
Lelaki paruh baya berpawakan tinggi dengan wajah tampan berkumis tipis, ia melangkah gontai memasuki rumah klasik nan asri milik keluarga besar Abimanyu Kertawiguna.
Dia lah Satrio, ayah Sindy yang seharusnya sudah mengumumkan pertunangan putrinya dengan Raden tapi justru mendengar berita tidak mengenakan yang datangnya dari banyak sumber.
Ada yang bilang Raden telah menikah secara diam-diam dengan gadis dari keturunan biasa, Satrio merasa terhina karena Raden memilih gadis yang di bawah kastanya.
Belum lagi, malam tadi semua kerja sama dan sejumlah saham yang Raden tanamkan resmi di tarik.
Siapa lagi yang mau bekerja sama dengan perusahaannya? Selama ini Raden mau mempertahankan hubungan kerja sama hanya karena Abimanyu masih menganggap Satrio saudara seningrat.
"Selamat siang Satrio." Abimanyu menyambut kedatangan lelaki itu dengan pelukan seperti biasa.
Satrio tak bersahabat, kenyataannya rahang pria itu mengeras. "Aku tidak akan basa-basi, aku ke sini untuk menanyakan kenapa Raden memutuskan semua akses kerja sama perusahaan ku?" Berang nya. Berpotensi bangkrut membuat Satrio tidak pandang bulu.
Abimanyu tersenyum. "Aku sudah lama tidak mencampuri urusan putraku, jadi aku tidak tahu menahu tentang hal itu, tapi yang bisa aku pastikan adalah, Raden putraku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain jika tidak ada hal yang membuatnya murka." Sindirnya.
"Maksud mu Raden muak dengan Sindy tapi perusahaan ku yang dia jadikan sasaran? Tidak profesional sekali dia! Kalau hanya karena gadis biasa kenapa sampai sebegitu jauh dia melangkah! Kau kan ayahnya, coba bujuk putra mu untuk mengurungkan pembatalan kerja sama ini!" Ketus Satrio.
"Apa pun itu, aku minta maaf Satrio, aku tidak bisa membantu mu lebih jauh lagi. Semua yang bersangkutan dengan perusahaan aku sudah tidak ikut campur, hak sepenuhnya ada pada putraku." Sanggah Abimanyu.
"Persetan!" Teriak Satrio.
"Apa seperti ini kelakuan mu yang sebenarnya Trio?" Eyang yang baru saja tiba menggeleng ringan menatap Satrio. "Jadi selama ini kau baik-baik karena ada maunya! Jangan marah dengan keputusan Raden, karena putrimu yang baik itu sudah menjebak cucu mantu ku!"
"Cucu mantu?" Satrio beralih pada Eyang dengan kerutan di kening. "Yang benar saja!"
"Bagaimana pun, aku menghargai keputusan Raden. Bagus sekali dia menolak putri mu yang tidak baik kelakuannya!"
"Argh!" Satrio menendang salah satu pot bunga di sudut tempat dan pergi setelah itu.
Tak ada yang bisa di harapkan dari keluarga ini. Satrio frustasi karena bangkrut sudah menanti masa depan perusahaan nya.
Abimanyu hanya diam dengan tangan yang di cekal ke belakang, menatap punggung Satrio secara elegan, begitulah kedinginan yang selalu pria itu tampilkan.
Eyang beralih pada putranya. "Sudah jangan urusi lagi keluarga Sindy. Sekarang coba kamu minta Karlina supaya Raden mau pulang lagi ke sini membawa istrinya juga, kita perlu merayakan resepsi pernikahan mereka kan? Ini pernikahan cucu pertama ku."
"Hmm." Abimanyu mengangguk kemudian melangkah gontai menuju kamar milik istri pertama yang lama tak ia kunjungi.
Tawa cekikikan terdengar lamat-lamat dari luar. Abimanyu tahu, di dalam kamar pasti sedang ada Ayu.
"Lina." Abimanyu mengetuk pintu dan suara seperti orang berlari terdengar mendekat. Ayu menyengir saat membukanya. "Romo."
"Kalian sedang apa?" Abimanyu menatap Karlina yang sangat cantik dengan gaun pesta malam berwarna hitam.
__ADS_1
Masih cantik seperti biasanya hanya saja kali ini terlihat berbeda. Rambut panjang Karlina terurai dengan riasan wajah flawless.
Ayu tersenyum menatap ayahnya yang seolah kagum pada kecantikan ibunya.
Sementara Karlina cepat-cepat mengikat surai bergelombang miliknya. "Hanya iseng. Ayu memaksa ku memakai baju pemberian Raden juga mendandani ku." Katanya.
Abimanyu terdiam menatap istri pertamanya yang terlihat sangat cantik siang ini, jangan kan pujian, lama tak saling tegur sapa membuat Abimanyu canggung untuk memulai kata.
"Aku ganti baju dulu." Pamit Karlina lalu memasuki kamar mandi.
"Iya." Jawab Abimanyu. Ayu pun pergi keluar dari kamar kesepian ibunya. Dia memberikan kesempatan untuk ayah dan ibunya berbicara empat mata.
Selesai mengganti pakaian dan menghapus riasan, kembali Karlina menemui suaminya.
Lama sudah mereka tidak berada dalam satu kamar seperti ini. Terakhir mungkin sebelum Abimanyu menikah lagi.
Sejumlah pertanyaan Karlina lontarkan, ada apakah gerangan Abimanyu mendatangi kamarnya? Mereka duduk bersisian di tepi ranjang.
"Aku mau kamu menyuruh Raden pulang bersama istrinya. Menurut mu, kapan waktu yang baik untuk resepsi pernikahan mereka?" Abimanyu menatap Karlina yang tidak mau menatapnya.
"Terserah Mas dan Ibu saja, aku menurut, jika sudah di putuskan kapan, nanti aku langsung memanggil Raden ke sini." Jawab Karlina dan hening setelah itu, jujur, Abimanyu menikmati waktu bersama bernostalgia.
Mereka sempat terdiam cukup lama tapi kemudian Karlina teringat pertanyaan. "Apa hanya itu saja yang Mas sampai kan?"
Karlina menatap suaminya. "Hubungan yang sudah tidak ada lagi kecocokan, begitulah kira-kira yang akan terjadi, seperti Mas yang sudah nyaman dengan pernikahan baru Mas. Aku pun nyaman dengan kesendirian ku, jadi kita nikmati saja kenyamanan hidup kita masing-masing, karena itulah yang masih membuat ku bertahan di dalam sangkar emas ini."
Lama Abimanyu tak menegur secara intens dan sepertinya dia menyesal sudah berani menanyakan sesuatu pada Karlina. Ternyata ada kebencian di balik diamnya wanita itu.
Pantas saja Karlina terlihat menerima, jadi rupanya Karlina menyimpan kenyamanan saat dirinya tidak lagi menegurnya.
Lebih baik saling diam seperti biasanya, berbicara di saat perlu saja, karena jika di gilir dengan madu nya pun Karlina belum tentu bisa menerima.
...----------------...
Pada lain hunian dan lain pula waktunya, di atas ranjang kesepiannya, Raden berbaring dengan selimut tebal hitam yang menutupi seluruh tubuh.
Entah berapa lama dia tidak menemui Alula, rindu yang semakin berat mengalahkan rindunya Dylan pada Mylea.
Hari ini Raden tidak masuk kantor, semua kegiatan perusahaan dia pantau dari rumah melalui Bastian dan Haikal sekertaris nya.
Satu pelayan berjalan beriringan dengan Bastian yang menggelengkan kepalanya ringan.
"Permisi, seblak pedas yang Tuan muda minta sudah siap."
__ADS_1
Raden melirik sang pelayan yang meletakkan nampan pada meja lalu beralih pada Bastian yang melipat lengan menatapnya.
"Kau mengejek ku?" Curiganya. Entah kenapa akhir-akhir ini Raden lebih sensitif dari hari-hari biasanya.
"Bukan, tapi heran saja, seharian penuh Bos hanya meminta ini meminta itu tapi tidak di makan, sekalinya mau makan setelahnya muntah di baju ku. Sudah berapa kali aku ganti baju karena Bos terus memuntahkan makanan padaku!" Protes Bastian kesal.
"Kamu tidak tahu saja rasanya jadi orang yang lagi demam." Sanggah Raden.
"Demam rindu?" Bastian mencibir sang Tuan, sudah dari kemarin Raden berkelakuan aneh-aneh bahkan terkesan seperti Nyonya muda nya, minta seblak, ceker setan dan makanan kesukaan Alula lainnya.
Ini pasti karena Raden sedang terjangkit demam mala rindu. "Sudah cepat di susul Nyonya muda nya, atau dia benar-benar menganggap mu sudah menceraikan nya."
Raden mendengus. "Dia benci padaku." Lirihnya sendu.
"Belum mencoba nya kan?"
"Aku saja membenci diriku sendiri, apa lagi dia. Setelah kejadian itu pasti Alula sangat membenci ku." Sangkal Raden.
"Lalu, mau kau apakan anak orang Bos? Di nikahi tapi tidak di singgahi, aku dengar Eyang mau kalian melangsungkan resepsi pernikahan secepatnya." Sambung Bastian.
Raden mendengus pelan. "Aku takut Lula marah lagi padaku, terakhir kali aku tawarkan ini itu, dia hanya diam dan terus membelakangi ku. Itu sangat menyakitkan."
Bastian tersenyum kesal. "Kenapa tingkah mu seperti anak gadis, Bos?"
Raden bangkit lalu menyandar pada kepala ranjang. "Aku takut bertemu dengan nya, aku takut dia menangis lagi karena ku."
"Kalau begitu ceraikan saja!"
"Gila kamu!" Raden melemparkan bantal pada Bastian. "Kau pikir aku mau berpisah dari nya?"
"Di gantung begitu, kalo aku jadi Nyonya muda, sudah pasti akan menerima cinta Galang, jelas dengan Galang satu hobi, satu jurusan, mereka pasti sangat cocok. Kau tahu Bos, bahkan hari ini mereka ikut perkemahan bersama, wah, romantis sekali." Bastian bertepuk tangan mencibir sang Tuan.
Raden terbelalak. "Kamu serius?" Tanyanya yang di jawab dengan anggukan kepala Bastian. "Serius, Galang sudah berada di depan langkah mu sekarang!" Cetusnya.
"Sial, kenapa tidak bilang dari tadi hah? Sekarang juga siapkan perlengkapan camping, kita susul istriku, buat tenda yang layak untuk istri Rich Man! Aku tidak mau dia tidur kedinginan di dalam tenda yang biasa!" Raden bangkit dan berlari memasuki kamar mandi.
"Seblak nya?" Teriak Bastian.
Sempat-sempatnya Raden menyembulkan kepalanya menatap awas asistennya.
"Jangan di makan, itu milikku!"
"Astaga!" Bastian memutar bola matanya.
__ADS_1