
"Dokter! Biar aku masuk!" Raden berwajah gusar menyalip langkah dokter yang akan menangani persalinan istrinya.
Malam jam sembilan tadi Alula terpeleset di kamar mandi. Perutnya mengalami benturan cukup keras.
Benturan di perut saat hamil berpotensi menyebabkan solusio plasenta.
Kondisi ini di tandai dengan plasenta yang terlepas sebagian atau seluruhnya dari dinding rahim yang membahayakan ibu dan janin.
Selain itu, detak jantung janin pun menjadi bermasalah karena tidak mendapatkan cukup oksigen.
Jika tidak ditangani dengan tepat, bisa menyebabkan kematian janin atau ibu. Mendengar itu dari salah satu perawat Raden gusar.
Untungnya ini terjadi di kehamilan trimester ketiga, meskipun bahaya ini bisa terjadi pada kehamilan trimester berapa pun, setidaknya dokter akan bisa lebih cepat ambil tindakan karena baby dalam kandungan sudah cukup pantas di lahirkan.
Barusan Raden menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Rumah sakit dan dokter terbaik menjadi pilihannya. Berharap Alula dan putranya akan baik-baik saja.
"Lebih baik, Tuan tunggu saja di luar."
Dokter Fahmi memberikan pengertian terhadap suami pasiennya. Jika raut cemas Raden terus menerus tertampil sudah pasti akan mengganggu proses persalinan itu sendiri.
Raden menggebrak pintu ruang operasi hingga gaduh. "Apa-apaan ini? Istri ku kesakitan di dalam!" Bentak nya.
"Tapi Tuan, ..."
Ucapan dokter terputus saat Karlina mencoba membantunya. "Raden, Dokter benar, lebih baik kita tunggu saja di luar."
"Gimana sama Lula Buk. Dia pasti ketakutan di dalam tanpa ku." Lirihnya.
"Lula pemberani Raden." Sambung Karlina dan Abimanyu menepuk pundak putranya berusaha menguatkan.
Raden mundur kemudian dokter masuk dan menutup pintu ruangan operasi, Abimanyu dan Karlina duduk sementara Raden berjalan wara wiri menorehkan kecemasan di wajah tampannya.
Mengingat bagaimana Alula mengerang kesakitan saat menahan kontraksi Raden ketakutan. Baru sebentar mereka bersama jangan sampai terjadi hal yang tidak-tidak.
Jengah menunggu, kembali Raden meraih ponsel dari saku celananya. Pesan yang dia layangkan pada Bastian belum juga mendapat jawaban bahkan belum di buka sama sekali, sudah dari satu jam lalu Raden terus mencoba menelepon tapi tidak ada yang mengangkat.
__ADS_1
Di saat begini, seharusnya Bastian ada untuk memberikan ketenangan seperti biasanya tapi kali ini Bastian entah kemana.
Sementara Abimanyu berkutat dengan ponselnya, mencoba melayangkan panggilan telepon pada putra keduanya, sore tadi anak itu pamit akan ada pekerjaan sampai larut malam.
Bukan Abi jika tidak khawatir pada putra putrinya, Arga masih di bawah pengawasan karena anak itu belum bisa mandiri seperti putra pertamanya. Hanya gemar berkumpul dan bermain-main dengan teman-teman urakan.
...----------------...
Tepatnya pukul satu dini hari, pada ruangan dugem elit berlampu warna warni, tempat dugem yang bukan hanya untuk mabuk tapi juga di peruntukan bagi mereka yang suka bermain game.
Tempat yang di penuhi pemuda dari kalangan elit, pria tampan dan berondong pujaan tante-tante arisan.
Arga Mas Andaru, kini tengah duduk bersandar pada sofa empuk, lampu temaram menyamar ketampanannya dan musik remix terdengar bertalu-talu memanjakan telinga.
Minuman yang dia teguk bukan wine ataupun koktail, tapi es jeruk seperti biasanya. Semua temannya hapal, dan Arga tak pernah malu melakukan hal itu.
Baginya, boleh berteman tapi tidak untuk merusak hidupnya. Wejangan dari sang ayah dan ibunya masih Arga pegang erat-erat seperti balonku ada lima.
Satu perempuan dan laki-laki duduk di sisinya. Mereka sepasang kekasih yang berbeda usia. Metta nama wanita yang bergelayut pada dada bidang Boy sang Arjuna buaya.
"Boy. Teman mu itu, kenapa tidak minum dan tidak pernah bersama wanita?" Metta berteriak hingga Arga juga mendengarnya.
"Aku tidak selera!" Arga memang acap kali datang ke sini, tapi tidak pernah bersama wanita sekalipun. Di sini dia melihat dunia bersama teman-teman nakalnya.
Untuk tidak mencoreng nama baik keluarga, Arga memilih menyembunyikan identitasnya. Tidak ada yang tahu Arga anak bangsawan.
Satu lagi pemuda tampan masuk dan duduk di sisi Arga, dia Dimas salah satu pemuda idola di klub malam ini.
"Lo benaran nggak mau liat Tante baru di klub ini? Seksi Cuy." Ujarnya menepuk paha Arga.
"Yang bener?" Boy menyerobot penasaran. Biasanya jika ada Tante girang baru, Boy pemuda pertama yang menjadi sasarannya.
"Sudah ada aku yah!" Metta menjewer telinga kekasihnya dengan geram.
Boy menyengir. "Iya sayang, aku cuma mau nawarin buat Arga." Kilahnya.
__ADS_1
"Arga nya mau enggak?" Sambar Dimas kembali serius menatap Arga.
"Ogah." Arga dengan acuh menolak.
Mereka tidak tahu saja siapa keluarga besar Abimanyu Kertawiguna? Jika sampai tahu asal usul keturunan Arga mungkin tidak akan berani menawarkan Tante Tante padanya.
Tanpa menjadi berondong bayaran, Arga mampu membeli apa pun yang dia mau. Uang jajan dari Abimanyu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang glamor.
"Serius Lo Ga hah? Tuh Tante-tante bohay banget, apa lagi dia bisa kasih duit seratus juta semalem, mau nyari dimana coba, seratus juta cuma bikin enak wanita kesepian, nggak perlu repot-repot." Bujuk Dimas.
"Istri pejabat?" Sambar Boy lagi penasaran.
Dimas menoleh. "Istri ke dua konglomerat, mungkin suaminya sudah nggak bisa goyang lagi makanya ke sini cari daun muda." Dia terkekeh geli.
"Gimana kalo gue ngantri? Seratus juta cuy." Boy seolah tak takut dengan kecemburuan kekasihnya. Seratus juta bisa untuk membeli perangkat game baru nya.
Dimas menggeleng. Jika terus Boy yang menyerobot, nanti lama-lama klab ini sepi perkara tidak ada idola baru yang menyembul ke permukaan. Dimas mau, Arga yang ambil bagian. Arga tampan, gagah, bule lagi.
"Lo bener nggak mau nyicip jadi cem-ceman Tante Tante?"
"Nggak." Tolak Arga lagi dingin. Dia ambil minumannya lalu meneguk.
"Lo bilang mau buka usaha, ni Tante Tante bakal bisa jadiin lo kaya raya Ga, kalo semalem seratus juta, lo bayangin aja satu Minggu berapa."
Dimas menunjuk satu wanita cantik yang duduk pada kursi bartender. "Tuh liat body nya. Masih mulus, kayaknya cuma di rawat tapi jarang di belai."
"Brruuuffhh!" Arga menyemburkan minumannya kembali. Saliva tercekat. Melotot melihat seksama wajah cantik dari Tante Tante yang Dimas bicarakan.
Boy tertawa renyah melihat itu. "Baru liat ajah udah kesemsem Lo, akhirnya temen gue bukan gay. Arga waras woy!" Kelakar nya.
"Nah Lo mau kan?" Dimas antusias.
Arga terdiam. Bukan perkara itu, tapi, wanita yang Arga lihat tidak seharusnya berada di sini. "Gue cabut, sorry." Arga meraih dan membuka dompet lalu meletakkan tips pada mejanya kemudian bangkit.
"Lo mau kemana?" Pertanyaan Dimas tak mendapat sedikit pun jawaban. Arga keluar dari ruangan tersebut dan melangkah keluar dari klub malam ini.
__ADS_1
"Arga!" Teriakan Boy pun tak di hiraukan.
Hatinya bercelaru, dunia akan geger jika sampai mereka semua tahu siapa Tante Tante yang menjajakan diri di klub malam dengan iming-iming seratus juta per malam.