My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
T a l a k


__ADS_3

Bumi berputar pada porosnya, rembulan dan matahari bergantian mengemban tugas, dan telah di sangka-sangka Raden resmi menjadi seorang ayah.


Jodoh memang misteri, Raden mengkhayalkan menikah dengan wanita dewasa seperti Emelly tapi gadis cantik berusia muda yang kini menjadi istrinya.


Sudah satu Minggu Kaesang menjadi bagian dari keluarganya. Sekarang Karlina pun ikut tinggal di rumahnya karena harus menemani Alula dan cucunya di saat-saat Raden sibuk seperti sekarang ini.


"Papi, ..."


"Hmm?" Sekarang Alula memanggilnya dengan sebutan itu. Raden setuju, memanggil Alula little Mom.


Lelaki itu sibuk membetulkan dasi sambil menatap cermin di sudut kamar nan luas ini. Ada pertemuan penting yang tidak boleh di lewatkan siang nanti.


Kemudian setelah itu beberapa kota harus dia sambangi untuk mensurvey pembangunan properti barunya.


Memang benar satu Minggu lalu istrinya baru saja melahirkan, tapi Raden tidak mengurus satu perusahaan, melalui kursi kebesarannya dia mengolah banyak sekali aktivitas.


Pembangunan dan pemekaran usaha yang harus terus berjalan tak peduli dengan kondisi seperti apa pun.


"Memangnya harus banget ya pergi? Lula kan baru saja melahirkan, Kaes juga belum pernah di gendong Papi nya, lalu setelah ini satu Minggu Om tidak pulang." Protes Alula cemberut.


Raden menoleh. Wajah merengut istrinya sempat memberatkan hatinya, tapi bukan satu perusahaan yang perlu campur tangannya. Lagi pun, semua ini milik keluarga besarnya termasuk istri dan putranya.


Raden berjalan mendekat. Dia kecup kening Alula lalu duduk tepat di sisi ranjang.


"Sudah ada Ibu yang lebih tahu cara mengurus Kaes kita. Baby menurut saja padanya. Di rumah ini, Ibu akan menghibur kejenuhan mu. Sekarang biarkan suamimu bekerja dengan tenang, jangan lupa, ada ratusan ribu karyawan yang bernaung di bawah tangan suami mu."


"Apa Lula harus selalu kesepian seperti ini? Melihat suami berangkat ke kantor bahkan dalam keadaan apa pun?" Cebik Alula.

__ADS_1


"Hanya saat-saat tertentu saja." Usapan lembut di pipi Alula dapati.


"Tapi kenapa sering terjadi? Sebelumnya juga Om begitu, sibuk sendiri. Kemarin Lula terpeleset juga karena Om sibuk dengan pertemuan penting."


"Maaf." Raden peluk kepala wanita itu hingga bernaung dalam dada bidangnya, "Apa pun resiko nya menjadi istri ku, tetap lah bertahan dan jangan pernah bosan."


Alula mengangguk perlahan, mungkin benar menjadi istri Rich Man mengasyikkan, tapi ada beberapa hal yang tidak Alula sukai, yaitu saat-saat Raden sibuk dan terkesan tidak memprioritaskan dirinya. Karena tidak ada kondisi yang sempurna meski bergelimang harta.


...----------------...


Di lain tempat, ada Abimanyu yang tengah berkonfrontasi dengan istri ke duanya. Abimanyu mencekal tangan ke belakang.


Sementara tatapan tajam menusuk sang wanita yang baru saja pulang dari rumah orang tuanya, yah setidaknya begitu alasan Lisya pagi tadi.


Wanita itu berdiri penuh tanda tanya menatap wajah tampan suaminya yang semakin dingin saja. Mendapati kehangatan Boy selama satu Minggu ini, tatapan Abimanyu pagi ini seolah mampu membekukan hatinya.


Ada ketakutan di matanya, tapi entah hal apa yang dia takuti karena jujur Lisya belum mengerti apa pun.


Yaitu sebagai wanita sosialita di mata teman-teman arisan dan keluarganya.


"Mas kenapa memanggil ku? Kan sudah aku bilang, aku kangen Mamah, baru kemarin di sana, Mas sudah memanggil ku lagi," Rutuk Lisya pada akhirnya memecah keheningan.


"Ada lagi yang mau Lisya tanyakan sama Mas Abi, kenapa kartu kredit ku di bekukan? Aku kan malu sama semua teman arisan, mereka menganggap ku udik karena tidak memiliki kartu kredit eksklusif seperti biasanya."


"Kamu betah di rumah orang tua mu?" Tak menjawab pertanyaan Lisya, Abi justru bertanya balik.


Lisya mengangguk. "Tentu saja Mas, biar bagaimanapun mereka orang tua ku, apa lagi Ibu akhir akhir ini sering sakit, biar aku mengurus nya beberapa hari lagi."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, mulai dari sekarang, kau boleh tinggal di rumah orang tua mu. Hari ini besok dan seterusnya. Kau Lisya, sudah aku ceraikan. Aku Abimanyu Kertawiguna sudah resmi menalak mu!"


"Mas!" Lisya mendelik seketika. Permainan macam apa ini? Hanya karena betah di rumah orang tua lalu perceraian yang Abimanyu berikan.


"Maksud Mas apa?"


"Apa kau tidak dengar? Aku menceraikan mu, siang ini pengacara akan mengurus semuanya, kau hanya tinggal menunggu saja akta perceraian nya."


"Apa-apaan Mas ini? Seenaknya saja menceraikan aku? Apa salah ku? Sudah sejauh ini Mas menjadikan aku istri ke dua, harus rela di benci anak-anak Mas dan istri Mas, harus pandai menebalkan muka di depan orang lain yang bergunjing, lalu setelah bosan Mas kembalikan aku?"


Abimanyu mengangguk. "Benar, terima kasih sudah mau mengorbankan status mu. Sekarang kembali lagi ke asal mu. Asal usul yang seharusnya kamu nikmati. Menjadi wanita pekerja keras dan rajin seperti saat kau mengambil perhatian ku dahulu, memulai hidup tanpa fasilitas dari ku lagi, karena aku menceraikan mu tanpa gono gini, dan fasilitas yang ku berikan padamu sudah aku bekukan. Termasuk fasilitas kendaraan mewah mu yang akan aku cabut, itu semua milik ku juga hak anak-anak ku."


"Mas!" Lisya memekik melotot. Dia goyangkan dada bidang suaminya menghiba. "Jangan kejam begitu, aku istri mu!"


"Jelas sekarang kau bukan lagi istri ku!"


"Tapi kenapa?" Teriak Lisya. Meleleh sudah air mata yang berlinangan di pipinya. Meski pernikahan mereka tidak wajar tapi Lisya menyayangi dan mencintai Abimanyu.


Kejenuhan hatinya di acuhkan Abimanyu selama delapan bulan ini membuat Lisya ingin mencari hiburan baru. Tapi belum apa-apa sudah harus menerima talak yang begitu menyayat hati.


"Aku sudah tidak bisa kau andalkan lagi, aku tidak bisa memuaskan mu di atas ranjang mu, sekarang kau juga lebih betah di rumah ibu mu dan lagi kau lebih suka bermain dengan pemuda bayaran mu."


"Mas!" Lisya mendelik sekali lagi. Terkesiap dengan apa yang Abimanyu katakan barusan.


Abimanyu tersenyum getir. "Kenapa? Kaget? Dari mana aku tahu kabar itu? Tidak penting Lisya. Yang terpenting adalah kau keluar dari rumah ku!"


"Mas!" Sergah Lisya. "Jangan maunya enak sendiri! Selama ini Mas mengacuhkan ku. Lalu setelah aku jenuh dan mencari hiburan baru, Mas seenaknya saja menceraikan aku! Mas saja dulu jenuh dengan istri Mas dan datang padaku kan?"

__ADS_1


"Aku bukan wanita luar biasa seperti Karlina. Aku tidak akan pernah mentolerir perbuatan mu yang ini. Sekarang kau bukan bagian dari keluarga besar ku, jadi kau boleh berbuat semau mu!" Berang Abimanyu.


"Tapi Mas!"


__ADS_2