
Alula mendorong stroller baby, semua orang menatap Kaesang gemas, ada yang mencolek pipi Kaesang, ada yang hanya sekedar menegur.
Pokoknya hari ini Kaesang rajanya, dia menjadi bahan perhatian semua orang persis seperti saat ayahnya keluar dari sarang.
Berbagai macam pujian terarah pada Kaesang, ganteng, mancung, putih, bermata hijau, beralis tebal, bibir dengan lengkungan manis yang merona.
Bukanya senang Alula justru menitihkan air mata, entah kenapa rasanya jengkel saat semua orang membicarakan kemiripan Kaesang dengan Raden yang 99,9 persen.
"Kenapa nggak ada kontribusi nya sama sekali Lula? Lihat dong, nggak ada mirip-mirip nya sama Lo." Kelakar satu temannya tertawa.
"Lula kurang usaha sih, makanya mirip Raden Mas nya plek ketiplek!" Sambung teman lainnya yang juga tergelak.
Alula mendorong stroller baby Kaesang buru-buru agar cepat meninggalkan semua orang yang mengagumi ketampanan putranya.
Di mana Nakula berada, Alula mencari tapi mungkin belum sampai kampus karena masih terlalu pagi. Ayu juga hari ini mengantar Karlina ke rumah sakit untuk cek up, Karlina harus di tangani secara serius.
Seandainya saja di bolehkan ikut, mungkin saat ini Alula dan Kaesang di rumah sakit bersama Ayu dan Karlina. Namun, saat Alula ingin ikut mengantar, Karlina melarangnya.
Alasannya, pasti Kaesang tidak betah. Apa boleh buat, Alula tetap melanjutkan rencana awal yaitu masuk kuliah bersama Kaesang.
Sampai di bangku taman yang sepi. Alula meraih Kaesang dari stroller lalu menempatkan bayi mungil itu pada dadanya seraya duduk di pojokan dengan bibir merengut.
Bibirnya mengecup lembut kepala Kaesang berusaha mengurangi kesedihan, di saat sedih begini, seharusnya Raden ada tapi seperti hari kemarin, Raden sibuk sendiri dengan urusannya.
"Ehm." Suara dahaman dari seorang pemuda pun terdengar. Alula menoleh, rupanya Galang tersenyum manis saat duduk di sisinya. "Apa kabar?" Tanyanya lembut seperti dahulu.
"Baik." Lirih Alula lalu menyeka air mata di pipinya, sesekali membetulkan posisi dekapan Kaesang. Untungnya bayi tampan itu tidak rewel.
Galang menatap rindu mantan kekasih bayangannya, lama tak bertemu Galang sedikit merasakan getaran lain saat melihat wajah Alula. Dentuman hangat mengarungi jantung hatinya.
"Kamu gemuk kan sekarang."
Alula tersenyum kecil. "Mungkin karena menyusui."
"Jaga selalu kesehatan mu, ibu menyusui tidak boleh bersedih karena bisa mempengaruhi produksi ASI. Akhirnya, berpengaruh pula terhadap pertumbuhan Baby nya, kasihan Kaesang yang ganteng ini."
Galang tersenyum sambil memberi cubitan pelan pada pipi Kaesang yang tertawa gembira. Sepertinya bayi itu menyukai Galang.
"Emmh." Alula menganggukkan kepala.
Sejauh itu pengetahuan Galang tentang bayi rupanya, lalu bagaimana dengan Raden? Dia bahkan tak mau menggendong putranya karena alasan takut keseleo dan lainnya.
"Lula sedih. Kenapa semua orang bilang Kaes mirip Papi Nya? Padahal Papi Nya saja nggak pernah mau gendong Kaes. Lula yang capek, Lula yang ngurus Kaes sendiri!" Rutuk nya mencurahkan isi hati.
Galang tersenyum. "Tapi suami mu memang bukan orang biasa, dia presiden direktur, kamu tahu Lula, dulu Bang Galang pernah merasa, Mamah adalah satu-satunya orang yang berjasa membesarkan ku sampai menjadi pemuda tampan yang di idolakan gadis-gadis. Tapi, kemudian Bang Galang berpikir, jika tidak ada Papah yang mencukupi kebutuhan Mamah, mungkin Bang Galang terlantar karena Mamah harus bekerja keras mencari nafkah sendiri." Tuturnya.
__ADS_1
Alula menatap Galang dengan pergulatan pikir. Masih menelaah penuturan yang Galang uraikan barusan.
"Lula sudah punya keluarga, punya Baby, punya suami, seharusnya Lula bisa lebih bersikap dewasa sedikit demi keutuhan rumah tangga Lula. Tapi sesekali boleh saja unjuk rasa. Asal tidak sampai merenggangkan hubungan sakral kalian." Tutur Galang lagi.
"Iya." Alula paham dengan apa yang Galang sampaikan, tapi tetap saja perbuatan Raden akhir akhir ini menyakitinya. Alula merasa di abaikan setelah melahirkan putranya.
...----------------...
Di negara kelahiran Leeminho, Raden baru saja menyelesaikan rapat bersama jajaran pemegang saham.
Pembangunan sudah 90 persen, secepatnya mereka akan melakukan grand opening party.
Itu berarti Raden akan membawa serta semua keluarganya untuk pembukaan properti barunya di beberapa negara.
Langkah Raden cepat, wajah tampannya menegas setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang lumayan membuatnya dogol.
Kemarin Alula tidak mengatakan apa-apa, lalu antek-anteknya bilang Alula sudah mulai masuk kuliah.
Raden sudah dua hari di negara ini dan masih beberapa hari lagi untuk pulang.
Lalu apa lagi ini? Kenapa Alula harus sering bertemu dengan Galang yang masih menunjukkan ketertarikannya pada Alula.
Sampai di ruang kerjanya. Raden duduk pada kursi kebesarannya, dia bersandar dengan mengusap wajahnya mencoba menekan rasa cemburunya.
"Mungkin benar kata orang, pernikahan di tahun pertama akan lebih sering selisih paham. Tapi tolong jangan sampai ada pihak lain yang masuk ke dalam rumah tangga kita."
Raden meraih ponsel miliknya dari saku celana, mengatur posisi tubuh baik-baik sebelum melayangkan panggilan telepon pada kontak bertuliskan My little wife.
Raden panggil nomor Alula, sampai berkali-kali tak pula mendapat jawaban. Beberapa menit kemudian Raden mendengus kasar sembari membanting punggung pada sandaran kursi.
📤 "Sibuk? Atau ngambek?" Dia kirim pesan teks pada istrinya. Ada harapan untuk cepat di balas.
Satu jam, dua jam, tiga jam, Alula tak juga membalasnya. Kembali Raden menelepon hingga berkali-kali dan hanya berakhir tulalit.
Ada panas yang melewati dadanya, mungkin Alula marah atau bosan mengerti dirinya. Sulit membuat Alula mengerti karena usianya yang masih belia.
Tidak ada Bastian, tidak ada pula seseorang yang menasehati nya di saat-saat seperti ini. Raden bimbang.
...----------------...
Pukul dua pagi Alula dan Kaesang terjaga, keduanya menatap ke arah jendela besar yang menampilkan derasnya hujan.
Semakin bertambah Minggu, semakin Kaesang menurut. Tidak lagi sering menangis, asal melek bersama dengan ibunya, Kaesang diam.
Rindu berat yang Alula rasakan, tapi malas jika harus mengobrol dengan Raden yang hanya bertanya sudah makan? Sudah mandi? Dan seterusnya.
__ADS_1
Alula hanya semakin bertambah rindu, Alula memilih untuk tidak membuka ponselnya.
Seharian ini Alula menyibukkan diri dengan kegiatan belajar dan mengemong Kaesang.
Sampai rumah Alula juga ikut merawat Karlina yang sepertinya serius sekali penyakitnya. Entah apa, dokter sedang dalam proses pemeriksaan laboratorium.
Alula menyayangi mertuanya. Melihat Karlina tidak baik-baik saja membuatnya gundah. Ada kekhawatiran yang tergantung.
Sudah pernah Alula menjadi kompor untuk membakar pertalian Lisya dan Abi, berharap Karlina kembali tapi sampai sekarang kedua mertuanya masih selalu berjauhan.
"Lul." Terdengar suara langkah kaki mungil di iringi seruan Ayu. Gadis itu tersenyum saat Alula menoleh. "Belum tidur? Kaes juga?"
"Emmh." Angguk Alula.
"Telepon dari Mas." Ayu menyodorkan ponselnya pada Alula. Sengaja Alula tidak membuka panggilan atau pesan dari Raden, tapi Ayu malah menyampaikan telepon Mas nya.
"Terima kasih." Alula menerima.
"Aku tinggal yah." Ayu pergi setelah meninggalkan ponselnya untuk Alula.
Alula meletakkan Kaesang pada ranjang empuknya. Kemudian menempatkan gawai tipis Ayu pada telinga. "Iya." Sapa nya lirih.
📞 "Bosan meladeni ku?" Suara yang terdengar kesal keluar dari ponsel Ayu.
"Kenapa bertanya begitu?" Bibir Alula bergetar seperti ingin menangis.
📞 "Kenapa tidak, ..."
"Aku malas berantem makanya mendingan nggak usah telepon!" Alula menutupnya sepihak.
Masa belasan tahun harus menikah dan menjadi seorang ibu tentu tidak mudah bagi Alula.
Inginnya memutar kembali waktu, tapi jika melihat senyum Kaesang Alula bersyukur memiliki putra setampan suaminya.
Klik.... Satu pesan di terima.
📥 "Maaf sayang, aku hanya khawatir."
Alula merengut, dia menyusul Kaesang berbaring di atas ranjang lalu menarik selimut tebalnya.
Ada godaan dan cobaan pernikahan, dan semoga tidak berlarut-larut, itu masih menjadi harapan utama Alula.
...----------------...
...Mau tanya dong mentemen, kalo leher sakit di apain, jangan bilang di pangkong yah, kejamnya dirimu. Akhir akhir ini. Aku jadi kurang fokus nulis gara-gara leher sakit sampai ke lengan. Hiks.....
__ADS_1