My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Last episode _four


__ADS_3

Seharian ini Alula dan Kaesang hanya tiduran di atas ranjang. Pagi tadi Raden pergi seperti biasanya. Lalu tiada kabar lagi setelah itu.


Kemudian barusan, pengawal dan pengasuh Kaesang meminta Kaesang untuk bermain bersama.


Alula justru mendapat undangan dari suaminya untuk masuk ke dalam kamar yang telah lama tak terpakai.


Ada kamar di lantai paling atas bangunan mewah ini yang sengaja di sediakan untuk para tamu, Alula lama tidak menaiki lantai tersebut saking tidak adanya kegiatan yang mengharuskan dia ke tempat itu.


Bangunan mewah ini terlalu luas, maka sudah pasti ada bagian tertentu yang tidak pernah dia kunjungi.


Alula dan Kaesang hanya berjalan di sekitar lantai satu dan dua saja, selebihnya hanya di lalui pegawai mereka.


Kali ini Alula menaiki lift untuk sampai ke lantai lima bangunan mewah milik suaminya.


Ia membelalakkan mata mendapati balon merah berbentuk hati melayang di atapnya, kelopak mawar merah bertaburan di lantai yang dia pijak setelah keluar dari lift.


Dia melenggang pandangan kepada balkon yang luas di sana. Kemudian melangkah menujunya.


Kaca transparan membuat Alula leluasa melihat suasana luar.


Saat ia membuka pintu, senyum manis tersungging menyambut kedatangannya.


"Selamat malam Sayang." Ucap Raden.


"Apa ini?" Alula mengedar pandangan. Tempat ini sudah lengkap dengan suasana romantis. Ada lilin aromaterapi panjang di atas meja makan bulat.


Kenapa ada kejutan seperti ini. Ia bahkan hanya mengenakan dress tidur tipis. Sungguh tidak secuil pun bersiap diri untuk memakai gaun elegan, jadi tidak mungkin bisa di posting di sosial media.


"Papi curang!" Merengut nya.


Satu buket bunga daisy tersodor di hadapan tubuhnya. "Happy anniversary istri ku. Mungkin telat, tapi sengaja Papi buat kejutan ini setelah kelulusan Mammi."


"Happy anniversary." Alula masuk ke dalam pelukan pria tampan itu.


Empat tahun bersama. Tak pernah ada yang berubah, semuanya terasa sama, kehangatan, ketampanan, bahkan perlakuan posesif suaminya.


"Terima kasih, masih sabar menghadapi sikap arogan ku." Kata Alula.


"Itu bagian dari kegemaran suami mu. Sikap transparan mu, yang membuat hubungan kita lebih berwarna." Sambung Raden.


Terlerai pelukan mereka, kini tatapan mata saling beradu begitu lekatnya. Rasa cinta yang Raden selami masih sangat menggelora, tak peduli godaan menerjang, ia tetap setia.


Entah siapa yang memulainya, bibir mereka saling memagut begitu kasar. Tangan besarnya merangkum kedua pipi mungil itu. Bukan lagi kelembutan, mereka menyukai permainan yang liar.

__ADS_1


Sengaja Raden tak meminta jatah selama satu Minggu ini. Ada hal yang ingin dia nikmati di malam yang spesial ini. Raden mengarahkan tangannya menyingkap dress tipis milik Alula hingga terlepas ke atas dan terjatuh ke lantai.


Punggung Alula tersudut, pada dinding kaca transparan. "Ah." Desah nya, deru napas terburai, dia tatap suaminya protes. "Jadi mengajak makan malam apa ngajakin anu?"


"Sebelum makan malam romantis, kita main dulu yah? Enakan begitu kan? Capek-capek baru kita makan malam." Usul Raden.


Alula tersenyum sembari menarik kembali tengkuk suaminya. Kecupan beringas mulai beradu kembali.


Raden buka pengait bra istrinya tanpa berhenti dari aktivitas bibir. Tali yang mengikat pinggang ramping Alula dia tarik kemudian mendorong Alula masuk ke dalam kamar yang sudah dia dekorasi dengan memberikan sentuhan se'romantis mungkin.


Di atas ranjang bertaburkan kelopak bunga mawar. Alula terhempas dengan kepolosan tubuh. Bahkan dengan menutup mata Raden lihai membuatnya tidak berbusana.


Surai lurus Alula tergerai, menggelar di atas bantal putih. Tatapannya melekat pada sosok gagah berotot yang sedang melepas satu persatu pakaiannya dengan gerakan cepat.


Kakinya membuka akses terbaik bagi suaminya, dan masuk Raden menindih tubuh kecilnya.


"Aku mencintai mu."


Kecup erotis Raden berlanjut, bukan di bibir tapi pada bulatan kecil di ujung dada Alula. Sudah big size buah empuk itu setelah empat tahun dengan sabar ia menunggu perkembangan fisik Alula Nya.


Alula menggeliat, melengkung tubuhnya hingga ada ruang di antara punggung dan alas tidurnya.


Raden menyisipkan tangannya ke sana, dia peluk tubuh Alula sementara bagian intinya telah berjuang masuk ke dalam lubuk surga dunia.


Raden mulai bergerak maju mundur. Malam ini tak lama dengan pemanasan, Raden langsung menuju permainan inti. Jika masih ingin menciptakan romansa mungkin bisa pada ronde berikutnya setelah makan malam.


Gairah telah melarung, jangan di tahan walau hanya sesaat. Keringat mulai bermunculan, sungguh masih terasa sama nikmatnya bercinta dengan pasangan halal.


Banyak sekali gadis cantik yang menggoda Raden sang penguasa, tapi tidak secuil pun Alula tergantikan. Alula masih memenuhi relung hatinya, hari ini esok dan seterusnya.


Servis yang Alula buat, masih sanggup membuat Raden puas. Sejatinya cinta yang tulus menjadikan manusia menikmati setiap sentuhan kecil pasangan halalnya.


"Kenapa tidak pakai pengaman dulu?" Tersenggal-senggal wanita itu bertanya.


Alula baru menyadari setelah beberapa hentakan Raden yang membuatnya mengerang.


"Sudah lulus kan? Papi mau kita punya baby satu atau dua lagi. Kasihan Kaes, sendiri tanpa saudaranya." Sambung Raden.


"Emmh." Alula mengangguk dengan mengernyitkan keningnya meremang oleh inci nikmat Raden Nya.


Sejauh ia melayani suaminya masih sama perkasa yang Raden unjuk. Gerakan itu masih berhasil memberikan ledakan ledakan hebat untuk gairah mudanya.


Desah tergema, tergaung, mengudara. Raden sangat menyukainya. Alula seksi dengan tubuh rampingnya.

__ADS_1


Cukup lama untuk ukuran seorang Raden dengan mencoba gaya ini dan itu membuat Alula semakin bangga menjadi istri kecilnya hingga pada akhirnya, satu jam berlalu dan usai sudah pembibitan benih unggul yang Raden lakukan. Kecupan manis berlabuh pada kening Alula.


"I love you so much." Lirihnya dan di jawab dengan pelukan dari Alula.


...----------------...


^^^Hari berganti.^^^


Kadang hati tak sejalan dengan pikiran. Apalagi jika masalah itu datang karena cinta yang entah bisa dipertahankan atau tidak.


Satu Minggu setelah wisuda, satu Minggu setelah Abimanyu dan Karlina makan siang bersama.


Kabar yang terdengar membuat Raden dan Alula cemas, mereka bersiap diri dengan pakaian mahalnya untuk membesuk ayahnya yang kini di rawat di rumah sakit.


Alula menggandeng Kaesang keluar, Raden pun menyusulnya. Gurat kepanikan yang tertampil membuat Karlina yang baru saja tiba di ruangan tersebut di banjiri pertanyaan.


"Kalian mau kemana?"


"Romo sakit. Jadi kami mau membesuknya. Ibu tidak ikut kan?"


Alula sengaja berucap demikian, biar saja Karlina nyaman dengan kenangan buruknya. Ia sudah pernah berusaha tapi kemudian Karlina lebih memilih sendiri tanpa suaminya.


"Sakit? Sakit apa?" Tanya Karlina terlonjak.


"Kami belum tahu, makanya kami mau langsung besuk." Sambar Raden.


Pria itu mengusap lengan ibunya kemudian melangkah melewati Karlina. Sudah pasti Karlina tidak ingin mendengar kabar apa pun dari suami yang ingin dia tinggal.


Baru beberapa langkah, hati cemas Karlina membuat wanita itu menyerukan suara. "Raden." Alula dan Raden menoleh tidak terkecuali Kaesang.


"Iya Buk."


"Boleh Ibu ikut?"


"Ibu mau ikut?" Ulang Raden memastikan.


Karlina mengangguk. "Iya, tunggu Ibu di sini, Ibu mau ambil sesuatu di kamar."


Karlina melangkah menuju kamar miliknya sementara Raden dan Alula saling menatap.


"Apa Ibu cemas?" Tanya Alula.


"Sepertinya begitu."

__ADS_1


Raden dan Alula terkikik, rupanya semua manusia di ciptakan sama, yaitu lengkap dengan kemunafikan dan keegoisannya, tidak terkecuali Karlina, seorang ibu yang selama ini dia anggap sempurna.


__ADS_2