My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
BC Daily life _Two


__ADS_3

Nakula membukakan pintu mobil bagian depan, sementara Ayu menarik pintu mobil bagian belakang. Lagi-lagi Nakula di buat mendengus melihat hal tersebut. "Yu."


"Hmm?" Gadis itu melemparkan tas bahunya terlebih dahulu ke dalam.


"Duduk di depan Yu, kamu pikir aku sopir kamu apa?" Dia cekal tangan Ayu, berusaha mencegah gadis itu masuk.


"Siapa yang nawarin tumpangan sih?"


"Aku, tapi seenggaknya jangan anggap aku sopir dong."


"Ya, maaf." Lirih Ayu dingin.


Nakula mengerut kening. Maaf? Sejak kapan Ayu minta maaf? Nakula merasa asing dengan kelakuan gadis bertubuh kecil itu.


Dia mundur untuk memberikan akses pada Ayu yang berjalan masuk kepada pintu bagian depan.


Brugh!


Setelah mematikan Ayu aman di jok penumpang, Nakula menghentakan pintu mobil kemudian berjalan memutar menuju pintu bagian kemudi.


Nakula duduk menarik sabuk pengaman sambil melirik ke arah Ayu. Biasanya ada drama minta di pakaikan seatbelt dengan wajah lucu, sekarang Ayu sudah lengkap dengan sabuk pengamannya. Benar-benar pemandangan luar biasa.


"Tumben pake sendiri seatbelt nya?" Sindir Nakula dan Ayu hanya diam saja bahkan mengarahkan pandangan acuh pada jendela.


"Sebelum perjalanan. Kita makan siang dulu yah, kita mampir ke restoran sushi yang kamu suka, sudah lama kan kamu nggak ngajak aku ke sana." Usul Nakula. Tangannya mulai memainkan kunci mobilnya.


Nakula rindu saat-saat makan siang bersama Ayu di tempat spesial, dahulu ketika Ayu mengejarnya, hal itu hanya momen biasa tapi entah kenapa sekarang makan siang bersama Ayu menjadi hal yang sangat Nakula rindukan.


"Nggak usah, kamu kan nggak suka makan di tempat itu. Selama ini bukanya kamu terpaksa. Jadi cari warteg ajah, aku nggak apa-apa, aku juga bisa makan di warteg." Tolak Ayu.


"Kamu nyindir aku?" Kembali Nakula menatap Ayu, wajahnya mengernyit heran. Sebenarnya ada apa dengan bocah manja ini.


"Begitu lah Ayu, selalu di curigai padahal maksudku baik." Ayu mendengus perlahan.


Nakula menghela pelan. "Tadi aku cuma basa basi Yu. Kamu kenapa sih jadi sensitif gini? Kalo memang aku punya salah bilang dong."


Ayu menoleh sinis. "Nggak ada yang salah Nula, aku cuma mau hidup seperti air yang bisa menyesuaikan wadahnya. Itu saja. Selama ini bukanya kamu tersiksa di ganggu aku? Kamu juga nggak suka di recokin aku? Kamu nggak suka dengan sikap manja aku. Nah kenapa sekarang kamu jadi buat aku serba salah sih? Kalo kamu masih nggak suka dekat dengan ku, ya sudah, aku turun cari taksi ajah!"


"Yu." Kembali Nakula mencekal tangan Ayu menghalangi sekali lagi gerakan Ayu. Meski sulit sekali untuk mengutarakan kata maaf tapi dia ingin memperbaiki hubungan mereka.

__ADS_1


"Ok, aku diam, meskipun aku nggak paham dengan apa pun yang kamu lakukan sekarang ini, ok, aku diam." Geram Nakula namun pelan.


"Jadi kita mau makan ke mana?" Tanyanya setelah itu.


"Aku terserah kamu saja." Jawab Ayu.


"Ke warteg?" Ayu mengangguk sambil mengalihkan pandangan pada jendela.


Gegas Nakula menyalakan mesin mobil barunya, segera ia melajukan kendaraannya mengarah pada sebuah warung Tegal seperti yang mereka sepakati.


Tak ada percakapan lagi, mereka diam dengan pemikiran masing-masing, setibanya pada tempat yang di tuju Ayu melepas sabuk pengaman miliknya kemudian turun tanpa ada drama minta di lepaskan seatbelt nya.


Nakula mendengus. "Kamu semakin luar biasa, tapi aku tidak menyukainya." Lirih nya bergumam.


Nakula turun dari mobil, menyusul Ayu masuk ke dalam warung makan khas yang meskipun sempit tapi eksistensi nya tak lekang oleh waktu.


Kebetulan tempatnya ramai, dan tempat ini tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu sempit. Sedang-sedang saja untuk ukuran rumah makan sederhana.


Ayu duduk tepat di depan meja ber etalase, di mana semua lauk pauk tersedia di dalam sana. Dari yang tempe telur sampai yang daging ada.


"We'eh, Neng bule nyasar." Ayu menoleh dan tersenyum pada beberapa pemuda tampan hitam manis yang menyapa dirinya dengan seruan kagum.


"Iya Mas." Ramah ayu seperti biasanya. Meski keturunan sultan gadis itu berkepribadian humble. Dan itu, salah satu hal yang tidak Nakula sukai.


"Lah bisa bahasa Indonesia Tah?" Pemuda itu terkejut dengan bahasa Indonesia yang Ayu gunakan sangat luwes tidak menunjukkan cadelnya.


"Jawa pun Ayu iso og." Kata Ayu tergelak.


"Ealah, tak kirain beneran orang bule loh, jadi asli Indonesia?" Satu pria lainnya terheran.


"Nggeh Mas."


"Ayu tenan ee." Semua orang memuji kecantikan gadis itu.


Nakula yang tidak menyukai pemandangan ini, ia lekas menarik lengan Ayu untuk keluar dari tempat itu. "Kita ke tempat lain saja." Ajaknya.


"Maksudnya?" Ayu meronta kecil dan keduanya berhenti langkah saat sudah sampai di sisi mobil.


Nakula membuka lagi pintu mobil bagian depan nya. "Sekarang masuk, tempat ini nggak cocok buat kamu. Ini yang buat aku nggak suka sama kamu, kamu terlalu ramah, jadi terkesan sama siapa saja mau!"

__ADS_1


Ayu tertohok. "Oh. Iya memang aku murahan, ganjen, nggak pantes mencerminkan kepribadian wanita anggun. Aku begini memang. Aku nggak sempurna. Tapi apa pun sifat ku, kamu nggak berhak ikut campur Nula. Aku suka hidup dengan cara ku." Ayu ambil tas dari dalam mobil Nakula lalu melangkah pergi.


"Yu." Tubuh bidang Nakula menghalangi dengan kedua tangan yang merentang. "Kamu salah paham Yu, bukan itu maksud ku, sumpah!"


"Aku mau pake taksi saja. Kamu bisa pergi sendiri tanpa aku yang tidak pernah kamu sukai."


"Bukan begitu Yu. Jangan kekanak-kanakan, sekarang masuk lagi please, setelah ini kita ke tempat biasa kita makan saja, kamu belum makan siang kan?" Bujuk pemuda itu. Ayu tak dapat berkutik, perut sudah lapar rasanya.


Setelah cukup dengan bujukan demi bujukan, Nakula berhasil menyuruh Ayu kembali masuk kemudian bergegas ia menyusul, mobil pun kembali melaju tanpa ada percakapan lagi.


Nakula serba salah, dulu apa pun kata-kata pedasnya selalu Ayu telan, tapi sekarang gadis itu menjadi sangat sensitif.


"Aku minta maaf." Sayangnya kata itu hanya terucap di dalam batin saja. Sulit mengendalikan watak gengsinya.


Setelah berpindah beberapa meter dari warteg. Kali ini mobil hitam mengkilap itu menepi pada sebuah restoran sushi langganan Ayu, dia paling menyukai tempat ini.


Selain tempatnya fotogenik, mereka tidak hanya bisa makan sushi saja tapi juga aneka seafood kesukaan Ayu. Biasanya Ayu pesan kepiting besar asam manis dan Nakula yang dia suruh membuka cangkang nya.


Mereka berjalan beriringan menuju meja biasa mereka makan. Tepatnya di ujung kursi keduanya sama-sama duduk berhadapan.


Karena terletak di paling sudut mereka jarang mendapati lalu lalang orang. Ini lah yang membuat mereka nyaman saat menikmati makanan nya.


Pelayan mendekati. Nakula pun memesan makanan sesuai dengan kesukaan Ayu, rupanya diam-diam dia mengamati bahkan hapal dengan kebiasaan dan kesukaan gadis bar-bar itu.


Gadis yang selalu tidak dia sukai, entah kenapa sekarang perubahannya semakin tidak dia sukai.


Nakula dan Ayu bersiap diri dengan tangan bersihnya yang mereka cuci di wastafel khusus pelanggan. Kepiting ini, lebih enak di makan dengan kepolosan tangan, tanpa sendok.


Sekitar lima menit makanan datang sesuai pesanan. Ayu yang berubah ia meraih tang khusus lalu berusaha memecah cangkang kepiting miliknya sendiri.


Nakula yang sigap mengambil alih. "Biar aku saja." Ayu diam menatap Nakula.


Sesabar mungkin Nakula memecah satu persatu cangkang cangkang kepiting milik Ayu seperti biasanya, ia mengambil daging-daging kepiting itu dengan tangan polos nya, lekas menyuapkan pada mulut mungil Ayu. "Sekarang aaa!"


"Aku bisa sendiri Nula." Ayu menggeleng, dia sudah bertekad untuk tidak menunjukkan ketertarikannya. "Biar aku makan sendiri."


Nakula menggeleng. "Jangan begini. Aku terbiasa dengan mu, sikap manja mu, rewel mu, menyebalkan mu, jadi jangan pernah berubah meski hanya secuil. Aku tahu ucapan ku tidak pernah membuat mu nyaman, aku ketus, dingin dan nyelekit, jadi maafkan aku." Kata maaf untuk yang pertama kalinya Ayu dengar dari mulut Nakula.


Empat tahun bersama, sudah sedekat itu mereka, bahkan bersikap seperti sepasang kekasih, hanya saja, dahulu Nakula tidak menyadarinya bahwa ternyata kebiasaan ini membuatnya nyaman. Dia linglung saat Ayu tak lagi manja, rewel, memaksa padanya.

__ADS_1


"Lalu gimana sama buku diary yang kamu kasih ke Jehan? Bukanya kamu menulis semua keburukan aku di sana? Dan kamu sangat tidak menyukai aku yang seperti itu."


Nakula mengernyit. "Diary?"


__ADS_2