
Kemana rasa sakit yang dahulu Alula derita? Dia begitu menikmatinya. Gerakan maju mundur Raden sangat memberikan kenyamanan bahkan kenikmatan yang tiada terkira.
Sempit, tapi justru itu bisa membuat Alula merasakan tekstur asli dari otot-otot kepunyaan Raden.
Cakaran kuku Alula sudah melukis punggung gagah suaminya. Namun remasan candu yang Raden berikan untuk membalas.
Alula mengerang saat tak kuat dengan semua perlakuan Raden padanya.
Tanpa melepas penyatuan inti mereka, Raden membuat posisi Alula berbalik arah. Dia mulai kegiatannya dari sana. Ini posisi yang cukup intens untuk bergelayut pada dada menggemaskan Alula.
Akses terbaik untuk mengecup punggung dan tengkuk menawan wanita itu. Desah lenguh sahut menyahut menciptakan suasana erotis di kamar kedap suara ini.
Di iringi dengan suara parau. Mereka terus memburu erotisme. Keringat yang mengucur deras seperti tidak ada malunya datang di tempat sedingin kamar ini. Gairah ini, begitu membara hingga bukan lagi percikan tapi buncahan gelora.
Cukup lama Raden memanjakan tubuh mereka dengan kenikmatan surga dunia, sebelum akhirnya Alula memberikan kode menyerah.
"Pedih." Katanya. Mungkin masih ada yang lecet meskipun sudah berhati-hati. Raden membalikkan tubuh Alula kembali. "Kiss me, lalu kita sudahi." Pinta Raden bernegosiasi.
Bersamaan dengan kecupan manis di bibir, Raden melepas benihnya, saking enaknya Raden sampai lupa instruksi dari dokter.
"Jangan di dalam Om!" Protes Alula, namun tubuhnya meremang dengan getaran hebat saat lubuk surga nya terjangkau semburan kepuasan.
"Maaf."
Raden menjatuhkan punggungnya sementara matanya mengarah pada Alula yang mencebik. Napas masih kacau balau. Menarik selimut untuk membungkus tubuh polos kedua nya.
"Gimana kalo kontraksi dini?"
"Aku lupa, maaf sayang." Raden peluk Alula dengan hangatnya penyesalan. "Semoga tidak terjadi apa-apa." Lirihnya.
...----------------...
Masih di malam yang sama. Emelly duduk di atas jok penumpang bagian depan mobilnya, sementara Bastian mengemudi.
Sengaja Bastian meninggalkan mobilnya, demi mengembalikan Emelly ke rumah kaca.
Menatap jendela, Emelly terisak meluah rasa yang tak pernah melegakan dadanya. Seberapa pun dia berpikir selalu sesak saat mengingat nasib badan yang kelut-melut.
__ADS_1
Ibunya masih dalam keadaan tidak baik-baik saja, lalu pagi tadi saudara dari silsilah keluarga Danial mulai menuntut Emelly untuk mengembalikan semua harta miliknya kepada Aryan.
Berangkat dari rumor yang beredar bahwa keturunan Danial masih hidup dan di temukan, akhirnya saudara-saudara Danial mengusut tuntas kasus tersebut.
Emelly bukan lah pewaris tahta tapi Aryan yang benar-benar benih dari Tuan besar Danial.
Malam ini Emelly pulang ke rumah kaca miliknya, Rumah yang Emelly beli dari hasil show nya.
Penthouse yang Raden berikan saja tidak dia gunakan, Emelly bukan wanita yang tidak tahu diri.
Seperti kata Bastian, Emelly wanita yang baik, hanya saja, tidak layak untuk Raden.
Sampai di halaman rumah kaca milik Emelly, Bastian memberhentikan mobilnya, menoleh pada Emelly yang terus diam tak mau bergerak sedikitpun.
"Turun lah, aku harus langsung pulang." Ujar Bastian.
"Pulang saja, kenapa harus berpamitan." Sahut Emelly.
Bastian menautkan alisnya. "Lalu, apa kau akan terus di sini?" Tanyanya geram.
"Bukan urusan mu!"
Dia buka pintu berwarna merah muda itu lalu memaksa Emelly untuk mengalungkan tangannya pada tengkuk miliknya kemudian mengangkat wanita itu keluar.
Dalam gendongan Bastian, Emelly terdiam menatap wajah tampan Casanova itu, jika di lihat-lihat tak ada celahnya wajah kharismatik seorang Bas.
Hidung mancung tegas, bibir manis, sedikit kumis dan jambang tipis membuatnya lebih sensual, kulit bersih, dada bidang, tubuh tinggi, mata sipit oriental, rambut dengan sisiran terbelah dua, Bastian gambaran dari pria Asia yang sangat menawan.
Emelly menyentuh pintu kacanya dan terbuka otomatis, Mereka sudah memasuki rumah gelap yang terang saat ada manusia. Lampu-lampu di rumah ini otomatis.
"Apa yang kau rasakan saat menggauli ku?" Setelah terdiam, Emelly bertanya hal yang tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
Bastian melirik kecil. "Pertanyaan macam apa itu?"
"Kau kan playboy? Pasti bisa membandingkan rasa ku dengan gadis lain, katakan padaku, apa yang kau rasakan saat itu."
"Aku lupa."
__ADS_1
Emelly tersenyum getir. "Kau mau mencobanya lagi?" Penawaran Emelly di iringi tangan nakalnya yang merambat pada bibir merona Bastian.
"Jangan membuat ku marah Emelly!" Bastian memalingkan wajahnya demi menghindari belaian tangan Emelly.
Emelly mempererat kalungan tangannya sedang bibirnya mencebik. "Apa kau juga tidak menyukai ku? Aku berasal dari keluarga yang kacau. Semua orang menghardik ku. Apa kau juga berpikir begitu?" Tanyanya.
Bastian bungkam. Bagi Bastian Emelly masih gadis baik-baik, setidaknya selaput dara Emelly dia lah yang merenggutnya. Selama ini Emelly setia pada Raden, hanya saja psikis Emelly yang terganggu membuat wanita itu seperti orang tidak waras.
"Bagaimana kalo kita menikah? Temani aku di masa sulit ku. Masalah cinta, aku tidak percaya dengan kata itu. Buktinya Raden mencintai ku, tapi dia mampu berpaling pada Lula, dan mirisnya lagi, gadis kecil itu adikku." Emelly terkikik namun getir jika di rasakan suara gelak nya.
Langkah Bastian berlanjut pada kamar Emelly yang memang sudah terbuka. Dia acuh meskipun Emelly mengajaknya bicara serius.
"Bas, kamu mau kan menikah dengan ku? Aku kesepian hidup tanpa siapa-siapa, aku butuh seseorang di sisi ku."
"Jangan gila."
Emelly menatap protes. "Apa kau tidak mau menikahi ku? Tenang saja, meskipun aku tidak mencintaimu, tapi akan aku berikan hak mu sebagai suami, aku serahkan seluruh tubuh ku untuk mu. Anggap saja kita saling memberi rasa aman dan nyaman."
Tepat di ranjang serba putih. Bastian membaringkan tubuh Emelly lalu melepaskan satu persatu sepatu heels nya, menarik selimut dan menenggelamkan tubuh Emelly yang masih selalu menggoda iman.
"Kau bersikap seperti laki-laki baik?" Sindir Emelly. "Kau dengar tidak sih? Aku mengajak mu menikah!"
Bastian membungkuk tubuhnya, mengungkung dan menatap Emelly dengan raut datar. "Kau wanita yang baik, aku tidak pantas bersanding dengan mu, aku hanya pecundang yang tidak bisa setia pada satu wanita." Tuturnya.
"Benahi dirimu dan semoga mendapatkan laki-laki yang pantas untuk mu. Hidup tidak berhenti hanya karena masalah yang bertubi-tubi membuat mu lelah, kamu tidak sendiri, kamu punya banyak teman, pilih satu di antara mereka yang terbaik untuk menerima keluh kesah mu." Imbuhnya.
"Pertemanan yang baik akan membawa mu ke ranah yang baik, percayalah kau pantas di jadikan istri yang baik, tapi untuk laki-laki yang tepat." Timpalnya.
Bastian mengelus lembut puncak kepala wanita cantik yang masih mengisi ruang di hatinya sebelum kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu.
Emelly hanya terdiam menatap berlalunya punggung bidang pria tampan yang pernah merebut mahkota paling berharga miliknya.
Emelly berpikir. Selain Raden baru ada lelaki yang mengatakan dirinya wanita baik-baik yaitu Bastian.
Emelly melamun kosong. Mungkin ucapan Bastian hanya sekedar kata-kata agar bisa menghindar dari ajakan nikahnya.
Emelly akan terus seperti ini, menjadi wanita yang kesepian. Di sini, di rumah kaca ini. Tanpa siapa pun yang mampu mengerti.
__ADS_1
...Bolehkah sumbangan vote nya 🙈...