
Siang ini Raden di sibukkan dengan setumpuk dokumen yang masih harus ia periksa, penat rasanya hidup menjadi seorang Presdir.
Tengkuk terasa kaku, pegal, linu, nyeri otot-otot kekarnya lelah letih lesu, untung Alula datang menghibur dengan pijatan lembut di area punggung dan bahu.
Kaesang hanya diam menatap lalu lalang nya mobil di bawah sana dari balik dinding kaca tebal anti peluru gedung keluarga besarnya.
Desah sang ayah yang lamat-lamat terdengar karena pijatan tangan ibunya tak mengalihkan pandangan Kaesang.
Anak tampan itu memang terlahir sedikit berbeda dari anak-anak pada umumnya.
"Sudah, Papi nggak tega." Raden menoleh meraih tangan mulus istrinya, bibirnya tersenyum meraih pinggang ramping Alula agar mau duduk di atas pangkuannya.
Kaesang yang melihat adegan romantis ayah ibunya, anak kecil itu berlari ikut serta untuk duduk di pangkuan ayahnya. Setidaknya sekarang kedua paha Raden terisi seimbang.
Tiada kata dari Kaesang, Raden dan Alula tersenyum mengusap lembut kepala bocah tampan itu.
"Kaesang betah di kantor Papi?" Pertanyaan Raden di jawab dengan anggukan kepala Kaesang.
"Mulai besok, kita sering-sering ke sini boleh kan Pi?" Lula menoleh pada suaminya.
"Boleh dong, kalo Mammi mau setiap hari pun Papi setuju." Kata Raden.
Tak berharap banyak, cukup satu dua jam juga Raden senang. Ia tahu betul, Alula sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
"Papi nggak risih? Nggak bosen gitu? Di ikutin Mammi sama Kaesang?"
"Nggak dong."
Alula harap selamanya Raden takkan pernah berubah. "Gimana kalo A-studio di berikan sepenuhnya sama Om Arga?"
"Why?" Raden berkerut kening, meski bahagia jika sampai itu terjadi, tapi dia sudah berjanji tidak akan mengekang keinginan Alula termasuk kegemaran dan hobinya.
"Setelah di pikir lagi. Kasihan Kaes, harus ikut Mammi ke studio, terus di sana cuma diem karena jarang Mammi ajak ngobrol. Mungkin itu juga kenapa perkembangan Kaes masih di situ situ ajah." Jelas Alula.
"Mammi juga merasa Quality time kita kurang saking sibuknya kita masing-masing, Mammi sibuk bikin animasi, Papi sibuk urusan kantor. Papi sering keluar kota tanpa Mammi sama Kaes. Kita sering ngerasain sama-sama kesepian hanya karena pekerjaan yang nggak ada habisnya." Imbuhnya lagi.
"Jadi?"
"Sepertinya Mammi mau percayakan studio animasi Mammi ke Arga saja deh, waktu Mammi harusnya lebih banyak untuk Kaes yang butuh perawatan khusus kan?"
"Mammi beneran nggak apa-apa? Nggak sayang ilmunya?" Raden masih berharap ini bukan prank dari istrinya.
"Mungkin nanti setelah anak kita dewasa, Mammi bisa berkarya lagi. Saat ini Mammi cukup dengan beberapa karya dan mengerjakan film animasi besutan saja, itu kan Mammi bisa kerjain pas luang di rumah."
"Papi seneng dengernya." Raden kecup kening Alula kemudian beralih mencium pipi putranya.
"Jangan bosen yah, mulai besok Mammi antar makan siang Papi setiap hari, kita makan siang sama-sama di sini. Semoga anak berikutnya nggak memiliki kekurangan apa pun, Mammi fokus sama perkembangan Baby kita setelah ini."
"Itu ide bagus."
Mungkin dahulu, Kaesang di buat dengan kesakitan yang ibunya lalui, ada beberapa pengaruh dari obat perangsang yang Raden minum. Itu masih menjadi kemungkinan kemungkinan yang bertengger di otaknya.
Selebihnya, Alula dan Raden bersyukur, Kaesang tumbuh dengan baik meski dengan segala kekurangannya.
Tok tok tok!
__ADS_1
Ketukan pintu mengalihkan perhatian, Alula bergegas bangkit dari pangkuan suaminya. Kaesang pun dia alihkan agar duduk di sofa.
Ibu dan anak tampan itu saling bercanda satu sama lain. Sementara Ayu masuk seiring dengan terbukanya pintu setelah Raden menyetujuinya.
"Mas, ..." Ayu sesekali melirik Alula dan Kaesang dengan wajah senyuman. "Kaes." Sapa nya.
"Kamu masih di sini? Bukanya mau kunjungan ke kantor cabang?" Raden menyambar Ayu dengan pertanyaan.
Tok tok tok!
Satu kali lagi ketukan membuat pandangan Raden beralih pada pintu kaca ruangannya, di sana ada Nakula yang baru saja tiba. "Bang."
Kembali Raden mengernyit. "Kalian kenapa belum pada berangkat ke Bandung? Kalian mau pergi sama-sama?" Tanyanya.
"Iya, ..."
"Enggak, ..."
Nakula mengangguk setuju sementara Ayu menggeleng cepat. "Ayu berangkat ke kantor cabang sendiri saja." Katanya.
Raden dan Alula mengernyit heran. Biasanya adik cantiknya sangat senang jika harus berurusan dengan Nakula, tapi beberapa bulan ini Ayu selalu menolak jika Raden menyuruhnya bersama adik iparnya.
Raden tahu, Ayu menyukai Nakula, sejauh ini Raden tak keberatan, toh, mereka sama-sama baik.
"Terus kalian ke sini barengan begini mau apa?" Tanya Raden kembali.
"Ayu mau izin pake mobil Mas, ban mobil Ayu kempes." Ujar gadis itu.
"Kenapa tidak sama Nula? Mobil Nula baru loh Ayu, kan tambah seru, kamu jadi ada temen ngobrol selama di perjalanan." Alula ikut campur.
"Iya, Lula benar." Raden setuju.
"Kita berangkat sama-sama saja Yu, kamu tidak perlu capek-capek menyetir sendiri." Timpal Nakula.
Sejak kapan pemuda itu ikut ambil bagian dalam pembicaraan? Ayu merasa aneh.
"Terserah deh."
Ayu berwajah lesu keluar dari ruangan abangnya. Kemudian Nakula menyusul langkah Ayu, ia pergi tanpa permisi pada Alula dan Raden yang melongo menatap kepergiannya.
Ayu melangkah memasuki lift kosong, ia akan turun dan mulai berangkat kunjungan ke kantor cabang di Bandung sesuai perintah atasan.
Ayu memang adik Presdir, tapi Ayu mau merangkak dari bawah sebelum nantinya menempati salah satu kursi direktur.
Nakula berlari, tangannya menghalau tertutupnya pintu lift, ia masuk menyusul Ayu yang diam tak mau menatapnya, keduanya berada dalam ruangan sempit yang sepi.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini?"
Nakula memberanikan diri untuk bertanya. Menurutnya, Ayu terlalu aneh. Tidak ada angin tidak ada hujan, Ayu acuh padanya.
Sungguh, pertanyaan Nakula berhasil membuat Ayu ingin menoleh. "Apa nya?"
"Kamu aneh."
"Aneh? Maksudnya?" Kerutan di kening begitu membuktikan bagaimana bingungnya ia.
__ADS_1
"Tiba-tiba saja kamu jadi begini, aku punya salah?" Tanya Nakula.
"Kita punya hubungan apa sampai kamu harus merasa punya salah sama aku?"
"Dulu kamu rewel, nyebelin, sekarang cuek, kepala kamu aman kan? Nggak sampai kepentok setir pas ngebut di jalan kan?"
"Iya aku terlalu rewel dan aku ngerasa kayak orang bodoh selama ini."
Ayu diam, Nakula di buat heran dengan sikap dingin ini, dahulu, meski tak banyak kata yang dia ucapkan, Ayu selalu menyerocos padanya.
Satu kata Nakula akan di jawab dengan seratus ribu kata Ayu, tapi kini gadis itu bisu.
Ayu yang Nakula kenal adalah Ayu yang sok kenal, sok dekat, sok perhatian, makan siang Nakula pun terus di ganggu, di perpustakaan Ayu sering kali membuatnya emosi.
Lalu kenapa tiba-tiba stalker cantik ini berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kamu sakit Yu? Kenapa berubah begini?"
"Aku baik Nula. Semua orang bisa berubah kan? Mungkin seiring dengan dewasanya aku, makanya aku terlihat berubah, padahal aku biasa saja."
"Kamu aneh."
Tak mau berdebat, Ayu meluruskan pandangan, mata hijaunya menatap bergantinya nomor lantai yang tertampil di layar atas pintu lift.
Lower ground, lantai yang mereka tuju. Siang ini keduanya di tugaskan mengunjungi beberapa kantor cabang untuk melakukan audit internal dan untuk beberapa bulan ini, mereka harus rolling dari kota satu ke kota lainnya.
Tentu saja mereka juga harus sering menginap di hotel yang sama dengan kamar berbeda.
Tak ada percakapan lagi. Ayu melangkah keluar setelah pintu lift terbuka. Bahkan, tiada Ayu yang merangkul lengan Nakula secara sepihak, seperti biasanya. Ayu benar-benar menjadi Ayu yang sok kalem.
"Yu." Di sela langkah Nakula menghela napas panjang, kenapa rasanya ngenes begini mendapati sikap acuh Ayu. Apa iya dia terbiasa dengan rewelnya gadis kecil itu?
"Kita ke Bandung dulu kan?" Nakula masih mengiringi setiap langkah kaki Ayu berarah.
"Sesuai instruksi ya begitu." Jawab Ayu.
"Kamu nggak minta aku temenin ke mall gitu? Biasanya kamu heboh bener kalo mau ada acara ke luar kota."
Nakula sampai hapal dengan segala kerempongan Ayu. Acap kali ia di paksa ikut ke pusat perbelanjaan hanya untuk mengantar Ayu belanja underwear bekal kunjungan wisata di kampusnya.
Ayu yang dulu suka sekali hura-hura, seenak dan semaunya sendiri bahkan terkesan tidak memikirkan bagaimana penolakan orang lain.
Tak jarang Ayu memanfaatkan kekuasaan Raden agar Nakula mau mengantarnya jalan-jalan.
Harusnya Nakula senang dengan perubahan Ayu yang membuatnya bisa bernapas lega, tidak ada Ayu yang cerewet, tidak ada Ayu yang memaksanya demi kepentingan pribadi.
"Kamu beneran nggak mau belanja baju dulu gitu?" Ulang Nakula lagi masih menawarkan.
"Tidak. Aku bisa belanja online saja, nanti langsung di antar ke hotel tempat kita menginap, jadi tidak perlu repot-repot, sambil duduk-duduk di kursi penumpang mobil baru mu, aku belanja." Kata Ayu.
"Jawaban mu dewasa, tapi tidak cocok dengan mu." Nakula menggerutu pelan.
Ayu tak mau repot-repot mendengar. Sekuat tenaga ia melupakan semua tentang Nakula.
Empat tahun bertepuk sebelah tangan bukan hal yang menyenangkan. Ayu masih bisa hidup tanpa cinta dari laki-laki beku seperti Nakula.
__ADS_1