
Kelap kelip lampu perkotaan memanjakan mata Raden yang kini berdiri di lantai balkon kamar hotel bintang lima kelas presidential suite.
Berambut basah Raden merasakan sensasi angin malam yang menerpa wajah, seharian ini Raden sibuk, jadwal memenuhi agenda.
Tak sedikit pun Raden bisa melihat ponselnya, barusan saja dia berendam hampir satu jam setengah lamanya.
Teringat wajah Alula yang manis, Raden meninggalkan balkon berjalan masuk menuju ranjang super king nya.
Ponsel yang tak pernah dia buka, baru saja dia raih. Mencoba membuka galery foto yang di penuhi gambar Alula Nya.
Selain hal itu, untuk apa membuka ponsel? Tidak ada orang penting yang menghubungi dirinya.
Semenjak di pulangkan, Alula tak pernah lagi menelepon atau pun sekedar chat bertanya kabar. Ponsel Raden sepi tiada yang membunyikan nya.
Sebab mulai dari kemarin, jika mengenai urusan pekerjaan pasti melalui telepon asisten dan sekertaris pribadi Raden, bukan ponsel pribadi nya.
Kening Raden mengernyit saat membaca kontak bertuliskan 'Oh Baby' di layar dengan dua puluh panggilan tidak terjawab.
"Baby menelepon ku sebanyak ini?" Gumam nya. Sejak kapan dia melewatkan telepon istrinya? Kenapa tidak terdengar telinganya? Pasti Alula menelepon saat Raden berendam di bathtub tadi.
Kembali Raden layangkan panggilan balasan kepada nomor 'Oh Baby' di layarnya. Dia dengar seksama nada sambung bawaan.
...----------------...
^^^Di lain termpat.^^^
Tak ada hal yang spesial hari ini, seperti hari kemarin Alula selalu kesepian meski di tengah padatnya aktivitas, Alula melenggang setelah mengikuti tiga mata kuliah.
Untungnya memilih program studi Animasi terbilang menyenangkan, Alula akan belajar teknik pembuatan animasi mulai dari merancang karakter 2D dan 3D, membuat storyboard, menulis skenario, hingga video editing.
Alula juga akan di ajari cara menambahkan sound effects pada tampilan animasi yang telah dibuat sebelumnya.
Beberapa mata kuliah yang akan Alula tempuh di semester pertama dan kedua antara lain, menggambar dan Ilustrasi, dasar animasi, desain elementer, dasar game, penceritaan dan penyutradaraan, desain karakter, rekaman dan desain suara.
Selain itu, Alula juga sibuk membuat cerita nya sendiri yang akan dia rilis berupa komik online dan di bantu oleh Galang saat peluncuran.
Kegiatan Alula lumayan padat maka waktu pun tak terasa sudah malam saja. Tepatnya di pukul 20.00 Alula berada di sebuah hotel setelah satu orang pria memberikan selembar kertas bertuliskan.
__ADS_1
“Temui aku di kamar nomor lima puluh dua, kamu masih perlu mengembalikan kartu kredit dan semua fasilitas yang ku berikan pada mu.” Tertanda Raden.
Alula menghela napas dalam, sesak sekali dadanya, bukan karena fasilitas yang di minta kembali, tapi itu membuktikan bahwa Raden sudah mantap memulangkan dirinya dan tidak lagi peduli padanya.
Ini harapan Alula, tapi kok berat rasanya. Kemarin Alula masih belum setakut itu, kenapa semakin hari semakin bertambah ketakutan perpisahan nya?
Kemana Alula yang dahulu? Alula yang kuat menghadapi urusan hatinya. Di jadikan kekasih bayangan oleh Galang selama bertahun-tahun saja Alula sanggup, kenapa kepada Raden menjadi lemah begini? Apa itu berarti Alula sudah benar-benar menyukai Raden?
Untuk memastikan benar atau tidaknya pesan tertulis itu datang dari Raden. Sempat Alula menelepon Raden berkali-kali, tapi tidak ada yang menjawabnya.
Satu pria itu bilang, "Tuan muda tidak akan menjawab panggilan, karena beliau menunggu Nyonya muda di hotel."
"Baiklah, aku ke sana." Sore tadi Alula menjawab seperti itu lalu sekarang Alula melangkahkan kakinya menuju kamar nomor lima puluh dua seperti yang tertulis di kertas pesan tersebut.
Alula ke sini di temani Galang tapi karena pengawal itu bilang tidak boleh mengajak Tuan Galang, akhirnya Alula menyuruh Galang menunggu di lobby.
Tentu saja Raden akan marah jika ada Galang, biar bagaimanapun juga mereka belum resmi bercerai meski sudah berpisah rumah.
Sempat terjadi adu mulut antara Alula dan Galang, karena jujur Galang tidak mau membiarkan Alula seorang diri di tempat asing begini, tapi kemudian Alula berhasil meyakinkan Galang bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Mengenakan celana jeans hitam panjang, sepatu sneaker putih, kaos putih berlengan pendek dan tas punggung berbentuk hati.
Lima puluh dua, kamar hotel yang Alula ketuk tiga kali meski harus gemetar dan mulai tidak enak perasaan. Sesekali menelan ludah yang terasa pahit saking tidak enaknya feeling.
Kriiiiiing.....
Ponsel Alula berdering bersamaan dengan terbukanya pintu kamar nomor lima puluh dua itu.
Alula menelan saliva sekali lagi, bahkan membulatkan matanya saat menyadari kejanggalan yang terjadi, sekarang, detik ini juga Raden menelepon, lalu siapa pria yang membuka pintu kamar ini?
Untuk memastikannya segera Alula menggeser tombol terima di layar ponselnya lalu meletakkannya pada telinga.
"Halo, apa Om menyuruh ku ke kamar hotel lima puluh dua?"
📞 "Apa maksud Baby?"
"Ah." Keluh terakhir yang mampu Alula gaungkan setelah mendapati pukulan keras pada tengkuknya.
__ADS_1
...----------------...
"Baby!" Di kamarnya, Raden memekik memanggil seseorang yang dia khawatirkan saat ini.
Alula terdengar berkeluh sesaat kemudian seperti ada suara benda terjatuh, pikiran Raden mulai mengalut.
Kamar lima puluh dua? Siapa yang menyuruhnya ke kamar itu? Raden memang sedang berada di hotel tapi bukan daerah Jakarta.
Raden menginap di Bandung karena ada salah satu koleganya yang harus ditemui di kota ini tepatnya di hotel ini.
Raden masih memakai kimono tidur beludru berwarna biru gelap, dia langkah kan kakinya panjang keluar dari kamar.
Kelas presidential suite memang mendapat fasilitas seperti hunian Penthouse atau apartemen pada umumnya. Ada beberapa kamar di dalamnya bahkan dapur, ruang rapat, ruang televisi dan ruang tamu.
Bastian duduk pada sofa ruang tengah dengan sederet pengawalnya di sana.
"Bas. Kamu hubungi orang-orang yang mengawal Nyonya muda mu, barusan dia menelepon ku tapi setelah mati tidak bisa lagi di hubungi, aku khawatir, perasaan ku tidak enak!" Ujarnya berapi-api.
Bastian terkesiap. "Menelepon?"
"Yah, cari informasi sekarang!" Teriak Raden.
Gegas Bastian meraih ponselnya, mencoba menghubungi satu persatu pengawal diam-diam Alula, tidak ada respon meski berkali-kali dia melayangkan panggilan.
"Sial!" Umpat Bastian kesal sembari mengutak-atik ponselnya.
"Kenapa? Ada apa ini?" Berang Raden gelisah, mempercayakan Alula begitu saja kepada banyak pengawal masih tidak bisa membuatnya tenang.
"Tunggu, sabar dulu, aku telepon Nakula atau Aryan." Kata Bastian.
Raden bergerak gelisah, berjalan mondar-mandir, bahkan menggigit bibir bawahnya geram. Jika sampai terjadi apa-apa pada Alula mungkin dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Wajah frustasi Bastian kembali membuatnya ketakutan. "Nihil Nakula dan Aryan juga tidak menjawabnya!" Geleng Bastian.
Tanpa pikir lama, Raden melangkah keluar dari unit presidential suite room ini. "Kita pulang, siapkan helikopter tercepat!" Titahnya.
Apa yang sedang terjadi dengan Alula, siapa yang bersamanya, lalu bagaimana dengan kondisinya? Raden tidak bisa berpikir lebih tenang.
__ADS_1
Doa-doa telah Raden panjatkan tinggi-tinggi, berharap untaian permohonan nya di ijabah sang pemilik semesta alam ini.