
Kriiiiiing.....
Ponsel milik Bastian berdering, saat ini lelaki tampan itu sedang berada di kursi kemudi, mengamati satu rumah yang acap kali dia amati.
Alat penyadap telah dia arahkan pada satu titik di mana dia mampu mendengar suara orang yang ingin dia intai.
Ada celah dari kaca transparan yang terpecah belah setelah Aryan memecahkannya. Dari situlah Bastian melayangkan alat yang mirip dengan drone namun ini berupa kupu-kupu kecil.
Bastian meraih ponselnya mengangkat telepon dari sang Tuan. "Halo."
📞 "Kau di mana?"
"Segera pulang."
📞 "Baiklah." Raden menutup telepon setelah mengucapkan itu.
Gegas Bastian menyalakan mesin mobil lalu membawanya, tentunya setelah menarik kembali alat penyadap miliknya.
Tidak ada macet, Bastian melaju cepat, tak ada satu jam Bastian sudah tiba di rumah utama yang masih riuh dengan para tamu undangan.
Langkahnya cepat menaiki anak tangga dan menuju kamar Raden, sekilas Bastian melirik Abimanyu dan antek-anteknya sedang berunding di sudut tempat, sudah pasti mengenai nama baik menantunya yang tidak boleh tercoreng.
Alula akan menjadi ibu dari cucu pertama Abimanyu, Alula harus mendapatkan nama baiknya kembali.
Lagi pun, sedikit banyak Abimanyu tahu cerita tentang ibu Emelly bersama ayah Alula dari cerita terdahulu dan dari pengakuan Aryan sendiri kemarin-kemarin.
Tak apa bukan keturunan dari konglomerat, Abimanyu lebih memilih Alula dari pada Emelly yang kaya tapi kacau asal usulnya.
Cukup tahu kegiatan Abimanyu, Bastian melenggangkan langkah dan pandangan pada pintu kamar Raden, ia memasukinya karena barusan sang Tuan yang menyuruh.
"Bos."
"Hmm?" Raden menunggu di sofa, sepertinya Alula sudah tertidur karena sudah tidak nampak.
"Sangat mengejutkan." Bastian duduk pada sofa yang menghadap sang Tuan.
"Maksud mu?" Raden mencondongkan tubuhnya menatap penasaran Bastian.
"Rupanya Bang Aryan lah pemilik dari perusahaan-perusahaan D-group." Ucap Bastian.
Raden mendelik. "Kau yakin?"
"Itu yang terjadi selama ini." Bastian menyandar tubuhnya. "Aku yakin Nyonya muda belum mengetahui kenyataan ini, dia dan Emelly satu ayah, mereka saudara yang dekat karena berasal dari nasab yang sama." Jelasnya.
__ADS_1
Bastian menjelaskan duduk perkara yang Emelly, Aryan alami barusan. Jadi karena trauma masa lalu, Emelly berbuat seperti itu. Takut menikah, selalu seperti orang tidak waras.
Raden meredupkan tatapan. "Aku turut prihatin. Tapi, terlepas dari semua itu, aku bersyukur memiliki Alula, bersyukur, Alula lah yang menjadi pengantin ku saat itu, jika tidak begitu, belum tentu aku bisa menikah dan mendengar kehamilan istri kecil ku."
Tidak ada yang menyangka Raden akan jatuh cinta pada Alula secepat itu.
"Terlebih aku. Selamat atas keberhasilan Bos memiliki Nyonya muda seutuhnya."
"Terima kasih." Raden tersenyum.
"Boleh aku pulang ke rumah? Ada sesuatu yang perlu aku ambil." Pamit Bastian.
Raden memutar bola matanya. "Apa lagi? Gelang kaki wanita mu?"
"Bukan urusan Bos."
"Hays." Bastian pergi meninggalkan tempat.
Sementara Raden bangkit dan masuk ke dalam bilik di mana istrinya tertidur. Kamar luas ini memang di bagi menjadi beberapa sekat. Ruang tamu, ruang ganti, balkon, kamar mandi dan tempat ranjang.
Raden masuk ke dalam selimut menyusul istrinya, mengecup lembut pipi Alula lalu memeluknya erat dari belakang.
Alula adalah gambaran semungil kecantikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa menjadi miliknya seutuhnya.
Kembali Raden tak habis pikir, Aryan bisa setegar itu memiliki watak pelindung, rela hidup miskin demi adik-adiknya yang ternyata bukan kandung.
Lagi pun, jikalau Raden tidak meneruskan perusahaan, belum tentu Arga mau karena bocah nakal itu hanya senang membaca buku, komik dan bermain game.
Arga tidak tertarik di bidang bisnis properti, Arga lebih tertarik pada pengembangan software aplikasi, rencananya Raden ingin membantu adiknya itu untuk mewujudkan impian nya.
Malam pun melarung mengiringi tempat peristirahatan sementara umat manusia, acara pernikahan kacau ini biarkan berlalu, di gantikan oleh suasana baru.
Pagi hari yang sejuk pun mulai mengudara menyambut terbukanya sang netra. Alula terbangun dan wajah tampan suaminya yang pertama kali dia pandangi.
Rupanya semalam Raden menidurkan dirinya setelah berendam aromaterapi. Raden berjanji nama ibunya akan kembali, maka hari ini Alula tidak perlu khawatir.
"Lula mencintaimu Om." Bisiknya. Sejenak ia terdiam memandangi ketampanan Raden dengan puas.
Dia kecup pelan-pelan sebelum akhirnya dia bangkit dan beranjak memasuki kamar mandi.
Alula bersiap dengan aktivitas pagi harinya, mandi mengganti pakaian dan lain sebagainya, ia membuka pintu balkon agar saat Raden terbangun sudah ada udara segar yang masuk, kemudian berjalan menuju pintu utama kamarnya.
Alula mengenakan pakaian remaja seusianya, menuruni anak tangga mendekati dapur bersih, meski tak pandai memasak tapi Alula ingin membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Walaupun ada banyak pelayan, anak-anak dan Abimanyu terbiasa dengan masakan Karlina. Mau tak mau Karlina harus memasak.
Di dapur sudah ada Karlina dan Lisya, tumben sekali menurut Alula karena dahulu saat Alula tinggal satu Minggu di sini tidak ada Lisya di dapur pagi-pagi begini.
"Sugeng enjang." Alula menyeletuk dengan bahasa Jawa nya. Karlina tersenyum. "Tidak perlu di paksakan berbahasa Jawa sayang."
"Sedikit Buk." Alula menyengir hingga tertampil seluruh gigi putihnya.
Alula menatap Lisya yang cemberut, sudah pasti karena di suruh membantu Karlina memasak. "Pagi Tante."
"Pagi." Jetek Lisya tanpa menoleh.
Alula berdiri di sisi Lisya sambil mengelap piring yang ada. Sementara Karlina cuek dengan masakannya.
Tak ada obrolan menarik. Alula memikirkan sesuatu mencoba berbuat iseng, sampai ia teringat dan berpura-pura melirik terkejut pada Lisya namun suaranya dia tekan supaya pelan.
"Oh ya ampun."
Sontak Lisya menoleh sinis. "Apa?"
Alula menyipit mata. "Tante sudah ada kerutan wajahnya, ini tanda-tanda penuaan dini loh," Alula melirik sekilas pada Karlina.
"Lihatlah, Ibu saja sudah kepala lima tapi masih awet muda. Sepertinya Ibu bukan wanita pemikir keras makanya awet muda." Cetusnya.
"Tahu apa kamu anak kecil?" Sanggah Lisya.
Lisya memang tidak menyukai Alula karena semenjak ada Alula suaminya sibuk mengurus perihal anak itu dan putranya, justru Lisya yang seolah tidak menarik lagi untuk di urusi.
Mungkin karena kejenuhan Abimanyu yang berangsur membaik setelah adanya kegiatan baru. Apa lagi sebentar lagi akan ada cucu.
"Ya tahu lah, kan sedikit-sedikit Alula sering mempelajari tentang itu. Tante tahu, kenapa Romo awet muda?"
Meski tak menyukai tapi Lisya penasaran dengan apa yang Alula katakan. Diam-diam dia mendengarkan.
"Itu karena menikahi Tante yang usianya lebih muda, Romo menyedot semua energi mu yang dia jadikan sebagai obat penangkal tua, jadi hati-hati, takutnya Tante semakin tua padahal umurnya masih muda."
Lisya menoleh cemberut namun tatapannya mengisyaratkan bahwa dia percaya pada kata-kata Alula.
"Aku sih menyayangkan sekali kenapa Tante menikah dengan Romo yang lebih tua dan punya anak. Harusnya wanita cantik sekelas Tante mendapatkan pria yang lebih tampan muda dan lebih gagah perkasa." Alula memanipulasi.
"Wajah Tante harusnya bisa lebih muda dari Om Raden, tapi lihatlah, sudah banyak sekali kerutan di wajah." Alula menggeleng dengan bibir mencebik. "Ck, ck, ck, sangat di sayangkan." Katanya lirih.
Ada apa dengan perasaan Lisya, kenapa rasanya ucapan Alula sangat benar sekali.
__ADS_1
Dia cantik dan masih muda, kenapa harus mau di perlakukan dingin oleh suaminya?
Cukup sudah sabarnya. Lisya mau berunjuk rasa pada Abimanyu yang tiba-tiba mendingin padanya.