My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
B u k t i


__ADS_3

Tangisan bayi laki-laki terdengar memekakkan telinga, bukanya bising, semua orang justru tersenyum gembira.


Suasana gegap gempita mengiringi setiap tarikan suara sang putra mahkota. Karlina menggendong tubuh mungil bayi yang baru saja lahir. Eyang pun duduk di sisinya.


Setelah hampir satu jam berkalut ria, Raden mampu mengembangkan senyum manis saat semungil ketampanan tampak di retinanya.


Kaesang Narendra Wardhana adalah nama yang Raden pilih untuk menyertai setiap denyutan nadi putra nya.


Ada sesuatu yang tidak bisa dokter diagnosa sekarang ini, tadi pada saat baru lahir Kaesang tidak langsung menangis.


Saat ini dokter masih berpikir positif, tapi Kaesang masih dalam tahap pengawasan. Benturan keras yang terjadi lebih membuat dokter sedikit overthinking.


Apa pun akan dokter lakukan karena Raden selalu ingin yang terbaik untuk putra pertama dari istri tercintanya.


Alula sendiri sudah di pindahkan ke ruangan VVIP miliknya, kamar paling mahal di rumah sakit ini akan menjadi tempat pemulihan selama kurang lebih satu Minggu.


Beberapa jam setelah operasi, Alula memang perlu tetap berbaring dan beristirahat di tempat tidur. Hal ini penting dilakukan agar tenaga Alula pulih, sekaligus menunggu efek obat bius berkurang.


Namun, sekitar 12-24 jam setelah operasi atau saat sudah dirasa kuat, Alula sudah dapat bangun dari tempat tidur atau berjalan di sekitar ruangan rawat inap.


Aryan tersenyum mengusap lembut puncak kepala adik kesayangannya. Tak di sangka, gadis kecil yang dia ikuti pertumbuhannya sudah menjadi seorang ibu.


Gadis cengeng itu sudah bertransformasi menjadi wanita yang di paksa harus dewasa.


"Adik Abang sudah jadi wanita hebat." Puji Aryan.


"Kau sekarang seorang Ibu dan aku Om nya." Nakula mencubit pipi mulus saudaranya yang menangis bahagia.


"Aku Tante nya dong." Sambar Ayu, gadis manis itu baru saja tiba. Tangannya memeluk Alula tapi matanya melirik pada Nakula yang juga menatapnya kaku.


Jangan kaget, di antara mereka memang sering ada kontak mata, karena kebetulan mereka satu jurusan yaitu ekonomi.


Nakula ingin menjadi pria kantoran seperti laki-laki pada umumnya dan Ayu harus ikut mengambil bagian di kantor ayahnya yang di pimpin oleh Abang nya.


Wajah rupawan mereka menjadi alasan untuk keduanya betah saling melempar tatapan meski tanpa senyum sapaan. Nakula dingin bila dengan orang lain. Ayu menyengir pun tidak dia hiraukan.


Sementara Karlina masih bersama Eyang membacakan doa-doa teruntuk Kaesang di ruangan khusus. Raden baru saja tiba di ruangan VVIP milik istrinya, ia mengambil alih kursi Ayu untuk duduk berdekatan dengan Alula.


"Sayang, kamu minggir gih, sudah mau pagi, mendingan kamu sama Nakula pulang, besok bukan nya kalian kuliah?" Raden menatap Ayu dan Nakula bergantian.


"Iya, Ayu ada kuliah pagi." Sahut Ayu dan Nakula hanya diam saja. Tapi mereka satu dosen, jadi sudah pasti Nakula pun ada kuliah pagi.


"Kalo gitu, kalian pulang saja, biar Lula sama Mas." Titah Raden yang di setujui oleh Aryan.


Nakula mengecup kening Alula. "Aku pulang, kamu baik-baik di sini." Ujarnya yang di jawab dengan anggukan kepala Alula. Dia pergi setelah berpamitan dengan Aryan dan Raden.

__ADS_1


Ayu ikut berpamitan lalu mengejar Nakula yang sudah lebih dulu keluar. "Nula,"


"Yah." Nakula menoleh tanpa berhenti langkah. "Kenapa?" Tanyanya.


"Boleh aku ikut naik motor kamu?" Ayu menyengir sambil memiringkan kepalanya memandangi Nakula yang acuh.


"Apa tidak apa-apa?"


"Maksudnya?"


"Kamu naik motor, apa tidak masuk angin?"


Ayu meringis kecil mendengar pertanyaan dari Nakula. "Aku belum pernah naik motor, tapi aku penasaran bagaimana rasanya naik motor." Katanya jujur.


"Lebih baik jangan." Nakula melebarkan senyum dan tolehan sekilas lalu mempercepat laju langkahnya.


Sementara Ayu terdiam mencebik kan bibir sambil menghentikan langkah, membiarkan Nakula pergi begitu saja mendahuluinya.


Dia tahu, Nakula sengaja menghindar karena dirinya terlalu sok akrab. Mungkin Nakula ilfil pada gadis bar-bar sepertinya.


Bersamaan dengan itu, Bastian memasuki ruangan Alula dengan guratan kepanikan.


"Apa aku tertinggal berita?"


"Maaf Bos."


Raden berdiri kemudian melangkah keluar dari ruangan. "Ikut aku, ada yang mau aku bicarakan!" Ujarnya.


Bastian tetap mengangguk meskipun ada hal yang aneh pada sang Tuan. "Ok." Lirihnya.


...----------------...


Di sudut tempat Abimanyu tengah mengatur orang-orangnya untuk mengadakan acara syukuran kelahiran cucu pertama.


Abimanyu antusias, semua acara harus sesuai dengan keinginan dan tradisi keluarga konglomerat itu. Raden hanya tinggal terima beres saja.


Klik...


Pesan teks yang Abimanyu terima dari salah satu antek-anteknya. Segera ia membuka karena sedari tadi perasaan tidak cukup baik tentang putra keduanya.


📥 "Sudah dari jam sembilan Tuan muda Arga berada di klab PrimeBB bersama teman-temannya, tapi sekarang Tuan muda berada di hotel PrimeBB yang tidak jauh dari bar."


Membaca itu, seketika rahang Abimanyu mengeras, tangannya mengepal erat, perasaan tidak cukup enak, awas saja kalau sampai pagi nanti Arga pulang, sebuah tamparan menyambut pipi mulusnya.


Sudah berani Arga minum bahkan mungkin bermain wanita dan membawanya ke hotel.

__ADS_1


Seumur Abimanyu mendidik Raden, tidak pernah memiliki kekhawatiran tinggi seperti saat dirinya mengurus Arga yang urakan.


Sekolah di Amerika sana bukanya menjadi sarjana yang pintar, tapi malah lebih tidak tahu adab.


...----------------...


Di lain bangunan. Arga telah memasuki koridor suite room hotel bintang lima, ke sana lah Lisya pergi bersama Boy.


Jadi rupanya, setelah melakukan lelang dengan teman arisan, Lisya memilih Boy untuk bermalam.


Saat ini Arga bisa mendengar percakapan Lisya dan Boy karena sengaja di perdengarkan oleh Boy.


Sebelumnya Arga meminta Boy tidak mematikan panggilan saat bersama Lisya. Pertanyaan yang Boy lontarkan pun sesuai dengan keinginan Arga.


Di sela langkah Arga mendengar suara dari earphone di telinganya. 📞 "Kenapa Tante cantik dan seksi harus kesepian? Apa suami Tante tidak memperhatikan?" Suara Boy yang terdengar.


📞 "Begitulah, mungkin dia bosan padaku." Lisya menjawab.


📞 "Tidak mungkin, karena Tante sangat cantik."


📞 "Kamu bisa saja."


Ada tawa cekikikan yang terdengar dari seberang sana. Sepertinya mereka tengah cubit-cubitan karena Boy sedikit mengeluarkan desah.


📞 "Sudah berapa lama Tante main dengan pemuda seperti ku?"


Arga mendengar seksama dan cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya suara Lisya kembali terdengar.


📞 "Pernah Tante punya kekasih seumuran kamu ini, tapi sudah sangat lama karena sekarang dia sudah menikah dengan tunangannya, cinta kami tidak bisa bersatu karena Tante sudah punya suami, tapi akhir-akhir ini, suami Tante acuh, mungkin sudah terlalu bosan sama Tante." Ucap Lisya mengaku.


📞 "Sayang sekali, padahal Tante sangat seksi." Sambung Boy berdecak heran.


📞 "Benarkah? Apa aku tidak terlihat tua?"


📞 "Tante masih sangat muda."


📞 "Terima kasih." Keduanya memperdengarkan suara tawa renyah kembali.


Arga menghentikan langkah, di rasa cukup sudah Arga mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan ibu tirinya.


Dia mematikan panggilan dan berdiri mengutak-atik ponselnya, ia harus mengirim pesan teks pada temannya.


📤 "Sekarang terserah Lo mau di apain tu cewek, Gue pulang. Makasih dah mau bantu Gue, Boy."


📥 "Eokehh sama-sama Kisanak."

__ADS_1


__ADS_2