
"Aku bukan wanita luar biasa seperti Karlina. Aku tidak akan pernah mentolerir perbuatan mu yang ini. Sekarang kau bukan bagian dari keluarga besar ku, jadi kau boleh berbuat semau mu!" Berang Abimanyu.
"Tapi Mas!"
Abi menunjuk lurus ke arah pintu. "Pergi dan tidak usah kemasi barang-barang mu, karena semua yang kau miliki itu milik ku! Pergi dari sini tanpa sepeserpun kekayaan dari ku! Sudah cukup kau menghamburkan uang ku selama ini, anggap saja aku membayar jasa mu selama beberapa tahun terakhir untuk menghangatkan ranjang ku, dan kau sudah tidak aku butuhkan lagi!"
Lisya terduduk lemas. Semudah itu Abimanyu menendangnya dari kehidupan glamor ini. Beberapa tahun terakhir dia di jadikan yang ke dua, doktrin wanita pelakor mengarah padanya namun hanya berakhir menjanda tak punya apa-apa.
...----------------...
...----------------...
...[Satu Minggu kemudian]...
...----------------...
...----------------...
Malam ini Abimanyu termangu duduk bersandar di atas ranjang milik Karlina, bukan kehangatan tapi berselimut sunyi yang menggerogoti kesepian.
Karlina lebih senang tinggal di tempat putranya. Ayu dan Arga pun sama. Semenjak ada Kaesang, Eyang ikut-ikutan tinggal di tempat Raden.
Rumah besar ini terasa hampa tanpa kelebatan raga keluarga bahagianya. Abimanyu mengusap pelan bantal milik Karlina. Ada kerinduan yang terbalut sesal.
Seandainya saja tidak mengkhianati Karlina, takkan Abimanyu berakhir seperti ini. Hidup sendiri, di temani sesal tak bertepi.
Mau tinggal di tempat Raden pun Abimanyu malu, sejauh ini dia mengkhianati Karlina, anak-anak pasti sangat membenci dirinya.
Pengacara sudah mengurus perceraian bersama Lisya, anak-anaknya pun setuju dan mengucapkan turut bahagia.
Sebab meski tidak berani mengucap keberatan tapi anak-anak tidak pernah menyukai poligami yang Abimanyu lakukan.
Kini tinggallah sepi yang Abimanyu ratapi. Setiap detiknya hanya mencoba mencari alasan untuk mendapatkan balasan pesan dari Karlina.
📤 "Bagaimana Kaesang?" Pesan yang Abi kirim beberapa saat lalu dan baru saja mendapat jawaban.
📥 "Baik, seperti biasa, Kaes begadang, tapi tidak sampai pagi."
Abimanyu tersenyum mengingat kembali masa-masa Raden, Arga dan Ayu masih balita dan sering membuatnya begadang bersama dengan Karlina.
Masa-masa saat mereka bergantian menjaga bayi mungil hasil dari buah cintanya. Kenapa sampai ada wanita lain yang masuk dan melerai cinta keduanya? Segitu dangkal kah kesetiaan Abimanyu?
__ADS_1
📤 "Jangan terlalu lelah, ingat dengan kondisi mu yang sekarang, sudah tidak seperti dulu." Dan itu pesan terakhir yang Abi kirim karena Karlina tak lagi menjawabnya.
...----------------...
Di kediaman besar milik Raden. Tepatnya pada ranjang berukuran super king. Alula tertidur pulas bersama putranya.
Setelah lelah membuat bayinya tertidur, pada akhirnya Alula memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Karlina keluar dari kamar tersebut, membiarkan Alula tidur. Biasanya nanti kalau sampai Kaesang terjaga pasti Alula akan menghubungi salah satu pelayan atau dirinya.
Karlina menutup pintu pelan-pelan dan bersamaan dengan itu sosok tinggi putra tampannya tampak di sisinya.
Karlina menoleh. Raden baru saja tiba setelah satu Minggu melakukan kunjungan ke beberapa kota untuk survey pembangunan.
Mata lelah, kondisi tubuh yang lemah, dasi yang sudah kendor Raden tunjukkan. "Buk."
"Syukurlah kamu pulang," Karlina menyambut ciuman khidmat Raden di punggung tangannya.
"Lula tidur? Beberapa kali Raden chat tapi belum juga dia balas." Tanya Raden.
Karlina mengangguk. "Tidur dan biarkan dia istirahat. Kasihan Lula, bagaimana pun dia masih belum dewasa, dia cuma bisa menangis saat putranya menangis, kalo bisa, kurangi meninggalkan dia sendiri, dia rapuh setelah melahirkan." Tuturnya.
"Iya Buk." Angguk Raden.
Raden mengangguk. "Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk istri dan putra Raden."
"Sama-sama sayang." Karlina melangkah pergi setelah mengusap lembut sebelah kepala putranya.
Raden mengangguk lalu masuk ke dalam kamar, dia berjalan mendekati ranjang, wajah dua kesayangannya merontokkan lelah yang menggelantung di pundaknya.
Lama dia menatap anak istrinya sambil melepas dasi merahnya. Raden melihat sekujur tubuh yang harus dia bersihkan.
Raden melangkah ke kamar mandi, dia harus membersihkan diri, mensterilisasi kondisi tubuh sebelum menyentuh anak istri.
Setelah selesai dengan itu ia mengganti pakaian tidur, kemudian kembali Raden mendatangi ranjang miliknya, di mana istri kecil dan putra mungilnya tertidur pulas.
Perlahan Raden naik dan menempatkan dirinya di sisi Alula sementara tubuhnya condong merangkum kedua kesayangannya.
Sempat dia memandangi wajah Kaesang lantas mengecup pelan pipi lembut nya. Aroma damai dari candu Kaesang sangat menentramkan hati.
Bahagia rasanya melihat dua kesayangan yang paling berharga dalam hidupnya, sehat selalu seperti ini.
__ADS_1
Raden beralih mengecup bibir istrinya, dan gerakan itu membuat Alula menggeliat kecil serta mengernyit dahi saat membuka mata.
Raden tersenyum menyambut terbukanya sang netra yang cukup merah. Sepertinya Alula kelelahan. "Sayang."
Entah apa yang Alula alami, saat ini Raden terlihat menyebalkan di matanya. Satu Minggu tak bertemu bukannya rindu Alula justru memalingkan wajah ke arah Kaesang saat bibir Raden ingin memberikan kembali kecupan.
"Sayang."
"Hmm." Alula memejamkan mata, menguyel tubuh mungil putranya.
"Kamu baik?"
"Emmh." Alula mengangguk kecil.
"Baby bahagia?"
"Emmh." Lagi-lagi hanya anggukan kecil yang Alula berikan.
Raden terkekeh pelan. Rindu rasanya hingga apa pun yang Alula presentasikan masih membuatnya tersenyum. "Baby capek? Mau di pijit?" Tawarnya. Tangannya meraba pinggang Alula yang kembali ramping.
"Tidak perlu." Alula menepis pelan tangan Raden lalu melingkarkan tangannya pada tubuh mungil putranya. Setidaknya ada Kaesang saat ia merasa tidak enak hati.
Di acuhkan saat ingin berkeluh kesah membuat Alula yang sedang dalam masa-masa sensitif membenci suaminya.
Alula hanya memiliki Raden, tidak memiliki ibu atau ayah yang bisa dia jadikan pelarian keluh kesahnya.
"Maaf kalau aku terlalu sibuk. Janji, setelah semua proyek pembangunan barunya selesai kita bulan madu lagi. Kita masih harus datang ke studio animasi terbaik di Paris kan?"
Ada bujukan yang Raden iming-iming. Namun Alula hanya diam saja, dari pada menangisi kekesalannya Alula lebih memilih tidur.
Lelah seharian dengan ke rewelan bayinya. Biarkan saja Raden sadar bahwa Alula tidak sedang mau berdamai.
Raden paham dan tahu betul kemarahan istrinya, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah harus berjalan sesuai situasi.
Raden berharap akan ada saatnya nanti Alula mengerti kondisi yang tidak ingin dia jadikan alasan untuk berkelit.
Raden lupa, atau tidak paham, bahwa wanita bisa memiliki Baby blues syndrome.
Yakni suatu gangguan suasana hati atau gangguan psikologis yang dapat dialami oleh kebanyakan wanita pasca melahirkan
Merasa gundah, sedih yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan seorang Ibu menjadi mudah marah, sedih, menangis, dan kelelahan tanpa penyebab yang jelas.
__ADS_1
Apa lagi, akhir-akhir ini Raden hanya sibuk dengan urusan pekerjaan nya sendiri. Pemekaran usaha yang baru di mulai membuatnya lebih sibuk dari sebelumnya.