
"Kapan kamu berangkat?" Bastian masih sendu menatap Emelly yang fokus pada makanan nya. Kelihatannya Emelly sudah sangat lapar, beberapa hari ini Emelly memang malas memesan makanan juga masak.
Emelly meneguk minuman lalu sedikit mengaduk makanannya. "Setelah Lula melahirkan aku berangkat, aku juga mau melihat hasil kerja Raden bersama adikku." Katanya menyengir.
"Perancis?" Sela Bastian.
Emelly mengangguk. "Iya, cuma di sana tempat paling aku sukai, di sana terkesan romantis, yah meskipun tidak memiliki pasangan. Setidaknya aku bisa tinggal di kota Paris."
"Kamu masih mencintai nya?"
Emelly melirik Bastian yang tiba-tiba memasang wajah serius. "Raden?" Anggukan kepala Bastian menjawab seolah pemasaran.
"Entahlah, aku sudah terlalu kecewa padanya, semudah itu dia berpaling dari ku, padahal hanya dalam kurun waktu yang sebentar Raden menyukai Alula." Lirih Emelly kembali mengaduk makanannya pelan.
"Mereka cocok dan memang berjodoh!"
"Lalu kemana jodoh ku?" Emelly menatap protes lelaki tampan itu.
"Masih di jaga seseorang." Kata Bastian datar.
"Dan di saat jodoh ku dalam penjagaan seseorang, aku seperti orang bodoh yang menunggu kapan bekas orang mendatangi ku, begitu?" Emelly tersenyum getir.
"Kau tidak percaya bahwa jodoh itu Tuhan yang atur?" Tanya Bastian.
Emelly menghela napas berat. "Aku percaya, tapi sulit sekali menerima." Lirihnya. Seandainya bisa protes, Emelly ingin berjodoh dengan Raden yang memiliki kesempurnaan sebagai seorang pria.
Kaya raya, tampan, gagah, baik-baik, dan setia. Bastian sadar akan hal itu.
Selesai dengan makanan nya Emelly mengambil tisu dan mengusap sudut-sudut bibirnya. "Terima kasih sudah mau membantu ku memasak." Dia tersenyum tipis menatap Bastian yang sendu.
"Kamu kenapa murung begitu? Belum punya gebetan buat di ajak ngamar?" Kelakar Emelly. Dia bicara santai karena begitulah sifatnya.
"Hentikan omong kosong mu!" Bastian sudah lama tidak mencari sasaran, mungkin sudah lelah.
Emelly menyengir. "Tersinggung? Apa Play boy seperti mu juga bisa tersinggung?" Bastian hanya diam saja mengalihkan pandangan. Semakin lama Emelly semakin ngelantur.
Emelly punya kebiasaan merokok, setelah makan, gatal rasanya ingin senam asap, dia bangkit dan meraih bungkusan rokok yang sudah di ambil beberapa. Dia raih korek api lalu kembali duduk di kursinya.
Satu batang rokok dia pagut, namun kemudian Bastian merampasnya. "Hentikan kebiasaan mu ini."
__ADS_1
"Bas!" Emelly menoleh protes.
"Kamu punya rahim, dan ini tidak baik untuk mu." Tutur Bastian.
"Peduli apa kamu? Kembalikan, aku terbiasa dengan itu." Sanggah Emelly.
"Ganti kebiasaan mu dengan yang lain, mengunyah permen mungkin." Sela Bastian.
"Bas!" Emelly merengek dan itu terlihat sangat cantik di mata Bastian.
Bibir itu, mata itu, pipi itu, Bastian menggilainya, sampai kapan ia harus tersiksa dengan perasaannya.
Perlahan tapi pasti Bastian memberanikan diri untuk memangkas jarak. "Jika tidak bisa dengan permen. Mungkin dengan yang ini."
Bastian menjatuhkan bibirnya pada bibir merona Emelly kemudian perlahan-lahan memagut nya.
Mata yang terbelalak tanda Emelly terkejut dengan aksi pria itu. Akan tetapi, kenapa rasanya melayang seperti ini? Baru ciuman sederhana saja Emelly sudah sangat menikmatinya hingga tertutup perlahan netra indahnya.
Bastian bangkit dari duduk berdiri membungkuk tanpa melepas pagutan bibirnya. Tangannya merangkum rahang Emelly dan merambat kepada gundukan padat yang sudah lama ia khayal kan.
"Emmh." Remasan Bastian menciptakan suara desah yang sangat menggoda.
Tanpa sadar Emelly berdiri mengalungkan tangan pada tengkuk Bastian, seperti tersihir Emelly pasrah, lagi pun Emelly wanita yang open minded.
Embusan napas saling bertabrakan, sahut menyahut gemuruhnya menggelora. "Jadi kau mau menjadi kan aku wanita mu Bas?"
"Tidak." Geleng Bastian, pernah ia dekat dengan banyak wanita tapi bersama Emelly lain rasa getarannya.
"Lalu apa ini?" Sergah Emelly, meski menikmati pertempuran bibirnya barusan, Emelly seolah menyanggah. Bastian bukan lawannya jika urusan percintaan.
"Bagaimana kalo ternyata, aku jatuh cinta pada gadis yang aku renggut keperawanan nya lima tahun yang lalu?" Ucap Bastian.
Emelly tersenyum miring. "Berapa gadis yang kau rayu dengan kata-kata ini?"
"Hanya kau." Sela Bastian pasti.
"Aku tidak percaya." Emelly menggeleng sambil melerai wajah mereka namun Bastian semakin merangsek dan menekan tubuhnya pada permukaan dinding.
"Awal bertemu dengan mu, aku akui aku hanya tertarik pada tubuhmu. Kita melakukannya dan mulai malam itu, aku selalu teringat tentang mu, desah mu, sentuhan mu, kecupan mu, semuanya."
__ADS_1
"Dulu setelah kita selesai. Sengaja aku pindahkan kau ke kamar hotel tapi kemudian Bos memanggil ku untuk pekerjaan penting. Malamnya aku mendatangi mu lagi. Dan kau sudah tidak ada."
"Untuk apa aku menunggu lelaki yang membuat ku hancur?"
"Tentu saja aku mau bertanggung jawab," Sergah Bastian ketus. "Tapi satu bulan kemudian, kau tersenyum bersama Bos ku. Saat itu kau sangat cantik dan aku sakit, tapi bagaimana lagi? Kau tampak bahagia, dan Bos juga sama, aku tidak tega merusaknya meskipun pada kenyataannya aku tidak pernah rela."
"Kamu pikir aku percaya?" Sanggah Emelly. Seberapa pun tangannya mencoba lepas Bastian terus mengungkung nya.
"Lalu untuk apa aku menyimpan gelang kaki mu selama ini?" Jelas Bastian yang masuk akal, Bastian punya banyak kekasih, menyimpan kenangan bersama wanita sangat tidak mungkin.
"Awal sekali Nyonya muda menyamar menjadi kau, aku adalah orang pertama yang tahu bahwa dia bukan lah dirimu, aku hapal sekali bagaimana bentuk tubuh mu, aku hapal sekali bagaimana suara mu."
"Bas."
"Aku hanya bisa berfantasi dengan video yang aku simpan sendiri. Itu menyebalkan." Bastian tekan tubuh seksi Emelly hingga wanita itu mampu merasakan tusukan benda yang mengeras di bawah sana.
"Bas." Emelly menggeleng.
"Aku menyayangimu Emelly, kau pikir untuk apa aku peduli dengan kabar mu? Itu karena aku menyimpan rasa padamu Emelly."
"Bas."
Mata penolakan Emelly membuat Bastian sadar diri. "Aku memang bukan laki-laki yang pantas untuk mu, jadi maaf sudah lancang menatap mu seperti ini." Baru saja akan melerai.
Emelly sudah lebih dulu meraih kerah jaketnya dan mendaratkan kecupan memabukkan di bibir sana.
Rakus, mungkin karena mereka sudah tenggelam ke dalam jurang cinta yang salah. Bastian semakin menyatukan tubuh mereka. Indah rasanya saat yang di sentuh seseorang yang menyinggahi hatinya.
"Ah, emh, ..." Emelly desah kan saat Bastian mengabsen lekukan tubuhnya dengan raba tangan.
Bosan terus di serang, Emelly mendorong dada bidang Bastian hingga terduduk pada sofa bahkan terjatuh punggungnya terlentang di sana.
Emelly menindih, kemudian memagut bibir kembali, sementara Bastian menyambutnya dengan remasan yang mendarat pada gundukkan padat di bagian belakang Emelly.
Just for fun, mungkin itu awal hubungan mereka, entah akan seperti apa kelanjutan ceritanya, yang pasti Emelly menyukai wangi Bastian, permainan bibir Bastian dan sentuhan erotis Bastian.
Kriiiiiing.... Gelora membara itu membuat keduanya acuh pada gawai yang sedari tadi terus meminta perhatian.
...----------------...
__ADS_1
...Hay Gaiss, aku ngebut menyelesaikan novel ini, Oya kalian baca Second Wife yuk, karena setelah ini tamat, aku mau rilis sekuelnya second Wife....