My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Curiga....


__ADS_3

Tiba di rumah utama Abimanyu menggiring putra-putri dan istrinya masuk. Ayu dan Arga berkeluh lapar karena memang mereka belum sempat sarapan.


Padahal Karlina sudah membuat sarapan di rumah Raden. Hanya karena Arga dan Ayu ingin berjoging dulu makanya mereka menunda waktu sarapan.


Di meja makan sana Eyang duduk pada kursinya, sementara Lisya cemberut dengan celemek masaknya, sepertinya Lisya baru selesai memasak. Ini pemandangan yang sangat langka.


Selama ini Karlina terbiasa memasak sendiri tidak mau bergantian tugas dengan madunya meskipun Lisya pernah bilang bersedia bergantian.


Karlina tidak mau Lisya memberikan makan untuk anak-anak nya. Di film-film ibu tiri biasanya jahat dan memberikan racun. Itu yang membuat Karlina bertindak seperti manusia paling menurut.


Padahal semua sikap ngalah nya hanya karena mengkhawatirkan anak-anak. Karlina hidup untuk mereka buah hatinya. Seorang ibu rela mengalami hal terhina sekalipun hanya demi putra-putrinya.


Namun, Abimanyu berpikir ngalah nya Karlina karena cintanya Karlina yang teramat besar dan tidak akan pernah bisa berubah sampai kapan pun.


Belakangan Abi justru menyadari satu hal, bahwa bertahannya Karlina di sangkar emas ini bukan karena cinta pada dirinya tapi pada putra-putrinya.


Satu hentakan keras yang berhasil menyundul relung hati seorang Abimanyu Kertawiguna.


Ayu, Arga, Karlina menatap Eyang dan Lisya bergantian, wajah Lisya yang acak-acakan karena memasak pun terpampang di retina semua orang.


Selama ini Karlina selalu rapi meskipun dalam keadaan apa pun. Mencuci baju, menjemur, membatik, menyulam, bahkan saat memasak. Tapi Lisya, baru sebentar berkecimpung dengan dapur sudah tidak keruan bentukan nya.


Di atas meja sudah ada nasi goreng yang tersuguh dalam mangkuk besar. Sepertinya hanya itu yang Lisya bisa karena menu itu sangat mudah.


"Wah, ada yang masak nih." Arga duduk sambil menyeletuk, menyindir halus seperti biasanya. "Romo, boleh Arga makan? Lapar." Dia menoleh pada ayahnya.


"Ayu juga lapar." Timpal Ayu merengut.


"Makan lah." Abimanyu mengelus lembut puncak kepala putrinya sementara wajahnya masih datar saja.


Karlina dan Abimanyu tidak ikut duduk, mereka masih berdiri di tempatnya masing-masing menyaksikan Arga dan Ayu duduk dan mulai menyendok nasi kemudian Ayu melepehnya hingga terbatuk-batuk.


Abimanyu mengernyit. "Ayu." Dia paling tidak suka saat ada orang yang melepeh di atas meja makan. Ayu memang sulit untuk menerima makanan.


Ayu menoleh tanpa lancang menatap ayahnya. "Maaf Romo, tapi ini sangat tidak enak. Ayu tidak suka. Lebih baik Ayu makan sayur dari pada harus makan nasi goreng aneh ini." Keluh nya.


"Ayu." Karlina menggeleng, meskipun dirinya tidak suka pada Lisya, setidaknya anak-anak di haramkan protes pada ayahnya.


Abimanyu masih menjadi ayah yang penyayang lagi bijaksana untuk putra-putrinya dan Karlina mengakui itu.


"Come on, Arga lapar dan sekarang makanan ini just a prank. Tidak lucu!" Imbuh Arga kesal sambil meletakkan sendok nya dengan sedikit suara dentingan gaduh.

__ADS_1


Abimanyu menghela napas dalam. Tidak cukup kan kekesalannya terhadap Bastian? Kenapa harus ada drama sarapan yang tidak mengenakkan seperti ini?


Padahal dulu Lisya bilang bisa masak, bahkan tak jarang membawakan bekal makan saat masih sama-sama bekerja.


"Maaf, tapi aku, ..." Belum selesai Lisya berucap Eyang sudah lebih dulu menimpali.


"Sepertinya kita harus tahan lapar sampai makan siang." Merengut nya.


Abimanyu mengunjal kesabaran sekali lagi. Istri keduanya kali ini sangat mengecewakan.


Arga, Ayu dan ibunya saja sampai tidak mau makan, itu berarti memang tidak beres dengan masakan Lisya meskipun tidak ikut mencicipi.


Melihat itu, gegas Karlina berjalan menuju kabinet dapur, mengambil roti tawar lembut lalu mengoleskan selai sesuai selera masing-masing anaknya.


Arga dengan kacang, Ayu dengan coklat, dan khusus untuk Eyang, Karlina buatkan pancake original yang tidak terlalu manis.


Karlina paling hapal dengan selera mereka saat darurat. Asal mereka tidak mengeluh Karlina cukup tenang.


"Sementara, hanya bisa Karlina buat kan ini saja Buk. Jangan sampai telat makan, setelah itu jangan lupa minum obatnya." Seperti biasa Karlina mengurus ibu mertuanya dengan baik.


"Terima kasih Lin." Jawab Eyang.


Pikiran Abimanyu terus merampak. Ada Karlina di balik adem ayem nya rumah tangga ini. Ada Karlina di balik putra-putrinya yang baik. Dan ada Karlina di balik kesehatan ibunya yang sudah tua.


Setelah sama-sama memastikan Eyang, Ayu dan Arga sarapan. Abimanyu melangkah masuk ke dalam kamar miliknya dengan wajah dingin.


Dia duduk di sisi ranjang mengusap wajah perlahan. Desah pelan terdengar berkali-kali. Saat ini Abimanyu di landa rasa aneh yang tiba-tiba mencokol begitu saja.


Dia duduk terdiam dengan siku dan puncak lutut yang menyatu. Melamun menyangga dagu nya dengan kepalan tangan.


Lisya menyusul mengusung wajah cemberut dan dandanan acak-acakan. "Mas dari mana saja? Kuku ku patah gara-gara di paksa masak sama Ibu." Protesnya merutuk.


Lisya memang selalu manja saat bersama suaminya. Jika kemarin sangat baik-baik saja, hari ini terdengar menyebalkan bagi Abi.


Seperti di sulut, Abimanyu menoleh dengan tatapan menceku. "Karlina saja tidak pernah mengeluh padahal setiap hari memasak. Kenapa baru sehari saja kamu sudah mengeluh?"


Lisya terlonjak kaget mendapati kedinginan yang tiba-tiba muncul dan membekukan dirinya. Lisya terdiam menatap berlalunya punggung suaminya.


Kendatipun Abimanyu seorang Daddy Daddy yang usianya selisih jauh darinya, tapi Lisya menyayangi lelaki itu. Sakit rasanya saat kata-kata ketus terlontar dari mulut suaminya.


...----------------...

__ADS_1


Di rumah bergaya klasik kolonial milik Raden. Sang penguasa berbibir merah merona itu tengah mengayunkan langkah menuju kamar tangan kanannya.


Bastian tidak terlihat di manapun setelah cekikikan bersama ibunya, sekarang Raden menyusul ke kamarnya dan hanya ada gemercik air dari dalam kamar mandi.


Raden ada perlu dengan Bastian, dia harus mempunyai ahli gizi untuk istrinya agar Alula terus sehat bersama bayinya.


Sambil menunggu Bastian keluar, pandangan Raden mengedar mengamati kamar Bastian yang sangat rapi.


Manik hijau miliknya tak sengaja menangkap sebentuk perhiasan kaki yang biasanya di pakai kaki seorang wanita tergeletak di atas nakas.


Penasaran, Raden pun melangkah mendekati nakas dan mulai meraih untaian perhiasan itu, sebelum akhirnya sang pemilik kamar berlari dan mengambilnya lebih cepat.


"Bos." Bastian menyembunyikan perhiasan rantai kecil itu di belakang tubuhnya dengan raut gugup.


Raden mengernyit.."Kau."


"A-ada apa?" Sela Bastian terbata.


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tukas Raden menyelidik.


"Tidak." Geleng Bastian menyanggah.


Raden menggeleng ringan. "Kenapa aku tidak boleh menyentuh gelang kaki mu?" Curiganya dengan mata yang menyipit.


"Ini hanya benda tidak penting." Sangkal Bastian masih gugup.


"Milik kekasih mu?" Cecar Raden.


"Bukan."


"Bas!" Raden butuh jawaban pasti dari kelakuan aneh asisten personalnya.


"Ini hanya milik salah satu wanita yang pernah bersama ku, tidak lebih." Sanggah Bastian menerangkan sebisanya.


"Kau serius?"


"Tentu saja, lagi pula apa yang harus kau curigai dari ku?"


Raden menggeleng pelan. "Baiklah, lupakan." Katanya. Itu bukan urusannya jika masalah wanita yang bersama Bastian.


"Ada apa Bos ke sini?"

__ADS_1


"Carikan ahli gizi terbaik dan terpercaya untuk Alula, aku mau dia tidak lagi makan sembarangan."


"Beres." Angguk Bastian siaga.


__ADS_2