My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Hukuman


__ADS_3

Galang mengamankan barang bukti, sampai detik ini belum ada yang melapor ke polisi. Galang masih peduli pada Cherry yang sudah lama menjadi sahabatnya.


Galang hanya mengamankan Cherry Sindy dan Hana di pos satpam. Perkara nantinya akan di laporkan oleh Alula, Galang siap menemani dan menjadi saksi. Semua masih tergantung Alula si korban.


Sementara Nakula menggendong saudaranya dengan punggung, Alula berpegang kuat-kuat pada dada Nakula.


Meskipun kembar keduanya tidak sama tinggi. Alula kecil sementara Nakula tumbuh subur, mungkin vitamin yang seharusnya di bagi dua dengan Alula, di kuasai sendiri oleh Nakula,


Nakula menuruni anak tangga karena lantai yang dia tuju hanya satu lantai di bawahnya.


Dalam gendongan Nakula, Alula masih merengut. Memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan.


"Semua ini terjadi karena Om Raden kan? Kenapa juga dia harus benar-benar menjadikan aku istrinya? Akhirnya Sindy iri dan semakin nekad saja."


Alula berkata lirih tapi bibirnya berada dekat sekali dengan telinga Nakula.


"Bukan cuma Sindy tapi juga Cherry, makanya kamu harus jauh-jauh dari Galang juga, Cherry sangat iri padamu karena Galang lebih dekat dengan mu." Tutur Nakula.


"Aku sudah punya kamu, cukup kamu yang selalu ada untuk ku, aku tidak perlu dekat dengan siapa pun lagi. Mereka semua hanya membuat ku berada di posisi yang di benci." Angguk Alula lirih.


Nakula tersenyum sekilas sembari mengerling kan matanya ke belakang. Menggendong Alula tidak terlalu membuatnya kerepotan karena berat Alula tidak pernah lebih dari empat puluh lima.


"Sekarang aku mungkin masih bisa menolong mu, selalu ada untuk mu, tapi nanti, ketika aku sudah memiliki kekasih, pasangan hidup sendiri atau bahkan istri, pasti aku juga tidak bisa menjagamu setiap waktu. Kau masih perlu pendamping yang bisa melindungi mu dalam keadaan seperti apa pun." Jelas Nakula.


"Tapi siapa yang mau dengan wanita seperti ku? Sudah menikah dan tidak jelas statusnya." Lirih Alula sendu.


"Tentu saja suami mu! Siapa lagi?" Ketus Nakula.


Alula menarik sudut bibirnya. "Untuk apa mengharapkan dia?"


"Biar bagaimanapun juga, dia suami mu, dia sangat peduli padamu." Peringat Nakula sok bijaksana.


Alula menoyor kepala Nakula. "Di bayar berapa kamu? Kenapa terus saja membelanya?" Tukasnya.


Nakula menurunkan tubuh Alula tepat di depan motor gede miliknya. Alula dia arahkan untuk duduk di jok belakang motornya.


Nakula juga memungut helm yang terlempar ke sembarang arah. Dia bersihkan dan memakai kan nya pada kepala Alula.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih pake motor ini?" Protes Alula merengut.


"Kamu pikir siapa yang membuat ku tahu di mana posisi mu sekarang?" Tanya Nakula.


"Bang Galang yang menelepon mu kan? Siapa lagi, aku ke sini sama dia." Sahut Alula polos.


Nakula menautkan alisnya. "Bukan bodoh!"


"Lalu?"


"Aku tahu dari orang-orang yang mengawal mu seharian, mereka memberi tahu ku alamat hotel ini."


"Hah?"


Nakula memutar bola matanya. "Mereka bahkan sampai tidak bisa makan tepat waktu karena harus selalu mengawasi mu! Apa kau serius tidak menyadari ada yang mengawasi mu seharian penuh?"


Alula menggeleng. "Tidak, lagi pula untuk apa mereka mengawasi ku?" Polos nya.


"Untuk hal seperti ini, Bang Raden repot-repot mengutus mereka, ya untuk melindungi mu!" Sergah Nakula ketus. Masih saja tidak peka.


Cukup lama Alula terdiam menatap Nakula dengan segudang pertanyaan yang bertengger di otaknya.


Alula menggeleng ringan. "Benarkah?"


Pertanyaan Alula di jawab anggukan kepala Nakula. "Mereka juga mengikuti mu sampai di titik kamu tidak sadarkan diri, di saat-saat itu mereka masih menghubungi ku lewat telepon." Jelasnya.


"Kalau sudah tahu aku di tipu daya, kenapa mereka tidak langsung saja mengingatkan aku? Tahu begitu. Lula tidak perlu mengalami hal menyedihkan ini kan?" Berang Alula.


"Itulah bedanya mereka dan kamu yang bodoh! Mereka memang sengaja ingin menangkap dalangnya langsung dengan cara mengumpan mu!" Sambung Nakula beropini.


"Sialan emang itu orang!" Kesal Alula.


"Tapi aku setuju dengan aksi mereka! Mereka orang-orang yang hebat." Kata Nakula.


"Tapi kenapa harus ada senjata api? Setelah ini mereka pasti membayar denda kan?"


"Lupakan soal denda Alula, yang penting kamu selamat, lagi pula, salah pihak hotel sendiri, mereka tidak memberikan kunci kamarnya secara baik-baik. Akhirnya dengan terpaksa pengawal mu menggunakan cara paksaan seperti itu." Terang Nakula lagi.

__ADS_1


Nakula mulai melangkah pada kuda besinya, menyalakan mesin dan melajukan motornya.


Alula mendengus. "Pantas saja mereka telat seperti polisi India." Gerutunya pelan.


Terlepas dari semua kejadian menakutkan ini, Alula senang karena ternyata Raden masih peduli padanya.


Tanpa sadar lengkungan di bibirnya pun terangkat saat menyadari betapa masih berharganya dia di hidup seorang Raden.


...----------------...


Plak!


Raden menatap nyalang beberapa anak buahnya setelah mendaratkan telapak tangan kerasnya dan membuat semua orang menunduk dengan tangan yang memegangi pipi kiri mereka.


"Aku menelepon kalian bukan? Kenapa tidak ada satupun yang melapor padaku? Setidaknya Bastian!" Pekik Raden. Dia putarkan pandangan pada seluruh anak buahnya.


Satu pria menjawab dengan tundukkan khidmat di kepalanya. "Maaf Tuan muda, tapi kondisinya gawat darurat, kami hanya memikirkan keselamatan Nyonya muda, sungguh, kami tidak memikirkan apa pun selain itu." Sanggah nya.


Satunya lagi menimpali. "Kami tahu Tuan muda sedang tidak di Jakarta, makanya kami hanya menghubungi Tuan muda Nakula saja. Setidaknya, Nyonya muda akan segera mendapatkan perlindungan dari saudaranya." Ucapnya.


Raden masih mengeras rahang. "Tapi kenapa harus berbuat sejauh itu, kalian sengaja membiarkan istriku berada di tangan orang jahat? Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padanya?" Berang nya.


"Maaf karena cara kami membuat Tuan muda khawatir, terlepas dari semua itu, kami hanya ingin menyelamatkan Nyonya muda sekaligus meringkus biangnya. Karena jika tidak hari ini, bukan tidak mungkin besok atau lusa mereka akan kembali mencobanya." Jelas satu pengawal yang sangat masuk di akal.


Raden setuju dengan pemikiran para anak buahnya. Kali ini dia akan memberikan apresiasi karena sudah berhasil menyelamatkan Alula.


"Ini informasi tentang Gun yang menjadi sekutu Sindy." Bastian meletakkan foto berukuran besar pada meja.


Semua orang melihatnya, bahwasanya Gun adalah lelaki gigolo, penyuka anak-anak, bahkan penyuka sesama. Gun bajingan kelas durjana.


Berapa banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi korban lelaki bejat tersebut. Jika terus di biarkan hidup berkeliaran, pasti akan lebih banyak korban berjatuhan.


Raden beralih pada Bastian. "Kamu urus bajingan tengik itu! Jangan berikan dia ke polisi, hukum dia dengan hukuman kita sendiri! Pastikan dia menyesali perbuatannya sampai merengek minta ampun!" Titahnya bengis.


"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Bastian. Sudah pasti Cherry Sindy dan Hana yang Bastian tanyakan.


"Tidak ada yang boleh lari dari hukuman. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal." Kata Raden lirih namun ada penekanan pada setiap katanya.

__ADS_1


"Cabut semua kerja sama perusahaan kita dengan orang tua mereka. Biarkan mereka hidup miskin dan belajar memahami orang lain. Tunjukkan pada mereka di mana sepantasnya posisi mereka!"


"Beres!" Bastian mengangguk.


__ADS_2