
Karlina mendekat pada sofa yang Abimanyu duduki, dia elus punggung bidang suaminya memberikan kekuatan.
Abimanyu terdiam, tak mampu berkata-kata, malu yang Abimanyu terima benar-benar berhasil menjatuhkan harga dirinya.
Bahkan untuk menghadapi Karlina saja dia tidak memiliki nyali, mungkin saat ini Karlina tertawa iblis setelah melihat karma nyata di depan muka.
Ganjaran pengkhianat adalah di khianati. Jika tidak oleh korban, akan ada pihak lain yang membalasnya. Itu hukum alam yang ada.
"Kamu beruntung, melihat langsung karma ku, Lin." Abimanyu menolehkan kepalanya pelan, dan wajah damai istrinya lumayan menjadi penyejuk.
"Aku tidak pernah mengharapkan karma ini, karena jujur, aku pun kecewa pada Lisya. Ini bukan soal pengkhianatan Mas padaku, tapi aku sendiri yang memilih bertahan dengan pernikahan poligami ini." Sambung Karlina mengakui.
Sebetulnya, bisa saja Karlina pergi jika dia mau, tapi nyatanya Karlina memilih diam dan bertahan di tempat ini dengan kisah cinta segitiga sang suami.
"Meskipun kenyataannya, bertahan nya dirimu bukan karena cinta mu padaku Lin, tapi anak-anak dan keluarga ini, iya kan?" Lirih Abimanyu menukas.
Karlina mengangguk, dan sekarang wanita itu berani menatap manik hijau milik suami tampannya. "Mungkin aku serakah, meski tidak ingin memaafkan perlakuan Mas padaku, tapi aku juga tidak mau kehilangan hak anak-anak yang seharusnya mereka dapatkan. Aku di sini untuk menjaga hak mereka. Aku tidak mau, hak yang seharusnya untuk mereka, di kuasai istri muda Mas, dan anggap saja aku serakah, karena tidak ada wanita yang sempurna, begitu juga dengan Karlina mu." Katanya pelan.
Tergelincir begitu saja butir jernih yang mengintip di sudut netra Abimanyu. Kehilangan cinta yang tulus dari wanita istimewa seperti Karlina, adalah hal yang paling tragis dalam hidupnya.
Karlina membasuh air mata yang membasahi pipi suaminya dengan jemari penuh kasih sayang nya.
"Hidup tidak berhenti hanya karena Lisya yang berkhianat Mas, tegar, terima, agar Mas bisa melanjutkan hidup berikutnya. Ada cucu, yang akan menjadi pelengkap hidup Mas selanjutnya. Tapi jika Mas masih ingin mempertahankan Lisya, mulai perbaiki hubungan Mas dengan Nya, mungkin semua ini terjadi karena dia masih perlu perhatian Mas." Tutur nya lembut.
Abimanyu tersenyum getir. Wanita yang berbicara di hadapan nya benar-benar berperilaku seperti Dewi.
"Aku tidak seperti dirimu yang meskipun aku khianati tetap bertahan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, Lin." Sanggah nya.
Karlina genggam tangan Abimanyu, berusaha menguatkan lelaki yang bertahun-tahun lamanya menduakan cintanya.
"Mas orang yang bijaksana, aku tahu Mas Abi bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, apa pun keputusan Mas, aku harap hubungan Mas dengan anak-anak tidak akan renggang."
"Kenapa kamu masih bersikap baik padaku? Aku saja sangat membenci Lisya sekarang, bagaimana cara mu tidak membenci ku?" Sambung Abi terheran-heran.
Karlina tersenyum. "Beberapa tahun terakhir Mas mengkhianati ku, jujur, sakit yang Mas torehkan lumayan dalam sampai tidak lagi bisa aku rasakan." Ujarnya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak lupa saat Mas tergila-gila padaku, saat Mas hanya mencintai ku, saat Mas memperlakukan ku dengan sangat istimewa. Dua puluh dua tahun Mas menjadi laki-laki yang hanya mencintai ku. Itu masih menjadi bahan untuk aku tidak mendendam." Tambahnya.
"Anggap saja, toleransi yang aku buat selama Lisya menjadi istri Mas, adalah bentuk terima kasih ku karena Mas sudah memberikan aku bibit-bibit unggul yang baik. Mas membuat luka tapi sudah lengkap dengan penawar nya, anak-anak yang ku lahirkan hasil dari buah cinta kita dulu, sudah seperti obat bagiku. Cukup dengan itu saja, aku tidak mendendam Mas." Imbuhnya lagi.
Abimanyu menggeleng, meski tidak mendendam tapi kenyataannya tatapan Karlina sudah tidak ada kehangatan seperti dahulu. "Lalu bagaimana dengan rasa mu yang dulu?" Tanyanya.
"Kita sudah berumur, membicarakan masalah hati sudah tidak pantas lagi, yang seharusnya kita lakukan adalah, memikirkan bagaimana hidup anak-anak, bagaimana urusan kita kepada Tuhan, bagaimana cara kita memberi kesan terbaik selama masih di beri kesempatan bernapas, karena apa pun keadaannya, aku masih akan terus di sini sampai Mas sendiri yang bersedia menceraikan ku, sudah sejauh ini aku bertahan, tidak akan aku mengingkari janji ku pada almarhum Ayahanda hanya karena Lisya yang mengkhianati Mas."
"Lin." Geleng Abimanyu.
Karlina tersenyum, perlahan dia lepas genggaman tangannya. "Sudah siang, aku harus masak dan mengurus cucu juga mantu ku, perbaiki hubungan Mas dengan Arga, jangan jadikan putra ku pemuda yang durhaka hanya karena kesalahpahaman kalian berdua."
Abimanyu masih setia dengan keheningan nya, menatap Karlina bangkit dan pergi menuju dapur bersih.
Entah masih ada harapan bahagia atau tidak, saat ini Abimanyu hanya bisa menikmati sesal yang menyeruak masuk memenuhi sela sela hatinya.
...----------------...
^^^Dua jam kemudian.^^^
Alula tersenyum menatap wajah tampan suaminya, pria itu tertidur pulas setelah semalaman tidak beristirahat.
Alula menunduk, mengecup bibir suaminya perlahan, sempat Raden menggeliat dan membuka sipit matanya, tapi hanya meraih tangan mulus Alula untuk dijadikan teman tidur di pipinya.
Kantuk masih menderanya, biarlah dia tertidur sebelum nantinya di sibukkan kembali dengan tangisan putra perdana di sela urusan kantornya.
"Tidur lah, suami ku." Ucap Alula tersenyum. Bahagia sudah pasti, Alula sangat amat bersyukur memiliki suami seperti Raden.
Ceklek...
Pintu terbuka seiring dengan masuknya perempuan paruh baya, Karlina tersenyum saat menyapa mantunya. "Pagi sayang."
"Pagi Ibu." Alula tersenyum manis. Meskipun luka jahitan masih sering membuatnya meringis.
"Raden tidur?" Karlina melirik sekilas ke arah putranya.
__ADS_1
"Iya, sepertinya ngantuk berat dia." Alula mencoba melepaskan tangannya dari dekapan hangat Raden secara perlahan.
"Gimana sama Kaes?"
"Suster lagi mandiin tadi. Di awasi Eyang." Alula terkikik kecil mengingat kerempongan Eyangnya.
Karlina tergelak kecil. "Eyang mu memang rewel, tapi semua itu demi kebaikan cucunya, jadi jangan pernah membantah." Tutur nya.
"Iya Buk." Angguk Alula, manik matanya menatap gerak tubuh Karlina yang berkutat dengan rantang berwarna gold miliknya.
"Sekarang Lula makan, ASI nya belum keluar kan? Jadi lebih banyak makan biar cepat keluar." Tutur Karlina.
Alula menggeleng ringan. "Terima kasih Ibu. Harusnya Lula tidak merepotkan Ibu seperti ini." Ujarnya.
"Ibu senang melakukannya, jadi jangan protes." Karlina memberikan satu piring berisi makanan sehat, hasil dari masakannya sendiri.
Meski ada yang namanya fasilitas makanan sehat dari rumah sakit tapi Karlina lebih memilih memperhatikan sendiri makanan menantunya.
Dahulu, saat Raden lahir, ibu kandung Karlina masih ada. Jadi segala sesuatu di siapkan oleh ibunya. Tapi Alula yatim piatu, di saat begini, tidak ada yang bisa memanjakan Alula selain Raden dan dirinya sebagai mertua.
Karlina wanita yang senang menebar kebaikan, tiada hari tanpa berbuat sesuatu untuk keluarganya.
Dari atas ranjang king size fasilitas kamar presidential suite, Alula memulai ritual sarapan paginya, sementara Karlina keluar lagi dan masuk ke dalam kamar steril khusus untuk cucunya.
Di dalam sana masih ada Eyang yang sibuk mengatur bedong untuk Kaesang. Karlina berniat membawa bayi itu berjemur di taman sekitar.
"Abi ke mana?"
"Ada di rumah." Karlina tersenyum seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa tidak datang ke sini? Berbulan-bulan dia menanti kelahiran Kaes." Kata Eyang.
"Mungkin masih ada pekerjaan Buk."
"Mungkin."
__ADS_1
...----------------...
...Jangan Kabur yah, kawal sampai tamat yah kesayangan kooh, terimakasih partisipasi komentar nya 🥳...