My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Bonus chapter


__ADS_3

Baru-baru ini Ayu berusaha melupakan semua tentang Nakula. Tapi Nakula seakan tak membiarkannya terjadi.


Ada hal yang tidak pernah Nakula ungkap, yaitu ketertarikan, kecemburuan, ketergantungan pada gadis manis yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik perempuan dari saudara ipar rich mannya.


Melihat perubahan sikap Ayu, Nakula tak mau. Jujur, untuk pertama kalinya Nakula memiliki rasa yang berbeda saat bersama wanita selain kembarannya.


Sebisa mungkin Nakula mencoba menjelaskan perihal buku diary yang sama sekali bukan miliknya, dan perlahan Ayu percaya akan hal itu.


Di atas jok mobil barunya, Nakula dan Ayu duduk bersisian.


"Jadi beneran bukan kamu yang tulis diary itu? Kemarin Jehan sendiri yang kasih liat semuanya." Ayu menatap nanar wajah tampan Nakula.


"Aku tidak pernah menulis diary apa pun. Di buku mana pun, apa lagi tentang mu dan diberikan ke orang lain." Kata Nakula.


Ayu merengut. "Yah, padahal gara-gara itu, Ayu jadi daftar kuliah S2 di Oxford." Lirihnya.


"Oxford?" Nakula terkejut.


Ayu menunduk. "Iya, rencananya Ayu mau lanjut ke sana biar bisa jauh dari Nula! Ayu kesel baca diary itu. Ayu kira, diary yang Jehan kasih ke Ayu benar-benar tulisan Nula!"


"Yakin kamu mau jauh dariku?" Nakula yang semula hangat dengan penjelasannya kini mendingin.


"Tadinya begitu." Ayu lantas menatap kembali wajah judes Nakula. "Lagian kamu juga nggak pernah merespon Ayu dengan baik!"


"Nggak semua yang terlihat dingin itu benci. Kamu sendiri yang kurang peka. Kamu pikir buat apa tiap hari aku ngintilin kamu yang bawel, banyak omong, berisik, manja. Apa aku sekurang kerjaan itu?" Tukas Nakula.


Ayu menyengir. "Maaf." Cup...


Seberani itu pula Ayu memberikan sebuah kecupan manis di pipi Nakula. Yah, kecupan lembut yang untuk pertama kalinya mendarat di pipi seorang Nakula.


Nakula meneguk saliva. "Jangan mulai deh, nanti kalo aku khilaf, kamu nangis."


Ayu terkikik kecil. "Kalo berani lamar Ayu. Ngomong sama Mas Rafael, sama Romo juga kalo Nula serius, kita langkahin Mas Arga."


Nakula hanya menghela pelan. Mungkin Ayu pikir menikah itu semudah membalikkan telapak tangan. "Kita bicarakan ini lagi nanti, sekarang kita lanjut perjalanan sebelum malam."


"Ok." Ayu tersenyum. Hatinya kian lega, setelah tahu perasaannya pada Nakula tidak bertepuk sebelah tangan.


...----------------...


Bulan-bulan berganti, hubungan Ayu dan Nakula sudah semakin dekat. Raden mulai mencium adanya perubahan signifikan dari kembaran istrinya.


Sempat Raden menanyakan secara langsung kepada Nakula. Dan saat itu pula Nakula mengakui bahwa, yah memang benar ia memiliki hubungan spesial dengan adik cantik dari saudara iparnya.

__ADS_1


Namun sebagai seorang laki-laki, Nakula juga perlu memikirkan masa depan keluarga kecilnya nanti dengan cara menabung sedikit demi sedikit.


Raden memakluminya karena ia juga seorang pria, hubungan Ayu dan Nakula masih bisa dibicarakan dengan Romo Abi nanti saja.


Jika harus melangkahi Arga, kenapa tidak, toh nyatanya Arga juga belum serius menjalani hubungan dengan kekasihnya.


Sekarang bukan perkara Ayu dan Nakula lagi yang menjadi masalah, karena saat ini juga Alula tiba-tiba mengumpulkan beberapa orang di ruang makan rumah besarnya.


Anehnya tidak semua, sebab hanya Bastian, Emelly, Nakula dan Aryan saja yang diundang secara langsung oleh istri kecil Raden Mas Rafael.


Raden dan Alula juga ikut melingkar bersama tamu-tamu tersebut. Raden sendiri belum paham, apa tujuan Alula mengundang mereka datang.


Jika untuk makan malam bersama, kenapa tidak ada satu pun hidangan yang tersuguh?


"Ada apa kita dipanggil begini Lula?" Aryan sang Kakak menanyakan dengan senyum sertanya.


Sekarang, Abang angkat Alula sudah resmi diangkat menjadi CEO perusahaan besar.


Yah, perusahaan besar yang tadinya milik Emelly ternyata milik Aryan, karena rupanya bukan Fajar, melainkan Danial lah pemilik dari perusahaan tersebut.


Danial, ayah biologis Aryan saja. Nyatanya, Emelly anak dari Fajar, bukan Danial.


"Jangan-jangan Nyonya Lula hamil lagi?" Sela Bastian menyengir.


Aryan mengernyit. "Orang tua?" Maksudnya siapa? Almarhum dan almarhumah orang tua Nakula dan Alula? "Ada apa dengan Ayah Ibu Lul?" Tanyanya mencecar.


Lula menatap Aryan. "Ayah Ibu. Orang tua Lula dan Nakula saja, karena Lula sudah tahu, Abang bukan anak kandung Ayah dan Ibu."


"Apa?" Nakula tersentak. Selama ini, ia hanya mengira bahwa Emelly juga salah satu anak dari Fajar sang ayah, dan tidak tahu menahu tentang silsilah Aryan.


"Lula, ..." Aryan meredup ekspresi.


Emelly yang sedari tadi diam, ia murka setelah membaca surat-surat tuntutan dari Alula. "Apa-apaan ini? Kamu menuntut Mama ku, Alula Humaira?" Tudingnya.


"Iya." Alula mengangguk dan semua orang termasuk Raden mengerut kening, keheranan.


"Lula, ..." Aryan lagi-lagi melirih. Apakah akhirnya Alula tahu siapa dan dari mana dirinya berasal?


"Sayang, ada apa ini?" Raden menatap bingung istrinya. Alula masih menyuguhkan raut kecewa.


"Lula tahu kenapa tiba-tiba Abang memimpin di perusahaan besar. Itu karena ibu dari Nona Emelly mendapatkan harta-harta itu dari ayah Abang!" Pekik Alula.


"Jelaskan ini padaku Bas!" Raden berdiri, tatapan tajam terarah pada Bastian, mungkin kah Bastian juga tahu hal ini?

__ADS_1


"Semuanya bersekongkol menipu ku dan Nakula Pi." Sambil menangis Alula memeluk suaminya.


"Semuanya tega diam saja, menyembunyikan kebenaran tentang siapa dalang dari kematian ayah Ibu Lula Pi, Selvia Olivia! Ibu Nona Emelly dan Abang Aryan!" Isaknya mengadu.


"Apa," Nakula mengepal erat tangannya. Ia kecewa pada Aryan, kenapa sejauh ini Aryan menyembunyikan kebenaran yang ada.


"Lula, ..." Aryan mendekati adiknya, namun wanita satu anak itu menepisnya.


"Lula tahu Abang sudah berkorban banyak untuk Lula dan Nula, tapi Lula tetap mau keadilan, Lula mau menuntut Ibu kandung Abang! Orang yang sudah membunuh ayah ibu Lula! Orang yang seharusnya menjalani hidup dipenjara tetap akan seperti itu."


Nakula menatap tajam Aryan. "Bilang ini tidak benar!" Ketusnya, Aryan mulai tersudut.


"Tanyakan juga sama Om Bas, dia juga menutupi semuanya karena dia menyukai Nona Emelly! Mami kecewa Pi!" Isak Alula kembali. "Semuanya jahat sama Lula."


"Ssstt." Raden mempererat pelukannya. "Tenang dulu, Sayang, kita masih bisa bicarakan ini dengan baik-baik."


"Maaf Lula." Aryan semakin pilu, sungguh bukan mau menutupi, ia hanya tidak tega melaporkan ibu kandungnya sendiri.


Emelly mendekat. "Semuanya sudah berlalu Lula, biar ibu mu Yasmin dan ayah kita Fajar juga tenang di sana, tolong jangan ributkan lagi masalah ini. Bang Aryan juga kehilangan Ayahnya, Danial."


"Lalu bagaimana dengan pelaku kejahatannya? Selvia Olivia, ibu mu sudah membunuh tiga nyawa sekaligus!" Ketus Alula, jujur ia kecewa dan sangat kecewa.


Emelly mengangguk. "Aku tahu, tapi Mama ku sudah sakit-sakitan. Tolong kasihanilah dia."


Bastian hanya menundukkan wajahnya, jujur ia juga merasa bersalah telah menyembunyikan kebenaran ini dari Alula dan Nakula, bahkan Raden Mas Rafael.


Alula sendiri, tahu mengenai kebenaran ini dari Kaesang putranya yang tidak sengaja menemukan sadapan percakapan di ruangan kerja Bastian saat Aryan dan Emelly berseteru.


File file itu masih tertumpuk rapi di dalam memori memori eksternal yang naasnya ditemukan oleh Kaesang saat bermain-main di sana.


"Aku hanya mau keadilan." Alula pergi setelah mengatakan itu pada Emelly. Lihatlah, dirinya dan Nakula harus menjadi yatim piatu akibat cinta gila Selvia Olivia.


"Please Raden, bujuk istrimu." Emelly menghiba pada mantan kekasihnya.


Raden mengangkat kedua bahu. "Aku tidak punya kapasitas lebih, karena ini sudah masuk ke ranah kriminal." Ujarnya.


...--------Selesai, Terimakasih--------...


Oya, Ayu Nakula sampai di sini saja yah, aku tidak bisa membuat scene mereka lebih banyak karena kurang begitu menarik.


Ikuti akun ku, supaya tahu notifikasi kalo aku update karya baru tentang Kaesang yaaa...


...Obsesi Tuan Billionaire... Doakan, semoga enggak di take-down lagi kayak Waktu itu yaaa... Sehat selalu kalian kesayangan Pasha......

__ADS_1


__ADS_2