
Cepat sekali bumi ini berputar. Embusan demi embusan di lewati seiring dengan langkah aktivitas luar biasa yang tanpa terasa menciptakan sebuah kenangan di masa lalu.
Satu tahun setelah tranplantasi hati, Karlina dan Abimanyu masih sama-sama hidup dengan baik bahkan cukup baik.
Hidup mereka masih terpisah tanpa kalimat perceraian, Karlina enggan untuk memaafkan karena terlalu dalam sakit yang Abimanyu torehkan.
Abimanyu pun segan untuk memohon ampunan. Karena menurutnya, kesalahan dirinya sudah cukup banyak dan tidak akan pernah bisa bahkan sekedar pantas untuk di maafkan.
Abimanyu saja sangat membenci Lisya, berkali-kali Lisya datang meminta belas kasihan tak pula mampu membuat dirinya luluh. Mungkin, Karlina pun demikian.
Arga memilih tinggal bersama ayahnya sementara Ayu tinggal bersama ibunya di dalam rumah klasik kolonial milik Raden.
Meskipun tidak bersama, Karlina cukup bahagia, Kaesang semakin pintar bahkan bisa di katakan cerdas.
Namun, sekali lagi tidak ada manusia yang sempurna, begitu pun dengan Kaesang.
Anak berusia satu setengah tahun itu sering mengalami demensia.
Masih terlalu dini untuk di pastikan apa penyebabnya tapi anehnya adalah, Kaesang pintar saat di berikan stimulasi.
Misalnya Alula mencontohkan gerakan atau nyanyian dia langsung pandai menirukan.
Namun tidak berangsur lama, karena setelah beberapa jam Kaesang lupa lagi.
Padahal saat menonton film yang sama Kaesang kembali mampu mengingat alur ceritanya tapi sering kali dia lupa bahwa dia sudah pernah menontonnya.
Ada keanehan dan kejanggalan yang terjadi pada diri Kaesang. Sejauh ini, Alula masih yakin putranya baik-baik saja.
Beberapa dokter sedang bertugas mencari tahu apa yang terjadi pada Kaesang.
Alula telah memasuki semester lima sambil mengasuh anak di bantu oleh beberapa baby sitter.
Di sela aktivitas belajarnya, Alula juga mengurus studio animasi pemberian suaminya.
Dalam gedung yang sama dengan Arga, dia bekerja sama menciptakan sebuah maha karya.
Ratusan animator dan editor terbaik berkumpul dalam bangunan A-studio.
Aplikasi yang Arga kembangkan pun mulai lebih banyak lagi. Dari game ringan, simulasi, sampai ke aplikasi pembaca novel dan komik online.
Sastra dan seni yang A-studio hasilkan cukup baik dan lekas di gemari masyarakat, dari yang anak-anak sampai yang lansia.
Kerjasama antar adik dan kakak ipar itu sering menyita kecemburuan Raden Mas Rafael. Namun sejauh ini, Alula masih sanggup mengatasi sikap posesif suaminya.
Berapa puluh gadis cantik yang Raden pilih untuk di jodohkan dengan Arga, tapi bukan Arga jika menurut. Arga punya selera sendiri, memiliki rencana sendiri, juga kisah cintanya sendiri yang tersembunyi dan dengan identitas tersembunyi.
Satu tahun terakhir. Hidup Raden dan Alula sangat berwarna, ada kecemburuan, posesif, kemarahan, tawa riang gembira, manja bahkan lebay.
__ADS_1
Bastian pada akhirnya menikahi Emelly, dan tinggal bersama dalam satu atap yang sama. Kendatipun demikian, Bastian masih setia menjadi asisten personal Raden, bagaimana pun tidak ada yang mampu membuat Bastian berpaling.
Pagi yang cerah ini, Alula membuat sarapan teruntuk Kaesang dan suaminya. Senyum dan nyanyian fals mengiringi pembuatan masakannya.
Kemarin Kaesang mau memakan sampai habis masakan darinya, jadi kali ini Alula memasaknya untuk di suguhkan pada suaminya juga.
Sekarang Karlina sudah tidak memasak, Karlina hanya duduk-duduk sambil membaca buku juga melakukan kegiatan rohani bersama Eyang.
Selama ini koki dan ahli gizi lah yang membuat kan mereka makan dari yang sarapan pagi sampai makan malam.
Entah ada angin apa, Alula tumben mau memasak pagi ini. Raden yang turun dari lantai atas pun tersenyum tidak percaya melihat Alula menggerakkan spatula.
"Ciye, tumben banget Mammi di dapur?" Dari anak tangga Raden melangkah dan duduk pada kursi utama meja makannya.
Sudah ada Kaesang yang duduk di atas kursi khusus makan Nya tepat di sisi kiri Raden. Anak itu sudah terbiasa memakan sendiri makanannya.
"Uaaahhh. Hebat anak Papi. Kaes pinter makan sendiri, Mammi masak sendiri. Lama-lama pegawai di rumah ini pada pensiun semua nanti."
"Ofcos." Kaesang menyengir dengan gigi putihnya. Kaesang tumbuh semakin tampan dan mirip ayahnya.
Raden kecup seluruh wajah putranya yang protes karena sedang asyik makan.
Kemudian beralih meraih pinggang ramping istrinya yang kebetulan mendekat membawa satu mangkuk sedang capcay kuah.
"Kenapa repot-repot masak Sayang?" Dia menyengir bahagia, rasanya berbeda saja kalau sudah di perhatikan seperti ini.
"Udah deh nggak usah basa basi, bilang ajah seneng, di masakin istri."
"Antara hemat dan di sayang tipis bedanya."
"Aes, dah tesai." Kaesang menyerobot dengan suara dan logat cadelnya.
Kembali Raden menatap putranya dengan binar antusias. Sepertinya Kaesang menikmati masakan buatan Alula, buktinya Kaesang mampu menghabiskan satu mangkuk sarapan paginya sendiri.
"Apa enak Sayang?" Raden penasaran bertanya yang di jawab dengan anggukan kepala Kaesang.
"Enak mana sama masakan Koki Brin?" Timpal Alula yang juga ikut penasaran.
"Cama."
"Cama apanya?"
"Casa nya."
"Oya?" Alula ternganga bangga, itu berarti rasa masakannya sama dengan yang koki handal buat.
"Wah, berarti masakan Mammi sekelas koki dong." Sambung Raden bangga.
__ADS_1
Alula menepuk dada. "Ternyata bakat terpendam, selain bikin komik Mammi juga bisa masak. Makanya jangan macem-macem deh, kalo Papi selingkuh, Mammi nggak takut nyari duit sendiri." Celetuknya.
Raden memutar bola mata malasnya, di wanti-wanti setiap hari merasa bosan juga akhirnya. "Udah deh jangan mulai, ini masih pagi."
"Sekarang makan." Sela Alula sambil menyiapkan piring untuk suaminya. "Besok pecat semua koki di rumah ini, mulai sekarang Mammi yang masak setiap hari." Katanya sombong.
"Jangan kejam juga Sayang."
Alula duduk di kursi nya, sementara Raden mulai memakan sarapan pagi buatan istrinya.
Lengkap, ada capcay kuah, suwiran daging sapi yang di gongseng seperti abon basah, juga sambal goreng minyak.
Dari aromanya sih memang enak. Sambil menyuap nasinya Raden tersenyum menatap Alula dengan rasa cinta yang semakin besar saja.
Cantik, seksi, baik, lucu, mandiri, sekarang bisa masak lagi. "Uhuk-uhuk."
Alula mengernyit heran menatap wajah tampan suaminya yang mengecut saat meraih tisu dan melepeh kan makanannya.
Kaesang hanya diam elegan menatap kedua orang tuanya bergantian. Pemandangan keributan sudah sering bocah kecil itu jumpai. Jadi tak heran jika ayahnya berlaku lebay, terlebih ibunya.
"Kenapa sih? Kenapa di lepeh? Mammi bikin sarapan dengan segenap jiwa dan raga loh. Ini bahkan lebih sulit dari membuat alur cerita." Rutuk Alula kesal.
"Ini asin Sayang." Raden menatap istrinya dengan alis yang bertautan. Bagaimana bisa masakan ini di samakan dengan koki terbaik?
"Asin? Apanya?"
"Semuanya!"
"Kok bisa?" Alula meraih sendok bekas suaminya lalu mencicipi seluruh makanan Raden yang memang asin bahkan terbilang sangat tidak layak untuk di makan.
Alula penasaran dengan capcay kuah miliknya, satu persatu dia cicipi semua masakan buatannya dan sangat cocok di katakan tidak enak bahkan dominan asin.
Luar biasa nya lagi adalah, kenapa selama memasak tidak di cicipi? Alula sungguh berbeda.
"Tapi kenapa Kaes bilang rasanya sama kayak punya koki Brin?"
Raden beralih menatap Kaesang seksama, ada yang aneh juga pada bocah kecil itu. Kemarin saat memakan potongan buah mangga yang sangat asam, Kaesang bilang tidak.
Sering kali Kaesang ikut memakan rujak yang Raden belikan untuk Karlina dan Alula, itu pun dia tidak kepedasan.
"Are you okay Baby?" Raden menempatkan telapak tangannya pada puncak kepala Kaesang khawatir.
"I'm okay." Dengan bahasa campuran sehari-harinya Kaesang bilang tidak apa-apa. Datar wajahnya tak menunjukkan bahwa ada yang lain dari bocah ini.
Alula menggeleng. "Enggak, ini nggak baik-baik saja, gimana kalo ternyata Kaes hilang rasa?"
"Apa bisa seperti itu?"
__ADS_1
"Demensia nya saja masih jadi masalah kan? Gimana kalo anak tampan ku punya kekurangan?"
Bastian yang baru saja tiba dia mengernyit menatap sang Tuan. "Ada apa sama Tuan muda?"