My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
Berharap


__ADS_3

Merasakan gerakan yang sangat kasar bahkan melukai kulit-kulit mulus nya, Alula menggeliat kaget hingga kedua manik tersorot begitu tajam.


Tatapan menghunus tertuju pada dua gadis yang menyengir iblis sembari menatap dirinya terpasung di atas ranjang king size sprei putih.


"Kenapa cepat sekali pingsannya?" Tanyanya. Mereka tidak lain adalah Cherry dan Sindy.


Alula terkesiap saat pergelangan tangannya menyatu dengan rantai yang menjerat pergerakan tubuhnya. Alula terlentang dengan kaki tangan yang terikat.


"Gila kalian hah!" Teriak Alula. "Lepas!"


Suara tawa renyah seorang pria terdengar dari sofa, netra Alula beranjak ke sana, rupanya satu pria telah duduk dengan menenteng satu gelas heels berisi wine.


Pandangan Alula kembali beralih pada Cherry dan Sindy. "Apa yang kalian rencana kan?" Gusar nya.


"Menjadikan mu santapan pria Casanova!" Jawab Cherry enteng.


"Bajingan biadab kalian!" Sarkas Alula keras.


Sindy mendekat. "Kamu sudah di buang calon suami ku, sekarang tidak ada lagi yang akan menolong mu." Sudut bibirnya menyeringai iblis.


Kemarin gadis itu merencanakan matang-matang penjebakan ini, Sindy sengaja mencari waktu yang tepat agar Raden berada di luar kota dan tidak bisa menjadi pahlawan kesiangan.


Tentu saja Sindy hapal dengan agenda Raden, sebab ayahnya memiliki kerja sama yang baik dengan Raden.


Sedari kemarin Sindy mencari celah, sampai pada saatnya dia menemukan hal yang akan membuat Alula masuk ke dalam jebakannya.


Sindy mendengar percakapan Nakula dan Alula tentang fasilitas yang ingin mereka kembalikan. Sindy menang, dia berhasil membawa Alula ke hotel dengan ketidak berdayaan.


Di sudut sana Hana mengeluarkan kamera, manik Alula beringsut menatap ke arah gadis berambut keriting itu. Sepertinya dia juga bagian dari rencana licik ini.


"Apa yang kalian rencana kan? Sebenarnya apa masalah kalian? Apa salah ku hah?" Alula berteriak, menitihkan air mata ketakutan dengan deru napas yang tidak keruan.


"Kami cuma mau mengambil gambar mu bersama Om-om ganteng itu, namanya Gunawan panggil saja Om Gun, dengan begitu, Raden tidak akan pernah mau lagi dengan mu!" Jelas Sindy tersenyum.


"Persetan, Om Raden sudah memulangkan aku, sekarang apa lagi hubungannya dengan ku?" Sergah Alula memekik.


"Tapi aku dengar, Romo mau mempublikasikan pernikahan kalian!" Sela Sindy yang seketika mengetatkan wajahnya.


"Apa?" Kejut Alula, kemarin dia baru saja di pulangkan, Alula belum lolos saat di tes menantu idaman, apakah benar Romo akan mempublikasikan pernikahan nya?


Sindy menggeleng. "Tapi jangan senang dulu. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Sebelum Romo menerima mu dan mempublikasikan pernikahan kalian, video mu bersama Om Gun akan tersebar luas di media sosial, hahaha."


Semua orang tertawa renyah, sementara Alula sedang mengerahkan seluruh tenaga mencoba menggerakkan tangannya agar terlepas dari belenggu rantainya.


"Lepaskan aku, aku tidak punya urusan dengan kalian!" Teriaknya.

__ADS_1


Tawa cekikikan Sindy kembali terdengar saat melihat betapa gusarnya Alula, bahkan kedua mata gadis cantik nan mungil itu terlihat seperti kucing yang terjebak di dalam selokan.


Pembuluh darah tampak seketika, di antara leher lengan dan titik-titik tertentu milik Alula.


Kendatipun tidak seberapa yakin, Alula Humaira masih menyelipkan harapan bahwasanya akan ada pertolongan dari Raden suaminya.


Tak ada yang dia ingat selain lelaki itu, entah rindu atau membutuhkan, yang pasti Alula ingin Raden yang menolongnya.


"Om." Lirihnya pilu.


...----------------...


^^^Di lain tempat.^^^


Pemuda tampan yang baru saja turun dari motor gede, dia berlari memasuki lobby hotel setelah membuang helmnya serampangan.


Dua jam yang lalu antek-antek Raden menelepon dan memberitahu kan kejanggalan yang terjadi pada Alula saudaranya.


Tanpa pikir lagi, Nakula memakai motor gede fasilitas iparnya untuk menuju lokasi yang di sebutkan oleh antek-antek Raden.


Nakula berlari kencang, di lobby sana Galang menyambutnya dengan kerutan di kening. "Nula, kau di sini?" Tanyanya.


Nakula tak menjawab, pemuda itu terus melanjutkan langkah kaki cepatnya yang terdengar gaduh dan menyita perhatian sekitar.


"Ada apa dengan Lula, kenapa kamu panik begitu?" Galang mengikuti langkah kaki Nakula, di lihat dari sudut manapun jelas Nakula sedang cemas seperti dirinya yang sedari tadi tidak enak perasaan menunggu Alula.


Galang menggeleng. "Bukanya dia mau menemui Raden?"


"Bang Raden lagi di Bandung, lagi pula dia tidak mungkin menemui Alula di hotel."


"Sial, aku bilang apa!" Keduanya berlari beruntun menaiki tangga darurat, menuju lantai dua.


Untungnya hotel ini terbilang hotel biasa maka tidak terlalu rumit jangkauannya. Tiba di lantai atas mereka di sambut oleh beberapa pria kekar bersenjata, berdiri di sudut lorong.


Ada yang sedang membidikkan moncong pistol miliknya pada lubang kunci kamar hotel tersebut. Sudah bisa di pastikan orang-orang tinggi besar itu adalah antek-antek Raden yang menelepon Nakula.


Itu berarti, Alula berada di kamar yang mereka bidik. Duarrrr!! Seketika pintu di hempas terbuka. Nakula masuk ke dalam kamar tersebut di susul oleh Galang.


Teriakan semua orang memekakkan telinga mengacaukan segalanya, satu pria bertelanjang dada yang sedang mendekati Alula terhenyak mendengar suara ledakan.


Cherry Sindy dan Hana berjongkok dengan kedua tangan yang menutupi telinga, ketakutan.


Segera Nakula meraih selimut, menutupi tubuh Alula yang sangat menyedihkan, satu kancing celananya sudah terlepas, bahkan kaos putih milik Alula basah kuyup. Sepertinya barusan Cherry Sindy dan Hana sengaja menyiramnya.


Sementara Nakula membebaskan Alula, Galang lebih fokus pada kamera yang masih menyala. Ini akan menjadi bukti kongkrit perbuatan jahat mereka.

__ADS_1


"Jangan ada yang boleh bergerak, atau meledak kepala kalian!" Satu antek-antek Raden menghunuskan ujung pistol pada kepala lelaki yang mencoba melarikan diri.


Bugh!


Galang menghentakan kakinya kepada punggung bidang nan polos pria bernama Gunawan. "Beraninya kau menyentuh Alula!" Sakit hati memaksanya untuk menghujam tendangan keras pada lelaki berumur itu.


Gunawan meringkuk sembari menangkis tendangan Galang. "Hentikan! Aku hanya di suruh!" Sanggah nya berteriak.


"Persetan!" Tendangan demi tendangan masih setia Galang hentakan dengan bibir yang terkatup geram.


"Kalian ikut kami!" Ada satpam yang berjaga dan segera meringkus ketiga gadis berparas cantik itu.


Sindy menoleh pada Hana curiga. "Kamu pasti yang menelepon Nakula, iya kan hah!" Berang nya berteriak.


Hana menggeleng. "Sumpah demi apa pun tidak sama sekali!" Sanggah nya.


Sementara Cherry hanya diam menatap Galang yang sibuk memukuli Gunawan, apakah sepenting itu Alula bagi Galang? Kenapa Galang bisa semurka itu pada orang yang berusaha menyakiti Alula.


Di anggap apa dirinya selama ini? Apa sedikitpun tidak ada rasa yang berbeda? Cherry sendu, para satpam yang mengondisikan tubuhnya pun tidak ia hiraukan. Ini lebih menyakitkan dari apa pun.


Dua antek-antek Raden membawa Gunawan untuk di serahkan pada yang menginginkan. Terpaksa Galang harus menghentikan aksi brutalnya.


"Hiks." Alula menangis dalam pelukan saudaranya, setelah Nakula berhasil melepaskan satu persatu rantai yang menjeratnya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Nakula merasa lebih baik, detak jantung pun berangsur lirih, tidak seperti saat dirinya belum berhasil menemukan Alula.


Mereka satu darah, jika ada salah satu dari mereka yang berada di posisi tersulit, pasti ada perasaan aneh yang menyelubungi.


Nakula di hubungi antek-antek Raden sekitar dua jam yang lalu. Dari situlah Nakula segera melenggang dengan motor pemberian Raden menuju hotel yang di sebutkan.


"Kenapa lama sekali? Aku membutuhkan seseorang." Alula terisak dalam dekapan hangat Nakula.


Meskipun Gunawan belum berhasil menyentuhnya lebih jauh lagi, tapi Cherry Sindy dan Hana sudah berhasil menyiksanya.


Di cambuk, di siram, bahkan di lecehkan ketiga gadis itu dengan cara merekam saat membuka kancing celana Alula juga menyorot bagian lekuk tubuh Alula yang terlihat menerawang setelah basah.


Nakula sangat menyayangkan sekali. Lihatlah darah yang mengalir dari luka goresan di sebagian kulit mulus Alula.


Terasa pedih menyayat hati. Alula berharap Raden masih peduli dan menyelamatkan dirinya, kenyataannya adalah, hanya Nakula dan Galang yang selalu ada untuknya.


"Bawa aku pulang." Lirihnya.


"Baiklah." Angguk Nakula, lalu membetulkan posisi pakaian milik saudaranya.


Galang membuka jaket jeans miliknya kemudian memberikannya pada Nakula, "Aku akan mengurus Cherry." Katanya lalu pergi.

__ADS_1


Uaaahhh, covernya udah di ganti sama NT.


__ADS_2