
Empat puluh hari berlalu, Melalui seseorang Bastian telah mengamati pergerakan Emelly di rumah kaca.
Bukanya tenang tapi lagi-lagi kecemasan justru semakin menggelinjang. Empat puluh hari sudah Emelly tak nampak ada keluar dari rumahnya.
Entah melakukan apa Emelly di dalam sana, orang-orang suruhannya tidak bisa melihat karena kaca transparan rumah tersebut sengaja di buat putih.
Emelly memasang gorden digital agar kegiatannya tidak di ketahui dari luar.
Cukup sudah Bastian menunggu, kecemasan sudah tidak lagi mampu dia bendung. Malam ini Bastian nyelonong dari rumah besar sang Tuan untuk mendatangi rumah kaca Emelly.
Sempat gamang dan ragu, tapi lagi-lagi kecemasan terus menguatkan dirinya untuk turun dari mobil.
Bastian berdiri di depan pintu kendaraan berwarna hitam nya, menatap pintu kaca milik Emelly sambil mengepal-ngepal tangan.
Celana jeans kaos putih dan jaket jeans dia kenakan. Sepatu sneaker putih juga dia pakai.
Helaan napas panjang dia deru, semoga baik-baik saja, semoga belum terlambat, semoga Emelly tidak apa-apa.
Empat puluh hari adalah waktu yang sangat mengerikan jika sampai Emelly dalam keadaan tidak bernapas.
"OMG, apa yang aku pikirkan!" Gumamnya.
Bastian memutuskan untuk melangkah gontai menuju pintu kaca milik Emelly. Dia tekan bel dan menunggunya gelisah. Jika tidak ada yang membuka, Bastian siap memanggil polisi saat ini juga.
Belum ada sepuluh menit pintu kaca yang sedang dalam mode gorden digital telah kembali transparan sehingga yang tadinya Bastian tidak dapat melihat kondisi di dalam sekarang Emelly tampak di depan retinanya.
Ada getaran di dadanya yang tiba-tiba menyentak, debaran jantung seakan tidak terlindungi. Bastian sampai mengusap dadanya, memastikan onggokan jantungnya tidak keluar dari tempat.
Emelly membuka pintu lalu menatap datar wajah tampan Bastian. Aroma wangi yang semerbak menyentuh indera penciuman sang Casanova.
Sepertinya Emelly baru selesai mandi, terlihat menggoda dengan handuk kimono putih dan surai bergelombang yang masih setengah basah.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Kamu sakit?"
Emelly menggeleng. "Tidak." Namun kondisi wajah dan lemahnya tidak mengatakan kebaikan.
Bastian menempelkan punggung jemarinya pada kening wanita itu. "Suhu badan mu tinggi. Wajah mu juga pucat." Katanya.
"Mungkin karena aku tidak melakukan apapun." Sanggah Emelly.
Bastian mengernyit. "Kenapa? Apa hidup mu sudah berakhir?"
__ADS_1
"Bukan urusan mu!" Datar Emelly. Sempat keduanya terdiam namun sekali lagi Bastian cemas dan ingin menanyakan sesuatu.
"Sudah makan?"
Emelly menghela. "Aku tinggal sendiri, dan aku sedang malas memasak, so, aku tidak akan makan malam ini." Katanya.
"Ck." Decak Bastian protes kemudian nyelonong masuk tanpa izin dari si pemilik rumah yang mendelik. "Mau apa kamu masuk?"
"Memasak untuk mu!" Sahut Bastian acuh. Dia tetap melanjutkan langkah sampai ke dapur yang sangat rapih.
Emelly tersenyum getir. "Jadi kau mengasihani ku Bas?"
"Tidak." Bastian menoleh pada Emelly. "Ini hanya soal peri kemanusiaan." Sanggah nya.
"Cih." Emelly berdecih. "Sejak kapan kau peduli kemanusiaan?"
"Cukup sudah berdebat nya. Lebih baik kau ganti baju mu sekarang." Melihat Emelly hanya memakai handuk kimono, otak Bastian berkeliling ke mana-mana. Mungkin Emelly belum memakai satupun pakaian dalam.
Sementara Bastian mengambil sesuatu di lemari es. Emelly berjalan dengan arogan memasuki kamar miliknya. "Apa-apaan dia ini? Datang dan pergi sesuka hati. Keluar masuk rumah ku begitu saja. Siapa dia? Pecundang!" Gerutu nya.
Langkah Emelly berlanjut memasuki ruangan khusus pakaian, dia meraih satu kaos putih tipis yang melekat rapat pada tubuhnya dan celana pendek ketat yang hanya menutupi bulatan pantatnya.
Emelly keluar dari kamar setelah mengeringkan rambut dan mengenakan perawatan kulit, dari wajah sampai tubuhnya.
Di sana Bastian sibuk dengan panci kacanya, tak mau melirik Emelly barang secuil. Dia acuh, dan rencananya setelah memasak lelaki itu akan langsung pergi.
Cukup tahu kabar Emelly baik-baik saja, Bastian bahagia. Sudah bisa lebih tenang saat mengemban tugasnya setelah ini.
Langkah Emelly terasa mendekat, wangi Emelly pun mulai menusuk indera penciuman nya, Bastian reflek menoleh pada wanita seksi ini.
Tadinya hanya melirik sekilas tapi kemudian kecanduan memandangnya hingga kembali menatap Emelly tanpa berkedip.
"Kamu masak apa?"
Emelly berdiri di sisi Bastian melongok panci kaca yang berisi ramen dan sayuran, sementara Bastian masih terkesima dengan penampilan Emelly malam ini.
"Bas."
"Hmm?"
"Kamu kenapa?" Emelly mendekati wajah Bastian dengan mata yang menyipit.
"Kamu yang kenapa?" Sergah Bastian.
__ADS_1
"Apanya?" Sambung Emelly terheran-heran.
"Apa tidak punya bra? Kau tahu aku laki-laki normal, dan kita hanya berdua di sini." Ketus Bastian.
Gerah tiba-tiba muncul, melihat bulatan kecil yang menyembul di balik kaos putih Emelly. Apa lagi ukuran dada itu tidak pada umumnya.
"Lalu?" Emelly berkata enteng seperti sudah tidak peduli lagi dengan tubuhnya, toh dia sudah tidak memiliki mahkota. "Bukanya kau sudah pernah mencicipi ku?"
"Jangan menyindir ku." Tampik Bastian.
Emelly menghela napas. "Terserah kau saja, lagi pula apa pun persepsi mu aku tidak peduli." Wanita itu berjalan menuju meja makan dan duduk pada salah satu kursi nya.
"Astaga anak ini!" Lirih Bastian sembari meraup bibirnya geram.
Benar Bastian pernah merasakannya, bahkan sering kali berfantasi saat ingin melakukan pelepasan benih secara mandiri sambil menonton video mereka yang tidak sengaja tertangkap dari kamera dasbor mobilnya.
Lantas sekarang Emelly berada di hadapannya dengan busana serba minim dan ketat, jika di lihat dari celananya, jelas Emelly tidak memakai CD lagi. "Kenapa dia berani sekali menantang ku." Lirihnya.
Tak mau berlama-lama bergumam, gegas Bastian menyiapkan ramen dan daging panggang untuk di suguhkan pada Emelly.
Di atas meja Emelly menyangga pipi dengan kepalan tangan saat menatap wajah tampan Bastian.
"Enak juga di masakin begini, sepertinya aku harus membayar orang untuk melayani ku. Koki seksi dan gagah seperti chef Juna mungkin, mataku akan lebih sehat setiap harinya" Ujarnya menyengir.
"Jangan banyak bicara. Makan saja. Aku harus pulang. Adik mu sudah akan melahirkan, jadi siap-siap untuk sehat dan menyambut kelahiran keponakan mu."
Emelly membuka matanya. "Oya? Bukanya masih lama? Hari perkiraan lahir nya masih satu mingguan lagi."
Bastian mengangguk. "Begitulah. Sekarang kamu makan, aku permisi." Dia melangkah dan di cegah.
"Bas."
Bastian menoleh menatap nanar iris coklat yang merengek padanya. "Apa lagi?"
"Aku kesepian, mumpung kau di sini, temani aku makan." Pinta Emelly. "Aku tidak punya teman yang bisa datang untuk hal sepele ku. Tolong temani aku makan, setidaknya malam ini saja, setelah Lula melahirkan, aku akan pergi dari Indonesia, aku harus tinggal di tempat yang tidak membuat ku sesak karena permasalahan ku."
"Kamu serius?"
Emelly mengangguk. "Yah. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di negara ini, ku mohon temani aku makan malam ini saja." Pintanya lagi.
Bastian duduk dengan perlahan dan seketika wajahnya menyendu. "Sekarang makan lah, aku temani." Ucapnya dingin.
Ada rasa tidak rela melepas Emelly, tapi apakah dia harus mengatakan perasaannya untuk mencegah kepergian Emelly? Lalu bagaimana dengan Raden sendiri?
__ADS_1