
Dari gedung A-studio Raden dan Alula langsung menuju rumah sakit terkemuka. Di sana lah Karlina menjalani perawatan bahkan sudah setitik lagi operasi.
Sejauh ini Raden tak mengetahui apa pun tentang ibunya. Karlina memang jarang mengeluh tidak seperti Alula yang terus membuka pertikaian tapi bertujuan untuk membenahi rumah tangga mereka.
Terkadang sebagai seorang istri, perlu mendemonstrasikan sesuatu karena itu penting agar supaya keutuhan rumah tangga tetap berjalan sesuai kesepakatan bersama.
Memendam rasa sakit sendiri tidak baik untuk kesehatan tubuh dan hati.
Berang nya perempuan itu sudah tingkat paling cetek dari berbagai aspek kekecewaan. Jika sudah sampai pada titik diam itu berarti sudah paling dalam dan mendasar.
Setelah bersitegang mengeluarkan gurat kepanikan, Raden pada akhirnya duduk bersemuka dengan dokter yang sudah dua Minggu ini menangani Karlina sang ibu tercinta.
"Gagal hati?" Raden terhenyak mendengar penuturan dokter Pramana.
Pramana mengangguk. "Nyonya besar mengalami gagal hati dan untungnya segera di ketahui." Terangnya.
"Bagaimana bisa itu terjadi? Ibu tidak merokok dan minum minuman keras, apa yang membuatnya seperti ini?" Sela Raden gusar, bahkan tubuhnya condong mendekati Pramana.
Pramana menggeleng. "Gagal hati juga bisa di sebabkan overdosis asetaminophen. Serangan virus, seperti hepatitis A, B, dan E, atau virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, dan virus herpes simpleks juga Reaksi terhadap resep dan obat-obatan herbal tertentu."
"Maksud dokter, Ibu ku meminum obat-obatan yang tidak cocok untuk tubuhnya begitu?"
Raden segera menangkap arti dari apa yang Pramana sampaikan. Selama ini Karlina memang sering meminum ramuan herbal untuk kebugaran.
"Seperti itu, menurut pengakuan Nyonya besar, beliau menyukai minuman herbal yang bisa membuatnya lebih berstamina, dia ingin selalu menyibukkan diri, mungkin beliau orang yang menyukai aktivitas berlebih."
Raden mengangguk pasti. "Yah, Ibu saya memang suka sekali melakukan aktivitas."
Pramana tersenyum datar. "Ibu Anda orang yang tertutup, kami saja perlu psikolog untuk menanyakan riwayat kesehatannya."
Raden meredup pandangan yang kian nanar bahkan hampir mengabur. Sudah jelas Karlina melakukan aktivitas berlebihan karena tidak ingin membuat hati dan pikirannya terus mengarah pada kesakitan.
__ADS_1
Delapan tahun hidup bersama madunya, bagaimana cara Karlina menutup mata? Tentu hanya dengan cara menyibukkan diri Karlina mampu menjalani itu semua.
Harta yang Karlina pertahankan agar tidak terkuasai Lisya kini harus menjadi obat penyembuh hati yang rusak.
"Apa solusinya Dok?" Lirih Raden.
"Transplantasi hati atau cangkok hati itu sendiri operasi menggantikan organ hati Nyonya besar yang mengalami penyakit liver dengan hati yang sehat. Penggantian hati ini dapat dilakukan baik seluruhnya maupun sebagian yang berasal dari orang lain." Jelas Pramana.
Raden menyimak setiap detil kata yang dokter itu uraikan. Sedikit banyak dia tahu walaupun tidak begitu menguasai.
"Prosedur ini pun terbagi menjadi dua jenis, yaitu donor yang berasal dari orang hidup dan donor hati dari pasien yang sudah meninggal. Cangkok hati dari donor hidup adalah alternatif ketika donor yang sudah meninggal belum tersedia." Terang Pramana lagi.
"Lalu? Kenapa dokter sudah memutuskan operasi? Apa sudah ada pendonor nya? Ini legal atau tidak? Pendonor sudah meninggal atau belum? Donor hati itu sudah benar-benar di cek kelayakannya atau tidak? Coba jelaskan padaku!" Sergah Raden.
Pramana tersenyum. "Sabar Tuan muda. Sejatinya donor hati dari pasien yang masih hidup dapat dilakukan karena hati manusia dapat tumbuh kembali setelah operasi pengangkatan sebagian organ." Jelasnya.
"Umumnya, cangkok hati adalah pilihan terakhir ketika obat dan perawatan dari dokter tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Selain itu, prosedur ini juga dibutuhkan ketika mengalami gagal hati dan tidak ada alat yang dapat menggantikan fungsi hati seutuhnya." Imbuh Nya.
"Perlu diingat bahwa sebelum mendapatkan donor hati, mungkin pasien perlu menunggu, mengingat permintaan cangkok hati cukup banyak. Tapi, syukur lah Nyonya muda sudah memiliki pendonor yang cukup baik dan memenuhi syarat." Tambah Nya.
Pramana menggeleng. "Maaf Tuan muda, untuk kasus ini pihak rumah sakit tidak memiliki kewenangan untuk membeberkan data lengkap pendonor. Mengingat kasus seperti ini sangat sensitif dan sering terjadi pro kontra masyarakat." Kilah Nya.
Raden mendengus tapi apa pun itu, dia bersyukur jika sudah ada pendonor yang bersedia menyumbang hatinya pada Karlina.
"Pastikan uang yang kalian berikan padanya sangat banyak. Sampaikan aku sangat berterima kasih. Berapa pun dia minta akan aku berikan." Cetus Raden.
"Pasti Tuan muda." Pramana mengangguk tersenyum.
...----------------...
...🍀🍀🍀...
__ADS_1
Tanpa keluh kesah Abimanyu hanya menatap langit-langit tempatnya terbaring, pikiran sudah frustasi, tiada mungkin kembali semula keretakan hati yang dia buat terhadap Karlina Nya.
Jangan kan untuk mengucapkan maaf dan berjuang sekali lagi untuk bersatu kembali. Mendatangi Karlina saja Abimanyu sungkan.
Dari pada menorehkan kembali luka lama Karlina, Abimanyu lebih memilih untuk tidak menemui wanita itu.
Di pikir seribu kali pun, dia bisa menyadari bagaimana dan sedalam apa dirinya membuat luka.
Tidak bertemu adalah jalan yang Abi pilih. Semoga Karlina tidak lagi mengutuk karena semakin membencinya.
Segala sesuatu harus di pikirkan dengan matang, semua memang butuh materi meskipun materi itu sendiri tidak cukup membuat seseorang bahagia.
Hidup harus selaras, harta wanita tahta tapi usahakan seumur hidup hanya ada satu wanita saja agar tiada sesal di akhir cerita.
Langkah kaki terdengar mendekat, Abimanyu tak mau beringsut meski tahu siapa yang mendatangi dirinya.
Sementara pemuda itu menatap nanar wajah tampan ayahnya. Dia lah Arga yang duduk di sisi Abi. "Romo baik-baik saja kan?" Tanyanya.
"Bagaimana dengan Ibu mu?" Abimanyu justru balik bertanya.
"Operasi baru akan di mulai, kenapa Romo tidak mau membesuknya?"
"Romo tidak berani." Pelan sekali Abimanyu menoleh pada putranya.
"Kalau Romo sudah ingin membebaskan Ibu, perjelas hubungan kalian dulu, Ibu pasti lebih bisa menerima sekarang. Ada Kaes obat dari segala keluh kesahnya. Ibu tidak akan tersakiti lagi sekarang. Jangan membuat Ibu semakin terabaikan. Bebaskan jika harus di lakukan, bicara baik-baik, kalian sudah saling tersakiti dan menyakiti, cukup sudah, Arga tidak tahan melihatnya."
Abimanyu terdiam. Wajah Arga begitu menentramkan, terlepas dari semua ketidak sopan'an dan sikap pembangkang pemuda itu, dia melihat kasih sayang Karlina yang menempel pada putra keduanya.
"Kamu tidak membenci Romo?"
Arga pilu. "Sangat membenci, tapi Arga membenci perlakuan Romo pada Ibu. Bukan membenci Romo sebagai ayah Arga, karena sampai kapan pun ayah Arga tetap Romo."
__ADS_1
"Maaf sudah menyakiti mu. Maaf membuat mu malu. Romo bukan contoh ayah yang baik." Ujarnya sendu.
"Apa pun itu, pikirkan lagi, bagaimana kelanjutan hubungan kalian."