My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Last episode_two


__ADS_3

Seperti biasa, Raden, Alula dan Kaesang mendatangi rumah sakit elit langganan keluarga besar mereka.


Dokter-dokter spesialis di rumah sakit ini hampir semuanya pernah bertemu dengan putra pewaris tahta Abimanyu yang satu ini.


Keturunan laki-laki pertama dari anak laki-laki pertama biasanya di sebut putra mahkota. Setidaknya itu menurut aturan keluarga Abimanyu.


Dalam ruangan khusus. Dokter masih menjajal terapi dengan segala cara pada Kaesang tak lupa pula pertanyaan yang setiap pertemuan mereka ajukan yaitu, apakah Tuan muda sudah bisa merasakan sesuatu? Dan selalu Kaesang jawab dengan gelengan kepala polos.


Alula mendengus pelan, sendu pilu raut wajahnya mengetahui putra tampannya memiliki kekurangan dan tidak kunjung usai, padahal jika di lihat dari kondisi tubuh Kaesang, anak itu terlihat baik-baik saja.


Hampir tiga tahun setengah usia Kaesang, indera perasa nya masih belum juga berfungsi dengan normal.


Lidah Kaesang hanya mampu merasa dingin dan panas saja, tapi untuk pengecapan rasa asam, asin manis dan lainnya belum jua bisa.


Kendati banyak kekurangan, Kaesang tumbuh dengan baik. Dia masih mau makan tiga kali sehari juga camilan ringan dan buah-buahan yang Alula sodorkan.


Alula dan Raden masih berbincang serius dengan beberapa dokter. Kaesang yang jenuh, dia merosot turun dari sofa lalu melangkah keluar tanpa berpamitan.


Bosan rasanya menjadi pasien, padahal dirinya merasa baik-baik saja meskipun tidak bisa mengecap rasa.


Di lihat dari wataknya, bocah tampan itu mirip dengan kakeknya yang dingin dan tidak banyak bicara.


Kaesang bersuara saat di tanya saja dan jika tidak, bocah kecil itu lebih menyukai diam.


Tiba di luar Kaesang menatap dua bodyguard yang sudah pasti milik ayahnya. Kedua pria kekar itu asyik mengobrol sendiri sampai tidak sadar ada Tuan muda mereka lolos dari pengawasan.


Kaesang berjalan menuju sembarang arah, dia suka kebebasan seperti ini, tanpa pengasuh, tanpa pengawas, tanpa ada yang melarangnya untuk melakukan sesuatu.


Lorong demi lorong Kaesang lalui dengan senyum manis kegembiraan. Rasanya bebas, seperti burung yang terlepas dari sangkar emas.


"Hiks hiks."


Suara yang terdengar membuat Kaesang menoleh pada satu gadis cantik yang duduk di atas bangku ruang tunggu sambil memeluk satu kotak makan transparan tiga susun.


Di lihat dari tingginya, gadis itu berusia sekitar tujuh tahunan, berambut lurus dan panjang, kulit putih bersih. Mengenakan pakaian serba pendek gadis itu terisak sesenggukan.


Kaesang menoleh ke kanan dan kiri mengamati situasi, sepertinya anak gadis itu sendirian tanpa ayah dan ibunya seperti dirinya saat ini.


Mungkin itu yang membuat gadis kecil itu menangis. Kaesang mendekat lalu berdiri tepat di depan lutut gadis cantik itu.


"Apa kau menangis?" Tanyanya.


Mata berlinang air gadis itu menatap seksama wajah tampan Kaesang.


"Memangnya aku terlihat seperti sedang tertawa?" Ketusnya.


Kaesang menghela napas, mungkin setiap perempuan sama yaitu sejenis dengan ibunya yang selalu berteriak dan ketus. Tapi biasanya, mereka rapuh saat sudah berada di posisi tersulit.

__ADS_1


"Tidak." Geleng Kaesang dingin. Melihat gadis asing itu terus menangis Kaesang pun duduk di sisinya. Dengan melompat Kaesang duduk pada kursi yang tinggi, terlihat kesulitan tapi pada akhirnya bisa juga.


Meski tidak saling mengenal. Setidaknya, ada seseorang yang menemani dan tidak membuat gadis itu merasa kesepian.


"Untuk apa kau duduk di sini anak kecil?" Gadis itu membentak tiba-tiba.


"Kaes mau menemani kakak, di sini."


"Aku tidak perlu di temani."


"Why?"


"Aku lebih suka sendiri."


"Kalo begitu kita sama, sekarang biarkan Kaes duduk di sini, ini tempat umum bukan?"


"Ya terserah saja!" Gadis itu mendengus. Tidak mungkin dia mengusir, lagi pula takut juga kalau nanti ayah dan ibu anak ini mencarinya.


"Kenapa kakak menangis?"


"Tidak perlu tahu." Ketus gadis itu.


Kaesang melebarkan bibir hingga membentuk garis lurus, alisnya pun naik sebelah sangat menggemaskan. "Kaes penasaran saja, kenapa orang menangis."


"Memangnya kamu tidak pernah menangis?" Gadis itu menoleh pada Kaesang.


"Luar biasa!"


"Lalu, menurut kakak, apa alasan orang menangis?" Tanya Kaesang menyela.


"Mereka punya masalah sendiri-sendiri. Mereka punya alasan tersendiri untuk mengeluarkan air matanya. Apa kamu serius tidak pernah menangis?" Kerutan di kening gadis itu tertampil.


"Seingat ku tidak! Aku tidak punya alasan untuk menangis, Mammi Papi sangat menyayangi ku, semua yang aku minta juga selalu mereka turuti. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengeluarkan air mata kesedihan." Jelas Kaesang.


Kaesang memang terbilang mengejutkan, terkadang mengalami demensia tapi ada beberapa hal yang tidak pernah bisa dia lupakan.


"Memangnya kamu tidak pernah terjatuh sampai berdarah dan menangis?"


"Aku punya banyak pengawal, punya banyak pengasuh, mereka semua tidak pernah membiarkan aku sendiri apa lagi terjatuh."


"Aneh!"


"Aku bosan dengan kehidupan ku."


"Kau bahkan masih terlalu kecil untuk merasa bosan dengan kehidupan mu! Bagaimana dengan ku yang sudah enam tahun?"


"Mammi bilang. Sebosan apa pun dengan kehidupan ini, tetap tersenyum supaya awet muda." Kaesang menyengir hingga menampilkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


"Kalo begitu aku tidak mau tersenyum. Aku bosan kalo harus awet anak-anak!"


"Hihi." Kaesang menutup mulutnya dengan cekikikan lucu.


"Tapi kamu lumayan menghibur ku." Gadis itu membuka dengan sedikit kesulitan kotak makan transparan tiga susun miliknya satu persatu.


Beberapa jenis bekal makan siang tertata rapi di dalamnya. Ada gimbap, potongan buah mangga, dan juga ayam geprek pedas.


"Sebagai gantinya, aku kasih kamu bekal makan siang ku." Gadis itu menyodorkan satu gimbap pada Kaesang yang lalu menerima.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Gadis itu menyengir, rupanya Kaesang yang dingin mampu membuatnya terhibur.


"Makan lah."


Kaesang mengangguk, perlahan ia memagut gimbab pemberian gadis itu. Betapa matanya membulat sempurna saat merasakan hal yang berbeda dari makanan-makanan yang dia konsumsi sebelumnya.


Rasa yang asing dan tidak pernah sekalipun ia kenal sebelumnya. "Rasa apa ini?" Tanyanya dengan wajah serius.


Gadis itu mengernyit. "Serius tidak tahu?" Tanya baliknya.


Kaesang mengangguk. "Kaes tidak pernah bisa tahu rasa dari makanan yang Kaes makan. Itu lah kenapa aku di sini."


"Itu perpaduan antara rasa nasi yang di bungkus dengan rumput laut, ada sosis, timun, telur, wortel, brokoli di dalamnya sebagai isian, maka nya rasanya gimbap itu lebih dominan manis gurih." Jelas gadis itu.


"Gurih dari nasi, sosis dan telur dan manis dari beberapa sayurannya." Tambahnya lagi.


"Oh." Kaesang manggut-manggut.


"Yang ini pasti kau tahu kan rasanya?" Gadis itu meraih satu gimbap yang dia cocol dengan saos sambal kemudian menyuapkan nya pada mulut Kaesang.


"Ah, ini Kaes tidak suka, ini terlalu panas di lidah ku!" Kaesang berteriak sambil menolak.


Gadis itu tertawa geli. "Ini pedas namanya."


"Oya?" Kaesang mengibaskan tangannya mengipasi bibirnya sendiri. "Apa kakak mau meracuni ku?" Tukasnya.


Gadis itu menggeleng. "Baiklah, aku minta maaf, sekarang kamu minum ini." Gadis itu membuka botol minum yang berisi teh manis kemasan.


Kaesang tak pernah meminum minuman kemasan. Tapi, rasa pedas yang dia rasakan membuatnya ingin menelan air pemberian gadis itu.


"Ah, ..." Desah Kaesang lega setelah meneguk teh kemasan pemberian gadis itu "Ini Kaes suka! Apa nama rasanya?"


"Manis."


"Uaahhh, Kaes menyukainya. Ini rasanya seperti senyum kakak." Banyol Kaesang dan keduanya tergelak renyah bersamaan.

__ADS_1



__ADS_2