My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Berdamai


__ADS_3

Sedari tadi Alula memikirkan keegoisannya, ternyata selama ini yang Raden inginkan hanyalah kebahagiaannya sementara dirinya terus berpikir buruk tentang lelaki itu.


Alula berdiri melamun di sisi pintu masih dengan rasa bersalah yang tidak kunjung hilang.


Tampaknya kali ini Raden benar-benar marah padanya. Buktinya sedari tadi Raden tidak lagi kembali.


Alula sampai lelah dan duduk berjongkok, bersandar pada dinding sambil memeluk betisnya dengan bibir yang merengut, dagunya dia tumpu kan pada puncak lutut.


Ceklek....


Suara pintu terbuka yang terdengar membuat mata Alula mengerling ke atas kanan. Rupanya Raden berdiri menutup pintu dengan pandangan yang mengarah padanya.


"Sayang."


"Om." Segera Alula berdiri menghadap suaminya dengan senyum manipulatif.


"Kamu ngapain?" Tanya Raden bingung.


Alula mengeluarkan binar mata yang lucu menurutnya. "Lula nungguin Om."


Alula mulai mengangkat satu kakinya. Dia berdiri berdingklik kemudian menjewer kedua telinganya sendiri persis seperti anak SMP yang mendapat hukuman dari guru BK.


Raden berkerut kening menatap heran istri kecilnya. "Sandiwara apa lagi ini, Fatmagul?" Batinnya.


"Maaf yah Om, Lula minta maaf sudah menyakiti Om, Lula minta maaf selalu berpikir buruk sama Om, Lula juga minta maaf karena selama ini tidak pernah mau percaya sama Om." Ucap Alula memelas.


Raden menghela. "Suruh siapa kamu berbuat begitu?" Tanyanya sedikit ketus.


Alula mengernyit. "Ini kan usaha Lula buat minta maaf, apa Om tidak suka?" Jawabnya.


Raden mendengus perlahan sembari menurunkan kaki dan tangan Alula dari telinganya. Kemudian memeluk wanita mungil itu dengan mata yang terpejam.


"Jangan pernah menghukum diri sendiri seperti ini lagi, kau milikku. Tidak ada yang boleh membuat mu tersiksa sekalipun itu dirimu."


Alula tersenyum lalu mendongak memandang wajah tampan suaminya yang juga menatapnya. "Apa Om menyayangi Lula?"


"Masih kurang bukti apa lagi?"


"Ya lagian Om nggak pernah mengungkapkan perasaan Om seperti di film-film. Melamar di taman bunga atau restoran mewah dengan banyak lilin atau balon bentuk hati gitu."


"Apa harus?"


"Wajib."


"Tapi itu terlalu kekanak-kanakan."


"Apa Om lupa. Om menikahi gadis yang baru lulus SMA."


"Jadi kamu sugar Baby dan aku sugar Daddy begitu?"


"No." Geleng Alula protes.


"Lalu?"


"Om itu, bitter cocoa Daddy."

__ADS_1


Raden tersenyum kecil. "Mari kita buktikan dengan ini, apa rasanya pahit atau manis."


Raden merangkum pipi Alula hingga meletup bibir mungil itu menggemaskan lalu memagut nya dengan mata terpejam.


Alula menerima serangan itu, bahkan berbalik menyerang setelah bosan menjadi pasif.


Dorongan Raden membuatnya takut terhempas kebelakang, tangan Alula bergelayut pada kaos putih ketat yang Raden kenakan.


Perlahan tapi pasti kaki mereka bergerak menuju ranjang pasien tanpa berhenti dari penyatuan bibirnya.


Raden menekan pundak Alula tapi wanita kecil itu menolaknya. Bukan Alula yang ingin terduduk justru Alula yang mau Raden duduk di sisi ranjang pasien.


"Sayang." Raden menggeleng protes saat dirinyalah yang harus mengalah duduk.


"Agh." Desah Raden saat Alula melangkah duduk tepat pada bagian inti nya.


Raden terperangah menerima serangan bibir Alula yang mengabsen setiap lekuk lehernya dengan indera perasa, dalam otak bertanya, siapa gadis kecil ini? Kesurupan apa dia? Kenapa seberani itu?


Bahkan Alula berani menggigit cuping telinga Raden yang membuatnya meremang kegelian.


Buah dadanya Alula dekat kan pada wajah Raden hingga mendapatkan ap yang dia mau yaitu remasan. Cukup lama Alula menikmatinya dengan mata yang terpejam.


Tangan besar Raden menyingkirkan surai panjang Alula yang menutupi sebagian wajah wanita itu. "Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya.


Alula menghentikan aksinya lalu menatap heran suaminya. "Kenapa memangnya?"


"Aku takut padamu." Raden terkikik geli.


"Aaa, jadi Om tidak suka?" Alula memukuli dada bidang suaminya hingga terlentang dan itu terlihat manja bagi Raden.


"Apa masih ada gadis seperti itu di jaman sekarang?" Ketus Alula.


"Woho, rupanya istri ku menunjukkan sifat aslinya, liar dan seksi." Goda Raden.


"Jadi Om ilfil sekarang?"


Raden tatap mata Alula lembut, begitu pun dengan Alula. "Aku menyukai nya, sangat menyukai nya." Ucapnya pelan.


Kembali Alula meraup kedua pipi Raden kemudian mendaratkan kecupan basah di bibir. Memabukkan, membelit, liar, panas sambil menjambak rambut pekat Raden.


Bukan amatir, sedikit-sedikit Alula mulai menguasai permainan ini belajar dari pengalaman saat Raden mencumbunya.


"Agh Baby." Lamat-lamat mulai terdengar desah merdu Raden saat tak sengaja Alula bergerak maju mundur di atas pusaka nya.


"Babyh."


Alula seolah sengaja mengaduk-aduk gairah meronta suaminya. "Emmh, Om." Bisiknya menggoda.


"Sudah, please." Raden melerai penyatuan wajah mereka. Menatap Alula dengan deru napas berantakan. "Cukup, aku tersiksa." Lirihnya memelas.


Alula terdiam menatap suaminya, kendatipun sudah berdamai dengan Raden, tapi masih ada trauma yang Alula rasakan setelah malam kelam lalu, sepertinya jika untuk melakukannya pun Alula belum siap kembali.


"Baby hamil muda kan? Aku takut memakan mu." Surai lurus yang menutupi wajah cantik Alula kembali Raden singkirkan dengan lembut.


Alula mengedip matanya satu kali, ada pertanyaan yang ingin dia cetuskan. "Apa yang Om sukai dari Lula?"

__ADS_1


"Semua yang ada padamu, aku menyukainya. Senyum manis dari bibir cerewet ini, tatapan hangat dari mata sipit ini," Raden menunjuk bagian wajah yang dia maksud.


"Dan panggilan manja yang tidak pernah bisa aku lupakan." Lanjutnya.


"Apa?"


"Om."


"Begitu kah?" Alula menyengir kecil.


Raden mengangguk. "Hmm. Apa lagi kalo Baby panggil aku Mas."


"No!" Geleng Alula, ia menolak dengan tangan yang menyilang.


"Why?"


"Dengan panggilan Om, itu akan membuat Om sadar umur, jadi tidak lagi selingkuh dari Lula, tidak lagi mencari sugar Baby di luar sana karena sudah ada Lula istrimu yang imut dan menggemaskan." Kata Alula.


Raden tersenyum dengan tangan yang mengusap bibir Alula pelan. "Tentu saja. Hanya kamu, istri pertama dan terakhir ku, pegang janji dan kata-kata ku, mulai detik ini, Baby lah alasan ku bernapas." Ujarnya membuat Alula mengangkat sudut-sudut bibirnya.


Raden sadar, niat awal pernikahannya bersama Alula adalah pemberian pelajaran kepada Emelly.


Semua orang punya masa lalu tapi tidak lantas Raden terus menginginkan Emelly seorang.


Jodoh rezeki mati sudah tertulis, dan bukan suatu kebetulan Raden di pertemukan dengan Alula. Itu garis dari yang maha esa.


Selain menerima lalu apa lagi? Alula cantik Raden pun tampan, mereka cocok, apa salahnya mencoba bersama menjalani hubungan baru.


Ceklek....


Terdengar suara pintu yang membuat Alula dan Raden menoleh seketika. Di ambang pintu sana ada Karlina, Ayu dan Arga membulatkan matanya menatap Alula berada di atas tubuh Raden.


"Buk, tolong Raden, mantu mu mau memper, ..." Sontak Alula menutup mulut Raden dengan bekapan tangannya.


"Stop fitnah!" Pekik Alula melotot. Dia berdiri dan menundukkan wajahnya pada ibu mertua setelah membetulkan pakaiannya. "Selamat malam Ibu." Sapa nya sopan.


Raden, Ayu dan Arga terkikik melihat tingkah Alula yang lembut saat di hadapan mertuanya saja.


Karlina menggeleng ringan. "Kalian ini. Katanya Lula hamil, kenapa gerakannya begitu. Hati-hati Lula kandungan mu." Tuturnya.


"Iya Buk, maaf terlalu excited." Alula meringis kikuk.


Karlina meletakkan tas pada ranjang lalu memeluk menantu pertamanya penuh kasih sayang.


"Terima kasih sudah mau hamil cucu pertama Ibu. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu sayang, sehat bayinya sampai melahirkan." Ucapnya bahagia.


Alula mengangguk. "Lula yang terima kasih, Ibu sangat baik sama Lula yang bukan siapa-siapa."


Karlina melerai pelukan. "Kamu mantu Ibu, istri Raden, jadi jangan bilang bukan siapa-siapa lagi." Protesnya.


"Emmh." Alula tersenyum haru, setelah sekian lama Yasmin pergi, pada akhirnya Karlina mampu memberikan kehangatan seorang ibu.


Arga menyengir. "Selamat Kakak ipar, sebentar lagi kau gendut, dan sulit bergerak."


"Ah." Alula menendang betis Arga hingga meringis di buatnya. Raden dan Ayu terkikik menertawakan Arga mengelus betisnya.

__ADS_1


Karlina hanya menggeleng ringan melihat anak-anaknya tertawa. Setidaknya Raden, Arga, Ayu dan Alula menggantikan udara surga yang lama tak dia hirup dari suaminya.


__ADS_2