My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
B e k u


__ADS_3

"Cuti?" Raden mengerut kening menatap wajah tampan asisten personalnya. "Mau ke mana memangnya?"


Siang begini Bastian memberi kabar tidak sedap, Raden merasa Bastian sudah tidak lagi jujur padanya, ada banyak hal yang terkesan di tutup tutupi.


Sengaja malam tadi Raden mengintrogasi, berharap Bastian mengatakan kejujuran tapi hasilnya hanya berkilah seperti yang sudah-sudah.


"Ada perlu ke luar negeri. Aku harus mengantar seseorang ke sana." Bastian menundukkan wajahnya. Tidak nyaman juga mengutarakan maksud yang terkesan mendadak.


"Kamu tahu kan, Kaes baru saja lahir, aku membutuhkan mu untuk ini dan itu. Lalu tiba-tiba saja kau mengajukan cuti?"


"Maaf Bos, tapi ini darurat." Sanggah Bastian.


Cukup lama Raden terdiam, menatap Bastian yang hanya berani menunduk. "Aku perlu kejujuran mu Bas."


"Maksudnya?" Seketika lelaki itu mendongak menatap sang Tuan yang curiga. "Maksud Bos apa?"


"Siapa wanita yang bersama mu akhir-akhir ini?" Cecar Raden.


Bastian menggeleng. "Bukan siapa-siapa, kenapa Bos tidak selesai-selesai menanyakan hal itu? Bukannya aku sudah sering bersama wanita?"


"Kau pikir aku percaya?"


"Lalu?"


Raden mendekat dan menepuk pelan pundak lelaki tampan itu. "Emelly sudah bukan siapa-siapa ku Bas, dan kau boleh menikahinya sekarang."


"Bos." Bastian terkesiap. Dari mana Raden tahu mengenai ini? Sebelumnya dia tidak pernah membuat jejak saat menemui Emelly.


"Jangan tanya dari mana aku tahu, kamu lupa, aku punya banyak CCTV." Tambah Raden lagi.


"Sejak kapan bos mengawasi ku?"


"Sejak aku melihat gelang kaki mu."


Bastian kembali menundukkan wajahnya segan. "Maaf." Lirihnya merasa bersalah.


"Beberapa hari ini aku menunggu kejujuran mu, tapi kau masih terlalu takut padaku, kenapa kedekatan kita hanya kamu anggap asisten dan bos saja? Padahal aku sudah menganggap mu bagian dari keluarga ku."


"Aku hanya tidak enak padamu Bos, tapi sumpah, jauh sebelum Bos menjadi kekasihnya, aku sudah pernah bersamanya. Gelang kaki yang kau curigai itu, saksi bisu perasaan ku padanya." Lirih Bastian mengaku.


"Bodoh, kenapa kau diam saja?" Sambil terkekeh Raden menoyor kepala Bastian.


"Mungkin nasib seorang asisten hanya akan berakhir seperti ini." Sambung Bastian.


"Siapa pun berhak atas cinta. Kalau memang mau memperjuangkan, perjuangkan cinta mu. Jangan pikirkan apa pun lagi. Aku justru senang, akhirnya kamu bisa berlabuh pada satu wanita, terlepas dari siapa pun wanita itu, asal jangan keluarga ku, aku ikhlas. Ayu, Ibu, Eyang apa lagi istri ku, mereka haram kau dekati, paham"

__ADS_1


"Sial!" Bastian memeluk sang Tuan dengan tawa kecil.


"Jadi kapan kau melamarnya?"


"Secepatnya."


"Bagus."


...----------------...


Di lain bangunan, Lisya masih bersama pemuda perkasanya, mereka baru saja akan check out dari hotel setelah pertempuran ranjang panas.


Boy menggandeng Tante nya menuju meja resepsionis. Seperti biasa, Boy berdiri acuh karena setiap check out wanitanya lah yang membayar sewa kamar.


Hotel itu sangat jauh dari kota suami Lisya, maka wanita itu pikir tidak perlu khawatir untuk keamanan privasi, cukup dengan menutup wajahnya dengan masker urusan kelar dan takkan ada yang mengenalinya lagi.


Lisya membuka tas bahu bermerek LV miliknya. Dia meraih dompet coklat dengan merek yang sama, satu kartu kredit eksklusif fasilitas dari suaminya dia tarik lalu menyodorkan pada sang resepsionis.


"Bayar dengan ini yah." Ujarnya tersenyum meskipun wajahnya tenggelam di balik masker hitam.


"Baiklah, silahkan menunggu." Wanita resepsionis itu tersenyum manis seperti biasanya.


Pakaian ketat ala karyawan hotel ini berwarna merah marun dengan hiasan pita di lehernya seperti pramugari.


Kamar yang Lisya pesan kamar paling mewah, maka harganya pun relatif lebih mahal dari pada umumnya.


Biasanya dia hanya bertemu dengan Tante yang punya banyak uang tapi tidak bisa merawat diri. Bisa saja setelah ini Boy tak mau melepas Lisya.


Sebab. Jika memang menguntungkan dan sangat mengEnakan. Dua fasilitas yang Boy idam-idamkan dari seorang perempuan takkan pernah dia lepas dari genggaman.


"Jadi kemana kita setelah ini Tan?" Tanyanya.


"Pulang saja, ada yang harus Tante urus di rumah Ibu. Nanti malam, Tante hubungi kembali nomor mu, sekarang kita sepasang kekasih bukan?" Sambung Lisya.


"Tentu saja, Boy menyayangi Tante." Belaian lembut Boy berikan pada surai wanita itu.


"Terima kasih untuk semalam. Kamu hebat." Puji Lisya.


Boy berdiri sangat dekat. "Memangnya suami Tante tidak seperti ku?" Tanyanya menyengir.


Lisya terdiam pilu, jika mengingat kembali tentang suaminya yang berubah entah kenapa. "Dulu kehangatan Mas Abi lebih dari mu, tapi sekarang, dia sangat dingin padaku." Batinnya.


"Tante kenapa?" Boy menjentikkan jari pada wajah cantik Lisya yang terjaga dari lamunan.


"Suamiku, sudah lama tidak menyentuh ku, jadi lupa bagaimana rasanya." Kata Lisya.

__ADS_1


Boy menggeleng. "Astaga, kasihan sekali Tante ini. Kenapa ada laki-laki yang mengacuhkan wanita secantik dirimu."


"Karena tidak semua orang pintar seperti mu Boy." Lisya tergelak renyah sebelum kemudian suara resepsionis mengalihkan perhatian.


"Maaf Nyonya, kartu kredit anda tidak bisa di gunakan." Lisya membuka mata sedikit lebar mendengar keluhan wanita itu.


"Kok bisa?"


"Iya, ini sudah beku." Kedua tangan wanita itu menyatu memberikan pengertian.


Lisya menggeleng. "Tidak mungkin Mbak, tapi, coba pakai yang ini." Lisya menggantinya dengan kartu lain, lainnya lagi dan lainnya kemudian.


Sang resepsionis berusaha sabar mencoba satu persatu kartu kredit yang Lisya miliki, dan kenyataannya tidak ada yang berlaku.


"Maaf Nyonya, yang ini juga tidak bisa." Geleng wanita itu.


"Berapa memangnya?"


"Tujuh puluh lima juta."


"Ya sudah, pakai ATM ini saja." Pada akhirnya Lisya mengalah untuk mengeluarkan ATM pribadinya.


ATM yang dia miliki sebelum menikah dengan Abimanyu. Di sana terdapat banyak tabungan saat dia masih menjadi kekasih Abimanyu.


Hasil dari gaji dan uang jajannya dahulu saat masih menjadi pegawai kesayangan suaminya.


Setelah menikah, Abimanyu memberikannya kartu kredit dan belanjaannya setiap bulan tidak kurang dari satu miliar.


Namun akhir-akhir ini, Abimanyu memang sudah membatasi pengeluarannya, yah setidaknya semenjak ada kuman Lula itu. Dia menjadi tersisih dan serba kalah di mata Abimanyu.


Izin ini tidak di perbolehkan dan izin itu apa lagi, alasan Abimanyu sekarang karena sudah tidak lagi mengurus keuangan perusahaan.


Tidak enak dengan Raden yang harus mengelola keuangan, Karlina yang ibunya presiden direktur saja tidak boros sementara Lisya terus berhamburan pengeluaran.


"Kenapa sampai beku semua kartu kredit Tante? Apa sebelumnya tidak?" Boy bertanya penasaran. Untung masih ada ATM yang ada isinya, kalau tidak, Boy berakhir zonk.


Kembali Lisya menggeleng. "Tante juga tidak tahu, mungkin suami Tante belum memperpanjang atau apalah, Tante perlu menanyakan hal ini lagi padanya."


"Semoga tidak benar-benar di bekukan."


"Aamiin." Sambung Lisya lalu beralih pada resepsionis setelah berhasil dengan transaksinya.


"Terima kasih atas kunjungan Anda Nyonya dan Tuan, semoga hari kalian selalu indah."


Lisya tersenyum getir. "Indah apanya, Mas Abi mulai cari gara-gara dengan ku!" Batinnya.

__ADS_1


...Insya Allah, hari ini tiga bab, semoga terlaksana.❤️ Terimakasih partisipasi like nya....


__ADS_2