
Tiga bulan telah berlalu, tanpa Raden sadari Kaesang putranya sudah empat belas Minggu saja. Bayi mungil itu sudah menjadi bayi tampan yang sangat pintar lagi menggemaskan.
Selain itu, bayi seusia Kaesang sudah mampu menendang lebih kencang, karena sendi lutut dan panggulnya semakin fleksibel.
Kaesang mulai dapat meraba dan merasakan berbagai permukaan kasar, halus, berbulu, atau berrongga. Ia pun mulai bisa menggenggam benda kesukaannya.
Selama tiga bulan ini Alula hanya mengikuti semua ujian-ujian kuliahnya dari rumah. Padahal memasuki semester tiga Alula lebih harus aktif dengan kegiatan belajarnya.
Karena ada yang namanya evaluasi di semester dua dan enam. Bagaimana pun, Alula mau lulus kuliah sampai titik darah penghabisan.
Komik yang dia garap terpaksa hiatus karena selama mengurus anak Alula tidak begitu bisa memutar otaknya. Lebih baik dia gunakan untuk mengikuti mata kuliah di sela aktivitas mengurus bayinya.
Galang masih sering menghubungi karena mereka masih satu rekan. Dan lagi, Alula sendiri belum tahu studio animasi terbaik di Indonesia selain milik keluarga Galang.
Mereka masih harus berkomunikasi karena masih ada yang perlu mereka kerjakan bersama.
Raden tahu Alula tidak akan pernah mengkhianati Nya. Alula berbeda dengan gadis lain yang gemar bermain-main dengan lelaki.
Raden sendiri masih sibuk dengan urusan pembangunan barunya, taksirannya properti barunya itu akan selesai satu bulan lagi dan sudah siap pasar.
Membuat komplek perumahan elit tentu tidak sebentar, kali ini Raden memekarkan usahanya di beberapa titik negara.
Ada kalanya dia juga harus ke luar negeri lalu pulang kembali dengan suasana rumah yang sudah asing.
Alula lebih terkesan menghindar dari perdebatan, rengekan atau apalah itu. Alula malas jika selalu merengek dan Raden tak pernah mau menuruti keinginannya.
Dia pun paham, semua ini terjadi karena Bastian sudah sibuk sendiri dengan urusan cintanya. Puluhan asisten tidak bisa sehandal Bastian jika dalam urusan pekerjaan. Bastian cuti beberapa bulan untuk menemani Emelly tinggal di Paris.
Alula semakin kesepian, banyaknya pelayan yang Raden utus tak lantas membuat Alula senang.
Alula butuh seseorang dan Karlina bukan wanita yang cukup pantas untuk mendengar keluh kesahnya, Alula masih memiliki canggung karena sebaik apa pun mertua tidak sama dengan orang tua kandung.
Nakula sibuk dengan kuliahnya. Sementara Aryan sendiri sudah sibuk dengan perusahaan milik Selvia yang akhirnya berpindah tangan padanya. Semua sudah mendapat hak semestinya.
Baiklah. Cukup sudah Alula berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa selain menangis bersama Kaesang.
__ADS_1
Raden juga hanya mengekangnya tapi tidak pula memperhatikan dirinya yang butuh ekstra kasih sayang.
Terkadang, laki-laki asyik dengan pencapaian luar biasanya dalam dunia bisnis sementara istri dan anak hanya akan menjadi tempat melepas lelah saat dia jenuh dengan hal asyik tersebut.
Pagi ini, lagi-lagi sebuket bunga mawar merah teronggok di atas nakas. Alula hapal sekali, jika sudah seperti ini, berarti Raden pergi dan menuliskan pesan pamit.
...[Sayang, baik-baik di rumah, ini bulan terakhir suamimu sibuk. Bulan depan, aku janji akan selalu ada untuk mu.]...
Alula mendengus. "Apa semua laki-laki akan seperti ini? Baik dan berjuang mati-matian di awal saja tapi setelahnya sesuka hati mereka." Dia menatap wajah lusuh yang terpantul pada cermin besarnya.
Berjibaku dengan kasur kasur kasur seharian membuat Alula malas melakukan apa pun dan terlihat lebih tua.
Usia Alula masih muda, jiwa mainnya masih melekat, apa lagi masih ada cita-cita dan kegemaran yang perlu dia kembangkan.
"Aku harus punya banyak hiburan, sebelum aku tua seperti Tante Lisya karena menikah dengan pria yang jauh lebih tua usianya."
Alula menghela napas panjang. Hari ini tekad Alula bulat, dia harus masuk kuliah walaupun harus membawa putranya. Lagi pun, ada presentasi yang harus Alula lalui hari ini.
Ada Ayu dan Nakula yang akan membantunya mengemong Kaesang jika dia harus masuk kelas.
Untuk saat ini Alula belum memiliki baby sitter, mungkin nanti ada beberapa karena sedang dalam proses pencarian yang sesuai.
Intinya, usia Alula masih terbilang cukup muda untuk mengurus anak bayi. Apa lagi dasarnya Alula anak manja karena Aryan dan Nakula selalu memanjakan wanita itu.
Alula menyisir rambut lurusnya, berdandan sesuai usianya, dia sengaja memilih pakaian yang bisa untuk menyusui. Hari ini Kaesang akan keluar untuk menemaninya kuliah.
Raden mungkin masih dalam perjalanan ke Korea, karena malam tadi saat mereka berhubungan Raden mengatakan itu.
Sering kali Alula kesal karena seolah olah dirinya hanya di jadikan teman wanita untuk bercinta, tapi selama masih hanya dirinya satu-satunya, Alula tidak keberatan, asal jangan selingkuh saja.
Toh, kesibukan Raden juga memiliki alasan dan selama ini Alula tahu semua akses komunikasi suaminya. Menelepon siapa, chat dengan siapa, dan bertemu siapa Raden memberitahu Nya.
Lengkap dengan dandanan nya, Alula menoleh pada ranjang empuknya, di mana Kaesang juga sudah tampan dengan pakaian lucunya.
"Halo sayang, apa Mammi cantik hari ini?" Sepertinya Kaesang menyukai dandanan ibunya. Putra semata Raden itu tergelak renyah saat menatapnya.
__ADS_1
"Kita ke kampus yuk, biarkan Oma istirahat, Oma sudah sering sakit. Mungkin terlalu lelah mengurus kita berdua. Jadi, jangan rewel yah, di kampus ada Tante Ayu sama Om Nula yang akan menemani Kaes kalo Mammi masuk kelas." Jelas Alula yang di beri senyum oleh Kaesang.
"Pinter." Alula menggendong dan memindahkan Kaesang pada kereta bayinya. Dia dorong keluar dari kamar. Rupanya ada Abimanyu yang datang tanpa dia ketahui.
Tidak seperti biasanya mertua Alula datang, wajahnya pun khawatir, dia melangkah menuju kamar Karlina.
"Romo."
"Hmm?" Abimanyu menoleh menatap Alula lalu beralih pada Kaesang. Senyum manis muncul di lengkungan bibirnya. "Kaes, sudah tampan?"
Alula mencium punggung tangan mertua laki-laki nya. "Romo di sini? Sejak kapan?"
"Barusan." Jawab Abi, sempat dia mengamati pakaian yang Alula dan Kaesang kenakan seperti ingin keluar. "Kalian mau pergi?"
"Iya, ada ujian presentasi hari ini, jadi sengaja Lula bawa Kaesang ke kampus, soalnya kalo di rumah, Oma terus sibuk dengan Kaes." Tanpa menatap wajah Abimanyu Alula berujar.
"Ibu mu sakit?"
Alula mengangguk. "Dari semalam Ibu kurang terlihat sehat, sepertinya kelelahan, ada dokter dan beberapa perawat yang menjaga Ibu sekarang."
"Arga ke mana?" Abimanyu menoleh ke kanan dan kiri, sepertinya tidak ada putra keduanya.
"Arga dua hari ini tidak pulang."
"Ayu?" Tanya Abimanyu kemudian.
"Mungkin di kamar Ibu. Sekarang Lula juga mau ke kamar Ibu, Kaesang harus pamit."
Abimanyu mengangguk. "Kamu saja yang masuk. Romo di luar saja." Katanya.
"Kenapa?" Alula sampai menatap mertuanya, mengamati raut rindu yang tidak berani Abimanyu presentasi kan.
"Tidak apa." Abimanyu hanya tersenyum tipis,
Rasanya malu jika harus menemui Karlina sekarang ini. Memang dia sudah bercerai dari Lisya. Tapi sejak Karlina mengatakan ingin menunggu talak darinya. Abimanyu seolah tak ingin bertatap muka dengan istri pertamanya.
__ADS_1
Bagaimana jika nanti Karlina menuntut perceraian? Lebih baik begini, Karlina jauh di matanya namun ikatan pernikahan masih tetap utuh.
...Hai reader kooh, jangan tinggalkan aku di sini....