My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Merampak


__ADS_3

Pagi hari yang cerah di dalam rumah asri nan menawan milik Abimanyu, burung-burung yang bernyanyi suaranya mendayu-dayu.


Ini suasana yang sama, tempat dan semilir angin yang sama, waktu yang sama.


Bedanya, pagi ini tidak ada aroma masakan yang Karlina buat. Tidak ada teh hijau yang menyambut pagi hari nya di kursi tengah.


Tidak ada kelebatan raga istri pertamanya saat menjemur pakaian sambil memperdengarkan senandung merdunya.


Tidak ada suara perdebatan Arga dan Ayu di taman saat berjoging ria. Rumah ini kosong seperti tidak ada kehidupan saat Raden, Arga, Ayu, terlebih Karlina tidak ada.


Abimanyu melamun kosong, ada ketakutan yang tiba-tiba muncul, bagaimana jika ternyata Karlina tidak lagi mau pulang ke rumah utama.


Karena sepertinya Karlina sudah benar-benar tidak membutuhkan dirinya sebagai seorang suami. Terlihat sekali dari cara Karlina melakukan sesuatu di rumah ini.


Tak pernah lagi tersenyum padanya, Abimanyu kira itu karena Karlina sudah menua dan kehilangan senyum manisnya, tapi malam tadi, Karlina tersenyum bahagia di hadapannya.


Delapan tahun yang lalu Abimanyu jatuh cinta pada salah satu pegawai nya, saat Lisya duduk di kursi manager keuangan dan sering bertemu di kantornya.


Lisya pegawai yang cerdas dan cantik, di usia muda Lisya sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Melihat Lisya, Abimanyu merasakan getaran yang berbeda untuk yang kedua kalinya.


Dia menyayangi dan menikahi Lisya. Ada rasa kembali muda saat menyaksikan perlakuan manja Lisya yang sudah tidak pernah Karlina lakukan.


Perlahan-lahan Karlina tersisih dari hatinya setelah tidak lagi menarik menurutnya, tentu saja jika di bandingkan dengan Lisya yang masih gadis kala itu.


Karlina masih cantik karena itu pemberian lahir dari Tuhan, hanya saja, Karlina sudah merasa malas berdandan, karena menurutnya Abimanyu pasti menerimanya dengan apa adanya.


Melahirkan tiga anak yang rupawan dan mendidiknya dengan baik, menjadi menantu idaman bagi mertuanya, menjadi istri yang selalu tahu kebutuhan suaminya.


Karlina merasa sudah cukup untuk membuat Abimanyu tidak berpaling. Tapi kenyataannya Abimanyu menyeleweng dari janji suci yang dahulu di ikrar bersama.


Kembalinya ingatan masa lalu bersama Karlina menaungi pikiran yang perlahan menyesakkan dadanya.


Kenangan indah saat pertama kali bertemu Karlina di kursi pernikahan. Meskipun pernikahan mereka akibat perjodohan tapi Abimanyu bergegas jatuh cinta.


Karlina jodoh wasiat dari Benvolio yaitu ayah Abimanyu, pria bule berdarah Italia yang menikahi Eyang Shinta.


Abimanyu terpesona dengan wajah cantik Karlina. Gadis Jawa ayu berkulit kuning Langsat dengan tinggi semampai, berhidung mancung, alis kerang nan melengking, bibir yang memiliki lengkungan manis. Pipi merona dengan dagu terbelah.

__ADS_1


Karlina definisi wanita tiada celah. Namun, setelah sekian tahun menikah, Abimanyu lupa saat dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya pada hati Karlina.


Seolah tidak berarti lagi kebersamaan itu hingga menginginkan wanita baru. Bahkan menyisihkan Karlina di dalam istana yang bertahun-tahun lamanya berwarna karena buah cintanya bersama wanita itu.


Dari ruang tengah Eyang duduk dengan bibir menyerocos dan membuat lamunan Abimanyu terberai seketika.


"Kenapa Karlina belum pulang? Apa dia pulang ke rumah Raden setelah menjemput mantunya dari rumah sakit?"


"Mungkin." Sahut Abimanyu lirih.


Dia mengambil koran lalu membacanya. Rupanya sudah ada berita pernikahan Raden dan Alula yang akan di langsungkan segera.


Kemarin Abimanyu sendiri yang menyuruh antek-anteknya menyebarluaskan berita pernikahan putranya.


Acara pesta pun telah Abimanyu siapkan dengan sejumlah ritual dan ribuan tamu undangan.


"Ya kamu suruh Lisya bikin sarapan dong, apa Ibu harus ke rumah Raden dengan perut kosong?" Protes Eyang kembali.


Abimanyu melirik kecil ibunya. "Lisya masih di kamar, mungkin masih dandan." Katanya.


"Punya dua istri og sampai meja makan nggak ono isi ne, gimana kamu ini Abi." Rutuk Eyang menyerocos.


"Terus wae di belani, bojo muda mu kuwi. Heran, wes ndue bojo ayu, nurut, lah kok malah mbojo neh." Eyang mendengus.


Abimanyu hanya diam menelan ucapan sindiran ibunya. Jika saja ayahnya masih hidup saat Abimanyu izin menikah lagi pasti Benvolio melarangnya.


Eyang hanya diam saja kala itu karena dahulu Abimanyu sudah seperti orang yang tergila-gila pada Lisya.


Dari pada berbuat zina di kantor, Eyang pun menyetujui dengan syarat Karlina juga harus setuju.


Saat itu tidak ada pilihan bagi Karlina, karena setiap ke kantor Karlina melihat kedekatan Lisya dan suaminya yang sudah menjurus ke arah nista.


Bagaimana pun, Karlina tidak ingin membuat nama baik keluarganya tercoreng karena skandal.


Karlina masih memikirkan masa depan putra putrinya yang mungkin akan di cap sebagai anak tukang zina jika sampai terjadi perselingkuhan tanpa pernikahan antara Lisya dan Abimanyu.


Tak mau mendengar rutuk kan ibunya, Abimanyu bangkit dari duduk lalu berjalan dengan wajah dingin keluar dari rumah.

__ADS_1


Pakaian mahal ala bangsawan Abimanyu sandang, meski usia sudah tidak lagi muda ketampanan tak pernah lekang dari wajahnya.


Di luar sudah ada Joko, sopir setia juga mantan asisten personal pria itu sedang mengelap mobil mewahnya.


"Kita ke rumah Raden sekarang." Ajak Abimanyu.


Joko menoleh terkejut. "Baik Tuan." Meski demikian Joko tetap siaga.


Abimanyu membuka pintu mobil bagian belakang kemudian masuk, di susul oleh Joko yang menyetir.


"Nyonya besar bagaimana Tuan?" Joko teringat, mungkin Karlina akan ikut juga.


"Dia sudah di rumah Raden. Makanya aku mau menyusulnya." Sambung Abimanyu.


Joko mengangguk paham. "Baik." Dia menyalakan mesin mobil lalu melajukan perlahan keluar dari halaman rumah majikannya.


Merampak pandangan Abimanyu menatap jendela yang menyuguhkan bergulir nya bangunan-bangunan elit di sekitar komplek perumahan miliknya.


Tak ada satupun celetuk kan yang Abimanyu keluarkan, mobil itu hening sepanjang perjalanan yang di iringi lamunan tentang ketakutan masa depan.


Satu jam berlalu. Tiba di rumah Raden, Joko memutar setir, dia mengarahkan mobilnya kepada teras rumah yang bergaya klasik kolonial itu.


Di taman bunga ada Arga dan Ayu berlarian, Abimanyu terenyuh menatap putra dan putri tampannya. Sepertinya di mana pun mereka berada, asal bersama Karlina akan baik-baik saja. Sekilas ia mengingat saat anak-anak itu masih kecil.


Sementara Karlina berdiri di tengah-tengah taman bunga, dengan tangan yang membawa gunting rumput. Dengan telaten Karlina merapikan taman bunga milik putranya. Begitulah kegiatan Karlina saat mendatangi rumah ini. Tatapan Abimanyu mendingin melihat istrinya baik-baik saja tanpa dirinya.


Hal yang paling Abimanyu benci adalah, saat melihat Bastian mendekati keluarganya. Entah itu Ibunya, putrinya apa lagi Karlina istri nya.


Bastian terkenal dengan julukan Casanova. Itu yang membuat Abimanyu tidak menyukainya.


Di sisi Bastian, Karlina terkikik menutup mulutnya seperti bahagia tanpa dirinya. Entah banyolan apa yang Bastian lontarkan hingga membuat Karlina tertawa renyah seperti itu.


"Joko." Panggil Abimanyu.


Joko menoleh setelah berhasil memarkir mobilnya. "Dalem Tuan."


"Kamu panggil Ayu, Arga, terutama Nyonya besar mu masuk ke dalam." Titah Abimanyu dingin.

__ADS_1


"Baik Tuan." Joko mengangguk.


Abimanyu keluar dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah putranya dengan menyertakan raut dingin di wajah tampannya.


__ADS_2