My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Sakit perut


__ADS_3

Teriakan satu senior membuat semua mahasiswa baru berkumpul di depan api unggun secara cepat.


Mereka berdiri melingkar menyerbu kobaran api yang menggelegak dengan percikan kecilnya.


Udara dingin menuntut semua orang untuk memakai pakaian tebal dan tertutup. Tempat ini memang belum menaiki puncak tapi udara dingin sudah terasa menyengat.


Di sudut sana ada Galang yang sedari tadi mengamati wajah-wajah juniornya. "Alula kemana?" Tanyanya pada akhirnya.


Satu junior menjawab. "Masih di tenda sama saudara kembarnya, Alula bilang sakit perut Bang." Jelasnya.


"Sakit perut?" Ulang Galang memastikan dan di jawab dengan anggukan kepala gadis itu.


Tanpa menunggu waktu lama. Segera Galang mengayunkan kakinya menuju tenda milik Alula. Kendati Alula sudah menikah, Galang masih bersikap seolah-olah Alula gadis belia tak berTuan.


Namun, langkah kakinya harus terhenti ketika sang pemilik Alula berada di depan sana.


"Raden Mas!" Teriakan para gadis yang selalu memekik saat menjumpai lelaki seksi nan kaya raya itu.


Galang mematung menatap Raden memasuki tenda Alula. Sudah ada Raden maka Galang tidak lagi ada kesempatan.


...----------------...


^^^Di dalam tenda.^^^


Nakula memijit kaki-kaki mungil Alula, orang bilang sakit perut akan mereda jika ada tekanan di titik-titik tertentu pada telapak kakinya.


Nakula berusaha mengurangi sakit perut yang Alula rasakan. Tanpa sepengetahuan Alula barusan Nakula menghubungi Raden dengan ponsel satelit yang bisa di pakai di mana pun tempatnya.


Sore tadi saat pulang ke tenda Alula mendapati kasur empuk, selimut tebal, penutup telinga dan semuanya serba merah muda seperti kesukaannya.


Sebelum mandi belum ada barang-barang tersebut, Alula tahu ini semua dari suami posesif nya. Hanya dengan satu kali perintah saja Raden bisa memberikan segalanya.


Meski dengan segala fasilitas, malam yang dingin tetap berhasil mencekik tubuh kecil Alula. Sepertinya masuk angin, sedari tadi perut Alula berasa kembung, mual, bahkan ingin muntah.


Tak peduli seberapa tebal selimutnya, seberapa empuk kasurnya, Alula tetap merasakan hawa dingin yang membuatnya menggigil.


"Apa masih perlu minyak kayu putih?" Tanya Nakula sabar dan Alula mengangguk.


"Raden Mas!" Teriakan di luar tenda membuat Alula mendengus. Sudah pasti Raden datang dengan sejumlah alarmnya.


"Kamu yang manggil Om Raden?"


Nakula mengangguk. "Tentu saja, dia berhak tahu kondisi mu. Sengaja dia stay di sini untuk menjagamu, jadi stop jual mahal."


Alula hanya menggeleng sambil menangis saking melilitnya perut yang tiba-tiba tidak mampu di tepis. Buliran bening berjatuhan melinangi pipi mulusnya. Seperti di remas kuat-kuat Alula merasakan kontraksi tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa masih sangat sakit?" Nakula yang menyadari itu kembali bertanya dengan gurat kecemasan.


Pintu tenda terbuka bersamaan dengan masuknya Raden yang segera meraih wajah menangis Alula. "Baby kenapa?"


Alula menjawabnya dengan isakan kecil.


"Kita ke rumah sakit." Putus Raden.


Alula menggeleng cepat. "Jangan."


"Why?"


"Pokoknya jangan." Geleng Alula kekeuh, Alula tidak mau Raden tahu kehamilannya.


Sudah pasti setelah ini Raden melarangnya melanjutkan aktivitas dan lain sebagainya, Alula tahu sekali perangai manusia posesif itu.


"Tapi Baby kesakitan." Sanggah Raden yang terus mendapat gelengan kepala Alula.


Raden menegas rahang. "Bisa tidak jangan keras kepala! Baby perlu perawatan!" Ujarnya posesif. Alula mulai patuh saat kondisi perut semakin tak keruan.


Nakula keluar membukakan pintu tenda, kemudian Raden mengangkat tubuh Alula keluar dari tenda di saksikan banyak pasang mata yang memiliki sederet pertanyaan di otaknya.


Ada gosip yang mengatakan Alula tunangan Galang, lalu kemudian Raden menggendong gadis itu seperti ada hubungan yang berbeda.


"Tidak perlu, kamu lanjut saja, Lula biar aku yang urus." Kata Raden, Nakula mengangguk setuju, dia masih perlu melanjutkan aktivitas camping nya.


Di depan sana Galang mendekat. "Ada apa dengan Alula?" Cemasnya. Apa lagi wajah meringis Alula membuat Galang tidak betah.


"Dia harus ke rumah sakit, jadi biarkan aku membawanya." Cetus Raden.


Galang mengangguk. "Baiklah, aku antar."


"Tidak perlu!" Raden melangkah kan kakinya gagah melewati tubuh tinggi Galang yang terdiam menatapnya berlalu.


Raden berjalan keluar dari area perkemahan meninggalkan sejumlah pertanyaan besar pada semua orang. Ada hubungan apa antara Alula dan Raden? Begitu kira-kira nya.


Hari sudah malam jalanan lebih gelap dari biasanya, Bastian dan beberapa pengawal memandu jalan dengan senter.


Dalam gendongan suaminya Alula hanya mempererat pelukan, takut dengan keadaan sekitar. Kata orang saat hamil banyak dedemit yang mengincarnya, kendati hidup di zaman modern Alula juga percaya akan hal itu.


"Masih sakit?" Di sela langkah Raden melirik wajah istrinya dan kembali bertanya. Alula memang tidak menjawab namun gerakan tubuhnya mengatakan kesakitan yang dia rasakan.


Tiba di jalan beraspal mobil berjenis SUV menyambut kedatangan mereka, Bastian membuka pintu bagian belakang.


Gegas Raden masuk setelah memastikan Alula aman di joknya. Seperti biasa Bastian selalu yang mengambil alih kemudi sementara pengawal akan mengikuti dengan mobil lain.

__ADS_1


Setelah sudah cukup aman, segera Bastian melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Jalanan gelap mencekam, pepohonan mulai bergerak bergulir bergantian.


Alula menyandar dengan posisi tubuh yang membelakangi suaminya, meringkuk menghadap jendela mengondisikan rasa sakit di perutnya.


Keringat dingin mengucur deras. Masih ada ketakutan di benaknya, jangan sampai janinnya gugur karena kegiatan melelahkan siang tadi.


Raden mendekati Alula. "Baby sudah makan? Kenapa sampai sakit perut hmm?" Meski tak ada jawaban Raden tetap memberikan kecupan pada telinga istrinya kemudian mengelusnya.


Dalam perjalanan Raden memberikan minyak kayu putih sesekali saat Alula terus meringis mengeluhkan rintihan.


...----------------...


Sementara di lain tempat, Emelly baru saja tiba di halaman rumah bergaya minimalis modern.


Sore tadi pesawat Emelly baru saja mendarat. Pada akhirnya Emelly memutuskan untuk kembali ke tanah air.


Lagi pun, Emelly tidak mungkin meninggalkan ibunya dan perusahaan yang di pimpin oleh pamannya begitu saja.


Emelly cantik dengan baju putih tanpa lengan dan rok span merah marun pendek, sepatu heels gold juga tas clutch yang senada dengan warna sepatunya dia tenteng, ia turun dari mobil melangkah masuk ke dalam rumah.


Rumah yang hanya sesekali Emelly kunjungi. Rumah milik ibunya yang tak pernah peduli padanya. Bukan tidak peduli, lebih tepatnya tak mampu lagi peduli.


Kamar utama lah yang dia tuju saat ini. Cara jalan Emelly persis seperti model catwalk, bertubuh tinggi, berkaki jenjang, rambut panjang bergelombang, pinggang ramping dan tonjolan yang menantang untuk ukuran dadanya.


Di ruang tengah wanita berpakaian ala medis menyambut kedatangannya. "Selamat malam Nona Emelly."


"Malam." Emelly tersenyum kecil. "Gimana kabar Mamah?" Tanyanya.


"Baik." Angguk wanita itu.


"Ya sudah, aku temui Mamah dulu." Emelly melanjutkan langkah menuju kamar utama setelah berpamitan pada suster ibunya, dia buka pintu bercat abu-abu kemudian masuk.


Di ujung ranjang sana ada Selvia duduk melamun memandangi foto pernikahan berukuran besar yang di pajang pada sisi dinding.


Sudah lima tahun lamanya Selvia hanya duduk-duduk di rawat suster pribadi, bahkan sebelumnya Selvia pernah di rawat di rumah sakit jiwa lantaran terkena depresi akut.


Selvia ibu Emelly yang tersakiti, ibu Emelly yang menjadi korban kebucinan, ibu Emelly yang menjanda seumur hidupnya setelah di tinggal pergi suaminya. Setidaknya begitulah yang Emelly ketahui selama ini.


"Mamah sehat?" Emelly duduk tepat di sisi ibunya sembari mengelus lembut punggung wanita itu. Emelly tahu ibunya sangat peka terhadap keberadaan seseorang meskipun tidak pernah menyambut kedatangan nya.


Selvia menoleh dan menyungging senyum manis pada putrinya. "Selama Mamah belum bertemu dengan Papah mu dan berhasil membawanya pulang, Mamah tidak akan pernah bisa sehat." Jawaban yang sama setiap kali Emelly bertanya kabar pada Selvia.


Emelly meredup tatapan. "Tapi Papah sudah tidak ada Mah."


"Mamah tahu." Selvia tersenyum getir lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


__ADS_2