
Menyadari Kaesang tidak di sisinya, Alula dan Raden gusar, ia keluar dari ruangan konsultasi milik dokter.
Bukanya mendapati putranya bersama dengan pengawal. Mereka justru terlihat santai tanpa siapa-siapa.
Raden berteriak bahkan menampar kedua pengawal putranya. Tak pernah mereka selalai ini, dan tidak akan pernah di biarkan untuk lalai.
"Gob Lok! Apa saja kerja kalian? Cari putra ku sampai ketemu!"
Titah Raden mengudara, semua orang pun berpencar, tidak hanya anak buahnya bahkan pihak rumah sakit pun ikut mencari.
Alula tak mau diam, meski lemas tubuhnya dia tetap berlari ke sembarang arah untuk mencari putra tampannya. Takkan pernah bisa tenang jika sang buah hati terlepas dari genggaman.
Tak ada yang boleh mengambil Kaesang darinya. Ia rela kehilangan apa saja asal tidak putranya.
Suara cekikikan terdengar gaduh, di sela celingukan Alula menangkap kedua bocah yang rupawan tengah asyik tertawa bahkan terlihat sangat akrab.
Alula mengernyit mendapati itu. Kaesang tidak pernah dekat dengan siapa pun selain pengasuh dan pengawal, lalu sekarang bersandingan dengan seorang teman.
"Kaes, Sayang." Alula berlari merengkuh putranya posesif, air mata yang berjatuhan berlinang di pipi.
"Mamm." Kaesang seolah protes dengan sikap berlebihan ibunya, padahal ibu mana yang tidak khawatir jika putra semata cintanya hampir saja hilang.
Kaesang bahkan mampu merasakan debaran jantung yang cemas karena dirinya.
Alula melerai pelukan sementara netra polos Kaesang menatap ke arah gadis cantik yang baru saja berlari pada pria tinggi kekar. Sepertinya pria itu ayah dari gadis yang membuatnya memiliki indera perasa.
"Kamu kenapa tidak bilang-bilang mau main?" Alula menyibak anak rambut Kaesang lalu menciumi seluruh wajahnya penuh sesal.
Kaesang merengut. "Memangnya kalo Kaes bilang, Mammi ngizinin?"
"Setidaknya jangan sendiri Sayang." Sanggah Alula.
"Maaf membuat Mammi khawatir." Sambung Kaesang lirih.
"Sekarang pulang?" Alula lantas menggendong putranya sebelum kemudian ia melangkah menuju suaminya yang terlihat mengembuskan napas lega saat melihat putranya aman.
Kaesang mengalungkan tangan pada tengkuk ibunya sementara matanya menatap sosok cantik yang belum dia kenal siapa namanya.
Terlihat, gadis itu berada di lorong yang sama hanya saja berlawanan arah tujuannya. Dalan gendongan orang tuanya masing-masing, kedua netra mereka saling bertemu.
"Bye." Kaesang memberi lambaian tangan dan di balas tersenyum oleh gadis itu.
Perlahan tapi pasti, sosok cantik itu berlalu dari retinanya. Kaesang membuka telapak tangan miliknya dan sejuntai kalung dengan bandul berbentuk kotak segi panjang hitam dia pandangi.
Kalung biasa ini pemberian gadis itu, tak penting seberapa biasanya kalung ini, Kaesang bahkan rela menukarnya dengan jam saku mahal miliknya.
Saat ini Kaesang tidak mengerti apa pun, tapi kalung itu menarik baginya. Ia berencana akan menyimpannya baik-baik di dalam kotak mainan miliknya.
"Syukurlah Sayang." Raden meraih putranya dari gendongan istrinya dia kecup seluruh wajah Kaesang cemas. "Jangan pernah pergi tanpa pengawal, mengerti!" Kaesang hanya tersenyum kecil seperti biasanya.
__ADS_1
Mereka pun pulang dengan mobil dan Kaesang masih saja mengingat gadis cantik itu.
Padahal, sering kali dia melupakan siapa saja yang dia temui jika sudah lewat dari satu jam. Entah kenapa, gadis asing itu terus terngiang dalam pikirannya.
...----------------...
Sampai rumah, Kaesang lari ke dapur, ia membuka satu persatu lemari es miliknya. Ada minuman kemasan yang sama persis seperti yang beberapa saat lalu dia minum.
Kaesang tersenyum manis. Dia menoleh pada pengasuhnya di belakang. "Mbak, ambil kan minuman teh itu." Pintanya menunjuk.
"Loh, itu minuman bukan untuk Tuan muda, minuman itu terlalu banyak pengawet nya, orang dewasa yang boleh, itu pun tidak di anjurkan loh."
Sebisa mungkin Mbak tidak membiarkan Kaesang meminum minuman kemasan.
"Aku tidak peduli, sekarang ambilkan!" Berang Kaesang. Dia terus memaksa bahkan memukuli Mbak pengasuhnya.
"Kenapa Mbak?" Alula bertanya seraya mendekat.
"Tuan muda mau minum teh manis Nyonya."
Alula menatap Kaesang yang cukup menunjukkan keinginannya. "Kaes mau banget?" Tanyanya.
"Tentu saja."
"Baiklah, tapi satu kali ini saja yah."
Alula mengambil dan memberikan teh botol kemasan pada putranya setelah membuka tutup segelnya.
"Terima kasih Mammi." Kaesang menyengir lalu meneguk minumannya dan kerutan di kening tertampil seketika.
"Kenapa rasanya tidak manis?" Kaesang mengamati sekali lagi botol tersebut. Di lihat dari sudut manapun, ini kemasan yang sama tapi kenapa rasanya berbeda.
"Hah?" Alula terhenyak mendengar ucapan Kaesang. "Kaes tahu kalo rasa teh itu manis?"
Kaesang bungkam sambil menggeleng dengan pertanyaan yang bertengger di otaknya.
Apa hanya sekali dalam seumur hidup dia bisa merasakan manisnya teh kemasan?
Entah lah, Kaesang masih terlalu dini untuk menangkap arti dari keadaan ini.
...----------------...
Di tempat lain, Abi dan Karlina sudah berada di dalam ruangan VVIP restoran mewah berjenis Fine dining. Area romantis sengaja Arga pesan agar supaya ibu dan ayahnya kembali bersama, bernostalgia.
Karlina tersenyum menatap wajah tampan suaminya, Minggu lalu Arga memberitahu dirinya, tentang donor hati yang Abimanyu berikan padanya.
Ini lah sebab kenapa semudah itu Karlina setuju untuk menuruti keinginan putra putrinya.
Selain dari pada rindu, Karlina juga ingin mengucapkan terima kasih yang tidak akan pernah bisa menutupi jasa Abimanyu untuk hidup nya.
__ADS_1
"Arga dan Ayu sengaja meninggalkan kita di sini berdua?" Abimanyu tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk.
Suasana canggung ini sama seperti saat keduanya baru pertama kali makan malam bersama.
"Tidak apa, lagi pula ada yang mau aku sampaikan Mas." Ujar Karlina.
"Apa?"
Karlina meraih tangan Abimanyu yang tersenyum menatapnya lekat. "Terima kasih atas donor hati mu."
"Kamu tahu?" Abimanyu terlonjak kaget. Ini masih ingin dia rahasiakan.
"Arga yang memberi tahu."
Abi menggeleng. "Tidak perlu berterima kasih, Mas senang kamu bisa kembali sehat meskipun tidak semaksimal sebelumnya." Kata itu di jawab dengan senyum Karlina.
"Lin." Setelah cukup lama terdiam, kembali Karlina mendengar panggilan suaminya.
"Iya."
"Sudah sejauh ini kita saling memberi jarak. Aku merindu dan benar-benar merindukan mu. Apa kita masih bisa bersama seperti dulu lagi?"
Karlina tersenyum. "Mungkin bisa, meski tidak akan merubah apa pun."
"Maksud mu?" Seketika wajah datar Abimanyu terpukul pertanyaan.
"Perasaan yang telah lama mati, akan sulit hidup kembali. Aku takut bersama nya kita, justru mengungkit kembali luka masa lalu kita. Lebih baik seperti ini, kita berjauhan tanpa saling menyakiti lagi Mas." Lirih Karlina menjelaskan.
"Apa menurutmu, aku tidak pantas di maafkan?" Sambung Abi.
"Memaafkan mudah Mas, tapi melupakan pengkhianatan tidak sama sekali. Ingin ku bersama kembali karena jujur aku masih sangat mencintai mu. Tapi melihat wajah Mas yang tersenyum seperti beberapa saat yang lalu, aku terus mengingat saat-saat Mas menduakan ku dan memberikan senyuman itu untuk madu ku, memori kesakitan yang selama tiga tahun ini terlupakan kini berputar kembali seolah rentetan peristiwa itu sengaja di abadikan dalam album kenangan otakku."
Karlina menggenggam tangan suaminya penuh tekanan. "Aku tidak bisa menerima rujuk mu. Jika Mas menuntut hati yang Mas donor kan padaku pun, aku rela mengembalikan nya sekarang juga asal kita tetap seperti sekarang ini, berpisah ranjang dan atap." Ujarnya.
Abimanyu terenyuh. Ada yang mengintip jernih di sudut-sudut netra nya. Di tolak cinta oleh istri pertama, rasanya seperti terjatuh dari ketinggian 6000 meter.
"Satu kali saja kesempatan kita bersama. Apa tidak cukup tiga tahun kamu mengacuhkan aku?" Rengek lelaki itu menghiba.
"Delapan tahun Mas menduakan aku, aku memendam, membendung kekecewaan, dan mungkin sekarang sudah tidak ada lagi kemunafikan ku yang tersisa. Aku sudah benar-benar tidak lagi menginginkan kebersamaan kita." Kata Karlina.
"Bersama anak dan cucu, sudah cukup bagiku, aku harap Mas mengerti. Kalau Mas mau menikah lagi pun, aku sudah ikhlas."
Abimanyu menggeleng. "Ini baru tiga tahun kan? Lima tahun atau bahkan sepuluh tahun lagi pun akan aku tunggu sampai kamu mau kembali ke rumah utama kita." Lirihnya pilu.
Di sudut tempat, ada Arga dan Ayu yang mengamati setiap lafaz dari bibir orang tuanya.
Rupanya masih ada keangkuhan yang terukir di balik kediaman Karlina. Lama dia menunggu Lisya pergi dan di cerai. Setelah menjadi nyata ia tak ingin kembali pada suaminya. Bukan karena dendam.
Hanya saja, perbuatan Abimanyu terlalu picik bagi Karlina. Bagaimana tidak? Setelah bosan bahkan tidak lagi mendapat kenyamanan dari Lisya, barulah Abimanyu kembali padanya. Itu tidak adil menurutnya.
__ADS_1