya seketika.


Netra dengan iris coklat itu melotot mendapati wajah senyum manis yang sangat nyaman di pandang mata.


Sejenak keduanya terdiam saling melepas dahaga dari kerinduan yang terbendung di dalam dada.


"Selamat sore Baby." Sapa Raden yang entah sejak kapan berada di belakang Alula, seingatnya dia berjalan bersama Nakula.


"Om kenapa di sini? Nula mana?" Ketus Alula.


Raden tersenyum mendekati. "Dia balik lagi, dari tadi aku yang di belakang Baby."


"Pergi saja sanah, Lula mau mandi!" Usir Alula.


"Tadi bukanya Baby bilang takut sendirian?"


"Sekarang tidak!"


"Aaaa." Belum apa-apa Alula sudah berteriak memukuli dada Raden. "Kenapa harus menakut-nakuti Lula!"


Raden mencekal tangan Alula. "Karena memang begitu adanya, suami mu yang tampan ini cuma mau mengingatkan saja. Kalo Baby yakin, ok, aku kembali ke tenda."


Raden menyeringai kecil saat membalikkan tubuhnya. Terlihat sekali Alula ketakutan saat menoleh ke kanan dan kiri dengan kecemasan tingkat tinggi.


Benar saja, baru satu langkah dia pergi Alula meraih tangannya. "Jangan pergi dulu. Setidaknya temani Lula sampai Lula selesai mandi. Om kan sudah sampai sini, Lula hargai keberadaan Om deh. Kan tidak baik mengusir orang yang lebih tua."


Sedikit munafik, begitulah istrinya, Raden tersenyum menang lalu menyembunyikan senyum itu saat kembali berbalik arah pada Alula. "Baiklah, sekarang Baby mandilah, aku awasi dari sini." Titahnya.


Alula mendelik. "Awasi? Menemani tidak berarti mengintip!"


"Coba ralat kata-kata nya, mengintip itu untuk orang yang tidak boleh melihatnya, aku suamimu."


Alula tersenyum kesal. "Masih mengaku suami? Siapa yang Om jadikan istri dan siapa yang Om cintai?" Tudingnya.


"Apa jika aku mengatakannya Baby akan mempercayai nya?"


Alula mengalihkan pandangan ke arah lain, beralibi, pasti itu yang akan Raden lakukan setelah ini.


"Aku tahu kenapa malam itu aku sampai menyebut nama Emelly. Itu karena pil yang ku minum memiliki efek bisa mengembalikan kenangan-kenangan indah beberapa tahun terakhir. Aku ingat saat kita melakukannya bersama mu, tapi di akhir aku sudah terbang dengan pil itu, maaf sudah sangat menyakiti mu, sungguh, aku sangat tulus padamu, menyayangi mu, mencintai mu bahkan tak bisa hidup tanpa kabar mu."


Alula menoleh menatap Raden. "Apa aku harus mempercayai nya?"

__ADS_1


"Aku bisa membuktikan ucapan ku barusan." Sela Raden yakin.


Alula melepas smirk. "Caranya?"


"Baby boleh meminum pil nya, dan kita lihat siapa yang akan Baby ingat setelah itu, aku atau Galang." Sambung Raden.


Alula terbelalak. "Apa Om gila?" Bentak nya, dalam keadaan hamil Alula tidak ingin meminum pil apa pun. Kendatipun tidak di rencanakan, tetap saja janin itu titipan Tuhan.


Raden meraih pinggang kecil Alula berusaha menyatukan tubuh mereka. "Kenapa? Baby takut?" Tanyanya curiga.


"Itu konyol!"


"Jika tidak di buktikan sendiri bagaimana bisa Baby percaya padaku?" Sanggah Raden.


Sempat keduanya terdiam. Alula tak tahu harus berkata apa. Tapi kemudian Raden menoleh ke kanan dan kiri mengamati situasi sore ini.


"Sebentar lagi malam, lebih baik sekarang Baby mandi." Raden gendong raga kecil Alula untuk di bawa ke balik batu besar yang akan menjadi tempat mandi istrinya dengan kaki telanjang.


Langkah besarnya mulai tenggelam pada air sungai yang tidak dalam, hanya setengah betis Raden.


Raden mendudukkan Alula pada batu yang berkemungkinan aman untuk di jadikan tempat mandi. Setidaknya tidak licin dan berbahaya.


Raden menekuk lutut, menenggelamkan separuh tubuhnya tepat di depan duduknya Alula yang menguncang kaki ke air.


Rambut poni Alula mulai Raden singkirkan, agar tidak menghalangi kecantikan wanita itu.


"Biar aku temani dari sini."


Alula diam bukan karena tidak mau menolaknya, hanya saja, hal itu sukar di lakukan. Mungkin karena rindu yang masih menjadi sekutu takluk nya perempuan itu.


"Aku merindukan mu." Raden memangkas jarak sembari mengusap pipi Alula pelan.


Pandangan keduanya bertemu, detak jantung mulai memburu, ada hasrat yang menggebu-gebu menuntut sesuatu.


Raden alihkan pandangan pada kaos merah muda milik Alula, lalu membukanya perlahan hingga menampilkan buah kembar nan padat membulat yang menantang gairahnya. Ada yang berbeda, sepertinya ukuran dada Alula yang mulai berubah.


Setelah meletakkan kaos Alula di salah satu batu, Raden mendekatkan wajahnya pada tengkuk wanita itu kemudian membuka pengait bra dan menanggalkannya.


Raden terpana melihat keindahan tubuh kecil Alula yang memesona dengan kepadatan, kecerahan dan kekencangan nya.


Tangan Raden mengayuh air lalu mengarahkannya pada tubuh molek Alula secara perlahan.


Hanya menatap wajah Raden yang bisa Alula lakukan. Percikan air itu beriringan dengan percikan api asmara yang mulai menggelumat gejolak keduanya.


Raden basuh bibir, leher, bahkan bulatan di dada Alula dengan tatapan penuh gelora.


Manik hijau itu terus menyisir setiap lekuk Alula yang terlihat berbeda sampai pada akhirnya kembali Raden menatap bibir merekah Alula yang di penuhi buliran air.


"Boleh aku mencium mu?"

__ADS_1


__ADS_2