My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
S l o w l y


__ADS_3

"Ueeeghh!"


Ini ketiga kalinya Raden mengalami mual muntah yang tidak terkendali pada mangkuk wastafel marmer miliknya.


Biasanya di saat begini, Bastian setia menemani bahkan bersedia menjadi tong pembuangan muntahannya.


Lalu di mana lelaki itu sekarang? Malam ini tidak ada menampakkan batang hidungnya. Raden lemah tanpa Bastian.


Di sela luahan nya. Langkah kaki mungil Alula terdengar menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Bisa di rasakan kemulusan tangan Alula mengusap tengkuknya saat ia meraup wajahnya dengan air.


Alula meraih handuk lalu menyuruh Raden duduk di atas toilet yang tertutup agar mudah mengeringkan wajah suaminya yang tinggi.


"Om kenapa sih? Emang beneran ada yah, suami yang ngidam? Lula nggak percaya sih, mendingan Om periksa deh, siapa tahu, salah satu penyakit Om kambuh, mungkin tukak lambung atau apa gitu."


"Entah lah." Raden berkata lirih sambil sesekali melirik pakaian yang Alula kenakan saat ini. Tipis berwarna hitam menerawang. Alula menggemaskan dengan lingerie seksi itu.


"Tapi kalo beneran Om yang mengalami ngidam, terima kasih sudah bersedia menggantikan posisi Lula."


"Apa pun untuk mu."


"Om mau air hangat?" Alula tersenyum tipis-tipis lalu meletakkan kembali handuk kecilnya tanpa beralih dari wajah Raden.


"Aku mau, ..." Kata Raden terkatung mengingat hal yang tidak ingin dia rusak.


"Mau apa?"


Raden menggeleng. "Tidak, lupakan."


"Katakan saja." Cemberut Alula.


Raden bangkit dari duduk lalu keluar dari kamar mandi. "Aku mau Baby ganti saja baju tidur nya. Itu terlalu menggoda." Ujarnya.


Dia paling tidak bisa menahan diri jika sudah melihat sedikit saja pinggang kecil Alula. Gemas rasanya ada rasa ingin memacunya. Itu normal.


"Memangnya Om nggak suka di goda? Om ilfil?" Alula mengikuti langkah suaminya yang duduk pada kursi putar di meja kerjanya.


Malam ini mereka memang sudah kembali di kediaman milik Raden. Seharusnya berbulan madu, tapi mengingat kondisi Alula, Raden menunda bulan madunya setelah melahirkan.


"Jangan ngada- ngada, Baby masih belum boleh di, ..." Tergantung ucapan Raden di sela oleh Alula.

__ADS_1


"Memangnya memakai baju seperti ini harus melakukan itu? Apa tidak boleh Lula memanjakan mata suami Lula?"


Raden menoleh. Isyarat dari bahasa tubuh Alula tidak mengatakan itu. Setiap kali terlibat cumbu mesra bersamanya, Alula merasakan getaran yang lain. Ingin merasakan kenikmatan yang lebih lanjut lagi.


Raden mengangkat pinggang kecil menggemaskan Alula, dia dudukan pada meja kerjanya. Sejenak matanya termanjakan oleh lekukan mungil yang sangat menawan.


Ukuran dada Alula juga mulai berisi, lebih cepat bertambah besar mungkin karena pengaruh hormon estrogen yang terproduksi semakin tinggi karena beberapa faktor perkembangan tubuh.


Raden membuka kaki mungil nan mulus itu, saliva tercekat begitu sulit untuk masuk ke dalam kerongkongan, inginnya tidak melakukan apapun tapi baru melihat saja tongkat pusaka sudah mengeras.


Raden alihkan pandangan pada wajah Alula yang sudah merengek tanpa meminta, "Baby mau mencobanya?"


Alula terdiam namun sudut-sudut bibirnya terangkat kecil seperti mengatakan iya tapi ragu.


Pernah Raden membuatnya kesakitan. Untuk menghilangkan trauma, Raden perlu melakukan sesuatu pada daerah tertuju.


"Baby ingat? Kita pernah membeli sesuatu untuk kita coba bersama."


"Apa?"


Raden menyengir. Dia tatap wajah mengernyit Alula, sambil membuka laci di mejanya. Dia raih benda yang masih terbungkus kotak pink.


"Om." Alula menggeleng ragu namun Raden meyakinkan dirinya. "Mungkin dengan pemanasan ini, Baby akan merasa lebih tenang dan nyaman."


Alula menggeleng namun terdiam pasrah saat Raden menarik penutup bagian bawahnya, lantas menyentuh bagian itu dengan ujung benda yang mampu bergetar.


Perlahan tapi pasti, Alula menghela napas dalam, mendongak dengan kedua tangan di belakang. Kaki kaki nya bertumpu pada armchair yaitu bagian pada sandaran lengan di kursi putar Raden.


Raden menggigit bibir bawahnya, menikmati keindahan yang Alula suguhkan saat kelojotan dengan desah merdunya. "Om."


"Why? Sakit?" Alula menggeleng, justru geliat tubuhnya mengatakan aku menikmatinya.


"Perlahan Baby."


"Ough." Alula memejamkan mata mendongak menatap sayup langit-langit kamar. Raden seolah gemas dengan permainannya sendiri.


Padahal tidak memasukkan miliknya, tapi melihat Alula seperti itu, Raden berfantasi dengan bayangannya. Sesekali melirik milik istrinya yang dia mainkan dengan alat bergetar.


Raden berdiri, dia condong kan tubuhnya untuk menggapai bibir Alula. "Kiss me slowly."

__ADS_1


Bukan pelan tapi Alula meraup wajah Raden dengan beringas untuk memberikan kecupan liar. Gairah muda sangat cocok jika di gabungkan dengan usia matang.


Raden lingkarkan kaki Alula agar membelit pinggangnya, "Aw, sakit gesper Om!" Protes Alula.


"Maaf, lupa melepas." Raden lepas ikat pinggangnya serampangan. Dia kembali meraih tubuh Alula untuk di bawa ke atas ranjang.


"Mau lagi?" Raden menawarkan sentuhan dengan alat yang barusan membuat Alula melayang. Alula menggeleng namun tidak seperti itu bahasa yang tersirat di semu merah wajahnya.


"Sekali lagi saja, nanti kalo sudah nyaman, Baby tidak akan lagi kesakitan. Aku janji, kali ini Baby tidak akan merasakan sakit seperti pertama kali kita melakukannya." Alula mengangguk setuju.


Raden memulai dengan kecupan hangat di bibir mungil Alula, merambat ke leher, dan berlabuh pada areola. Alula setuju jika kali ini Raden mengklaim dirinya sangat berhati-hati sekali. Terlihat jelas dari bagaimana cara Raden memperlakukannya.


Raden membuang seluruh pakaian dan hanya menyisakan satu helai penutup bagian bawah.


Kembali Raden menyalakan getaran pada alat bantunya, dia arahkan pada bagian terlarang istrinya. Alula terpejam pasrah. Kakinya bergetar hebat. Sungguh benda itu menggelitik miliknya.


Desah napas tidak keruan, terpacu sesuai tempo permainan yang Raden berikan. "Om, Om, Om."


"Why?"


"Enak." Berbisik malu-malu Alula mengatakan itu. Wajahnya kian memerah. Sangat menggemaskan.


Raden bahagia pada akhirnya Alula jujur dengan apa yang dia rasakan. Dia lempar benda itu karena dirinya sudah tidak membutuhkannya.


"Kita ganti yang ini?" Raden gantikan dengan sesuatu yang asli. Tongkat yang begitu besar, benda keras yang pernah membuat Alula kesakitan.


Alula mundur. "Itu pasti sakit." Alat yang Raden gunakan tidak lebih besar dari milik suaminya. Ukuran itu terlalu mengerikan.


"Ayolah sayang, kau yang menggoda ku, lalu sekarang kau yang menolak?" Protes Raden memelas.


Alula mengangguk. "Touch me slowly."


Raden menyeringai menang, dia arahkan miliknya menerjang masuk kepada lubuk surga dunia milik Alula. "Agh.


"Slowly Om." Peringat Alula.


"Hmm." Pernah dia melakukannya, tapi tidak sadar bagaimana rasanya, ternyata ini sangat candu, jika sadar saja bisa senikmat itu, berarti dia menggila saat dalam pengaruh obat.


Liang sempit itu meremas kepadatan tongkat miliknya. "Sedikit buka." Raden memposisikan agar Alula lebih memberi akses terbaik kepada miliknya.

__ADS_1


Memejamkan matanya, Raden mulai memacu tubuh kecil Alula dengan tempo yang berangsur meningkat. Dia hempas sisa kain yang menutupi sebagian kecil Alula.


__ADS_2